h1

GOMBALISME dan SENI BERCINTA

December 30, 2007

Assalamu’alaikum

Syahdan, Suatu pagi yang masih gelap gulita, melalui jasa sebuah jaringan seluler saya mengatakan pada istri saya untuk mengakhiri sebuah percakapan cukup panjang yang penuh kerinduan, “Dik, hati-hati dan jaga diri ya baik-baik, jangan sampai dirubung semut..“. Sontak istri saya kaget, “Lha kenapa mas, kok bilang gitu?” Dengan tersenyum penuh kemenangan saya bilang (yang udah baca emailnya Leni pasti bisa menebak), “Kan adik manis!”

Dan dari ujung hp Nokia 1100 saya pun mendadak terdengar suara,“Ih, mas GOMBAL!”

Mendengar itu, senyum saya semakin melebar. Meski mulut istri meneriakkan “gombal” (sambil bersungut barangkali), tapi saya sakin bahwa hatinya saat itu berbunga-bunga mendengar ucapan “sok romantis” tadi.

************ ******

Wal hasil, Menarik sekali membaca posting email Sdri. Leni mengenai daftar sejumlah kata-kata “gombal” beberaapa hari lalu. Jika saya adalah seorang evaluator (aviator?) maka minimal saya akan memberinya nilai 7.3. ha..ha..

Kekurangannya, barangkali hanyalah tidak adanya gagasan ketepatan menempatkan dimana dan kapan laiknya kata–kata gombal tsb “dimanfaatkan” .

Sebagai “pelaku tindak pernikahan” sejak kira-kira 3 tahun lalu saya serasa mendapatkan kembali sebuah penyegaran tentang perlunya sebuah SENI dalam “bercinta”. Seni akan selalu dikaitkan dengan pengelolaan rasa dan emosi yang mendayu-dayu menjadi sebuah “karya” yang sangat indah dinikmati.

Seorang laki-laki, bolehlah di luar rumah menjadi sosok gagah nan berwibawa dalam memimpin sidang. Atau berapi-api dalam menyampaikan sebuah statetement Negara. Pun juga boleh terlihat “sangar” dijalanan. Tetapi di rumahnya senidiri, bersama perempuan yang hidup bersamanya, dia mesti menjadi figure yang begitu lembut… kalau perlu “kocak”, dan bahkan juga menjadi “kekanak-kanakan” dengan ceria riang kemanjaannya.

Ups! Rasanya tidak perlu berpanjang kata untuk sekedar berbagi sebuah pengalaman romantisme cinta yang telah halal. Kepada para “shoimun” (Orang2 yang masih “berpuasa”), and teman-teman yang masih “berusia lajang”, bersegeralah untuk menikmati eksperimen-eksperim en “bersertifikat halal” dengan nuansa begitu menggoda, salah satunya (mungkin) seperti diatas. NAH!!

Wassalam

eL-murOjab (Wong Kam Pung)

Really come from kampung

Jakarta, 3/08/2007

(dari email yang pernah Penulis kirim ke milis sekdilu32@yahoogroups.com)

Advertisements

3 comments

  1. Bagus juga…… mungkin jd terinspirasi, karena beberapa teman bilang kalau saya bukan tipe suami yang romantis, mudah2an bermanfaat


  2. jab, kowe mbiyen wagu, elek, kuru, mambu, ngileran saiki kok pintermen! yoo selamat wae, sukses terus


    • iki sopo tho?



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: