Archive for January, 2008

h1

L’Oiseau Bleu

January 15, 2008

L’Oiseau Bleu

By: My Beloved Dinda

[Santy Martalia Mastuti]

Temaram yang kian kelam. Perempuan itu tak juga beranjak dari melihat bulan. Sementara suara-suara satwa malam terdengar riuh memadu harmoni nada. Tidak terdengar nada milik Bach atau sekedar langgam Jawa tentunya. Sebab yang bersuara hanyalah binatang belaka.

Perempuan itu masih berdiri menatap bulan. Siluet pepohonan nampak mistis memeluk raganya yang membelakangi pintu teras lantai atas sebuah bangunan megah dipinggiran kota Jakarta, rumah bersalin Anggia. Raga itu terlihat begitu indah dengan tonjolan besar pada bagian perut yang menjadikan pinggangnya terlihat lebih lebar dari biasanya. Raga perempuan! Maka menjadi sempurnalah sosok sang perempuan tatkala tangan halus beserta lentik jemarinya bergerak membelai perutnya. Penuh kasih, penuh kelembutan. Sebab ada kehidupan di sana. Sebab ada nafas yang berhembus tenang di dalamnya.

Ini Jakarta! Jelas, Jakarta tidak akan terlihat seperti Paris. Namun dalam pandangannya, menara Eifel hanya berjarak beberapa meter saja sebab ingatan yang sedang bekerja. Lalu suara-suara yang biasa mengisi hari-harinya bergema menguasai alam pikirnya. Seolah hanya suara itu yang berteriak dan bergema di seluruh semesta, saat ini, saat malam dimana ia melihat bulan.

“L’Oiseau Bleu[1]!”

“L’Oiseau Bleu!”

Perempuan itu tersenyum.

“Ada apa kau ini?”

“Kau benar-benar menakjubkan, dinda. L’Oiseau Bleu. Burung biru. Matamu yang biru… yang selalu menengadah memandang langit yang juga berwarna biru. Keceriaanmu, sikap bebasmu, senyum ramahmu, kecantikanmu, kelembutanmu… Benar-benar seperti…,”

“Burung?” perempuan itu merengut.

Lelaki tertawa.

“Apa salahnya, nda? Burung juga indah… Apalagi burung biru yang satu ini. Dia lebih indah dari seluruh burung di dunia. Suaranya lebih merdu bila berkicau…,”

“Dinda? Berkicau?”

“Sudahlah, nda. Yang penting kan aku cinta sama dinda. Dinda yang seperti burung biru. Selamanya cinta…,”

Pipi sang perempuan memerah.

“Dasar gombal!”

Tawa lelaki berderai-derai. Dia tahu itu gombal. Namun ia yakin perempuan itu suka.

“Ada apa, nda?” tiba-tiba ia melihat perubahan sinar wajah perempuan yang sekejap saja menjadi keruh.

“Burung itu tak pernah selamanya terbang bersama, Mas,” pelan perempuan bersuara.

“Tetapi aku akan menemani burung biruku terbang bersama. Selamanya…,”

Lelaki menatap dalam-dalam mata sang perempuan. Tenang.

“Ehm-hm!” Sejenak kemudian lelaki mendekatkan wajahnya tanpa melepas sedikitpun tatapan matanya, genit. “Coba tebak!”

“Nggak ah! Malas!”

“Nda…, ayo tebak…,”

Perempuan merengut. Lelaki tersenyum. Dia tak ingin memaksa. Yah, mungkin bawaan bayi yang sedang dikandung sang perempuan, istrinya. Akhir-akhir ini dirasakannya sang perempuan mulai tidak sabaran.

“Aku punya kabar gembira untuk dinda. Dengar…,” ia memeluk istrinya dari belakang sambil membisikkan sesuatu. Lembut.

“Apa?!” teriak sang perempuan sesaat kemudian.

Lelaki tersenyum penuh arti.

“Mas serius?”

“Dinda kira aku main-main?”

“Menetap di Indonesia?”

“Apa salahnya? Aku sudah mendapat panggilan kerja di sana. Nda akan jadi istri terbaik untukku. Aku sudah mengatur semuanya. Dinda akan melahirkan di Indonesia dan kita akan membesarkan anak-anak kita di Indonesia,” tangan lelaki turun membelai perut perempuan yang sudah mendua tiga minggu.

Tiba-tiba perempuan melepas belaian lelaki dan berbalik.

“Kita akan pergi dari Paris? Melepas pekerjaanmu sebagai scriptwriter di sini? Lalu rumah baru kita di Courbevoie?”

“Kita bisa menjual rumah itu.”

“Tapi, Mas, kita bahkan belum sempat menempatinya.”

“Buat apa ditempati? Bahkan sebelum kontrak apartemen kita habis insya-Allah kita sudah ada di Indonesia.”

Mata perempuan membulat.

“Hei! Dinda membuatku bingung. Dinda senang? Atau tidak?”

Perempuan itu tak menjawab. Namun sebuah ciuman di ujung hidung lelaki sudah cukup sebagai duta hatinya. Tanda kebahagiaan yang terdalam sudah tersampaikan kini.

“Kita akan mendidik anak-anak kita yang tampan dan cantik dengan baik. Dalam bimbingan Islam dan segala kemuliaannya. Di Indonesia lebih memungkinkan untuk itu. Tidak di Perancis. Kita akan mengajarkan Al-Qur’an, membacakan sejarah rasulullah, para sahabat…,”

“Juga Les Aventures d’un gamin de Paris[2]?”

Les Aventures d’un gamin de Paris juga,”

Les Trois Boy-scouts[3]?”

“Tentu itu juga akan dibacakan.”

Perempuan itu tersenyum menatap mata sang lelaki penuh cinta.

******

Larane lara ora kaya wong kang nandang wuyung[4]

Mangan ra doyan ra jenak dolan neng omah bingung

Lelaki yang melihat bulan nampak mulai bergetar bibirnya. Masih jelas diingatannya akan nuansa warna hijau yang megah mendominasi acara resepsi pernikahannya dengan seorang wanita santun yang ditemuinya di Paris, ketika sama-sama menjadi mahasiswa. Rasanya baru kemarin mereka menikah. Nafas budaya Jawa yang khas dengan adat pura mangkunegaran hingga gift cantik karya pengrajin Jogja menjadi tema pernikahan yang menakjubkan. Bahkan gaun pengantin batik sido ati yang dipadankan dengan atasan bermotif modang tebaran ati masih terasa melekat begitu indah di tubuh istrinya. Acara Wilujengan, Siraman, Midodareni, Panggih… lengkap dengan suguhan tari Srimpi yang indah… Di Perancis, semua itu tidak ada. Namun jika saja dulu ia mengenal Islam lebih jauh, upacara pernikahannya mungkin bisa dibuat lebih Islami. Kebudayaan yang masih dijunjung tinggi tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam… Mungkin itu bagian dari garapan peradaban.

Mereka telah ditakdirkan untuk bertemu. Awal yang manis di suatu pagi yang cerah di salah satu sudut universitas. Lelaki itu melemparkan senyum pada sang perempuan sambil menyodorkan sehelai saputangan yang terjatuh dari saku bajunya. Senyum yang sempurna yang mampu membuat hatinya berdebar begitu kencang.

“Terimakasih. Marie Jean Jacquez,” tangan mungil sang perempuan terulur.

“L’Oiseau Bleu. Boleh aku memanggilmu begitu?”

Mata perempuan itu membulat. Sang lelaki tertawa renyah.

“Aku sudah lama mengamatimu. Namun baru kali ini bisa menegurmu. Berkat saputangan ini,” sang lelaki tersenyum memandangnya.

“Kenalkan, namaku Arya. Adikarya Anugerah.”

Lalu kehidupan menjadi begitu indah setelahnya. Sang lelaki begitu memperhatikannya. Seorang perempuan yang biasa-biasa saja. Seorang yatim piatu yang tinggal di pinggiran kota Paris, Courbevoie.

Ia yang tertawa dengan bebas bersamanya di sudut-sudut taman kota Paris. Berjalan-jalan menyusuri sungai Seine, Eiffel, museum Louvre… Melewati jalan setapak sempit yang membawa mereka ke sebuah taman kecil tempat berkumpulnya seniman Montmartre… Menyenangkan sekali membawa kanvas dan berjajar dengan para pelukis yang ada di sana, sekedar ingin mengabadikan salah satu sudut kota yang akan menjadi kenangan.

Ia, perempuan, yang memainkan karya-karya Mozart khusus untuknya sambil menikmati bulan di teras apartemennya. Perempuan yang terpingkal-pingkal melihatnya sangat percaya diri berdansa tango dengan gerakan tarian Jawa yang justru menghasilkan gerakan-gerakan tak beraturan. Ia yang bersusah payah mempelajari bahasa Indonesia, terlebih bersusah lidah untuk sekedar membiasakan diri memanggil ‘Mas’ untuknya…

“Mmm-a-s…?”

“Mas!”

“Mas!”

Great! Suara seksi sang perempuan lebih mirip seorang banci. Seharusnya ia lebih tipis lagi dalam mengucapkannya. Mulanya lelaki tak suka mendengarnya dan berencana untuk merelakan saja panggilan lain, asal tidak ‘Mas’. Tapi ternyata lama-kelamaan ia merindukan dan menikmati panggilan itu keluar dari mulut sang perempuan hingga detik ini, saat ini, meski kadang harus bercampur baur dengan bahasa Perancisnya,

Nous I’aimons, Mas,” bisiknya pelan. “Kami mencintaimu, aku dan bayimu…”

Ia yang… segalanya. Hingga ia yang memutuskan masuk Islam dan menikah dengannya, sang lelaki. Tidak ada yang keberatan atas keputusan itu. Merekapun menikah di Jakarta, Indonesia. Dan sejak masuk Islam itulah Arya memilihkan nama Afifa untuknya, sekaligus menasbihkannya menjadi satu-satunya ratu di kerajaan hatinya.

*******

Larane lara orang kaya wongkang nandang wuyung

Mangan ra doyan ra jenak dolan neng omah bingung

Perempuan yang melihat bulan itu nampak mulai mengembang dan mengempis hidungnya. Airmatanya sudah lebih dulu jatuh satu-persatu. Tangan halus dan jemari lentiknya pelan membelai perut besarnya yang terlihat berkilau tertimpa cahaya bulan.

Aku ingin menjadi pelitamu. Hingga jika kau mengalami kegelapan di sana, aku dapat segera menyinarimu… Aku ingin menjadi keluasanmu. Hingga jika kau memikirkanku, maka semuanya akan menjadi lapang… Namun Allah juga yang pantas memberi pelita serta keluasan… Duhai, apa yang sedang terjadi di sana?

…..dooooorr!! Doooor!!

“Habisi militer!”

Bummm!!

“Serang…….!!!”

Dor! Dor…!!

Bibir lelaki itu terkatup rapat menahan pedih. Tubuhnya terasa ngilu. Ada beberapa peluru yang bersarang di tubuhnya. Entah pada bagian mana. Ia yang tersandra oleh kelompok GAM itu tak sempat mengelak ketika terjadi baku tembak antara Gam dan tentara NKRI.

Tembak-menembak terus terjadi…..

Dalam beribu duka tanpa pernah berusaha mengeluh, lelaki itu mengingat istrinya…

“Kami tampilnyaaaaaaaaaa…,” jerit sang istri sambil berderai-derai tawanya.

“Kok tampilnya? Tampilkan dong!”

“Suka-suka dinda, dong!” sang istri tersenyum genit.

“Hehehe…”

“Kami tampilnyaaaaaaaaaaaaa, reporter kita, ustadz Aryaaaaaaaaa!”

“Lho, reporter kok ustadz?”

“Ya, kan reporternya sholeh. Di luar ia mencari berita. Di rumah ia mengajar istrinya.”

Mata perempuan itu bercahaya… Lelaki itu bisa melihatnya pada kedalaman matanya.

“Mmm…, nda, kalau mas pergi meliput ke Aceh, lalu… meninggal…. nanti, gimana?”

“Ya, dinda nikah lagi.”

“Lho?!”

“Habis, sebagai muslim kan nggak boleh berlarut-larut dalam kesedihan?”

Mulut sang lelaki manyun beberapa senti.

“Gitu, ya…”

“Lho, lho… Kok pergi? Katanya mau menjelaskan tentang situasi di Aceh? Tentang perjuangan di sana?” buru sang istri mengejar sosoknya yang melangkah keluar kamar.

“Masa baru digodain begitu saja ngambek?” perempuan itu mulai tertawa-tawa.

“Dinda, sih…”

Sang istri segera menarik baju suaminya, memutarnya, menghadap ke arahnya.

“Jangan ngambek, dong. Jangan pula berpikir yang tidak-tidak. Semoga Allah memudahkan semua urusan mas di sana. Mas banyak ilmu dan pengalaman kok. Ingat cita-cita mas ketika masih di Paris kan? Mas ingin mengabdikan diri melalui jalur jurnalistik, mas ingin menjadi reporter yang bisa mewartakan berita-berita bagus di media, mas ingin kelak memiliki penerbitan besar yang akan menyajikan berita-berita yang tak bias…”

Lelaki itu tersenyum.

“Mas tahu dinda bercanda… Tapi kalau memang Allah mentakdirkan mas meninggal di sana, dinda boleh menikah lagi.”

Perempuan itu tercekat.

“Mas, pulang ya… Dinda akan selalu menunggu. Dinda dan bakal bayi kita, akan selalu menunggu…”

Lelaki itu nampak bersusah payah menahan pedih yang menyayat. Tubuhnya mulai terlihat lemah.

*******

“Aduuhhhhhh……..!” perempuan itu mengeluarkan jerit yang tertahan.

“Sudah mau melahirkan kok tidak segera masuk! Sudah saya peringatkan, jangan jalan-jalan terus! Kalau bayinya tiba-tiba keluar bagaimana?” tegur seorang perawat yang luar biasa mahal senyumnya.

Perempuan itu tak berani memandang. Untung saja sang dokter kandungan menyambut kedatangannya di ruang bersalin dengan senyum yang begitu lebar.

“Ayo, bu… Dipersiapkan,” ujar sang dokter lembut, penuh kesabaran.

Perempuan mulai mengejan…

“Yak! Terus!”

“Ughhh…,” ia mengejan kuat-kuat.

“Sedikit lagi, bu! Terus!”

“Uffhhh… Hhh…,“ ia tampak mengatur nafas.

“Jangan berhenti! Sudah mulai kelihatan kepalanya,”

“Nghhh… Nggghhh….,”

Mata perempuan terpejam rapat-rapat. Ada sosok lelaki di sana. Tersenyum padanya.

“L’Oiseau Bleu!”

Perempuan kembali mengejan.

“Ayo dinda! Terus! Ayo! Sebentar lagi anak kita lahir. Matanya mungkin akan seperti matamu, biru.”

“L’Oiseau Bleu!”

“Uuuuuuughhhh…..,”

Ia mengejan kuat-kuat, berkepanjangan.

Oaaaa….. oaaa…..

“Laki-laki!”

L’Oiseau Bleu, burung biruku, selamanya cinta… Allah akan selalu menjagamu, dinda. Dinda pasti kuat.

Bayangan lelaki tegak berdiri di pelupuk matanya. Air matanya berlinang-linang. Alunan Chopin yang selama ini terasa mengiringi kesedihannya tiba-tiba menyeruak tajam dalam pendengarannya, silih berganti dengan tangisan asing yang kini hadir dalam hidupnya. Menjadi backsound detik-detik hidupnya yang memilukan.

“Aku akan membacakan kisah tentang Ali bin Abi Thalib, tentang Bilal, tentang apa saja sebelum dia berangkat tidur.”

“Tentang Les Enfants du capitaine Grant[5] juga kah?”

“Ya, itu juga akan kubacakan. Anak kita harus cerdas! Dia juga harus tahu kebudayaan ibunya.”

Ia melihat bayangan lelaki itu yang tersenyum padanya. Menatapnya. Tatapan itu masih sama. Lembut. Selembut hari pertama pertemuan mereka, malam pertama mereka, hari pertama ia memakai kerudung atas permintaannya dan hari terakhir ketika ia berpamitan padanya untuk pergi meliput ke Aceh. Hingga kini, tak lagi ada kabar berita… Kecuali satu yang sempat diterimanya: sang lelaki sudah tersandra oleh kelompok separatis Aceh.

“L’Oiseau Bleu! Burung biru. Kau akan tetap lincah meski terbang sendiri. Di belahan bumi manapun, Allah yang telah mempertemukan kita, dan Allah juga yang akan menjaga kita…”

Lelaki yang berada di Aceh masih menahan pedih. Tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sesekali matanya terpejam rapat-rapat, sesekali terbuka lebar. Kepalanya terasa berputar-putar. Ia tak sanggup lagi bertahan. Sudahkah ia mengajarkan pada istrinya jika suami meninggal tak usah meratap? Kesedihan baginya hanyalah empat bulan sepuluh hari saja…

Dan perempuan pun menangis kembali.

Apa kabar, wahai kekasih…?


[1] Burung biru

[2] Petualangan Bocah Paris (cerita anak-anak Perancis)

[3] Tiga Pramuka (cerita anak-anak Perancis)

[4] Wuyung karya Ismanto

Sakitnya sakit tidak seperti orang yang mengalami rindu

Makan tidak doyan, tidak enak main, di rumah bingung

[5] Anak-Anak Kapten Grant (cerita anak-anak Perancis)

Advertisements
h1

MANUSIA LANGIT

January 3, 2008
Oleh: Santy Martalia Mastuti
(MyBelovedDinda)

Aku berjalan ke arah barat. Menempuh perjalanan yang sudah semestinya. Dari sebagiannya aku merasa lelah. Pernah juga aku merasa ingin memutar haluan dari arah yang sudah tergariskan. Untunglah aku segera tersadar bahwa aku adalah seorang manusia langit.

Dari sebagian perjalananku, aku kehilangan komunikasi dari langit. Berada dalam kesendirian dan buta. Dalam kebutaanku, datang seorang manusia bumi. Tubuhnya memancarkan aura yang memikat. Penuh keindahan. Irene, begitu nama manusia yang kutemui. Wajahnya elok rupawan seperti gadis-gadis suci pembawa cinta dalam karya-karya Chateaubriand atau Shakespheare. Bersama Irene, aku merasa mampu menjadi Alfred de Musset yang berjaya dengan syair-syair romantisnya. Dengan memandang wajah Irene yang eksotis dalam merdu alunan Claire de Lune aku berhasil mengarang quatrain untuknya. Empat baris sajak dalam bait yang tiada henti mengagumi setiap inchi dari dirinya. Jendela hatiku terbuka. Terletak di ujung sana, menganga, hingga sinar Irene menerobos masuk ke dalamnya. Bercahaya di ruang-ruang hati. Dalam setiap jam yang berlalu, aku tidak lagi mendapat bisikan dari langit. Aku terlena.

Suatu hari Irene menyatakan cintanya. Betapa waktu seperti berhenti berputar. Sedetik kemudian wajahku tak lagi lebih dari satu mili dengannya. Kupuja dia dengan sepenuh hati. Detik ini aku merasa seperti tokoh yang sedang ditulis oleh Chateaubriand. Dengan demikian buku kisah romantisku akan segera terbit esok hari.

Kupandang Irene dengan sepenuh jiwa raga. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Menyaingi suara detik-detik jam yang terdengar keras di tengah sunyinya suasana. Saat ini aku ingin berbagi malam dengannya. Menikmati setiap hembusan angin yang bertiup tenang. Menjadi saksi kedekatan kami. Mata Irene melebar, senyumnya mengembang tidak sabaran.

Mendadak tubuhku menegang. Berkeringat. Sebuah bisikan yang begitu kukenal dulu menyentakku.

Hai manusia langit! Perhatikanlah makhluk di sekitarmu…..

Jantungku seperti berhenti berdetak. Refleks kupandang Ireneku. Kakiku mundur selangkah. Aku melihat sosok manusia bumi berdiri tegak di hadapanku. Manusia untuk bumi sebagai kampung halaman. Langkahku semakin surut ke belakang. Irene memandangku penuh selidik. Pelahan tubuhku melemas. Aku mendesah pelan. Kuciptakan jarak dengannya.

“Wahai Irene, suaramu sungguh indah, tapi yang aku cari adalah suara yang menimbulkan kepercayaan dan rasa tenang.”

Begitulah perkataanku mengakhiri kisahku dan Irene. Kutinggalkan Irene dalam deraian air mata indahnya. Kulangkahkan kaki membelakanginya. Tak ingin kupandang lagi gelisah hatinya.

Aku kini pergi. Meninggalkan warna-warna kelabu. Sedikit ringan, tetapi belum habis. Bayangan Irene dan kehidupan di langit bergantian memenuhi rongga-rongga pikir otakku. Setengah dari hatiku ada pada Irene. Setengah dari hidupku seperti berubah menjadi manusia bumi. Tergoda oleh hawa-hawa bumi. Aku mendengar genderang perang sudah ditabuh. Suara-suara dari bumi menarik-narik jiwaku. Mereka tidak berpedang tetapi mereka lebih berbahaya dari sebuah pedang. Jiwaku berontak. Marah! Aku hadapi tantangan mereka dengan gagah berani. Perang kali ini bagai sebuah perjamuan. Anggur-anggur dalam botol tertuang di mana-mana. Isinya menggoda mata. Gadis-gadis penari yang indah dan cantik meliuk-liukkan tubuhnya di tiap-tiap sudut ruang. Kembang api mulai dinyalakan. Suasana meriah telah tercipta. Aku berdiri tegap. Berusaha menguasai jiwa. Sesungguhnya kematian adalah kekalahan dalam hidup. Aku bangkit dan mengangkat pedang karena aku bukan seorang pecundang. Kuhancurkan seluruh isi perjamuan. Sebuah perjamuan… Dihadirkan untuk menciptakan sebuah basa-basi. Diiringi dengan jiwa manusia-manusia yang menyesatkan. Sungguh kekuatanku adalah anugerah. Dan doaku selalu menyunggingkan senyuman dari waktu yang telah menyudutkanku. Aku berlalu dalam doa-doa kebahagiaan. Kuingat, aku dan seorang manusia bumi pernah melewati jalan yang amat buruk.

Kini warna-warna romantis telah pergi. Layaknya senja berganti malam dan fajar berganti pagi. Sekilas aku mengingat Irene. Dukanya tertiup angin sampai ke telingaku. Doa-doaku menguap ke awan. Menjaganya dari jauh.

Aku adalah seorang manusia langit. Manusia bumi untuk langit sebagai kampung halaman. Intuisi-intuisi langit mengalir seperti sungai-sungai bagi orang-orang yang berpikir tentang kehidupan di langit. Manusia langit mempunyai dua sayap. Di sebelah kanannya iman dan di sebelah kirinya adalah nafsu. Manusia langit suka mendapat pelajaran dan sangat suka memberi pelajaran

Berawal dari kesadaran aku menemukan arah perjalananku. Menuju ‘ada’ yang kerap ditiadakan oleh manusia-manusia bumi yang tidak pernah berpikir tentang negeri langit. Aku kembali meneruskan perjalananku untuk mengajak manusia berpikir tentang negeri langit. Negeri yang diperintah oleh sebuah kebenaran ‘ada yang absolut’.

Perjalanan manusia-manusia langit terus berlalu dan berganti. Jika aku bertemu dengan sesama manusia langit, kami sering bertegur sapa. Di antara mereka ada yang membisikkan sebuah kata kepadaku,” inquietum est cor meum donec requiescat in te deo.” Gelisah hatiku sebelum beristirahat di pelukan Tuhan.

h1

Berkorban Yes, Menjadi Korban No !

January 2, 2008

Memaknai Idul Adha

Berkorban Yes ! Menjadi Korban No !

Oleh : M. Syahrul Murajjab*

Lagi-lagi, Idul Adha hadir dihadapan kita ! Bagi masyarakat muslim Indonesia ia biasa disebut Hari Raya Qurban yang bisa jadi bermula dari akar bahasa Arab Qurban yang berarti segala hal atau aktifitas untuk mendekatkan diri pada Allah. Atau barangkali merupakan satu derivasi (isytiqaq) dari kata “pengorbanan”. Dan dua makna tersebut berbeda meski sama-sama baik. Mungkin saling melengkapi.

Tapi yang pasti, keduanya agaknya sudah banyak terlupakan dan benar-benar menjadi korban dari ketidaksetiaan manusia (muslim). Atas apa yang seharusnya menjadi bagian dari kewajiban agamanya. Namun bagaimanapun, Idul Adha tetap Idul Adha dengan segala nilai-nilai luhur dan ajaran-ajaran yang terkandung didalamnya.

Antara darah, daging dan ketaqwaan

Lihat saja. Bagi sebagian orang, Idul Adha tak lebih dari sebuah perayaan tahunan. Mirip tujuh belasan atau Agustusan. Malah, sebagian lain tidak begitu peduli atau menganggapnya sebagai momentum “biasa-biasa saja” yang kering. Tidak ada satupun ibrah yang bisa diambil untuk memperkaya hati atau mempertajam kekuatan iman.

Barangkali ada juga yang mau memotong hewan kurban tapi dalam dirinya sama sekali tidak ada spirit qurban. Yaitu, semangat untuk berdekat-dekat dengan Tuhan. Menyembelih hewan kurbanpun disamakan dengan mengadakan pesta makan-makan.

Dan ternyata memang tidak banyak orang yang masih melihat adanya keniscayaan berkomunikasi akrab atau berinteraksi positif dengan Tuhan. Terlebih ketika posisi kekuasaan (juga kekayaan) diatas angin, banyak orang tak lagi ingat bahwa ia memiliki Tuhan. Semacam Fir’aun atau Qarun, misalnya. Tuhan akan diingat jika ada kebutuhan. Ketika bangkrut baru dicarinya Tuhan dengan tergopoh seakan-akan Tuhan mempunyai hutang kepadanya yang harus dibayar.

Demikian pula dengan spirit pengurbanan. Yakni, semangat kerelaan untuk “membunuh” ambisi-ambisi pribadi, keuntungan-keuntungan personal atau vested interest yang menggelora dalam syahwat kita, demi maslahat orang banyak, urusan-urusan bersama dan kepentingan umum.

Penyembelihan kurbanpun akhirnya terlalu simbolik. Allah berfirman, “Daging dan darahnya sekali-sekali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketaqwaan kamulah yang akan sampai (kepada Allah)” (Al-Hajj:37)

Egoisme dan Sikap Empatik

Dunia kita sekarang adalah dunia “keuntungan”. Dunia semau gue dan yang penting enak sendiri. Dimana ada gula atau apa saja yang manis-manis, disitu orang ramai berebut.Tidak peduli merugikan orang lain atau tidak. Menabrak batas atau tidak. Masing-masing berfikiran apa yang dapat saya peroleh. Bukan apa yang bisa saya persembahkan. Kemudian ada pula yang ramai meneriakkan hak-hak asasi, tetapi kewajiban asasi dilupakan. Padahal seandainya mau berfikir jernih, ketika setiap orang mau melaksanakan kewajibannya, baik dalam tataran kehidupan personal dan sosial, saat itu pula masing-masing akan memperoleh hak-haknya.

Ada juga yang keenakan dengan budaya numpang. Maunya diberi tanpa mau memberi. Mengandalkan belas kasihan orang. Konsep al-yadul ulya sudah dibungkus dengan kantung plastik dan kemudian ditaruh entah dimana. Suara-suara “mana bagian saya” lebih sering terdengar dari pada suara “ayo kita berbagi”.

Cinta diri (hubbu dzat) dan egoisme memang sebuah kewajaran. Itu fithri. Dan itulah yang mendorong keberlangsungan hidup setiap insan. Tapi, kebangeten dan tidak benar kalau tidak pernah belajar memiliki sikap empatik. Mencoba sesaat untuk “menjadi orang lain”, bertenggang rasa atau tepa selira. Merasakan bagaimana orang lain merasakan dan membangun sense kepedulian. Inilah sifat muslim sejati.

Kesadaran Ketuhanan dan Kesadaran Kemanusiaan

Intinya, ada dua perkara besar yang bisa ditemukan dalam usaha memaknai Idul Adha. Pertama, kesadaran ketuhanan. Yang ini dekat maknanya dengan ketaqwaan. Yaitu bagaimana kita mesti membangun kematangan spiritual, sebagaimana yang dimiliki Ibrahim dan Ismail yang membuat keduanya mampu mengalahkan apapun untuk sebuah kebenaran ketuhanan

Namun justru inilah yang berat. Mendahulukan prinsip kebenaran pasti memiliki efek samping (konsekuensi) resiko berdosis tinggi. Banyak tantangan. Bisa nggak kebagian jatah, atau mungkin tidak disukai orang. Makanya banyak yang bosan jadi orang baik.

Tidak mudah memang menomorsatukan prinsip kebenaran. Baik yang ada dalam hukum, undang-undang atau aturan, dari kepentingan pribadi.

Kedua, kesadaran kemanusiaan. Ajaran Idul Adha adalah ajaran pengorbanan dan kepedulian. Ajaran membagi daging dari hewan yang kita sembelih buat orang lain. Maka perlu dibangun kepekaan sosial terhadap sesama. Kepekaan dalam balutan persaudaraan sebagai sesama anak cucu Adam. Kemudian pada tingkatan selanjutnya persaudaraan dalam ikatan kesamaan aqidah Islam. Kemudian pada tataran tertentu sampai pada tingkatan sebuah ungkapan, “jika penderitaan yang menimpa saudaramu seiman diujung dunia sana tidak mengusik ketenanganmu, maka ragukanlah keber-agama-anmu !” Ibarat satu tubuh, kata Nabi. Jika satu anggota badan mengerang karena sakit, maka anggota yang lain ikut solider dengan merasakan panas dan susah tidur.

Nah, pada akhirnya kita dihadapkan pada dua pilihan : mau berkorban, atau jadi korban kekerdilan jiwa kita sendiri ??

Pesisir Laut Tengah (Tripoli), Idul Adha 1423/2003