h1

Orientalis & Diabolisme Intelektual

July 14, 2010

Aseli bukan bikinan Dagadu

melainkan aseli tulisan M. Sahrul Murajj@b

Saya sebenarnya terhitung terlambat membeli dan membaca buku yang satu ini. Baru sekitar bulan Mei lalu saya membelinya dan baru sekitar 10 hari lalu menamatkannya. Itupun, hampir keseluruhan waktu yang saya gunakan untuk melahap buku setebal 342 halaman ini saya “curi” di atas kereta listrik komuter (KRL) atau stasiun-stasiun pemberhentiannya.

Buku “Orientalis & Diabolisme Intelektual” karya Dr. Syamsuddin Arif dan diterbitkan oleh Gema Insani Pers tahun 2008 bagi saya adalah buku yang sangat bermutu alias bergizi tinggi. Tentu menjadi tak mengherankan, karena ia memang lahir dari seorang intelektual yang cukup matang dan telah “lengkap” mengenyam pendidikan Timur dan Barat. Penulisnya, selain mendapat gelar doktor dari ISTAC Malaysia juga menempuh doktoral keduanya di Jerman,  negerinya NAZI yang juga dikenal sebagai sarangnya para dedengkot orientalis kenamaan. Lebih dari itu, selain bahasa Arab dan Inggris, beliau juga menguasai bahasa-bahasa yang dianggap penting teruatama dalam tradisi Islamic Studies dan peradaban klasik yaitu Jerman, Perancis, Latin, Greek, Hebrew dan Syriac. Selain kelengkapan akademisnya, Dr. Syamsuddin adalah intelektual langka yang mememiliki framework keilmuan dan pandangan hidup Islam (Islamic Worldview) yang sangat teguh.

Awalnya saya sempat ragu untuk membeli buku ini beberapa waktu lalu, namun setelah memulai membuka lembar demi lembar, ternyata saya kemudian menjadi sangat antusias dan benar-benar menikmati sajian ilmu yang dihidangkan. Apalagi, sebagai orang Betawi asli, kemampuan menulis Dr. Syamsuddin cukup renyah dan terkadang –meskipun buku ini adalah karya akademis bermuatan berat- juga menampilkan ungkapan-ungkapan ringan yang mengasyikkan.

Mengenai bobot ilmiah buku ini tentu tidak diragukan lagi. Jangkauan literaturnya juga sangat luas. Ketika berbicara tentang orientalis dan pemikirannya, Dr. Syamsuddin mampu merujuk langsung ke sumber primer mereka baik dalam bahasa Jerman, Inggris maupun Perancis! Sementara ketika berbicara mengenai tema-tema keislaman, beliau juga fasih mengutip kitab-kitab berbahasa Arab yang otoritatif dalam bidangnya.

Buku ini sejatinya merupakan kumpulan dari makalah-makalah dan artikel penulisnya yang sebagian besar pernah dimuat di berbagai media baik jurnal ilmiah, majalah maupun koran. Yang cukup dominan adalah tulisan-tulisan ilmiyah akademis, mencakup sejumlah isu penting seperti orientalisme dan beberapa kajian keislaman (teks Al-Quran, Hadits, Teologi Islam dan Sufisme), beberapa isu yang lagi “hot” semisal Pluralisme, Sekularisasi dan Sekularisme, Feminisme dan Isu Gender, serta tak ketinggalan pula berbagai kajian mengenai khazanah keilmuan Islam seperti kontroversi tentang Ibn Arabi, Sains dalam Islam, Metodologi Tafsir Sufi dan Prinsip-prinsip Epistemology Islam.  Disamping itu terdapat juga beberapa artikel ‘ringan’ meski tetap terlihat tajam dan kritis seperti Diabolisme Intelektual (hlm. 143), Wacana Pembaruan Islam (hlm, 167) serta Kejayaan dan Kejatuhan Bangsa (hlm. 252).

Terlepas dari segala kehebatan yang dimilikinya, buku ini tentu tak lepas dari beberapa kekurangan. Setidaknya menurut dan sejauh ingatan saya pribadi, Dr. Syamsudin misalnya “keseleo lidah” ketika menyatakan ”tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina” sebagai hadits (lihat hlm. 280). Demikian juga dengan ungkapan “sombong kepada orang sombong adalah sedekah” (hlm. 281). Kealpaan ini, sama sekali TIDAK menunjukkan bahwa beliau kurang perhatian terhadap disiplin ilmu hadits. Buktinya beliau sendiri sebenarnya cukup teliti dengan kesahihan dan kelemahan sebuah hadits sebagaimana ditunjukkan di halaman 177 ketika  menjelaskan lemahnya hadits “al-hikmatu dlaallat al-mu’min” (hikmah itu adalah barang kepemilikan orang mukmin yang hilang, maka dimanapun ia (orang mu’min) menemukannya hendaklah ia mengambilnya..).  Saya juga berpandangan bahwa tulisan seperti “Refleksi Idul Adha 1427” (hlm.196) sebaiknya tidak perlu dikutsertakan dalam buku ini karena “terlalu ringan” dan justru bisa mengganggu kelezatan mutu akademis tulisan-tulisan lainnya.

`Ala kulli hal dan last but not least, saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh khalayak khususnya para pencari Ilmu, mahasiswa dan para santri agar dapat menangkap sensitivitas tantangan keilmuan Islam masa kini sekaligus belajar bagaimana sebuah framework berfikir dan worldview yang lurus bekerja dalam sebuah tulisan atau kajian ilmiyah. Nah!

Jakarta, 22 Rajab 1431 H – 05 Juli 2010

h1

AURAT!

June 30, 2010

Oleh: Muhamad Sahrul Murajjab

=>Pernah di muat di Republika, Sabtu, 12 Juni 2010 / 29 J. Akhirah 1431H <=

Pada dasarnya setiap manusia sesuai dengan fitrahnya cenderung lebih merasa nyaman untuk menyimpan rahasia atau privasi dirinya agar tersembunyi dari jangkauan orang lain. Akan tetapi seiring kemajuan zaman yang disertai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, atau barangkali juga disebabkan oleh adanya gangguan kelainan, sebagian  orang kini  justru “berubah fikiran” menjadi lebih merasa senang jika privasinya dibaca, dilihat, didengar dan diketahui oleh orang lain.

Dalam Islam wilayah privat sangat dilindungi dan untuk itu setiap muslim juga diwajibkan untuk menjaga, menutupi dan menyimpan jenis-jenis privasi tertentu yang biasa diistilahkan dengan aurat. Selain yang berupa privasi fisik (anggota tubuh), yakni: seluruh apa yang berada diantara lutut dan pusar bagi kaum laki-laki dan seluruh anggota badan kecuali muka dan telapak tangan bagi kaum perempuan, aurat juga mencakup privasi-privasi yang bersifat non-fisik.

Apa yang dilakukan oleh seseorang ketika melakukan hubungan suami istri adalah termasuk diantara wilayah privat yang secara tegas dilarang untuk dibuka kepada publik dan disiarkan kepada orang lain. Asma’ binti Yazid menceritakan, bahwa pada suatu ketika ia berada di majelis Rasulullah saw sementara kaum laki-laki dan wanita duduk dan berkumpul di situ. Rasulullah bersabda, “Barangkali seorang laki-laki menceritakan hubungan intim yang dilakukannya bersama isterinya? Barangkali seorang wanita menceritakan hubungan intim yang dilakukannya bersama suaminya?” Para Sahabat yang berada di tempat tersebut terdiam. Akupun berkata, “Demi Allah, benar wahai Rasulullah! Sesungguhnya kaum wanita melakukan hal itu demikian juga kaum pria!” Maka Rasulullah saw. bersabda, “Jangan lakukan! sesungguhnya hal itu seperti syaitan laki-laki yang bertemu dengan syaitan perempuan di jalan lalu keduanya bersetubuh sementara orang-orang melihatnya,” (HR. Ahmad, hasan lighairihi)

Wilayah privasi lain yang juga termasuk aurat yang harus ditutupi adalah aib dan perbuatan dosa yang pernah dilakukan oleh seseorang. Kewajiban menutupinya merupakan tanggungjawab bersama baik bagi pihak yang melakukannya maupun orang lain yang sempat mengetahui perbuatan tersebut. Hal ini tentu saja berlaku selama tidak terdapat alasan syar’i yang membolehkannya untuk menceritakan aib tersebut. Terkait hal ini Rasulullah SAW bersabda: “Seluruh umatku akan diampuni dosa-dosanya kecuali orang-orang yang terang-terangan (berbuat dosa). Di antara orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang yang pada waktu malam berbuat dosa, kemudian di waktu pagi ia menceritakan kepada manusia dosa yang dia lakukan semalam, padahal Allah telah menutupi aibnya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Tentang keutamaan menutup aib orang lain Rasulullah SAW bersabda: “Seorang hamba tidak menutupi aib hamba yang lain di dunia kecuali Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat”. (HR. Muslim)

9 Juni 2010/25 J. Akhirah 1431

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.