Archive for October, 2008

h1

MenyeGarkan Kembali Keberagamaan Kita

October 8, 2008

oleh: Muhamad Sahrul Murajjab

Bulan Ramadhan baru beberapa hari pergi meninggalkan kita dengan membekaskan kesan yang tentu berbeda-beda bagi masing- masing kita umat Islam. Sekolahan atau penataran yang berlangsung sebulan penuh juga menghasilkan nilai bermacam-macam bagi masing-masing individu. Namun hasil paling tragis dan mengerikan adalah jika ahir Ramadhan dijadikan ajang balas dendam untuk melampiaskan nafsu yang selama satu bulan tertahan. Idul Fitri-pun menjadi antiklimaks dari ketaatan yang dipaksakan. Kachiaaaan deh lu!!

Fenomena demikian adalah bagian dari the actual atau the being, kondisi nyata yang terjadi. Meski Ramadhan jika ditilik dari sudut the ideal atau the ought to be mestinya menuju satu hasil yang akan searah, yaitu ketaqwaan (QS. Al Baqarah/2:183), yang juga merupakan “hasil akhirsemestinya dari seluruh amalan keagamaan dan aktivitas ibadah kita.

Ketaqwaan sebagai tujuan paling penting aktivitas-aktivitas keagaamaan adalah kata lain dari “kesadaran ketuhanan”, tingkatan paling tinggi dari segala macam pengalaman ketuhanan yang sedalam-dalamnya. Kesadaran ini yang kemudian akan menjadi muara tempat berpangkalnya sikap-sikap hidup yang benar, sekaligus merupakan asas bangunan kehidupan yang benar pula. “Apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya diatas dasar ketakwaan dan keridlaan Nya itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya ditepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia kedalam neraka Jahannam?” (Qs. Al-Taubah/9:10).

Sebagai contoh lain, Shalat, tak lagi menghasilkan hasil akhir semestinya.Tak lagi menjadi kontrol terhadap perilaku keji (fakhsya’) dan kemungkaran. Bahkan dalam level yang justru lebih dekat dan “manusiawi” secara psikologis sebagai terminal ketenangan atau “peristirahatan”, sebagaimana digambarkan oleh sabda Rasulullah kepada sahabat Bilal “arihna bi al-sholah ya Bilal!” (Buatlah kami beristirahat dengan shalat wahai Bilal).

Kesenjangan antara the actual dan the ideal yang terjadi atas ibadah Ramadhan dan juga aktivitas-aktivitas ibadah lainnya membuktikan contoh telah terjadinya pergeseran makna beragama yang tak lagi memiliki hakekat penghayatan. Agama bisa jadi telah kehilangan satu (atau justru kehilangan kedua-duanya?) dari dua unsur maknanya yang justru sangat penting yaitu unsur etat subjectif atau haalah nafsiyyah. Agama yang tinggal hanyalah doktrin-doktrin dan “seperangkat aturan” (fait objectif atau haqiqah kharijiah) nya saja [lihat Dr.Abdullah Darraz, Al- Dien, 1999, hal 32 &52]. Hal ini membenarkan ungkapan seorang budayawan dalam sebuah sajaknya:

Shalat kami lebih buruk dari senam ibu-ibu

Puasa kami tak lebih menahan lapar dan dahaga

Zikir kami lebih cepat dari sekedar menghirup kopi panas

Dan haji kami…. Tak lebih tamasya spiritual, membuang uang

Dan, pulang membawa label asli made in Saudi: Haji!”

Irama Sunnatullah

Kita membutuhkan energi untuk menyegarkan kembali cara kita beragama. Menjernihkan kembali “fitrah”, yang barangkali lapuk oleh gempita hidup. Fitrah paling primordial dan mensejarah dalam darah daging kita yaitu “syahadah” (renungkan QS. Al-A’raf/7:172). Penyegaran fitrah juga berarti back to basic, kembali ke asal penciptaan kita sebagai ahsanu taqwiem (ciptaan yang paling bagus) (QS. Al-Tien/95: 4)

Semangat penyegaran dan penjernihan kembali juga dimiliki oleh tradisi nubuwwah. Bukankah ketika garis kenabian Adam telah kusut dan diacuhkan seiring perjalanan zaman dan pergeseran perilaku, datang kenabian-kenabian setelahnya meluruskannnya kembali hingga sampai pada titik kesempurnaan kenabian Muhammad saw? [baca: Dr. Mas’ud al-Wazinie, Al-Nubuwwah al-Khatimah, diktat perkuliahan, 2002, hal 21-27]. Bahkan kesempurnaan nubuwwah Muhammad saw kemudian juga mengalami penyelewengan-penyelewengan sehingga membutuhkan penyegaran kembali dan penjernihan dari debu-debu yang mengotorinya.

Irama sunnatullah ini diajarkan untuk seharusnya juga berlaku pada tataran yang lebih mikro dalam level individu, dimana kualitas keimanan masing-masing selalu bergeser antara yazdad (bertambah) dan yanqush (berkurang). Antara menjadi segar atau melayu. Terkadang begitu berkobar tetapi kemudian lama melempem tak bergairah. Tentu tidak seharusnya bagi siapapun membiarkan kelayuan berlarut hingga ahirnya tidak mampu lagi untuk menjadi segar kembali.

Proses menuju kepada penyegaran tidak akan terlalu sulit jika kita memiliki keinginan kuat untuk memulainya dari akar kejujuran dan kesadaran diri yang dalam. Apalagi fitrah kita sendiri adalah sebuah “kesegaran” yang -konon- sangat luar biasa untuk dinikmati. Nah! 

Pesisir Laut Tengah, Tripoli, Syawal 1424/November 2003