Archive for September, 2008

h1

Ajaran Saling Menasehati

September 26, 2008

ALLAH SWT telah menciptakan manusia dalam fitrah dan kapasitasnya sebagai makhluk individual yang bersifat pribadi, sekaligus sebagai makhluk sosial yang terikat keniscayaan untuk saling berinteraksi, bermasyarakat dan berjamaah dengan individu lainnya (madaniyyun bi thob’ihi).

Dua dimensi fitrah ini, meski saling berbeda dan tampak berseberangan namun tidak bisa saling terlepas antara fungsi salah satu dari lainnya. Sebab dari individu-individu itulah terbentuk warna, karakteristik, tata kehidupan dan bahkan peradaban sebuah komunitas masyarakat atau jamaah. Begitu pula sebaliknya, bahwa pola hidup dan corak masyarakat secara keseluruhan akan banyak mempunyai ta’tsir (pengaruh) terhadap masing-masing individu di dalam komunitas masyarakat tersebut.

Islam sebagai agama yang komperehensif secara integral telah mengatur bagaimana setiap orang diupayakan agar menjadi sosok individu yang baik dan ‘terbaik’ dalam dirinya , sekaligus menata sistem hubungan sosial antar individu tersebut guna mencapai terbentuknya masyarakat dan jamaah ‘terbaik’ pula.

Salah satu ajaran Islam terpenting tentang cara hidup bersosial yang benar adalah adanya penegakan kritik sosial antar individu, tanasuh (saling menasihati), dan amar ma’ruf nahi munkar. Rasulullah SAW pernah suatu kali mengilustrasikan tentang para penumpang perahu, jika terdapat sekelompok pembuat dosa yang berusaha melubangi bagian tertentu dari perahu tersebut kemudian penumpang lainnya bangkit untuk mencegahnya, maka mereka telah menyelamatkan para pembocor dari tenggelam dan menyelamatkan seluruh penumpang perahu lainnya. Tetapi jika tidak seorangpun bangkit mencegah perbuatan tersebut maka akibat perbuatan segelintir orang tersebut akan dapat menenggelamkan semua penumpang perahu (HR. Bukhori).

Dalam surah Al ‘Ashr (QS.103: 1-3) Allah menegaskan bahwa kriteria golongan manusia yang selamat dari kerugian dalam setiap satuan waktu adalah mereka yang tidak terhenti sebatas beriman dan beramal saleh, melainkan harus juga peduli dengan keimanan dan kesalehan orang lain dengan jalan “kerja sosial” untuk saling menasihati dan saling kritik.

Sighat atau bentuk kata yang dipakai dalam ayat tersebut (wa tawaashau) menunjukkan kata kerja berbalasan. Artinya mau memberi kritik dan nasehat sekaligus siap menerimanya dari orang lain. Hal ini tentunya membutuhkan kekuatan pribadi masing-masing individu. Sang pemberi nasehat haruslah ikhlas dalam nasihatnya dengan meniatkannya demi kebaikan dan perbaikan bagi orang yang dinasehati. Bukan malah menjadikannya sebagai alat menjatuhkan martabat, mengumbar aib, atau demi mengejar vested interest. Dia hendaknya juga bersikap bijaksana dengan memilih kata-kata yang baik dan memperhatikan kondisi yang tepat (lihat QS. An Nahl/ 16: 125).

Sebaliknya orang yang diberi nasihat mesti menerimanya dengan jiwa besar dan sikap terbuka, seperti di teladankan Umar ibn Khattab dengan ungkapannya,” rahimallahu imraan ahda ila ‘uyubi” (semoga Allah merahmati seseorang yang menunjukkan kesalahanku). Allah memuji sikap terbuka ini, “…maka berilah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku. Yaitu mereka yang mendengarkan perkataan, kemudian mengikuti mana yang terbaik. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang berakal budi.” (QS. Az Zumar/39: 17-18).

Nasehat tidak terbatas pada ucapan-ucapan verbal. Tetapi bisa pula dengan perilaku yang baik yang akan menjadi cermin hidup. Rasululah bersabda,”Seorang mu’min adalah cermin bagi mu’min lainnya”.(HR. Abu Dawud). Bahkan bahasa keteladanan seringkali lebih fasih dan effektif dari bahasa lisan (lisaanul hal afsohu min lisaanil maqaal).

Kritik dan nasehat adalah instrumen signifikan dalam proses mencapai kebenaran. Sebab manusia seringkali tidak mampu untuk mengevaluasi dirinya sendiri. Otokritik dan muhasabah juga pekerjaan yang tidak mudah. Atau terkadang persepsinya terhadap baik dan buruknya sesuatu itu sangat subyektif. Disinilah diperlukan kritik dan nasehat dari orang lain sebagai masukan.

Namun perlu diingat bahwa sikap terbuka dalam menerima nasehat haruslah dibarengi kewaspadaan tipu daya orang yang sok memberi nasehat, padahal ingin menjerumuskan. Sebagaimana dilakukan Ibis terhadap Adam dan istrinya seperti terekam dalam surat al A’raf (QS. 7: 21), “Dan dia (Iblis) bersumpah kepada keduanya (Adam dan istrinya), sungguh saya adalah termasuk orang yang memberikan nasihat kepada kamu berdua.” Di lain ayat Allah berfirman,”Dan diantara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikan kepada Allah atas isi hatinya, padahal ia adalah penentang yang keras.”(QS. Al Baqarah/2:204). Wa Allahu a’lam.

Arsip Mei 2003(4?)


Advertisements