h1

Email Untuk Rey

May 8, 2008

Oleh: Santy Martalia Mastuti

Rey di depan monitor…

Tanggal 10 Januari 2004 kemarin saya sengaja menghabiskan waktu untuk berpikir sejenak. Awal kontemplasi yang mendalam sejak awal masehi 2004. Lalu selepas sholat isya’ saya memutuskan untuk menulis email untuk Rey sepanjang julukan Rey di komunitas filsafat yang sempat terekam dalam ingatan otak kiri saya: Rey Almighty! Haha… Mungkin juga ini sebagai pelunasan atas formulir perkenalan yang Rey ajukan beberapa waktu lalu yang sebagian milik Rey sudah dicicil…, yang menceritakan bagaimana Rey menghabiskan usia hanya dengan para pembantu, yang menceritakan bagaimana Rey berjuang untuk menjadi ‘bersih’ setelah terjerat barang-barang haram, dan kisah Rey sebagai pemain musik jalanan untuk mendanai sekumpulan anak-anak telantar. Semoga Rey tidak merasa bosan untuk membacanya karena bisa jadi ini adalah yang terakhir dari yang kesekian…. Tapi jangan kuatir, posisi Rey bukanlah sebagai kompensasi atas katarsis yang saya lakukan… hehe. Saya tidak sedang curhat lho…, hanya mungkin sekedar sharing saja seperti yang biasa Rey lakukan…..

Kalau Rey mengenal saya tiga atau empat tahun yang lalu, mungkin Rey akan mendapati saya sebagai Zeus dalam dunia tanpa dimensinya Rey, walaupun tidak sesempurna ilustrasi yang Rey dah buat… atau, tidak! Mungkin lebih tepatnya kurcaci. Ya! Ilustrasi Rey tentang kurcaci terlalu perfect di mata saya, yang jelas bukan semacam smurf, karena biarpun kecil kekuatan mereka luar biasa, cool n’ confident! Saya sempat merasakan terpisah dengan dunia manusia secara totalitas: kecil, jelek, tak berarti! Saya hidup untuk sekedar survive menyelamatkan diri sendiri dengan mengais kolong dunia manusia yang sekiranya masih menyisakan ruang kosong buat kehadiran sang kurcaci… Menyakitkan memang! Di lain pihak, semua orang menggunakan persepsi mereka yang telah berani menjustifikasi bahwa saya hanyalah seorang yang keras, vulgar, tomboy, egois, semau gue, dan sederet kejelekan lainnya ( sampai saya bengong sendiri ketika melembari kembali buku diari saya yang ternyata penuh dengan kutukan dan makian. Haha…). Sedangkan dalam sudut pandang mereka yang lain pula, saya adalah sosok periang yang tidak punya masalah, hidup enak, bebas, kuat, tidak cengeng, dan tidak terikat ruang dan waktu ( atau bahkan tidak terikat oleh dimensi apapun karena semua orang tahu bahwa saya adalah seorang gadis pemimpi).

Rey, sahabatku…

Sungguh saya sempat menyesali hidup yang telah Tuhan berikan pada saya. Dulu saya selalu menganggap bahwa Tuhan tidak pernah adil dalam memberi saya kehidupan. Orangtua saya bercerai sejak saya dalam kandungan. Hidup tidak lantas berhenti begitu saja. Begitu lahir saya langsung diangkat anak oleh pasangan suami istri, teman dari ibu saya sendiri. Baru setelah saya besar saat inilah saya mengetahui bahwa kelahiran saya dahulu sama sekali tidak mereka inginkan. Tetapi sudahlah… Satu yang perlu Rey ketahui, orangtua angkat saya memang sangat kaya dan baik pada saya. Saya adalah ‘anak tunggal’ mereka yang sangat mereka sayangi. Tapi jujur saja, Rey, saya tidak bisa menikmati kehidupan saya. Orangtua saya terlalu sibuk dengan urusan bisnisnya. Mungkin kisah kita ditakdirkan sama, Rey, besar di tangan seorang babby sitter. Haha….. Tak jarang saya merasa begitu kesepian dan hampa. Uang yang begitu banyak ternyata tidak bisa digunakan untuk membeli kebahagiaan atau setidaknya membayar seorang teman yang setia menemani keseharian kita. Saya masih ingat, dari saya masih SMP, puncak katarsis yang saya lakukan adalah aktivitas yang walaupun melelahkan tetapi merupakan suatu kebutuhan. Keluar masuk klub olah raga: tennis, badminton (yang akhirnya keluar karena saya cukup sadar diri bahwa smesh saya jelek sekali! Hehe), kemudian renang (mencampurkan air mata dengan air kaporit di kolam), lalu basket ( ini yang paling saya suka). Basket sampai malam, berlari kencang men-dribble bola dengan menangis, lay up dengan bengis, dan tampak manis sekali tatkala pelatih dan teman-teman mulai bermunculan. Lalu kemudian datang persaingan-persaingan ambisi manusiawi… Saat itulah akhirnya saya terdepak dari team karena sebuah fitnah di mana posisi saya waktu itu adalah sebagai calon tunggal kapten team. Demikian juga dengan bela diri. Saya bahkan pernah merebut perak (juara dua) se-Kabupaten kelas F putri hingga seleksi ke Surabaya dan berhasil dikalahkan seorang anak pelatih dari Madura yang lebih sangar dari saya… Sampai saya KO! Haha… Dan episode terakhir adalah terpilihnya sang kurcaci menjadi seorang pemandu sorak di SMU. Yeahhh! Prestise para gadis! Jadi ingat, sebelumnya pun saya merelakan posisi paramanandi, posisi yang selalu diidam-idamkan gadis-gadis di sekolah saya, direbut oleh teman karena saya tidak memiliki kekuatan untuk merasa besar, …dan akhirnya saya hanyalah gadis peniup terompet di barisan depan marching band SMP favorit! Hehe… Kurcaci dengan terompetnya!

Kemudian saya bertanya, kenapa saya selalu gagal? Semua itu hanyalah karena sebuah kekerdilan dan ketidakberdayaan saya dalam mempertahankan apa yang sudah saya miliki… Biasanya saya meluapkan kepenatan dan kesedihan karena sebuah persaingan ke dalam puisi atau lukisan. Saya suka melukis, dan sempat mengikuti lomba komik tingkat nasional meski tidak menang…, dan pada panggilan lomba berikutnya saya tidak mengikutinya.

Itulah sebersit perjalanan hidup saya yang terlalu rumit untuk ditelusuri kembali, dan selamanya tidak akan pernah bisa terluapkan secara sempurna…..

Rey yang baik…

Ada kalanya manusia tidak mengerti kisah yang bagaimana lagi yang akan dihadapinya. Tetapi kisah yang saya alami selanjutnya telah membawa banyak perubahan dalam diri saya. Bagai garis horison yang membatasi dimensi lain, saya menemukan jalan yang benar-benar merubah segalanya. Sungguh spektakuler! Saya mulai merasakan kehadiran Tuhan! Tidak ada lagi kegiatan luar, tidak ada saya yang dulu…, yang keluyuran malam-malam cuman nongkrong or ngegodain orang rame-rame. Yang tinggal hanyalah sosok yang mendadak menjadi (kata orang) kampungan dan konservatif! Saya mulai memakai kerudung dan meninggalkan pakaian kebesaran, celana pendek dan kaus oblong, yang selama ini sudah melekat dalam image saya. Itulah awal kekuatan spiritual (baca: konversi agama) yang merubah tatanan hidup saya yang mampu menerangi keputusasaan saya yang telah memuncak. Menggairahkan kembali hidup yang sempat mati rasa. Saat itu saya masih semester dua di fakultas filsafat.

Singkatnya, kalau saya masih seperti dulu, mungkin Rey akan mengenal saya sebagai mahasiswa fakultas filsafat, bukannya mahasiswa tekhnik informatika seperti sekarang ini. (Tapi jujur saja, sebenarnya saya sangat ingin masuk ke IKJ daripada fakultas filsafat atau fakultas tekhnik… Haha… Ups! Just Kidding!) Entahlah. Yang membuat saya heran, sejak peristiwa konversi agama itu, tangan saya tak lagi lentur untuk sekedar membuat selembar kertas mempunyai nilai estetika. Sejak saat itu, saya hanya berpikir untuk memulai hidup baru. Merancang masa depan, memetakan langkah dan segala keinginan… Hidup dalam sebuah konsep keteraturan… Kemudian saya memutuskan untuk bergabung dengan aktivis da’wah kampus dan kembali menulis sesuai dengan misi keagamaan. Saya mulai percaya bahwa keyakinan yang kuat akan merubah sesuatu yang kecil menjadi berarti. Saya meyakini bahwa kita bisa melakukan sesuatu jika kita berpikir kita bisa. Dan tentunya keyakinan atas kebesaran Tuhan tidak pernah kalah oleh kekuatan apapun! Saya mulai berpikir untuk menatap realita dengan kesederhanaan berpikir yang tak pernah dicapekkan dengan segala obsesi yang absurd. Saya tidak ingin menjadi hebat dengan ratapan atau keluhan, atau menjadi seorang pengecut yang gagah. Saya harus berani! Dan entahlah darimana kebijaksaan itu datang, apa karena proses pendewasaan yang tengah berlangsung ataukah karena proses eksplorasi diri saya yang mulai menampakkan hasilnya… Yang jelas saya mulai menikmati kehidupan saya yang baru!

Saya ingat kata Viktor Frankl, seorang neuropsikiater dengan logoterapinya. Meaning in suffering! Di sana mengajarkan bagaimana kita harus optimis dalam menghadapi kehidupan. Kehidupan ini, baik dalam keadaan normal maupun dalam penderitaan, senantiasa mengandung hal-hal yang bermakna di dalamnya. Selalu ada hikmah di balik musibah, selalu ada makna dalam derita. Setiap manusia mempunyai hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning). Sedangkan makna hidup itu sendiri bersifat unik, artinya apa yang dianggap berarti bagi seseorang belum tentu berarti bagi orang lain. Masih kata Frankl lagi, makna hidup itu juga bersifat spesifik dan konkret, artinya makna hidup dapat ditemukan dalam kenyataan hidup sehari-hari. Tidak selalu harus dikaitkan dengan idealisme, prestasi yang cemerlang, atau hasil renungan filosofis yang mendalam. Dan mengingat sifat makna hidup yang unik dan konkret itulah maka dia tidak dapat diberikan oleh siapapun. Melainkan harus dicari dan ditemukan sendiri. Mungkin dari sinilah saya akhirnya mempunyai sebuah motivasi untuk mewujudkan hidup yang lebih bermakna, untuk menjadi pribadi yang memiliki tujuan hidup yang jelas. Being somebody!

Hidup itu ditawarkan, Rey, bukan dipaksakan! Kita mempunyai otoritas untuk mencari kebahagiaan kita sendiri. Meski demikian, sebagai hamba Allah, saya tetap meyakini bahwa Allah adalah pusat segala kehidupan. Dia jua yang menentukan segalanya.

Kalau ditanya bagaimana kebahagiaan yang sedang saya cari? Jawabnya adalah kebahagiaan yang bersumber dari Allah lah yang saya cari. Ketika saya telah bersyahadat, maka ketika itu pula saya telah menyerahkan segala hidup dan mati saya hanya untuk Allah. Saya meyakini tidak ada sesembahan yang berhak diagungkan kecuali Allah. Dan being somebody dalam keinginan saya adalah menjadi seseorang yang mempunyai otorita. Seperti kata kaum eksistensialisme, saya adalah sesuatu yang saya pilih. Ketika saya sebagai manusia yang mempunyai eksistensi, maka saya adalah individu yang berhak menentukan tujuan hidup dan kebahagiaan. Sedangkan tujuan hidup saya adalah menjadi hamba yang senantiasa menyembah kepada Allah. Seperti firmanNya, wa maa kholalaqtul jinna wal insa illa liya’buduun…

Bila Rey bertanya apakah saya pernah merasa tidak bahagia, maka jawabnya adalah pernah. Tapi itulah kehidupan! Kehidupan bukanlah sesuatu yang absurd. Orang yang bisa memaknai kehidupan adalah orang yang mampu mensyukuri umur yang telah tergadaikan di dunia. Ayah saya (seorang lelaki yang tidak lebih baik dari saya… Haha…) pernah mencoba meyakinkan saya bahwa orang yang menjumpai suatu masalah kemudian bisa mengatasi permasalahan tersebut adalah satu tingkat lebih tinggi dari orang kebanyakan… Karena mereka berproses, mereka belajar, dan mereka kaya akan warna kehidupan. Sedangkan menurut saya pribadi, seseorang tidak akan pernah ‘tidak mampu’ untuk mengatasi segala masalah yang ada, karena sesungguhnya Allah tidak akan menguji manusia melainkan sesuai dengan kadar kemampuannya.

Saya ingat tatkala pertama kali kita bertemu di #filsafat dalnet. Waktu itu kita sedang berdiskusi tentang konsep monoteistik. Kamulah yang paling gencar menentang saya, Rey. Pada akhirnya kita sering berdiskusi di room. Tentang banyak hal. Bersama chatters lainnya.

Saya masuk cenel komunitas anak-anak filsafat bukan tanpa tujuan. Saya, setidaknya, pernah mengenyam pendidikan di bidang itu. Saya ingin kembali menelusuri pemikiran saya, syukur-syukur bisa mengajak beberapa rekan-rekan, yang dulu kebetulan satu fakultas dengan saya, untuk mulai berpikir menggunakan sisi lain dari dunia ini. Bahwa jika tekhnokrat menghasilkan teknologi, filsafat menghasilkan keraguan… Begitulah menurut saya… Dan karenanya banyak teman-teman yang mengkritisi pemikiran baru saya hingga akhirnya mendepak saya jauh-jauh. Pemikiran baru tatkala saya mulai mengecam pemikiran agnostic yang ragu akan adanya Tuhan, para penganut scientist yang terlalu mendewakan scient… hingga konsep material Karl Mark.

O ya! Perlu juga Rey ketahui bahwa perbedaan diri saya pasca konversi sangat mencolok sekali. Haha… Dulu saya suka berkhayal. Tetapi sekarang dalam kenyataan, bukan dunia tanpa dimensi, saya sudah menjadi sosok lain, memandang dunia dengan cara pandang yang sudah berbeda. Mungkin bisa dibilang lebih sederhana. Saya tidak lagi suka berkhayal menjadi Descartes yang berjaya dengan Cogito Ergo Sum-nya atau Maria Antoinette permaisuri Louis yang borjuis meski harus berakhir dalam sejarah guoilotine, tidak juga berharap lagi menjadi Julia Robert dalam Pretty Woman, atau menjadi Wendy yang terbang bebas bersama Peter Pan! Haha… Saya ingin menjadi diri saya sendiri!

Rey, saya tidak pernah mengerti mengapa Rey begitu ingin mengenal saya dari dekat. Saya heran mengapa kamu, seorang mahasiswa fakultas filsafat yang terkenal begitu memihak kaum skeptic, yang selalu menyerang saya habis-habisan di cenel, yang merasa paling hebat, sekarang malah meminta saya untuk menemani mencari Tuhan! Kenapa, Rey? Apakah Tuhan punya hutang padamu sehingga sekarang Rey sibuk mencarinya? Astaghfirullahl’adziim… Just kidding, boy! Kalau Rey ingin tahu saya, sesungguhnya tidak ada yang istimewa dalam diri saya. Saya hanyalah seorang muslimah yang ingin bergerak secara fleksibel dan dinamis memahami keinginan Allah tanpa harus keluar dari batasan syari’at. Saya benar-benar sudah berbeda… dan pastinya tidak sama dengan Rey. Itulah yang kadang saya maksudkan bahwa wacana kita berbeda. Saya juga belum pernah tuh mengkonsumsi buku-buku yang pernah Rey sebutkan, diantaranya tulisan seorang pengarang dari Cheko atau pengarang-pengarang lain yang membesarkan pikiran Rey dalam mengganggas sebuah komunitas utopia.

Saya tidak sehebat Rey, semewah Rey, setinggi Rey, seidealis Rey, dan se-se lainnya yang mungkin masih banyak lagi. Yang jelas saya akan segera menata langkah, tidak lagi menggunakan IRC sebagai media eksplorasi (dan akan menggunakannya sewajarnya saja). Lebih fokus pada realita dan akan mencoba menyelesaikan masalah yang belum sempat terselesaikan sampai sekarang. Dan tidak hidup untuk diri sendiri, itu mungkin impian saya…. Semoga Rey juga lebih mampu memandang kehidupan secara lebih bijaksana. Dan lihat diri kita beberapa tahun ke depan… Masih samakah dengan sekarang? Apabila tulisan ini terbaca dengan perasaan yang masih sama, berarti belum ada kemajuan dalam diri kita, tetapi apabila kita sudah bisa menertawai kekonyolan dan kebodohan yang telah kita lakukan kemungkinan besar proses pendewasaan kita mulai berkembang…

Saya ingat, Rey sering mengeluh bahwa orang-orang selalu menilai Rey aneh. Dengar Rey, saya, dan mungkin Rey, atau orang lain, menjadi aneh karena diri kita sendiri yang membuatnya begitu. Sekali lagi, seperti kata Sartre: saya adalah sesuatu yang saya pilih… Atau kemungkinan kita terlalu imajinatif ya? Hehe…, atau Rey ada argumen lain yang mampu menjelaskan keanehan yang terjadi? Yang jelas saya tidak ingin menjadi aneh selamanya yang selalu berkutat dengan pemikiran dan dunianya sendiri. Saya berusaha menghilangkannya dengan bercermin pada orang-orang sederhana yang bertebaran di seputar penglihatan saya. Saya akan mencoba untuk terus mensyukuri apa yang telah Allah berikan pada saya.

Wah! Saya mungkin bukan penulis yang baik yang mampu menjabarkan sebagian sisi kehidupan saya secara verbal. Mungkin hanya sekedar sebagai bahan kontemplasi dan proses penyadaran kembali secara pribadi bahwa sampai saat ini saya belum melakukan sesuatu yang berarti. Laa haulaa wa laa quwwata illa billah… Apabila kita tidak punya pegangan, maka setiap titik kejenuhan itu datang, kita akan cepat kehilangan kendali diri.

Rey, saya yakin bahwa Tuhan mulai membuka hatimu. Dan sampai saat ini saya selalu berusaha untuk memenuhi apa yang Rey minta. Tentang kehausanmu akan kebenaran . Saya telah mencoba pula menjelaskan bagaimana agama ini, islam, begitu sempurna. Syamil, kamil, mutakamil… Cukuplah sebuah niat baik dari dalam dirimu dijadikan pondasi sebuah proses pencarianmu tentang kebenaran Tuhan. Teruslah mencari, teman… Dan jangan mencari kebenaran melewati pemikiran manusia, carilah kebenaran sejati, dan Rey akan tahu siapa saja manusia-manusia yang mengikutinya. Do’a saya bersamamu. Semoga Allah memberimu hidayah…

Salam,

A’isyaa

*********

Rey menarik nafas panjang. Sudah berkali-kali Rey membuka, membuka, dan membaca email itu. Rey merasa bahwa cara mereka berteman sangat unik. Rey mengenal A’isyaa dari IRC, dunia virtual yang tidak banyak menjanjikan apa-apa. No asl please… Tapi seiring berjalannya waktu, Rey mulai tahu bahwa ia adalah seorang gadis berusia duapuluh satu tahun, sebaya dengannya. A’isyaa telah mengajarinya banyak hal. Tapi entah kenapa, sekarang A’isyaa tidak pernah lagi muncul di room. Ke manakah dia? Kalaupun memutuskan untuk tidak lagi merambah dunia virtual ini, mengapa dia tidak berkirim kabar? Meski hanya lewat email? Apa yang sudah terjadi dengan gadis itu? Entahlah… Yang Rey tahu, itu adalah email terakhir dari A’isyaa yang dikirimnya satu tahun yang lalu. Padahal Rey ingin sekali dapat berjumpa dengannya walau sebentar. Sekedar memberi kabar bahwa kemarin ia telah bersyahadat dan berganti nama menjadi Fauzan Adlim. Di Jakarta, di masjid Al-Azhar. Kemenangan yang besar!●

Advertisements

One comment

  1. gak sengaja pas lagi browsing ketemu blog ini. saya suka tulisan sastranya 🙂



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: