h1

Berkorban Yes, Menjadi Korban No !

January 2, 2008

Memaknai Idul Adha

Berkorban Yes ! Menjadi Korban No !

Oleh : M. Syahrul Murajjab*

Lagi-lagi, Idul Adha hadir dihadapan kita ! Bagi masyarakat muslim Indonesia ia biasa disebut Hari Raya Qurban yang bisa jadi bermula dari akar bahasa Arab Qurban yang berarti segala hal atau aktifitas untuk mendekatkan diri pada Allah. Atau barangkali merupakan satu derivasi (isytiqaq) dari kata “pengorbanan”. Dan dua makna tersebut berbeda meski sama-sama baik. Mungkin saling melengkapi.

Tapi yang pasti, keduanya agaknya sudah banyak terlupakan dan benar-benar menjadi korban dari ketidaksetiaan manusia (muslim). Atas apa yang seharusnya menjadi bagian dari kewajiban agamanya. Namun bagaimanapun, Idul Adha tetap Idul Adha dengan segala nilai-nilai luhur dan ajaran-ajaran yang terkandung didalamnya.

Antara darah, daging dan ketaqwaan

Lihat saja. Bagi sebagian orang, Idul Adha tak lebih dari sebuah perayaan tahunan. Mirip tujuh belasan atau Agustusan. Malah, sebagian lain tidak begitu peduli atau menganggapnya sebagai momentum “biasa-biasa saja” yang kering. Tidak ada satupun ibrah yang bisa diambil untuk memperkaya hati atau mempertajam kekuatan iman.

Barangkali ada juga yang mau memotong hewan kurban tapi dalam dirinya sama sekali tidak ada spirit qurban. Yaitu, semangat untuk berdekat-dekat dengan Tuhan. Menyembelih hewan kurbanpun disamakan dengan mengadakan pesta makan-makan.

Dan ternyata memang tidak banyak orang yang masih melihat adanya keniscayaan berkomunikasi akrab atau berinteraksi positif dengan Tuhan. Terlebih ketika posisi kekuasaan (juga kekayaan) diatas angin, banyak orang tak lagi ingat bahwa ia memiliki Tuhan. Semacam Fir’aun atau Qarun, misalnya. Tuhan akan diingat jika ada kebutuhan. Ketika bangkrut baru dicarinya Tuhan dengan tergopoh seakan-akan Tuhan mempunyai hutang kepadanya yang harus dibayar.

Demikian pula dengan spirit pengurbanan. Yakni, semangat kerelaan untuk “membunuh” ambisi-ambisi pribadi, keuntungan-keuntungan personal atau vested interest yang menggelora dalam syahwat kita, demi maslahat orang banyak, urusan-urusan bersama dan kepentingan umum.

Penyembelihan kurbanpun akhirnya terlalu simbolik. Allah berfirman, “Daging dan darahnya sekali-sekali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketaqwaan kamulah yang akan sampai (kepada Allah)” (Al-Hajj:37)

Egoisme dan Sikap Empatik

Dunia kita sekarang adalah dunia “keuntungan”. Dunia semau gue dan yang penting enak sendiri. Dimana ada gula atau apa saja yang manis-manis, disitu orang ramai berebut.Tidak peduli merugikan orang lain atau tidak. Menabrak batas atau tidak. Masing-masing berfikiran apa yang dapat saya peroleh. Bukan apa yang bisa saya persembahkan. Kemudian ada pula yang ramai meneriakkan hak-hak asasi, tetapi kewajiban asasi dilupakan. Padahal seandainya mau berfikir jernih, ketika setiap orang mau melaksanakan kewajibannya, baik dalam tataran kehidupan personal dan sosial, saat itu pula masing-masing akan memperoleh hak-haknya.

Ada juga yang keenakan dengan budaya numpang. Maunya diberi tanpa mau memberi. Mengandalkan belas kasihan orang. Konsep al-yadul ulya sudah dibungkus dengan kantung plastik dan kemudian ditaruh entah dimana. Suara-suara “mana bagian saya” lebih sering terdengar dari pada suara “ayo kita berbagi”.

Cinta diri (hubbu dzat) dan egoisme memang sebuah kewajaran. Itu fithri. Dan itulah yang mendorong keberlangsungan hidup setiap insan. Tapi, kebangeten dan tidak benar kalau tidak pernah belajar memiliki sikap empatik. Mencoba sesaat untuk “menjadi orang lain”, bertenggang rasa atau tepa selira. Merasakan bagaimana orang lain merasakan dan membangun sense kepedulian. Inilah sifat muslim sejati.

Kesadaran Ketuhanan dan Kesadaran Kemanusiaan

Intinya, ada dua perkara besar yang bisa ditemukan dalam usaha memaknai Idul Adha. Pertama, kesadaran ketuhanan. Yang ini dekat maknanya dengan ketaqwaan. Yaitu bagaimana kita mesti membangun kematangan spiritual, sebagaimana yang dimiliki Ibrahim dan Ismail yang membuat keduanya mampu mengalahkan apapun untuk sebuah kebenaran ketuhanan

Namun justru inilah yang berat. Mendahulukan prinsip kebenaran pasti memiliki efek samping (konsekuensi) resiko berdosis tinggi. Banyak tantangan. Bisa nggak kebagian jatah, atau mungkin tidak disukai orang. Makanya banyak yang bosan jadi orang baik.

Tidak mudah memang menomorsatukan prinsip kebenaran. Baik yang ada dalam hukum, undang-undang atau aturan, dari kepentingan pribadi.

Kedua, kesadaran kemanusiaan. Ajaran Idul Adha adalah ajaran pengorbanan dan kepedulian. Ajaran membagi daging dari hewan yang kita sembelih buat orang lain. Maka perlu dibangun kepekaan sosial terhadap sesama. Kepekaan dalam balutan persaudaraan sebagai sesama anak cucu Adam. Kemudian pada tingkatan selanjutnya persaudaraan dalam ikatan kesamaan aqidah Islam. Kemudian pada tataran tertentu sampai pada tingkatan sebuah ungkapan, “jika penderitaan yang menimpa saudaramu seiman diujung dunia sana tidak mengusik ketenanganmu, maka ragukanlah keber-agama-anmu !” Ibarat satu tubuh, kata Nabi. Jika satu anggota badan mengerang karena sakit, maka anggota yang lain ikut solider dengan merasakan panas dan susah tidur.

Nah, pada akhirnya kita dihadapkan pada dua pilihan : mau berkorban, atau jadi korban kekerdilan jiwa kita sendiri ??

Pesisir Laut Tengah (Tripoli), Idul Adha 1423/2003

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: