h1

Orientalis & Diabolisme Intelektual

July 14, 2010

Aseli bukan bikinan Dagadu

melainkan aseli tulisan M. Sahrul Murajj@b

Saya sebenarnya terhitung terlambat membeli dan membaca buku yang satu ini. Baru sekitar bulan Mei lalu saya membelinya dan baru sekitar 10 hari lalu menamatkannya. Itupun, hampir keseluruhan waktu yang saya gunakan untuk melahap buku setebal 342 halaman ini saya “curi” di atas kereta listrik komuter (KRL) atau stasiun-stasiun pemberhentiannya.

Buku “Orientalis & Diabolisme Intelektual” karya Dr. Syamsuddin Arif dan diterbitkan oleh Gema Insani Pers tahun 2008 bagi saya adalah buku yang sangat bermutu alias bergizi tinggi. Tentu menjadi tak mengherankan, karena ia memang lahir dari seorang intelektual yang cukup matang dan telah “lengkap” mengenyam pendidikan Timur dan Barat. Penulisnya, selain mendapat gelar doktor dari ISTAC Malaysia juga menempuh doktoral keduanya di Jerman,  negerinya NAZI yang juga dikenal sebagai sarangnya para dedengkot orientalis kenamaan. Lebih dari itu, selain bahasa Arab dan Inggris, beliau juga menguasai bahasa-bahasa yang dianggap penting teruatama dalam tradisi Islamic Studies dan peradaban klasik yaitu Jerman, Perancis, Latin, Greek, Hebrew dan Syriac. Selain kelengkapan akademisnya, Dr. Syamsuddin adalah intelektual langka yang mememiliki framework keilmuan dan pandangan hidup Islam (Islamic Worldview) yang sangat teguh.

Awalnya saya sempat ragu untuk membeli buku ini beberapa waktu lalu, namun setelah memulai membuka lembar demi lembar, ternyata saya kemudian menjadi sangat antusias dan benar-benar menikmati sajian ilmu yang dihidangkan. Apalagi, sebagai orang Betawi asli, kemampuan menulis Dr. Syamsuddin cukup renyah dan terkadang –meskipun buku ini adalah karya akademis bermuatan berat- juga menampilkan ungkapan-ungkapan ringan yang mengasyikkan.

Mengenai bobot ilmiah buku ini tentu tidak diragukan lagi. Jangkauan literaturnya juga sangat luas. Ketika berbicara tentang orientalis dan pemikirannya, Dr. Syamsuddin mampu merujuk langsung ke sumber primer mereka baik dalam bahasa Jerman, Inggris maupun Perancis! Sementara ketika berbicara mengenai tema-tema keislaman, beliau juga fasih mengutip kitab-kitab berbahasa Arab yang otoritatif dalam bidangnya.

Buku ini sejatinya merupakan kumpulan dari makalah-makalah dan artikel penulisnya yang sebagian besar pernah dimuat di berbagai media baik jurnal ilmiah, majalah maupun koran. Yang cukup dominan adalah tulisan-tulisan ilmiyah akademis, mencakup sejumlah isu penting seperti orientalisme dan beberapa kajian keislaman (teks Al-Quran, Hadits, Teologi Islam dan Sufisme), beberapa isu yang lagi “hot” semisal Pluralisme, Sekularisasi dan Sekularisme, Feminisme dan Isu Gender, serta tak ketinggalan pula berbagai kajian mengenai khazanah keilmuan Islam seperti kontroversi tentang Ibn Arabi, Sains dalam Islam, Metodologi Tafsir Sufi dan Prinsip-prinsip Epistemology Islam.  Disamping itu terdapat juga beberapa artikel ‘ringan’ meski tetap terlihat tajam dan kritis seperti Diabolisme Intelektual (hlm. 143), Wacana Pembaruan Islam (hlm, 167) serta Kejayaan dan Kejatuhan Bangsa (hlm. 252).

Terlepas dari segala kehebatan yang dimilikinya, buku ini tentu tak lepas dari beberapa kekurangan. Setidaknya menurut dan sejauh ingatan saya pribadi, Dr. Syamsudin misalnya “keseleo lidah” ketika menyatakan ”tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina” sebagai hadits (lihat hlm. 280). Demikian juga dengan ungkapan “sombong kepada orang sombong adalah sedekah” (hlm. 281). Kealpaan ini, sama sekali TIDAK menunjukkan bahwa beliau kurang perhatian terhadap disiplin ilmu hadits. Buktinya beliau sendiri sebenarnya cukup teliti dengan kesahihan dan kelemahan sebuah hadits sebagaimana ditunjukkan di halaman 177 ketika  menjelaskan lemahnya hadits “al-hikmatu dlaallat al-mu’min” (hikmah itu adalah barang kepemilikan orang mukmin yang hilang, maka dimanapun ia (orang mu’min) menemukannya hendaklah ia mengambilnya..).  Saya juga berpandangan bahwa tulisan seperti “Refleksi Idul Adha 1427” (hlm.196) sebaiknya tidak perlu dikutsertakan dalam buku ini karena “terlalu ringan” dan justru bisa mengganggu kelezatan mutu akademis tulisan-tulisan lainnya.

`Ala kulli hal dan last but not least, saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh khalayak khususnya para pencari Ilmu, mahasiswa dan para santri agar dapat menangkap sensitivitas tantangan keilmuan Islam masa kini sekaligus belajar bagaimana sebuah framework berfikir dan worldview yang lurus bekerja dalam sebuah tulisan atau kajian ilmiyah. Nah!

Jakarta, 22 Rajab 1431 H – 05 Juli 2010

h1

AURAT!

June 30, 2010

Oleh: Muhamad Sahrul Murajjab

=>Pernah di muat di Republika, Sabtu, 12 Juni 2010 / 29 J. Akhirah 1431H <=

Pada dasarnya setiap manusia sesuai dengan fitrahnya cenderung lebih merasa nyaman untuk menyimpan rahasia atau privasi dirinya agar tersembunyi dari jangkauan orang lain. Akan tetapi seiring kemajuan zaman yang disertai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, atau barangkali juga disebabkan oleh adanya gangguan kelainan, sebagian  orang kini  justru “berubah fikiran” menjadi lebih merasa senang jika privasinya dibaca, dilihat, didengar dan diketahui oleh orang lain.

Dalam Islam wilayah privat sangat dilindungi dan untuk itu setiap muslim juga diwajibkan untuk menjaga, menutupi dan menyimpan jenis-jenis privasi tertentu yang biasa diistilahkan dengan aurat. Selain yang berupa privasi fisik (anggota tubuh), yakni: seluruh apa yang berada diantara lutut dan pusar bagi kaum laki-laki dan seluruh anggota badan kecuali muka dan telapak tangan bagi kaum perempuan, aurat juga mencakup privasi-privasi yang bersifat non-fisik.

Apa yang dilakukan oleh seseorang ketika melakukan hubungan suami istri adalah termasuk diantara wilayah privat yang secara tegas dilarang untuk dibuka kepada publik dan disiarkan kepada orang lain. Asma’ binti Yazid menceritakan, bahwa pada suatu ketika ia berada di majelis Rasulullah saw sementara kaum laki-laki dan wanita duduk dan berkumpul di situ. Rasulullah bersabda, “Barangkali seorang laki-laki menceritakan hubungan intim yang dilakukannya bersama isterinya? Barangkali seorang wanita menceritakan hubungan intim yang dilakukannya bersama suaminya?” Para Sahabat yang berada di tempat tersebut terdiam. Akupun berkata, “Demi Allah, benar wahai Rasulullah! Sesungguhnya kaum wanita melakukan hal itu demikian juga kaum pria!” Maka Rasulullah saw. bersabda, “Jangan lakukan! sesungguhnya hal itu seperti syaitan laki-laki yang bertemu dengan syaitan perempuan di jalan lalu keduanya bersetubuh sementara orang-orang melihatnya,” (HR. Ahmad, hasan lighairihi)

Wilayah privasi lain yang juga termasuk aurat yang harus ditutupi adalah aib dan perbuatan dosa yang pernah dilakukan oleh seseorang. Kewajiban menutupinya merupakan tanggungjawab bersama baik bagi pihak yang melakukannya maupun orang lain yang sempat mengetahui perbuatan tersebut. Hal ini tentu saja berlaku selama tidak terdapat alasan syar’i yang membolehkannya untuk menceritakan aib tersebut. Terkait hal ini Rasulullah SAW bersabda: “Seluruh umatku akan diampuni dosa-dosanya kecuali orang-orang yang terang-terangan (berbuat dosa). Di antara orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang yang pada waktu malam berbuat dosa, kemudian di waktu pagi ia menceritakan kepada manusia dosa yang dia lakukan semalam, padahal Allah telah menutupi aibnya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Tentang keutamaan menutup aib orang lain Rasulullah SAW bersabda: “Seorang hamba tidak menutupi aib hamba yang lain di dunia kecuali Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat”. (HR. Muslim)

9 Juni 2010/25 J. Akhirah 1431

h1

AKU & KEANGKUHAN

February 21, 2010

Oleh: M. Sahrul Murajjab

Republika, 20 Feb 2010; http://www.republika.co.id/berita/104588/aku-dan-keangkuhan

Suatu kali, seorang bijak ditanya oleh salah seorang muridnya. “Tuan Guru, adakah kejujuran yang tidak baik? Sang guru bijak pun menjawab, “Pujian seseorang atas dirinya sendiri.” Maksudnya, ketika seseorang bercerita hal-hal baik tentang dirinya sendiri, meskipun cerita tersebut benar adanya, hal itu adalah kejujuran yang tidak baik. Sebab, bisa memunculkan perasaan bangga diri dan kesombongan.

Ketika seseorang mengatakan ‘aku’, yang biasanya timbul adalah subjektivitas. Bahkan, tidak jarang pula kata tersebut memiliki efek negatif bagi kehidupan sosial. Dikisahkan dalam Alquran bahwa makhluk yang pertama kali mengucapkan kata ‘aku’ dengan penuh kesombongan dan perasaan tinggi hati adalah iblis.

Tatkala Allah SWT memerintahkan iblis bersujud kepada Adam AS, ia menolaknya dengan congkak sembari berkata, “Aku lebih baik darinya (Adam). Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan engkau menciptakannya dari tanah.” (QS Al-A`raf [7]: 12).

Kata ‘aku’ meluncur dari mulut iblis sebagai ungkapan pengagungan dan penyucian diri sendiri di hadapan Allah yang menciptakannya. Meskipun dia mengakui bahwa dirinya hanyalah makhluk yang diciptakan, nyatanya ia membangkang: menyanjung dirinya dan melupakan karunia Penciptanya. Karena sikap iblis ini, sering muncul sebuah ungkapan bahwa tidak ada seorang pun yang memuji dirinya sendiri, kecuali yang menyerupai makhluk terkutuk itu.

Demikianlah bahaya kata ‘aku’ yang diiringi perasaan bangga diri. Para ulama suluk sering menyebutnya sebagai salah satu penghancur (muhlikat) kehidupan manusia. Allah pun telah melarangnya dengan tegas dalam firman-Nya, “… maka, janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui orang yang bertakwa.” (QS Alnajm [53]: 32).

Pada ayat lainnya, ketika menyebutkan sifat orang-orang kafir, Allah berfirman, “Apakah kamu tidak memerhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya, Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak teraniaya sedikit pun.” (QS Annisa [4]: 49).

Dengan demikian, kata ‘aku’ dengan muatan keagungan, pujian, dan ketinggian tidaklah pantas jika dinisbatkan kepada diri sendiri. Kata itu hanya layak bagi Allah SWT, sang pencipta semesta alam ini.

h1

KUCARI ENGKAU TUHAN…

November 5, 2009

Kucari Engkau, Tuhan…

Oleh:  Istriku (Santy Martalia Mastuti)

6 April 2000


“Maria…,” Suster Hanna menatapku lembut. Selalu saja senyum mautnya meluluhkan hatiku. Huh! Kupalingkan wajah kuat-kuat.

“Maria, tatap mata saya. Kenapa kamu berpaling? Kenapa kamu merasa takut jika kamu memang tidak melakukannya?” Suster Hanna masih tersenyum lembut. Dan sekali lagi, aku tidak pernah kuat menghadapi kelembutannya. Entah kekuatan apa yang untuk kesekian kalinya mampu menggerakkan alam bawah sadarku. Serta merta aku berdiri, dan berteriak dengan lantang,

“Ya! Memang saya pelakunya. Saya yang telah membuang boneka Magdalena ke sungai belakang asrama.”

Uff! Seperti biasa, selalu saja interogasi ‘sederhana’ ini berakhir dengan pengakuanku.

Kutinggalkan ruangan suster Hanna begitu saja. Sudah cukup! Aku sudah muak! Aku tidak tahan mendengar suster Hanna selalu memanggil nama baptisku,… Maria… Maria…! Huh! Aku tidak pantas dipanggil dengan nama itu. Kedengarannya terlalu indah dan naif untuk seorang gadis bengal sepertiku. Lagipula… kalau si kurus Magdalena tidak menangis seperti tadi, pasti aku tidak akan berhadapan dengan suster Hanna. Dasar cengeng! Makan tuh boneka!

“Hei, White Maria!”

Tiba-tiba sebuah suara menahan langkahku. Puih! Siapa lagi yang akan memanggilku dengan gaya seperti itu kalau bukan…,

“Sorry, honey… Hehe… Aku dengar suster Hanna memanggilmu… lagi? Hehe…” Diana menghampiriku dengan senyumnya yang membuatku mual.

“He! Meskipun kamu kakakku, tidak ada ijin bagimu untuk memanggilku Maria!” Kutatap sangar wajahnya.

Diana kembali tertawa. Menyebalkan!

“Hehe… White, kurasa nama Maria baik untukmu. Makanya…, perbaikilah tingkah lakumu, honey. Jangan lupa buat pengakuan dosa selepas misa minggu depan. Biar darah di otakmu mengalir. Okey, honey? Muaaacch! Aku mau ke perpustakaan dulu. Daah…,” Diana segera berlalu dari hadapanku.

Kuhembuskan nafas kuat-kuat. Kesal. Diana memang gadis yang sempurna. Dia cantik, cerdas, dan taat. Papa dan Antonius, kakakku yang saat ini kuliah di seminari, sangat menyayanginya. Sedangkan perlakuan mereka kepadaku? Jangan ditanya! Antony selalu ribut menyuruhku ke gereja setiap minggu. Menyuruhku membaca kitab, menyuruhku aktif dalam perkumpulan remaja gereja, bahkan untuk pengakuan dosa pun dia yang membujuk! Sedangkan papa? Meski papa cukup sibuk mengurus bisnisnya daripada mengurus kami, aku tetap saja merasa bahwa dia lebih menyayangi Antony dan Diana daripada aku. Dan perlu diketahui, mamaku yang asli Jerman itu sudah meninggal dua tahun yang lalu. Ah, papa… Aku memang bukan anak yang baik. Aku selalu mengecewakan papa. Bahkan untuk memakai nama perawan suci Maria saja aku merasa tak pantas!

Pelan, kulangkahkan kaki menuju halaman belakang Santa Bernadita. Ujung-ujung bibirku merekah. Seperti yang sudah-sudah, hup! Tembok Sanber yang tidak seberapa tinggi bagiku itu terlompati sudah.

Uaaaahhh… Kutarik nafas panjang-panjang. Bagiku udara di luar Santa Bernadita terasa lebih segar. Bayangkan! Sekolah asrama putri dengan 1001 peraturan, lengkap dengan segala hukuman! Sebetulnya aku lebih tertarik masuk SMU daripada Sanber kalau saja Antony tidak membujukku terus menerus. Apalagi harus satu sekolah dengan Diana. Uff, menyebalkan! Popularitasku tidak mampu menyaingi kelebihannya. Sekali lagi, dia memang anak emas di setiap kesempatan.

Kuhentikan taksi yang lewat di depanku.

“Ke jalan Mastrib, mas!” seruku pada sang sopir.

Kembali senyum kemenangan tersungging di bibirku. Ah, suster Emil dan suster Hanna pasti akan sibuk mencariku. Hahaha… Cuma tiga hari! Aku janji akan bolos selama tiga hari saja. Setelah itu aku akan kembali dan siap disidang di ruang kepala sekolah, bahkan untuk pengkuan dosa sekalipun!

Jogja di siang hari benar-benar membuatku gerah jika saja taksi ini tidak ber-AC. Kubayangkan Rosa teman SMP-ku yang seorang muslim itu akan memelototiku sekali lagi. Dia memang tidak suka dengan kegilaanku, tetapi dia tidak pernah menolak menerimaku jika ‘kebetulan’ aku kabur dari Santa Bernadita.

 

8 April 2000

Kututup sebuah buku karangan Nietzsche yang belum selesai aku baca beberapa minggu yang lalu yang sengaja aku titipkan di rumah Rosa. Tokoh ini memang sedikit ‘nekad’ mengatakan bahwa ‘Tuhan telah mati’ di awal masa keruntuhan kedigdayaan dewan gereja. Kutatap Rosa yang tengah sibuk mengerjakan tugas rumahnya.

“Ros, “ panggilku pelan.

“Ya?” jawabnya tanpa menoleh.

“Kamu percaya nggak kalau Tuhan telah mati?” tanyaku kemudian, mencoba mengajaknya berdiskusi.

“Hah?!” Rosa berbalik menatapku tajam. “Kebanyakan mengkonsumsi filsafat, tuh!” Rosa tergelak. Tapi itu alasan yang dibuat-buat kurasa. Aku tahu betul Rosa tidak jauh berbeda dengan ku. Sama-sama sok filosofis!

“Jadi kamu percaya kalau Tuhan itu tidak mati dan tidak akan pernah mati?” kejarku.

Sure!” Rosa menjawab sekilas sambil menekuni tugasnya kembali. Uf, bad response!

“Tapi apa buktinya kalau kamu menganggap bahwa Tuhan itu tidak mati? Kulihat sebagai orang yang bertuhan, kamu tidak melakukan ritual apapun untuk-Nya. Kamu tidak pernah sholat, tidak pernah membaca kitab, tidak pernah ke masjid. Apakah itu tidak berarti kamu telah mematikan Tuhan? Karena kamu sama sekali tidak membutuhkannya…”

“Gila!” Rosa melongo mendengar jawabanku. Si tomboy itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ah, sudahlah. Seharusnya aku memang tidak menanyakan hal ini padanya. Bukankah dia tidak lebih baik daripada aku?

Tapi kalau Tuhan telah mati, lantas mengapa saat ini aku masih bernafas? Bukankah Tuhan yang memberiku kehidupan? Kalau Tuhan telah mati seharusnya aku juga sudah mati sekarang.

Ah, pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus saja mengganggu pikiranku. Sepertinya ada yang kurang dalam hidupku. Tapi apa? Apakah karena aku malas mendengarkan khutbah di gereja? Apa yang menyebabkan aku selalu berpikir untuk mencari sebuah kebenaran? Bukankah aku sudah menemukan kebenaran akan Jesus, Tuhan Bapa, dan Roh Kudus? Lalu kenapa aku masih juga gelisah? Kenapa aku masih mencari-cari Tuhan? Bahkan Rosa yang juga punya Tuhan Allah yang tidak pernah sholat itu juga tak pernah meributkan kebenaran yang dianutnya!

“He! Kenapa melamun? Just enjoy this life, honey! Kenapa sih meributkan soal Tuhan?” Sebuah bantal mendarat di mukaku, membuyarkan lamunanku seketika. Kulihat Rosa tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi wajahku. Awas kau! Cepat, kulempar balik boneka Winnie The Pooh itu ke arahnya. Dan…buk, mendarat telak di keningnya. Rasain!

 

10 April 2000

Klik, jeglek! Terdengar suara pintu dikunci dari luar. Seperti yang sudah aku perkirakan sebelumnya. Aku mendapat hukuman. Kali ini tidak tanggung-tanggung. Selama seminggu dikurung di ruang isolasi ditemani beberapa buku filsafat, kisah para santo, beberapa kitab dan buku lembar kontemplasi. Puih, benar-benar menjemukan.

Pelan, kuraih salah satu Kitab Kisah Perbuatan Rasul-Rasul 9. Hmm…, kelihatannya menarik.

…… Saul, yang kemudian dikenal sebagai St Paulus, dulunya adalah seorang penganut Yahudi ortodoks dan fanatik yang aktif melakukan pembantaian terhadap orang-orang Kristen. Dia pergi dari Yerusalem menuju Damaskus mengemban tugas dari pemimpin agamanya untuk menawan orang-orang Kristen di situ. Dalam perjalanannya dia melihat secercah cahaya terang dan mendengar suara yang jelas dari Jesus Kristus yang mempermasalahkannya karena tindakan kejamnya dan menyuruhnya pergi ke Damaskus dimana dia akan diberi petunjuk tentang apa yang harus diperbuatnya. Kemudian dia mendapatkan bahwa dirinya sudah buta hingga beberapa hari. Suatu ketika datang seorang laki-laki bernama Ananias yang membimbing tangannya sambil memberitahu bahwa dia akan mengembalikan penglihatannya dan akan diisi dengan Ruh Kudus. Saul pun sembuh dari kebutaaannya dan akhirnya menjalani pembabtisan. Setelah itu dia mulai berkhutbah di sinagog-sinagog bahwa Jesus adalah anak Allah…………

Wow! Membaca kisah ini aku jadi ingat Pendeta Samuel yang pernah menyampaikan materi konversi agama, yakni perubahan secara tiba-tiba atau berangsur-angsur terhadap kepercayaan yang sudah diyakininya. Lalu mungkinkah aku juga bisa mengalaminya? Mungkinkah suatu saat aku tidak lagi mempercayai ajaran agamaku lagi? Lalu berpindah keyakinan atau malah tidak berkeyakinan sama sekali? Ya ampun! Aku semakin pusing saja. Kututup buku itu lekas-lekas.

 

20 Mei 2000

Hari-hariku semakin membingungkan. Masalah konversi agama yang kupikirkan semasa isolasi dulu mulai terlupakan. Sayangnya masa kontemplasi yang hanya seminggu itu tidak merubah apapun dalam diriku. Sekarang aku lebih suka mendiskusikan filsafat dengan para atheis yang kutemui di dunia mayaku. Semakin hari hanya kehampaan yang kutemui di Santa Bernadita. Teman-teman virtualku itu lebih mengerti keinginanku. Maka tak heran jika setiap ada waktu luang aku selalu menghabiskannya untuk mengakses internet. Mendiskusikan Tuhan di dunia maya lebih menguras otakku daripada berkutat dengan  pelajaran keterampilan.

 

6 Maret 2001

Kakakku, Diana, lulus dari Sanber dengan nilai terbaik. Siapa lagi yang akan menyanjungnya sedemikian rupa kalau bukan Antony dan papa? Papa bahkan mengijinkan Diana meneruskan kuliah di Jerman lengkap dengan segala fasilitas di rumah nenek. Sedangkan aku? Aku resmi menjadi seorang atheis. Tidak ada Tuhan di dunia ini. Dunia adalah sebagai obyek pemikiran manusia. Lalu siapakah yang menciptakan pohon? Ah, apalah arti sebuah pohon jika aku tidak peduli? Pohon ada karena aku memikirkannya!

 

10 September 2001

Kali ini tidak hanya suster Hanna yang menatapku. Ada suster Emil, penanggungjawabku, dan yang paling seram adalah Pendeta Filipus!

“Kenapa kau lakukan itu?” Pendeta Filipus menatapku tajam.

Aku tersenyum. Ya! Aku memang telah membakar Kitab Perjanjian Barunya si keriting Franciska. Salah dia sendiri! Siapa suruh dia sok suci menasehatiku dengan kitab-kitab itu? Tidakkah dia mengerti kalau aku tidak butuh Tuhan?

“Kau benar-benar tidak menghormati agamamu!” Pendeta Filipus menggeleng-gelengkan kepalanya. “Semakin hari tingkahmu semakin sulit dikendalikan. Kami tidak ada pilihan lain kecuali membebaskanmu dari Santa Bernadita selama satu bulan penuh. Gunakanlah waktu yang cukup panjang itu untuk merenung di rumah.”

O, God! Pekikku dalam hati.

“Apabila tidak ada perubahan setelah itu, dengan terpaksa kami tidak bisa mengikutsertakanmu dalam kelulusan tahun ini. Kamu mengerti, Maria?” Pendeta Filipus sedikit mengeraskan suaranya. Aku tahu dia sangat marah. Maka aku merasa tidak perlu menjawab pertanyaannya melainkan hanya menundukkan kepala.

“Minggu depan datanglah ke gereja St Laurence. Setelah misa aku ingin bicara secara khusus denganmu. Siapa tahu kamu akan membuat pengakuan dosa.” Pendeta Filipus mengakhiri ‘sidang’ kecil ini dan beranjak keluar ruangan.

Pf! Apa yang akan dikatakan papa nanti jika mengetahui aku diskors satu bulan dari Sanber?

 

11 September 2001

Papa marah besar! Antony apalagi… Dia langsung menyuruh papa mengirimku ke rumah bibi Theresa yang cerewet itu untuk mengadakan bimbingan khusus.

“Iblis telah mempengaruhimu, White! Kau pikir atheis itu pemikiran yang bagus? Kau pikir kau bisa tenang jika meninggalkan Tuhan?” Antony benar-benar hilang kesabarannya. Aku hanya bisa terdiam mendengar kata-katanya. Ujung-ujungnya aku dibujuknya untuk membuat pengakuan dosa. Itu lagi! Tetapi aku menyetujuinya dengan syarat, aku lebih suka di kurung di kamarku daripada di kirim ke rumah bibi Theresa yang galak dan sangat disiplin itu. Uh! Pasti sangat menyebalkan.

 

20 Oktober 2001

Suster Hanna memberikan pujiannya kepadaku. Ya! Sejak Pendeta Filip ‘menatarku’ setiap minggu di gereja dan tumpukan buku-buku kisah santo dan kitab yang ‘wajib’ kubaca ketika dikurung selama satu bulan di rumah benar-benar membuatku ‘kapok’.

Aku memilih diam dan mengikuti permainan mereka. Aku mulai rajin ke gereja dan mengikuti kegiatan-kegiatan menjelang kelulusan di Sanber. Itu karena beberapa bulan ini aku harus bersikap baik kalau aku tidak mau mengulang waktu setahun lagi tinggal di Santa Bernadita. Dan sekarang, aku mulai berhenti memikirkan Tuhan.

 

25 Desember 2001

Suasana natal masih menemaniku. Kutinggalkan papa dan Antony yang masih asyik menyenandungkan Jingle Bell diiringi dentingan piano Diana. Papa dan Antony begitu gembira dapat merayakan natal bersama Diana tahun ini.

Kulangkahkan kakiku ke balkon depan. Kembali kudapati kehampaan batin yang luar biasa. Aku bertanya lagi pada diriku, sekedar meyakinkan kembali. Benarkan aku seorang atheis yang mengingkari keberadaan Tuhan? Meditasi Descartes, sebuah metode perjalanan batin, yang kubaca beberapa hari yang lalu sungguh sangat mengganggu pikiranku. Dia mengatakan bahwa tatkala seseorang mengenali dirinya secara mendalam hingga taraf tatanan obyektif, maka dia akan menemukan ide tentang Tuhan. Sejak saat itu aku mulai ribut lagi memikirkan Tuhan. Aku mulai merindukan-Nya. Di manakah Dia? Dalam kelelahan pencarian, aku pernah berpikir bahwa aku masih terlalu nista untuk mengusik keberadaan-Nya. Namun entah mengapa, pertanyaan itu selalu ada dan aku belum menemukan jawabannya.

Pelan kutengadahkan wajahku ke langit. Tuhan, apakah Engkau di sana? Bersama bintang-bintang di langit? Jawablah aku Tuhan! Tolong berilah aku petunjukMu. Apakah Engkau yang menciptakan aku? Apakah Engkau yang menciptakan barat dan timur? Apakah engkau yang menciptakan semesta?

Tiba-tiba sebutir air bening mengalir dari sudut mataku. Hangat. Tuhan, siapapun Engkau, aku merindukanMu.

Pelahan kulangkahkan kakiku kembali ke ruang tengah. Kudapati mereka bertiga masih larut dalam malam yang kudus ini.

Kuberanikan diri untuk membuka suara. Ya! Aku harus mengatakannya. Suatu keputusan yang baru saja kupikirkan. Mungkin dengan keputusanku ini aku akan segera menemukan Tuhan yang kumaksud. Tuhan yang menciptakan aku, menciptakan barat dan timur, menciptakan semesta… Ya! Aku ingin segera mengakhiri pencarianku.

“Papa…,” panggilku pelan ketika mereka baru saja menyelesaikan jingle-nya.

Ketiganya serentak menoleh ke arahku.

“Ya, sayang?“ Papa memandangku heran. ”Rupanya engkau lebih senang menyendiri daripada merayakan natal bersama kami?” Papa berjalan ke arahku dan merangkulku untuk bergabung dengan Antony dan Diana.

“Tempatmu di sini, sayang. Bersama kami. Jangan cemberut begitu, dong…” Papa tersenyum sambil mengacak rambutku.

“Papa, saya mau bicara,” selaku.

“O ya?” Papa mengerutkan keningnya. Antony dan Diana saling berpandangan, tak berkedip.

“Kelihatannya begitu penting…,” Papa mulai memperlihatkan wajah seriusnya.

Aku menarik nafas panjang.

“Papa…,” rasanya aku tak kuasa untuk bicara.

Mereka bertiga menatapku, diam.

“Papa, ijinkan saya menjadi biarawati setelah lulus dari Santa  Bernadita bulan depan.”

Fiuuh… Lega rasanya!

“Apa?!” Antony membelalakkan matanya. Papa diam tak bereaksi. Diana memandangku dengan takjub.

Kutundukkan wajahku dalam-dalam. Tolong mengertilah… Menjadi pelayan Tuhan akan membuatku mampu mendekati Ia. Aku sudah lelah mencari-Nya. Adakah pilihan lain?

 

5 Maret 2002

Papa menyetujui permintaanku untuk menjadi biarawati. Dia tidak mempunyai pilihan lain. Sedangkan Antony dan Diana juga tidak bisa melarangku.

Dua hari lagi aku berangkat ke Jakarta. Malam ini kusempatkan untuk menginap di rumah Rosa. Entah kapan lagi aku bisa bertemu dengannya. Aku pasti akan sangat merindukannya.

“Keputusanmu sudah bulat?” Rosa menatapku sebelum merebahkan diri di ranjang.

“Ya. Aku berangkat dua hari lagi,” jawabku pelan.

“Yah! Itu adalah keputusanmu. Aku tidak punya hak untuk melarang. Tapi…,” kalimat Rosa menggantung.

“Tapi apa?” kejarku.

“Kau akan menjadi missionaris?” Rosa bertanya dengan mimik lucu.

Aku tergelak.

“Kau takut?” Aku balik bertanya.

“Entahlah. Aku tidak begitu tahu tentang hal itu. Tapi, sejak aktif di kerohanian kampusnya, mas Deny sering mengungkit-ungkit hal itu.” Rosa mulai menarik selimutnya.

“O ya?” Aku tersenyum kecut. Aku tahu benar arti kata ‘missionaris’. Tapi Rosa?

“Sudahlah. Jangan terlalu dirisaukan. Kita adalah sahabat, takkan berubah selamanya.” Rosa membagi ranjangnya untukku.

“Sekarang kita tidur. Hari sudah larut. Masih banyak yang akan kita kerjakan besok. Aku akan menemanimu belanja untuk persiapanmu nanti.” Rosa membalikkan badan membelakangiku.

Aku termenung cukup lama. Jujur saja, terkadang aku masih tidak yakin dengan pilihanku ini. Malam ini, seperti malam-malam lainnya sejak keputusanku, terlewati begitu saja dengan perasaan galau. Aku tidak bisa memejamkan mata. Sementara itu nafas halus Rosa terdengar naik turun meningkahi kekalutan di dasar hatiku yang paling dalam. Tidak! Ini adalah keputusanku. Hanya dengan cara inilah aku bisa mendekati Tuhan. Tuhan yang selama ini aku rindukan. Tuhan yang menciptakan aku, menciptakan barat dan timur, menciptakan semesta. Tuhan, beri aku petunjuk!

Jam tiga lebih. Malam semakin larut. Aku belum juga tertidur. Detak jam dinding terdengar makin jelas. Lalu… suara itu? Samar-samar kudengar suara yang mengalun merdu. Tapi suara apa dan siapa?

Seperti ada kekuatan lain yang menggerakkan kakiku. Pelan, aku beranjak keluar kamar mencari arah suara. Semakin lama suara itu semakin jelas terdengar. Aku berhenti di depan pintu salah satu kamar. Entah kamar siapa. Alunan suara itu seperti membiusku. Begitu merdu… Hingga tak terasa aku sudah bersimpuh di depan pintu.

Fabiayyiaalaa irobbikuma tukadzdzibaan?

Entah kenapa, tiba-tiba saja hatiku berdebar keras. Tulang-tulangku terasa luruh seluruh sebab rasa ketidakberdayaan mengepungku tanpa aku tahu sebabnya.

Robbulmasyriqoini warobbulmaghribaini. Fabiayyiaalaa irobbikumaa tukadzdzibaan? Marojalbahroini yaltaqiyaan. Bainahumaa barzakhunlaayabghiyaan…

Suara milik seorang laki-laki itu terus melenakan pendengaranku. Aku mulai memastikan bahwa ia sedang membaca Al-Qur’an. Kemudian suara itu berhenti. Lama. Aku berpikir bahwa mungkin dia sudah selesai membacanya. Segera kukumpulkan keberanianku untuk mengetuk pintunya. Sungguh! Aku ingin tahu arti bacaannya. Dan aku sama sekali tidak mengerti kenapa aku ingin mengerti. Bukankah suatu hal yang konyol ketika seorang perempuan malam-malam mengetuk pintu laki-laki hanya untuk menanyakan arti sebuah bacaan? Tapi aku ingin tahu! Ingin tahu! Dan aku tidak peduli! Maka…,

tok…tok…tok…

Tiga ketukan pelanku di pintu cukup mengagetkannya.

“Siapa?” tanyanya.

“Saya. Pietra Johan.” Aku menyahut pelan.

Hening. Tak ada suara. Entah apa yang sedang dipikirkannya.

“Saya…, saya mendengar apa yang kakak baca. Saya ingin tahu artinya. Maukah kakak membacakannya untukku?” tanyaku sedikit gagap sambil berusaha meyakinkan dia bahwa aku tidak mempunyai maksud apa-apa. Dilihat dari suaranya, orang itu pasti Deny, kakak Rosa.

“Tolonglah… Jika kakak ingin, kakak tidak perlu membuka pintu untuk sekedar membacakannya untukku.” Pintaku sekali lagi, penuh harap. Sedikit merasa tak enak sebab aku juga tak begitu mengenalnya.

Krieeet…

Pintu pelahan terbuka. Seorang lelaki keluar dari kamar.

“Pietra, kenapa malam-malam begini masih belum tidur?”

“Saya menikmati bacaannya,” jawabku begitu pelan.

Kak Deny tersenyum.

“Kamu suka?”

“Kakak tahu saya bukan Islam?”

“Tak masalah. Aku hanya bertanya, apakah kamu suka?”

“Saya menikmatinya.”

“Baiklah. Aku akan membacakan artinya untukmu. Setelah itu kembalilah ke kamar Rosa. Sudah terlalu malam. Aku tahu besok kamu akan pergi ke Jakarta. Rosa bercerita padaku. Alhamdulillah, melalui lisanku, Allah memperdengarkan ayat-ayat-Nya yang kuharap bisa melegakan hatimu.”

“Kakak tahu saya selalu mencari dan mencari?” tanyaku di tengah gemuruh dadaku.

“Ya, jika tidak, kamu tak akan nampak lelah dan pasrah seperti ini. Aku dapat merasakannya.”

Kurasakan tiba-tiba saja dadaku berdebar-debar.

……………………………………………………………………………..

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Dia Tuhan dua timur dan Tuhan dua barat. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Dia adakan dua macam laut (asin dan tawar), yang bertemu keduanya. Di antara keduanya ada dinding (sehingga) tiada bercampur keduanya…

……………………………………………………………………………

Dan dua air bening meleleh dari sudut mataku. Menjalari lekuk-lekuk putih kulit wajahku yang semakin memucat. Kudengar Deny terus saja membacakan artiannya untukku. Aku terjatuh. Bersimpuh kaku. Sekian lama kucari Engkau, Tuhan… Kini aku menemukanMu! =

 

h1

Ibn Taymiyah & Ideology of Terror

October 14, 2009

Ibn Taimiyyah: Ulama Mujahid yang Pemaaf

Oleh: Muhamad Sahrul Murajjab

Dimuat di Majalah SABILI No. 6 Th.XVII, 08 Oktober 2009/19 Syawal 1430

Terorisme, kini kembali menjadi buah bibir. Sesuai “tradisi” yang telah berlangsung sekitar satu dekade terakhir, umat Islam lagi-lagi dijadikan ‘santapan empuk’ opini yang berkembang semakin liar! Di Indonesia, dunia pesantren pun disorot dengan pandangan tajam penuh kecurigaan. Kegiatan dakwah di bulan Ramadan yang suci ini bahkan sempat terdengar santer akan diawasi aparat. Beberapa nama tokoh pembaharu Islam masa lalu juga kembali disebut-sebut sebagai pihak yang ikut bertanggung jawab dibalik penyebaran “fundamentalisme” dan “radikalisme”, dua kata yang kemudian dijodohkan dengan istilah “terorisme”.

Istilah fundamentalisme dan radikalisme Islam itu sendiri sebenarnya merupakan stereotype yang diciptakan Barat untuk menunjuk kalangan umat Islam yang berusaha untuk kaaffah dalam menjalankan agamanya, berupaya teguh berpegang pada al-Qur’an dan Sunnah, serta tidak “nurut” dan  susah diajak berompromi dengan mereka, yang pada akhirnya kemudian dikesankan reaktif, emosional dan tidak toleran.

Kini, opini publik sedikit demi sedkit mulai dipaksa dan diarahkan untuk mengasosiasikan radikalisme maupun terorisme kepada seorang ulama besar yang menyandang gelar Syaikhul Islam; Ibnu Taimiyyah al-Dimasyqi rahimahullah. Meski sebenarnya, hal ini bukan hal yang baru memang. Sekedar menyebut contoh, Andrian Morgan, seorang penulis asal Inggris, pernah mengatakan Ibn Taimiyyah sebagai the real godfather of islamic fundamentalism yang memberi inspirasi bagi tokoh-tokoh pembaharuan yang datang sesudahnya seperti Muhamad ibn Abdul Wahab, Sayyid Qutb dan Abul A’la al-Maududi yang juga disebutnya sebagai ekstremis. Hampir senada, Monte Palmer dan Princess Palmer, penulis buku At the Heart of Terror: Islam, Jihadist and America’s War on Terrorism (terbit tahun 2007), menyebutkan bahwa hampir semua akar gerakan ekstrimisme muslim modern dapat dilacak jejak-jejak kakinya kepada pemikiran Ibn Taimiyah.

Tuduhan ini tentu perlu diluruskan. Toh, jika seandainya benar bahwa para pelaku terorisme yang muncul belakangan disebut-sebut sebagai pembaca buku-buku Ibn Taimiyah dan sering mengutip fatwa-fatwanya, tidak lantas menjadi absah untuk menyimpulkan bahwa Ibn Taimiyyah adalah sumber ideology of terror. Secara metodologis cara berfikir seperti itu layak dipertanyakan, terlebih lagi jika kemudian mengabaikan faktor politik dan sosiologis yang menjadi variabel utama munculnya terorisme.

Sosok Ibn Taimiyyah, jika referensi karya-karya beliau ditengok secara lebih baik, akan diketahui bagaimana kehati-hatian ulama yang banyak dipuji baik oleh kawan maupun lawannya ini dalam mengkafirkan sesama muslim. Bahkan selain terkenal dengan keteguhan dalam mempertahankan prinsip dan ghirahnya yang meluap terhadap Islam, Ibn Taimiyyah juga diketahui sebagai sosok pribadi yang lembut, rendah hati, toleran dan lebar dada. Dalam berbagai kasus yang menimpanya, oleh sejarah dibuktikan bahwa Ibn Taimiyyah merupakan seorang ulama mujahid yang pemaaf dan bukan tipe pendendam terhadap musuh-musuh yang mendzaliminya, persis seperti perkataan Ibn Taimiyyah sendiri dalam salah satu fatwanya, “Aku telah melapangkan dadaku bagi siapapun yang berselisih denganku. Biarlah! Jika dia melanggar batasan-batasan Allah dengan mengkafirkanku, menyatakan diriku fasik, atau membuat kedustaan dan berlaku fanatik buta, maka aku tidak akan melanggar aturan-aturan Allah terhadapnya.” (lihat: Majmū’ al-Fatāwā:3/245).

Pada kesempatan lain beliau juga menyatakan, “…sesungguhnya aku telah menghalalkan/merelakan (kesalahan) setiap muslim (terhadapku), aku menghendaki kebaikan bagi setiap orang Islam, aku juga mencintai kebaikan bagi saudaraku sebagaimana aku mencintainya untuk diriku sendiri. Dan bagi orang-orang yang telah melakukan kebohongan serta aniaya terhadapku, aku telah maafkannya.” (Majmū’ al-Fatāwā: 28/55).

Kelembutan hati Ibn Taimiyyah ternyata juga tidak terbatas kepada saudara-saudaranya yang seagama. Suatu ketika, beliau melakukan kesepakatan dengan pemimpin pasukan Mongol untuk melepaskan tahanan yang ditangkap di Baitul Maqdis. Pemimpin Mongol waktu itu bersedia melepaskan para tahanan kecuali mereka yang bukan Muslim, karena dianggap tidak termasuk dalam kesepakatan. Mengetahui hal ini Ibn Taimiyyah pun menolak untuk menyetujui tindakan itu dan menuntut pembebasan mereka semua tanpa kecuali seraya mengatakan kepadanya, “Hendaknya kau bebaskan semuanya termasuk mereka yang berasal dari kalangan Yahudi dan Nasrani, karena mereka adalah juga dalam perlindungan (ahl dzimmah) kami.”

Sifat-sifat luhur Ibn Taimiyyah yang toleran dan pemaaf, namun justru seringkali dilupakan oleh kebanyakan orang ini, telah dikumpulkan dalam sebuah buku berjudul Ibn Taimiyyah wa al-Ākhar (Ibnu Taimiyyah dan Orang Lain) oleh Syaikh `Aidh ibn Sa’ad al-Dosari dan diterbitkan di Doha, Qatar tahun 2007.

Lantas siapakah dan bagaimanakah sebenarnya figur seorang Ibn Taimiyah?.

Ibn Taimiyyah: Biografi Singkat  dan Perjuangannya

Ibn Taimiyyah merupakan seorang tokoh besar dalam sejarah Islam yang telah menghabiskan waktunya untuk membela Islam, mengajarkan ilmu, berjihad dan berijtihad. Wawasan keilmuannya sangat luas mencakup berbagai disiplin ilmu seperti tafsir, hadits, fiqh, teologi bahkan juga filsafat dan tasawuf. Tak heran warisan buku-bukunya sangat berlimpah dan konon menurut catatan para muridnya mencapai 300 sampai 500 judul buku.

Beliau memiliki nama lengkap Taqiyuddin Abu al-‘Abbas Ahmad ibn Abdul Halīm ibn Abdul Salām ibn Abdullāh ibn Abul Qasim Al-Khidlr ibn Muhamad ibn Taimiyyah. Dilahirkan pada tanggal 10 Rabi’ul Awwal 661H/1263M di Harran, kini provinsi Sanliurfa di tenggara Turki, dekat dengan perbatasan Syria. Akibat serangan Mongol ke wilayah itu, Ibn Taymiyyah kecil harus mengungsi bersama keluarganya ke Damaskus saat berusia 7 tahun.

Ibn Taimiyyah lahir dan tumbuh di tengah kondisi umat Islam yang carut marut dan mengalami kemunduran baik secara politis, sosial, keilmuan maupun keagamaan. Sekitar 5 tahun sebelum beliau dilahirkan, tepatnya Januari 1258, Baghdad yang menjadi pusat pemerintahan Daulah Abbasiyah jatuh ke tangan bangsa Mongol. Pasukan Salib yang datang dari daratan Eropa juga telah menguasai sejumlah wilayah umat Islam. Kaum muslimin sendiri pada masa itu secara umum mengalami keterbelakangan, banyak meninggalan ajaran agama yang benar atau mencampur adukkannya dengan berbagai unsur yang terinfiltrasi dari luar Islam, serta diwarnai fanatisme buta.

Namun dalam sebuah keluarga yang taat menjalankan ajaran agama dan memiliki tradisi keilmuan sangat kuat, Ibn Taimiyah telah berhasil membentuk karakternya yang mulia dan intelektualitasnya yang mengagumkan. Kakeknya, Abu al-Barakat Majduddin ibn Taimiyyah merupakan seorang ulama dalam fiqh Hambali yang diperhitungkan. Salah satu karyanya, kumpulan hadits-hadits hukum Muntaqā al-Akhbār, kemudian menjadi terkenal bersama syarah (penjelasan)-nya Nail al-Authār yang ditulis oleh ‘Ali Al-Syaukāni. Ayah Ibn Taimiyyah sendiri, Syaikh Abdul Halim Syihabuddin merupakan seorang pengajar di Masjid Umayyah Damaskus sekaligus “direktur” di sekolah Dar al-Hadits al Sukkariyah.

Semenjak kecil Taqiyudin Ibn Taimiyyah dikenal sangat cerdas dan telah mampu menghapal  al-Quran saat masih berusia sangat muda. Sebelum berusia 20 tahun, beliau sudah mendapat otoritas untuk mengeluarkan fatwa. Sepeninggal ayahnya, menginjak usianya yang ke-21, Ibn Taimiyyah menggantikan sang ayah mengajar ilmu Hadits dan Fiqh di Darul Hadits al-Sukkāriyah dan setahun kemudian mulai mengajar ilmu tafsir di Masjid Agung Umayyah. Pada akhir tahun 691 /November 1292, Ibn Taimiyah pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji dan kembali ke Damaskus tahun 692/Februari 1293.

Karena pembelaan dan kecintaannya kepada Islam, riwayat hidup Ibn Taimiyyah dijalani penuh perjuangan, jihad, fitnah, dan tekanan. Pada tahun 693/1293, Ibn Taimiyyah dijebloskan ke penjara untuk pertama kalinya karena sikap dan fatwanya yang cukup keras terhadap seorang Nasrani bernama `Assāf yang telah menghina dan melecehkan Rasulullah SAW. Karena kedekatan Assāf dengan kalangan keluarga penguasa, pembelaannya terhadap Rasulullah tersebut justru meghantarkannya ke penjara.. Di dalam penjara itulah Ibn Taimiyyah menulis salah bukunya yang terkenal, Al-Shārim al-Maslūl ‘ala Syātim al-Rasul (Pedang Terhunus untuk Penghina Rasul).

Menurut sejarah, sepanjang hayatnya Ibn Taimiyyah pernah dipenjara sebanyak tujuh kali, tiga kali diantaranya di Damaskus, Syiria dan selebihnya di Mesir (Kairo maupun Alexandria). Hampir semua kasus yang mengakibatkannya dijebloskan ke penjara, adalah keteguhannya memegang prinsip kebenaran  serta karena kedengkian dan makar para ‘musuh’ polemiknya yang didukung oleh penguasa saat itu. Tetapi Ibn Taimiyyah menjalani cobaan itu semua dengan jiwa besar dan ketegaran luar biasa. Sebagaimana banyak dinukil para penulis biografi beliau, Ibn Taimiyyah senantiasa menyatakan, “Apa yang bisa dilakukan oleh musuh-musuhku terhadapku? Surga (ketenangan dan kedamaian)-ku berada dalam dadaku dan akan terus bersamaku tak terpisahkan kemanapun aku melangkah. Bagiku, penjara adalah tempatku untuk menyendiri dan berkontemplasi. Jika aku dibunuh maka itu adalah syahadah dan jika aku diasingkan maka itu adalah kesempatan bagiku untuk melakukan perjalanan jauh”.  Tentang filosofi penjara ini, sebagaimana dinukil oleh muridnya Ibn Al-Qayyim dalam Al-Wabil al-Shayyib, Ibn Taimiyyah mengatakan, ”Seseorang yang sesungguhnya terpenjara adalah dia yang hatinya terpenjara dari Allah serta keinginannya diperbudak oleh hawa nafsunya.

Ibn Taimiyyah juga banyak mengisi hidupnya dengan jihad baik dengan ilmu (bil lisan wa al-qalam) maupun terjun langsung ke medan tempur. Selama masa-masa invasi  tentara Mongol ke Damaskus antara tahun 1299 sampai 1303 M, Ibn Taymiyah terus menerus mengobarkan semangat jihad di dada kaum muslimin dengan fatwa-fatwa dan ceramahnya. Pada masa kekuasaan Sultan Al-Malik al-Mansur Lājīn (696-698/1297-1299) beliau ditunjuk oleh Sultan untuk ikut serta sekaligus sebagai pembina moral dan pengobar semangat keimanan pasukan jihad yang dikirim dalam perang melawan pasukan Kerajaan Armenia Kecil.

Ibn Taimiyah juga pernah menjadi juru bicara delegasi para ulama yang datang menghadap pemimpin pasukan Mongol Il-Khan Ghazan untuk menyampaikan penolakan kehadiran mereka di Damaskus. Bulan Ramadlan tahun 702H/1303M, dalam sebuah invasi pasukan Mongol, Ibn Taimiyyah ikut berperang dalam pertempuran yang dikenal dengan Perang Syaqhab, dimana beliau saat itu memfatwakan dibolehkannya berbuka selama perang berkecamuk.

Di luar masa-masa perang dan waktu dipenjara, Ibn Taimiyyah memanfaatkan usianya untuk menulis buku-buku dan mengajarkan ilmunya, serta mencetak kader-kader yang kemudian menjadi ulama kenamaan seperti Ibn Qayyim al-Jawzīyah (w.1350), Al-Hafidz al-Dzahabi (w. 1348) dan Ibn Katsir (w.1372).

Pembaharuan dan Pemikiran Ibn Taimiyah

Ibn Taimiyyah sangat menaruh perhatian dan keprihatinan sangat besar terhadap kondisi umat Islam saat itu. Dengan menggunakan timbangan naql (wahyu) dan akal, serta teladan salaf al-salih beliau menyimpulkan bahwa umat Islam telah menyimpang dari karakter aslinya, sehingga mengalami kemunduran, keterbelakangan dan tunduk kepada bangsa lain. Dari situ beliau memulai proyek pembaharuannya yang komprehensif dengan mencontoh prinsip Imam Malik ibn Anas (w. 179 H/ 795M) bahwa “generasi umat Islam masa kini tidak akan pernah berhasil dan menjadi unggul kecuali dengan apa yang menjadikan generasi pertama umat Islam menjadi berhasil dan unggul.”

Menyadari sentralitas konsep Tauhid dalam sistem bangunan Islam, Ibn Taimiyah mengerahkan upaya terbesarnya untuk memurnikan akidah Islam dari kesyirikan dan infiltrasi berbagai unsur luar seperti filsafat Hellenis-Yunani, mistisisme, paham hulul (inkarnasi), wahdat al-Wujud (pantheisme-monisme) dan fatalisme (jabariyah).

Ibn Taimiyyah berupaya kuat untuk membangun kembali hubungan antara realitas dan problem umat dengan sumber-sumber Islam yang murni, serta membangun kesadaran tugas hidup manusia dan misinya di dunia dengan jihad dan ijtihad (menggunakan akal sehatnya secara benar dan optimal). Maka dari itu, meski Ibn Taimiyyah sangat ketat dalam berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah, beliau juga menggunakan qiyās (analogical reasoning) dan argumentasi kemaslahatan (al-mashlahah) dalam pemikirannya. Tentunya, hal itu tetap dalam koridor rambu-rambu dua sumber utama di atas. Menurut beliau, hanya dengan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah-lah kaum muslimin dapat kembali bersatu dan tidak terpecah belah.

Dalam masalah ibadah, Ibn Taimiyyah menegaskan bahwa manusia tidak membutuhkan perantara untuk bisa berkomunikasi dengan Allah. Beliau juga berjuang keras untuk membersihkan cara-cara beragama yang dipenuhi dengan bid’ah. Seorang muslim menurutnya tidak harus tunduk kepada satu madzhab dan pendapat golongan tertentu, jika didapati bertentangan dengan teks-teks otentik dari al-Qur`an maupun Sunnah.

Tasawuf  tidak selamanya ditolak dan digeneralisasi oleh Ibn Taimiyyah. Yang beliau tentang adalah berbagai bentuk penyimpangan yang telah merasuk ke dalam tubuh tasawuf, seperti dilakukan oleh Al-Hallaj dan Ibn ‘Arabi, atau keyakinan yang justru mendorong seorang muslim menjadi lemah dan fatalistik. Maka dari itu, meskipun banyak kritikan pedas yang beliau lontarkan terhadap tasawuf , Ibn Taimiyyah masih menyempatkan diri untuk menyatakan pujiannya kepada tokoh-tokoh tasawuf generasi awal seperti Al-Junaid dan Abdul Qadir al-Jailani.

Dalam masalah politik, Ibn Taimiyyah meyakini bahwa membangun negara adalah bagian dari perintah Allah. Melalui negara, doktrin al-amru bi al-ma’ruf dan al-nahyu ‘an al-munkar dapat diwujudkan dengan semestinya. Negara juga merupakan amanah untuk menyelesaikan urusan-urusan masyarakat banyak.

Demikianlah profil singkat dan figur seorang ulama besar yang kini banyak dicurigai sebagai sumber ideology of terror. Ibn Taimiyyah, dengan segala kekurangan dan kelemahannya, nyatanya merupakan tokoh besar yang patut dibanggakan umat Islam. Ibn Hajar al-‘Asqallani (w. 852/1448), seorang ahli hadits terkemuka, dalam salah satu pernyataannya pernah memuji Ibn Taimiyyah, “Pengakuan akan keimaman (ketokohan) Taqiyuddin (ibn Taymiyyah) lebih terang dari pada matahari. Gelaran Syaikh al-Islam pada zamannya masih terus lestari hingga sekarang di atas lidah-lidah yang berbudi luhur dan akan lestari hingga hari esok sebagaimana hari kemarin. Tidaklah seorangpun mengingkarinya kecuali mereka yang tidak mengerti atau berpaling dari sikap adil..”.

h1

SEJARAH PERADILAN DI ZAMAN NABI SAW

July 16, 2009


Oleh: Muhamad Sahrul Murajjab

Dalam kajian teori-teori terbangunnya suatu peradaban, terdapat sebuah pendapat populer yang menyatakan bahwa cara pandang dunia (worldview) yang dilahirkan dari semangat (elan vital) yang dibawa oleh ide-ide atau gagasan ajaran keagamaan (al-fikrah al-dīniyyah) merupakan unsur paling penting terbangunnya sebuah peradaban.[1] Dalam konteks ini, kemunculan Islam di Semenanjung Arabia sekitar abad ke-7 Masehi telah menjadi faktor utama penggerak munculnya sebuah peradaban baru yang terlahir dari sebuah wilayah yang secara geografis dikelilingi oleh tanah gersang dan secara sosiologis telah berabad-abad tenggelam dalam kegelapan kebodohan.

Oleh sejarah, bahkan masyarakat yang mendiami wilayah Semenanjung Arabia tersebut cenderung terabaikan karena selain disebabkan oleh kebiasaan mereka yang nomaden (berpindah-pindah) juga disebabkan pula oleh ketidakadaan kesatuan institusi politik yang mempersatukan suku-suku yang justru seringkali saling bermusuhan, disamping juga kenyataan bahwa mayoritas masyarakat bangsa mereka adalah buta huruf (ummy). [2]

Islam sejak awal sejarah kemunculannya, dengan Sang Nabi Muhamad SAW sebagai tokoh sentral, sebagai agama kemudian secara cepat melahirkan sebuah komunitas masyarakat madani (civil society) bernegara-berperadaban di Madinah dimana dalam mata rantai sejarah peradaban Islam merupakan fase terpenting dibangunnya prinsip-prinsip utama dan dasar-dasar yang kokoh bagi terbangunnya sebauh peradaban baru tersebut dengan memberikan landasan-landasan ideologis-normatif maupun berbagai tata cara praktis sebagai sumber mata air  keteladanan generasi-generasi berikutnya.

Termasuk hal tersebut di atas, masyarakat-negara yang dibangun oleh Nabi SAW telah memberikan bebeberapa latar belakang dan model awal instrumen-instrumen dan institusi-institusi yang menjadi menjadi pilar penting keberadaan sebuah masyarakat-negara. Maka jika dalam perspektif ilmu ketatanegaraan modern mengenal tiga lembaga kekuasaan Negara atau yang disebut sebagai trias politica yakni kekuasaan lembaga legislatif, eksekutif dan judikatif maka ternyata Rasulullah SAW telah mempraktekkan tiga bentuk institusi tersebut.

Dalam konteks pengantar/pendahuluan di atas, tulisan ini akan berupaya mengeksplorasi sejarah salah satu institusi trias politica tersebut yaitu institusi judikatif (peradilan) di zaman Nabi. Kajian terhadap tema ini akan menemukan arti pentingnya karena dengan mengerti dan memahami sejarah awal dan konsepsi peradilan di zaman Nabi akan memudahkan siapa saja untuk lebih mengenal semangat keadilan yang dibawa oleh ajaran Islam itu sendiri dan pernah dipraktekkan melalui peradaban Islam selama berabad-abad, sehingga tidak keliru jika Edmund Burke (1729-1797), seorang penulis-negarawan Inggris, mengakui bahwa “sesunguhnya undang-undang/hukum Islam diterapkan kepada semua umat Muslimin tanpa ada perbedaan antara raja yang sedang bertahta dengan seorang pembantu yang lemah. Undang-undang hukum Islam telah tersusun dengan sangat rapi dan kokoh, sehingga secara nyata telah menjadi hukum/undang-undang yang amat sangat mendasar dan paling cemerlang yang pernah dikenal oleh sejarah manusia”.[3]

BACA SELENGKAPNYA DI SINI


[1] Ibn Khaldūn adalah ahli sejarah pertama yang mencetuskan teori ini, yang kemudian diikuti oleh pakar sejarah perdaban seperti Arnold Toynbee dan Mālik Ben Nabi. Lihat dalam Sulaymān al-Khatīb, Usus Mafhūm al-Hadlārah fī al-Islām, Kairo, Al-Zahrā’ li al-I`lām al-`Arabi, Cet.I, 1986, hlm. 73-80

[2] Hasan Ibrāhīm Hasan, Tārikh al-Islām: al-Siyāsi wa al-Dīni wa al-Tsaqāfi wa al-Ijtima`i, Beirut-Kairo, Maktabah Al-Jīl & Maktabah al-Nahdlah al-Mişriyah, Vol. I, Cet. 14, 1996, hlm. 7

[3] M.M. Sharīf, Al-Fikr al-Islāmi: Manābi`uhu wa Ātsāruhu, Kairo, Maktabah al-Nahdlah al-Mişriyah, Cet. 8, 1986, hlm. 62. Buku yang aslinya berjudul Islamic Thought: It’s Origin and Achievements ini diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan dikomentari serta diberi beberapa tambahan oleh oleh Dr. Ahmad Shalabi.

h1

Sejarah Emas Dinasti Abbasiyah

June 16, 2009

Meski terdapat sejumlah perbedaan, para ahli sejarah banyak yang membagi periodisasi sejarah peradaban Dinasti[1] Abbasiyah yang berumur sekitar lima ratus tahun (750-1258 M / 132-656 H) ke dalam dua periode utama.[2] Periode pertama, berlangsung antara tahun 750-945M/132-334H, dimana pada masa itu Dinasti Abbasiyah memiliki otoritas politik yang sangat kuat dan kemudian mampu melahirkan sebuah kemajuan peradaban yang disebut-sebut sebagai ”Era Keemasan” (the Golden Age). Akan tetapi periode ini juga sekaligus mencatat munculnya benih-benih kemunduran dan kelemahan politik yang terjadi di paruh akhir masa ini.

Sedangkan periode kedua (945-1258M) adalah rentang waktu dimana Dinasti Abbasiyah secara faktual mengalami kemunduran politik dan para khalifah kehilangan otoritas kekuasaanya terhadap sejumlah wilayah dibarengi dengan lahirnya negara-negara kecil (duwaylāt) yang memerdekakan diri. Karakteristik lain dari periode ini adalah masih terlihatnya sisa-sisa pengaruh kemajuan peradaban Islam era keemasan yang terwujud dalam perkembangan berbagai disiplin keilmuan (`ulūm), pembangunan (`umrān), tercapainya kesejahteraan, hingga pada level berikutnya yang bersifat negatif yakni menggejalanya gaya hidup bermewahan (taraf). Periode Dinasti Abbasiyah ini berakhir pada tahun 1258 M ketika Baghdad jatuh ke tangan bangsa Mongol di bawah komando Hulagu Khan.

Pembagian sejarah Abbasiyah sebagaimana model di atas, meski diakui oleh beberapa kalangan -seperti Eric Hanne sendiri- kurang tepat, ternyata mampu mempengaruhi nature atau gaya studi modern terhadap Dinasti Abbasiyah, dimana mayoritas fokus kajiannya lebih banyak dititikberatkan pada periode pertama.

Makalah ini, dengan mengenyampingkan periodisasi seperti diatas, secara spesifik akan membahas dan memilah era kemajuan ilmu dan peradaban yang dicapai oleh Dinasti Abbasiyah, sekaligus menelisik proses kejatuhannya dilengkapi dengan ulasan sejumlah faktor yang menyebabkannya.

untuk membaca lebih lengkap KLIK DI SINI

[1] Dinasti sendiri berasal dari bahasa Inggris “dynasty” yang berarti  a line of hereditary rulers. a succession of powerful or prominent people from the same family. Lihat : Software Concise Oxford Dictionary, Oxford University Press, Edisi 10.

[2] Bernard Lewis, ‘AbbÉsid, dalam E. Van Donzel et. al. (Ed.), The Encyclopaedia of Islam, Leiden, E.J. Brill, 1997, Vol. I, h. 17; Eric Hanne, ‘Abbasids, dalam Josef W. Meri (Ed.), Medieval Islamic Civilization: An Encyclopaedia, New York & London, Routledge, 2006, Vol. I, hlm. 1; Ahmad Ma`mūr al-`Usayri, Mūjaz al-Tārikh al-Islāmi, Damām, Maktabah al-Malik Fahd al-Wataniyah, Cet. 3, 2004, hlm. 166. Meski sepakat dengan pembagian dua periode sebagaimana dua sumber sebelumnya, namun al-`Usayri memberi tahun yang berbeda untuk masing-masing perode. Dalam pandangannya, periode pertama berlangsung antara tahun 749-861 M / 132-247 H, sedangkan periode kedua berlangsung antara tahun 861-1258 M/247-656 H.

[3] Eric Hanne, `Abbasids, hlm. 1