h1

Hukum Membaca Al-Quran bagi Wanita yang sedang Haidl

December 30, 2007

(Jawaban dari pertanyaan seorang Ibu WNI di Tripoli, Libya)

Dari yang saya tahu, hukum membaca al-Quran bagi wanita haidl (dan orang yang berjunub) secara ringkas bisa digolongkan kepada tiga kelompok:

1. Tidak boleh membaca al-quran bagi wanita haidl (dan orang yang berjunub)

Jumhur ulama berpendapat bahwa wanita haidl tidak diperbolehkan membaca al Quran, dengan dalil hadits yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib bahwa ” tidak ada yang menghalangi Rasulullah untuk membaca Al-Quran kecuali janabah / keadaan junub (Hr. Abu Dawud, Ahmad, dan al-Tirmidzi). Menurut jumhur bahwa wanita yang haidl keadaaanya sama dengan orang junub dalam hadats besar.

2. Boleh membaca al-Quran bagi yang Haidl tapi tidak boleh memegang mushaf (dan tetap tidak boleh bagi yang junub)

Sebagian ulama membolehkan bagi wanita haidl untuk membaca al-Quran diantaranya Ibn Taymiyah, mazhab Maliki, salah satu riwayat dari Ahmad bin Hanbal dan juga salah satu qaul (pendapat) dari Al-Syafi’I, dengan alasan bahwa masa haidl yang relative lama dan tidak bisa disamakan dengan junub. Selain itu mereka juga bersandar dengan sebuah hadits yang menceritakan bahwa Nabi SAW berkata di Haji Wada kepada A’ishah ra yang saat itu sedang haidl “lakukanlah semua apa yang dilakukan oleh orang yang berhaji kecuali thawaf di Baitullah hingga engkau suci”( HR. al-Bukhori dan Muslim). Disini Nabi tidak melarang Aishah membaca Al-Quran, padahal oarang yang berhaji sebagaimana dimaklumi juga membaca al-Quran.

Adapun ketidak bolehan baca al-Quran bagi yang junub selain dalil diatas (kelompok pertama) ditambahkan pula hadits lain bahwa Ali bin Abi Thalib berkata: “…demikianlah saya melihat Rasulullah berwudlu” kemudian membaca ayat dari Al-Quran lalu berkata: ” yang demikian ini (membaca al-Quran) adalah bagi siapa yang tidak junub, adapun bagi yang junub maka tidak boleh meskipun satu ayat” (HR. Ahmad, Ibn Majah, Al-Tirmidzi dan Al-Nasai).

Namun mereka mensyaratkan membaca Al-Quran ini dengan tanpa memegang mushaf. Boleh dengan memegang al-Quran tapi harus dengan ha-il (pembatas). Boleh juga membaca mushaf Quran Terjemah atau tafsir, dimana ayat-ayat al-Qur’an menjadi bagian darinya.

Adapun hadits yang berbunyi ” tidak diperbolehkan bagi wanita yang berhaidl dan orang yang junub membaca satu ayatpun dari al-Quran” (Hr. al-Tirmidzi dan Ibn Majah) adalah dlaif (tidak sah).

Pendapat ini dipegang oleh Syaikh Bin Baz dan kebanyakan ulama Saudi saat ini (sejauh yang saya ketahui).

3. Boleh membaca dan memegang mushaf Al-Quran baik bagi orang yang junub maupun haidl

Menurut mereka yang ada dalam kelompok ketiga beralasan sbb:

a. Larangan memegang mushaf bagi orang yang berhadats sebagaimana dalam hadit: “tidak boleh memegang al-Quran kecuali yang ‘thahir’ / suci ” (HR. Thabrani dengan sanad sahih) . tidak bisa dijadikan dalil karena kata thahir memilki bermacam arti; antara lain apakah yang dimaksud suci dari hadats atau suci secara I’tiqad. Sementara untuk memaknai dengan suci dari hadats harus ada qarinah-nya. Nah karena qarinah tsb tidak ada, maka dikembalikan ke bara’ah ashliyah (hukum asal bahwa bagi setiap muslim-mu’min boleh memegang mushaf).

b. Mengenai ketidakbolehan membaca Quran bagi yang junub (dan juga haidl) dengan dasar hadits Ali bin Abi Thalib bahwa ” tidak ada yang menghalangi Rasulullah untuk membaca Al-Quran kecuali janabah / keadaan junub (Hr. Abu Dawud, Ahmad, dan al-Tirmidzi) tidak bisa diterima karena hadits ini, meski di katakan hasan oleh Ibn Hajar, namun menurut kelompok ketiga dlaif (tidak sah) disebabkan oleh menyendirinya salah seorang perawi yang bernama Abdullah bin Salamah, dimana dia ini banyak berubah hapalannya di masa ahir usianya, sebagaimna dikatakan juga oleh Ibn hajar sendidri dalam kitabnya Al-Taqrib.

Sedangkan Hadits Ali bin Abi Thalib “…demikianlah saya melihat Rasulullah berwudlu… dst ” juga tidak bisa dijadikan hujjah karena dua alasan yaitu lemahnya salah seorang perawi dan selain itu hadits ini mauquf.

Pendapat BOLEHnya membaca al-Quran buat yang junub ini (apalagi buat yang haidl, yg tidak ada dalil larangannya yg pasti) dipegang oleh Dawud Al-Dzahiri , Ibn Hazm dan juga diriwayatkan dengan sanad jayyid sebagai pendapat yang dipegang oleh Ibn Abbas, Said bin Musayyib, Sa’id bi Jubair dan juga Ikrimah sebagai mana dinyatakan oleh Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (juz. 2 hal 43).

Untuk ulama kontemporer yang berpendapat demikian adalah Syaikh Nasirudin al-Albani.

Namun meski demikian mereka memakruhkan membaca alQuran dalam kondisi junub dengan alasan hadits Nabi ” Sesungguhnya aku tidak menyukai berdzikir kepada Allah kecuali dalam keadaan suci” (HR. Abu Dawud, al-Nasai dan Ibn Hibban).

Demikianlah perbedaan para ulama mengenai hukum membaca al-Quran bagi wanita yang berhaidl (dan juga orang yang junub) sejauh yang dapat saya rangkum. Hati saya condong dengan pendapat ketiga. Namun untuk hati-hati saya memilih yang kedua. Adapun pendapat pertama menurut saya TIDAK KUAT.

Ini dulu. Maaf juga nulisnya tidak terlalu teratur dan pasti banyak tidak sesuai dengan EYD.

Insya Allah lain waktu diperbaiki.

Jika ada yang kurang jelas bisa ditanyakan kembali.

Wassalam

El Murojab

Tripoli, 4 Ramadlan 1427/26 Sep 2006.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: