Archive for June, 2009

h1

Sejarah Emas Dinasti Abbasiyah

June 16, 2009

Meski terdapat sejumlah perbedaan, para ahli sejarah banyak yang membagi periodisasi sejarah peradaban Dinasti[1] Abbasiyah yang berumur sekitar lima ratus tahun (750-1258 M / 132-656 H) ke dalam dua periode utama.[2] Periode pertama, berlangsung antara tahun 750-945M/132-334H, dimana pada masa itu Dinasti Abbasiyah memiliki otoritas politik yang sangat kuat dan kemudian mampu melahirkan sebuah kemajuan peradaban yang disebut-sebut sebagai ”Era Keemasan” (the Golden Age). Akan tetapi periode ini juga sekaligus mencatat munculnya benih-benih kemunduran dan kelemahan politik yang terjadi di paruh akhir masa ini.

Sedangkan periode kedua (945-1258M) adalah rentang waktu dimana Dinasti Abbasiyah secara faktual mengalami kemunduran politik dan para khalifah kehilangan otoritas kekuasaanya terhadap sejumlah wilayah dibarengi dengan lahirnya negara-negara kecil (duwaylāt) yang memerdekakan diri. Karakteristik lain dari periode ini adalah masih terlihatnya sisa-sisa pengaruh kemajuan peradaban Islam era keemasan yang terwujud dalam perkembangan berbagai disiplin keilmuan (`ulūm), pembangunan (`umrān), tercapainya kesejahteraan, hingga pada level berikutnya yang bersifat negatif yakni menggejalanya gaya hidup bermewahan (taraf). Periode Dinasti Abbasiyah ini berakhir pada tahun 1258 M ketika Baghdad jatuh ke tangan bangsa Mongol di bawah komando Hulagu Khan.

Pembagian sejarah Abbasiyah sebagaimana model di atas, meski diakui oleh beberapa kalangan -seperti Eric Hanne sendiri- kurang tepat, ternyata mampu mempengaruhi nature atau gaya studi modern terhadap Dinasti Abbasiyah, dimana mayoritas fokus kajiannya lebih banyak dititikberatkan pada periode pertama.

Makalah ini, dengan mengenyampingkan periodisasi seperti diatas, secara spesifik akan membahas dan memilah era kemajuan ilmu dan peradaban yang dicapai oleh Dinasti Abbasiyah, sekaligus menelisik proses kejatuhannya dilengkapi dengan ulasan sejumlah faktor yang menyebabkannya.

untuk membaca lebih lengkap KLIK DI SINI

[1] Dinasti sendiri berasal dari bahasa Inggris “dynasty” yang berarti  a line of hereditary rulers. a succession of powerful or prominent people from the same family. Lihat : Software Concise Oxford Dictionary, Oxford University Press, Edisi 10.

[2] Bernard Lewis, ‘AbbÉsid, dalam E. Van Donzel et. al. (Ed.), The Encyclopaedia of Islam, Leiden, E.J. Brill, 1997, Vol. I, h. 17; Eric Hanne, ‘Abbasids, dalam Josef W. Meri (Ed.), Medieval Islamic Civilization: An Encyclopaedia, New York & London, Routledge, 2006, Vol. I, hlm. 1; Ahmad Ma`mūr al-`Usayri, Mūjaz al-Tārikh al-Islāmi, Damām, Maktabah al-Malik Fahd al-Wataniyah, Cet. 3, 2004, hlm. 166. Meski sepakat dengan pembagian dua periode sebagaimana dua sumber sebelumnya, namun al-`Usayri memberi tahun yang berbeda untuk masing-masing perode. Dalam pandangannya, periode pertama berlangsung antara tahun 749-861 M / 132-247 H, sedangkan periode kedua berlangsung antara tahun 861-1258 M/247-656 H.

[3] Eric Hanne, `Abbasids, hlm. 1

h1

M I M P I

June 2, 2009

MIMPI

Oleh: Santy Martalia Mastuti

Ngamboro ing ngawang-ngawang

Hangelangut bebasan tanpa tepi

Narabasing mega mendung

Miber ngiteri jagad

Ngulandoro ngamboro ngunggahi gunung

Tungkul ngumbar gagasan

Satemah ginowo ngimpi…

Mengembara dalam angan-angan

Terhanyut tanpa batas

Menerabas mega mendung

Terbang mengitari dunia

Mengangkasa menaklukkan gunung

Mengumbar angan-angan

Hingga terbawa mimpi…

Raden Roro Dyah Lintang Kawuryan Hadinata menghembuskan nafas kuat-kuat. Pandangannya tidak menentu. Serasa ada sebuah beban berat menghimpit dadanya. Baris-baris syair yang sempat dihafalkannya dulu diejanya pelan-pelan. Kalau tidak salah syair itu adalah pengantar sebuah lagu Jawa yang berjudul Mimpi. Entah siapa pengarangnya. Ki Narto Sabdo? Gesang? Mujoko? Entahlah, Lintang sudah lupa. Ia bahkan tidak tahu lagi jenis-jenis syair Jawa. Dia lebih fasih dalam mengenali quatrain atau madrigaux yang kesemuanya itu adalah syair-syair dalam sastra Perancis. Sungguh Lintang sudah tidak ingat lagi sejak kapan dirinya mulai mencintai pernak-pernik negeri yang pernah memiliki seorang ratu dengan alur hidup begitu dramatis, Marie Antoinette. Khususnya pada dunia sastra. Entah mengapa pula dulu terpikir oleh Lintang untuk menimba ilmu di negeri tersebut. Namun salah satu alasan kuat yang dapat dipahaminya hingga sekarang adalah keinginannya dahulu untuk menjadi penulis terkenal di dunia. Ternama. Glamour. Berbeda dengan gaya hidup bangsawan tanah Jawa yang sangat konservatif.

Tahun pertama kuliah di fakultas sastra ternama kota Paris, setelah berhasil melalui perdebatan panjang dengan Romo, tak bosan-bosannya ia menulis karya-karya ringan termasuk cerpen-cerpen yang banyak mengutip nama-nama sastrawan besar. Sekedar memamerkan kehebatan pengetahuannya. Karya-karyanya banyak diminati di tanah air. Begitu bangganya Lintang saat itu hingga akhirnya menyadari  bahwa sesungguhnya wujud kehebatan estetika yang tidak berasal dari intuisi-intuisi yang dilahirkannya sendiri adalah semu belaka.

Tujuh tahun mendalami sastra  di Paris belumlah mampu menjadikan dirinya seorang sastrawan besar. Namun demikian, melihat kejeniusan Lintang dalam berkarya sudah lebih daripada cukup untuk membuktikan bahwa dirinya berbakat menjadi seorang sastrawan besar.

“Hai!”

Lintang terlonjak kaget.

“Eh! Kok teriak, sih?” Lintang membelalakkan matanya. Tampak sedikit kesal.

“Lho? Kok kamu yang sewot? Memangnya enak dicuekin…,” Wulan pura-pura marah setelah begitu lama diabaikan Lintang yang asyik dalam lamunan.

“Dih…,”

“Jangan banyak melamun, dong! Ini Jogja, jeng. Bukan Paris.” Wulan tertawa.

“Aku tahu.”

“Lalu? Langkah konkritnya?”

“Tentang tawaran pekerjaan itu?”

“Tepat sekali! Penerbitan itu memang belum besar. Tapi kalau kamu bersedia bergabung, mungkin kita bisa lebih berkembang.”

“Hmm…,”

“Coba kamu pikir, jeng! Ini kesempatan berda’wah, lho. Katanya mau komitmen ke Islam?”

“Tapi aku masih perlu banyak belajar. Pengetahuanku tentang Islam sangat minim. Berjilbab pun belum. Aku khawatir…,”

“Khawatir apa? Dengan kualitas pengalamanmu sebagai penulis, kamu pantas menjadi seorang editor. Memang tidak semegah tawaran-tawaran dari media lain yang lebih hebat. Justru keikhlasan dan niat baik kamu sedang diuji saat ini. Kamu bisa terus berproses, jeng. Kecuali…,” lanjut Wulan, “itu mengganggu rencanamu.”

“Rencana?”

“Bukankah kamu masih punya rencana untuk kembali ke Perancis? Bukankah di Jogja ini kamu hanya ingin bersantai sejenak? Melepas kerinduan akan tanah Jawa? Orangtua?”

“Hmm…,” Lintang tersenyum kecil.

“Kalau menurutku, sih, lebih baik kamu menetap di sini saja. Kamu bisa jadi dosen sastra, kan? Lagipula Romomu sangat berharap agar kamu tidak kembali ke Perancis. Apa sih yang kamu cari? Kamu tidak kekurangan suatu apapun, lho, jeng! Uang? Modal? Apalagi? Semua sudah tersedia! Bahkan tawaran bergabung ke penerbitan sudah dua kali kamu tolak.”

“Gimana? Aku nggak mau maksa, lho. Kantor penerbitan yang aku tawarkan ini kan memang tidak seberapa…,” Wulan menatap Lintang yang tampak sedang berpikir keras.

“Aku pikir-pikir dulu, deh.”

*****

Ngamboro ing ngawang-ngawang

Hangelangut bebasan tanpa tepi

Narabasing mega mendung

Miber ngiteri jagad

Ngulandoro ngamboro ngunggahi gunung

Tungkul ngumbar gagasan

Satemah ginowo ngimpi…..

Ini Jogja,  bukan Paris. Lintang tahu itu. Jogja lain dengan Paris. Sekarang ini memasuki bulan keempat Lintang berada di Jogja, kampung halamannya. Namun entahlah…. Belum terlintas keinginan untuk menetap di Jogja seperti saran Romo, Ibu, dan terutama Wulan. Dia masih ingin kembali ke Perancis. Ada sesuatu yang masih mengganggu pikirannya.

Pada kenyatannya, justru di kota ini Lintang mendapat kehidupan baru. Pertemuannya dengan Wulan, sahabatnya waktu SMU dulu, mendatangkan banyak cerita. Lintang tidak pernah menyangka bahwa Wulan yang sangat kacau ketika SMU dulu akan berpenampilan layaknya fundamentalis Islam. Sungguh Lintang tidak habis pikir. Bagaimana itu bisa terjadi? Namun setelah banyak berdialog dengan Wulan, Lintang merasa argumentasi Wulan dalam menjelaskan perubahannya itu sangat masuk akal. Lintang mulai terlihat antusias menyimak pemikiran-pemikiran Wulan. Terlebih dalam konsep ketenangan batin yang selalu ditonjolkan Wulan dalam uraiannya. Ada kesejukan lain yang bisa dirasakan Lintang dan itu tidak bisa dinalar. Wulan sangat berjasa dalam mengenalkannya akan eksistensi Tuhan yang begitu sejalan dengan falsafah hidupnya. Meski demikian bukan berarti dulu ia seorang ateis. Ia adalah seorang penganut filsafat Leibniz fanatik. Bedanya, mungkin, konsep hidup serta konsekwensi-konsekwensi yang ditawarkan Islam telah mempengaruhinya sedemikian jauh sehingga membuatnya merasa lebih bisa menjiwai nilai-nilai keilahian dengan seluruh jiwa raganya. Dia mampu melakukan itu semua. Namun sungguhpun demikian, satu yang mengusik hatinya. Dan itu sama sekali mampu melemahkan jiwanya. Bahwa separuh hatinya sudah tiada, menyatu dalam diri seorang pria. Bahwa kenyataannya dia masih begitu mencintainya. Mengubah alur hidupnya terasa begitu mudah, mengganti tema-tema karyanya bukan pula perkara yang rumit. Tetapi mengubah hatinya, bahkan meniadakannya adalah hal besar.

Peter Chin, namanya. Seorang peranakan Tionghoa berkebangsaan Malaysia. Dia adalah partner kerja sekaligus kekasih semasa di Perancis dulu. Selepas hidayah itu datang,  untuk bisa berdampingan dengan Peter adalah sebuah mimpi belaka. Dia hanya bisa mengembarakan angan-angan untuk sekedar membayangkan sebuah kehidupan dimana Peter sebagai nahkodanya dan ia sebagai penghuni kapalnya. Namun pada kenyatannya perasaan itu harus dibunuhnya.

Tidak dipungkiri. Bersama Peter, hari-harinya terasa menggairahkan. Setiap pagi Peter akan menyempatkan diri mendatangi flatnya – Peter tinggal satu gedung dengannya – untuk memainkan Fur Elise, ritual hariannya demi membangunkan Lintang dari tidur nyenyaknya.  Pada waktu-waktu senggang Peter selalu mengagumi penciptaan dirinya yang begitu indah hingga ia merasa ‘wajib’ untuk  mengabadikannya dalam lukisan. Peter memindahkan setiap garis dan lekuk tubuhnya dengan gerakan hati-hati, begitu tenang, khidmat, dan penuh hasrat agar ia bisa terus bekerja seperti ini. Penuh kesederhanaan seperti Sanzio Raphael, seorang pelukis klasik Italia yang begitu setia bekerja untuk para Paus. Sungguh Peter adalah seorang laki-laki yang tahu bagaimana harus memperlakukan dan membuat perempuan merasa begitu tersanjung dan terhormat. Dia lembut dan selalu berbicara dengan lembut pula, tetapi singkat, jelas dan tidak bernada menggoda. Dia sangat mempercayai Tuhan, meski dia tidak menganut satu agamapun. Jika dia pergi ke gereja, maka orang-orang di dalamnya akan mengira dia seorang yang taat karena penampilannya khas seorang mahasiswa seminari. Demikian juga bila ia pergi ke sinagog, maka orang-orang di dalamnya pasti akan mengiranya seorang Yahudi yang taat karena perawakannya yang tegas, tenang, penuh percaya diri. Pernah ia begitu ingin pergi ke masjid yang terletak di salah satu sudut kota Paris. Namun ketika ia melihat seorang wanita berkerudung dengan santun melewatinya dan bergegas mendahului langkahnya masuk ke gedung sebelah masjid, ia langsung menghentikan langkah dan berbalik menjauh. Ketika  Lintang bertanya mengapa dia berlaku seperti itu, dia hanya menjawab pelan, “Takut jatuh cinta. Kau tahu? Mereka begitu indah.” Lintang terbahak mendengar jawabannya. Apanya yang begitu indah? Pikir Lintang geli. Peter mendengus.

“Saya hairan. Kau selaku orang yang beragama Islam, bolehlah pakai pakaian macam tu. Siapa nak mahukan kau dalam pakaian macam tu? Saya pun bisa berlindung daripada godaan syaitan,” kata Peter menggoda.

Lintang tertawa terbahak-bahak.

“Siapa yang beragama Islam? Saya seorang penganut Leibniz taat seperti kamu!”

“Macam mana Leibniz adalah sebuah agama yang boleh dianut-anut?” Peter tertawa menimpali.

Nulla dies sine linea, tiada hari tanpa baris-baris tulisan. Begitu mungkin falsafah hidup mereka di Paris. Entah sendiri, entah bersama-sama, mereka berdua menulis dan berkarya. Sedikit berbeda dengan Peter yang suka menulis sajak dan naskah drama yang berbau mistis, Lintang justru menyukai karya-karya romantis. Jika Peter seorang pengagum Verlaine, Lintang adalah pemuja Shakespeare. Begitu cintanya Peter dengan dunia sastra hingga dalam gurauannya ia selalu mengangankan untuk bisa dikubur di Pere-Lachaise jika ia mati kelak. Bersanding dengan kuburannya. Di mata Lintang, diri Peter seperti memancarkan sinar yang mampu membuatnya bertekuk lutut mengagumi seluruh pesonanya.

Lebih dari satu tahun yang lalu, ketika Lintang berniat kembali ke tanah air, Peter melamarnya. Menghalang-halangi niatnya dan menawarkan suatu kehidupan baru di Paris, atau di kota manapun di belahan bumi Perancis. Hanya ada Lintang dan Peter saja, kelak bersama anak-anak mereka pula. Kalaulah Lintang menolak keinginannya, bukan berarti ia ragu akan cintanya. Bukan berarti Peter mempunyai banyak kekurangan. Peter adalah seorang yang tampan, tidak kalah dengan wajah pangeran-pangeran Eropa dalam cerita-cerita negeri dongeng atau negeri betulan. Ia adalah seorang yang kharismatik, seorang sastrawan yang mulai diperhitungkan keberadaannya. Karya-karyanya mulai berjaya dalam kelas dunia. Terlebih, Peter berasal dari kalangan terhormat di Malaysia. Namun pada hakekatnya, waktu itu Lintang benar-benar belum siap untuk membina sebuah rumahtangga, apalagi jauh di negeri orang. Diakuinya memang waktu itu ia sedikit konservatif bahkan cenderung kekanak-kanakan. Andai sekarang hatinya begitu mantap dan ingin benar menjadi istri Peter, kenyataan hidup sudah menjadi lain. Sebagai seorang muslimah, jangankan cara hidup Peter yang agak bebas, agama Peter yang tidak jelas memaksa dirinya untuk segera melupakannya. Namun kadangkala, keinginan untuk menikah dengan Peter dan tinggal di Paris masih saja membayang di pikirannya.

Sungguh itu membuat Lintang menjadi demikian resahnya. Apalagi jika mengenang pembicaraannya dengan Peter sehari yang lalu di IRC.

<Peter> Lintang marahkan Peter?

<Lintang> Tidak.

<Peter> Saya tak faham. Habis, mengapa diam-diam saja?

<Lintang> …

<Peter> Saya tunggu Lintang kat Kuala Lumpur. Nak bual fasal ni.

<Lintang> Saya tak bisa menikah denganmu.

<Peter> Mengapa?

<Lintang> Jalan saya sudah berubah. Sudah saya katakan hal ini satu bulan yang lalu di telepon.

<Peter> Ingat ke Lintang ketika duduk berbual berdua di hotel des Grands Hommes Paris lepas meeting bersama penyelenggara pertunjukkan Zadiq ou la destinee empat tahun lepas?”

Lintang menarik nafas panjang. Resah. Siapa yang tidak ingat masa ketika mereka berdua menyatakan isi hati?

“Saya ingin bicara,” pelan suara Lintang memecah keheningan.

“Hem? Fasal apa ni?”

“Tidakkah kamu tahu isi hati saya?”

“Macam mana nak tahu? Hati Lintang tu di dalam. Bukannya boleh dilihat dari luar.” Peter melucu.

“Kalau begitu lebih baik saya tidak bicara.”

“Mengapa pula begitu!”

“Saya takut,”

“Kenapa takut? Peter kasih pada Lintang… Malah lebih dari itu,” pancing Peter. Sesungguhnya dia lebih dari mengerti apa yang ingin dikatakan Lintang. Dia sudah dewasa dan hatinya pun peka.

“Lebih? Lebih bagaimana?” Lintang tampak antusias.

“Tak tahu. Cuba Lintang teka!” goda Peter.

“Malu.” Lintang tersenyum membayangkan ‘lebih’ yang dijanjikan Peter padanya. Lebih dari kasih? Berarti ‘cinta’ kah?

“Pelik kau ni. Mula-mula takut. Ini dah malu pula,”

Okey. Lintang dengar cakap Peter. Peter nak katakan sesuatu hal,” lanjut Peter lembut.

“Tidak usah. Saya malu juga mendengarnya,” potong Lintang cepat. Dadanya berdegup kencang membayangkan apa yang akan dikatakan Peter. Wajahnya memerah menahan malu. Tampak sungguh kekanak-kanakan di mata Peter. Peter semakin bersemangat menggodanya.

“Lah…! Mula malu nak bercakap. Ini malu nak mendengar pula. Macam budak-budak ni. Tak patut le malu macam tu. This is 21st centaury!”

“Baik, saya akan jujur! I love you,”

“Ish! I can’t hear.”

“Bohong! Saya bicara keras sekali,”

“Sungguh!”

Lintang menatap Peter tajam. “Saya…,”

“Saya apa ni?”

“Saya cinta kamu,” ulang Lintang pelan, hampir tak terdengar.

Tawa Peter meledak mendengarnya.

Lintang tersinggung. Dipukulnya bahu Peter keras-keras dan bergegas pergi meninggalkan Peter yang termangu menatap kepergiannya. Sedetik kemudian tawanya meledak kembali menyadari Lintang masih berlaku kekanak-kanakan. Dia beranjak berdiri dan meraih gaun Lintang.

Sorry. I love you too. Saya benar-benar cintakan Lintang.” Peter menatap mata Lintang tajam dan dalam. Lintang menunduk diam. Semakin berdebar hatinya.

Itu empat tahun yang lalu.

<Lintang> Saya ingat. Tapi empat tahun yang lalu adalah tetap menjadi bagian masa lalu. Sekarang adalah kenyataan.

<Peter> Saya cintakan kau. Jika kau pilih Islam dan tak hendak lepaskan diri daripadanya, it’s ok! No problem. Bolehlah kita hidup sebagai suami istri. Lagipun sejak bila saya larang kau berislam?

<Lintang> Peter bersedia jika saya meminta Peter untuk masuk Islam?

<Peter> Ow, please… Jangan mulai! Lintang faham akan Peter. Selamanya saya tak nak ikut doktrin-doktrin macam tu.

<Lintang> Itulah….

<Peter> Cuba Lintang dengar cakap saya ni. Kita boleh berkahwin kat Indonesia. Lepas tu kita balik ke Paris. Kita hidup bersama. Soalan agama tu jangan diungkit-ungkit lagi. Tak nak?

<Lintang> Tidak semudah itu.

<Peter> Okey. Sekarang Lintang dengar. Saya pasti tak de perubahan yang bererti daripada hati Lintang tu. Sesungguhnya mommy nak tunangkan saya dengan seorang budak Singapor. Anak rakan sejawat.

<Lintang> So?

<Peter> Dalam satu minggu ini, bolehlah Lintang call ke Kuala Lumpur. Jika tidak, saya akan segera bertunang. Call me at 10.00 pm waktu Indonesia. I’ll be waiting for you. See you…

<Lintang> Wait!!!!!

***Peter (Quit: think about it!)

*****

“Ada masalah?” Wulan menatap Lintang serius.

“Tidak,” jawab Lintang pendek.

“Tapi mukamu kelihatan murung, tuh.”

“Oh ya?”

“He-em. Mau ditemani jalan-jalan? Ke Malioboro? Nyari barang-barang antik lagi?”

“Nggak, ah. Terimakasih.” Lintang tersenyum.

“Lan,”

“Hem?”

“Wanita itu lemah, ya…, kalau sudah menyangkut masalah hati. Cinta. Apalagi jika sang kekasih sehebat Arjuna.”

“Hahaha…,” tawa Wulan meledak.

“Dih!” Lintang cemberut.

“Oke! Sekarang masalahnya, Arjuna yang seperti apa dulu?”

“Arjuna yang dicintai beribu-ribu wanita.”

“O, yang itu? Pasti ada kisah yang mengatakan penolakan secara telak cinta mas Arjuna yang konon super cakep itu jika…,”

“Jika?”

“Jika yang di lamar adalah wanita Arab muslim, misalnya…,”

“Hahaha…. Nggak juga!”

“Kok?”

“Soalnya mas Arjuna mau bersyahadat dulu sebelum nikah.”

“Dih!”

Lintang tertawa terpingkal-pingkal.

“Cinta tertinggi itu hanya kepada Allah. Sedangkan cinta kepada manusia adalah refleksi dari kecintaan kita kepada Allah.” Wulan tersenyum kecil dengan tatapan penuh arti.

“Tetapi mengatur hati itu demikian sulit…,” ungkap Lintang.

“Aku paham. Hati itu mudah berbolak-balik. Jika sudah ada niat untuk menyerahkan hati ini pada Allah semata, maka segera kuatkan! Kalau sudah merasakan indahnya cinta Ilahiyah, semua masalah akan bisa diatasi.”

“Hm…,”

“Aku kira saat ini kamu punya masalah berat yang menyangkut hati. Tingkah lakumu tidak bisa menipu. Tapi aku tidak akan pernah memaksa kamu untuk bercerita. Aku yakin kamu bisa mengatasinya. Saranku, kalau memang harus memilih seorang laki-laki saat ini, kamu harus hati-hati, jeng. Jangan sampai menghancurkan hidayah yang sudah kamu raih.”

“Kamu harus ingat, jeng! Seorang muslimah harus menikah dengan seorang muslim. Kamu tidak bisa sembarangan memilih calon suami, lho. Suami adalah pemimpin kita. Salah memilih pemimpin sama dengan menghancurkan kehidupan kita di dunia dan akhirat.” Wulan menatap mata Lintang dalam-dalam. Sorot matanya menyimpan kelembutan meski dia mengucap dengan tegas.

“Hhh…,” Lintang membuang nafas panjang sementara Wulan terus berbicara.

“Kamu sekarang adalah muslimah. Jangan pernah terjebak oleh romantisme masa lalu. Kamu tidak boleh mengumbar perasaan, angan-angan, serta mimpi yang tiada habis. Kamu harus tegas!”

“Ya. Aku rasa kamu benar, Lan. Aku memang harus bisa bersikap lebih tegas saat ini. Tapi aku juga mau minta maaf, Lan. Saat ini aku merasa belum mampu terbuka dan membagi cerita ini padamu. Semua begitu cepat terjadi. Demikian berat. Aku hanya butuh waktu untuk berpikir sendiri dulu.”

“Tidak masalah, jeng. Allahu ma’ana.” Wulan tersenyum maklum.

“Eh, ngomong-ngomong, nih, tawaran itu masih berlaku nggak?”

“Apa? Penerbitan?”

“Ya.”

Sure! Anytime.”

*****

Jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam lewat. Bayangan Peter segera memenuhi otak Lintang. Jika ia tidak menelepon jam sepuluh malam ini, maka belahan hatinya itu akan segera menikah dengan orang lain. Meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Bukankah kesempatan itu tidak akan datang untuk kedua kalinya?

Lintang berusaha menenangkan diri. Dibukanya sebuah majalah wanita untuk mengusir galau sekaligus menghabiskan waktu yang terus berjalan sebab kantuk belum juga menguasainya.

Sekilas Lintang melirik jam. 20.46 WIB. Jantungnya berdegup kencang. Kembali, bayangan Peter yang lembut dan tak banyak bicara menari-nari di pelupuk matanya.

“Seorang muslimah harus memilih seorang suami yang sholeh,” terngiang kembali kata-kata Wulan sore tadi di teras rumahnya. Namun bukankah Peter memiliki kesempatan untuk ber-Islam? Pikir Lintang dengan mata bersinar. Meski Peter tidak pernah menyukai doktrin-doktrin agama, Lintang masih bisa mempengaruhinya bukan? Konon cinta bisa membuat orang melakukan apa saja. Termasuk menukar keyakinan, misalnya. Tetapi ini terlalu beresiko! Siapa yang bisa menjamin hati manusia? Siapa yang dapat menjamin dia bisa istiqomah mempertahankan hidayah yang baru saja menyapanya? Bukankah masih banyak kesempatan untuk mendapatkan cinta yang benar-benar tulus dan ikhlas karena Allah?

21.00 WIB.

Jantung Lintang berdegup lebih cepat. Bintik-bintik keringat pada dahinya begitu cepat membesar, menyatu satu sama lain membentuk butiran yang lebih besar dan menetes ke bawah mengaliri lekuk-lekuk wajahnya. Ditariknya nafas panjang-panjang sekedar melonggarkan saluran pernafasan.

21.30 WIB.

Allah! Berilah kekuatan! Wulan benar. Untuk apa memikirkan hal yang sia-sia? Untuk apa mendramatisir perasaan? Cinta hakiki itu hanya kepada Allah saja. Mencintai kekasihpun karena Allah semata. Cinta yang menuruti hawa nafsu akan membuatnya buta.

Jam Sepuluh kurang sepuluh menit. Kurang sepuluh menit lagi!

Kringgggggg….

Lintang terlonjak kaget. Jantungnya hampir melorot ke bawah demi mendengar bunyi telepon yang begitu tiba-tiba. Siapa pula menelepon malam-malam begini?

“Hallo,” jawab wulan pendek, sedikit kesal.

“Apa? Salah sambung!”

Klik.

Lintang hendak beranjak ke kamar ketika telepon itu berdering kembali. Dengan nada yang masih menyimpan kekesalan, tak urung Lintang mengangkatnya pelan.

“Hallo,”

“Hallo. Ini saya, Peter. Saya tak kisah jika cadangan saya tu kau tolak. Saya tahu siapa Lintang. Saya nak datang ke Jogja besok. Nak melamar. Maharnya adalah keislaman saya. Lagipun saya teringin sangat melihat Lintang mengenakan kerudung sebagai syarat menjadi istriku. Bagaimana?”

“Hallo? Lintang dengar tak cakap Peter? Berdoa kepada Allah. Moga Ia kekalkan kita di atas ikatan cintaNya. Besok saya berangkat daripada Kuala Lumpur. Jika Lintang tolak lamaran saya, sampai bila-bila pun saya tidak pernah menyesal. Saya dah cuba. Saya dah tahu kemana nak labuhkan cinta abadi. Fasal ni lebih seronok daripada cinta abadi macam Shakespeare punya. Bolehlah kita ni buat nouvel yang lebih bagus daripada karya Shakespeare tentang erti sebuah cinta abadi,” terdengar tawa kecil Peter di seberang.

Mulut Lintang ternganga tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Tubuhnya terus menegang meski sudah sejak lima menit lalu Peter menutup teleponnya.

“Hai! Bangun!”

“Peter?” Lintang terduduk di pinggir ranjang. Kedua matanya mengerjap-kerjap bingung menatap Wulan yang sudah ada di depannya sambil membelalakkan matanya.

“Peter? Siapa Peter?” kejar Wulan antusias.

Senyum Lintang mengembang seketika. Kesadarannya pulih. Pukul sepuluh malam telah berlalu. Lintang telah memutuskan untuk tidak menghubungi Peter. Bukankah dia lebih dari yakin bahwa cintanya hanya untuk Allah semata?

“Tadi aku bermimpi…,”

“Ah, cuma mimpi!”

“Dengarkan dulu, dong!”

“Apa?”

“Mimpiku itu indah sekali. Aku memakai jilbab. Lalu aku bekerja di sebuah penerbitan islami yang sangat besar sekali. Selanjutnya menikah dengan seorang muslim yang cakepnya seperti Arjuna, tapi mentalitas mirip Shalahuddin Al-Ayyubi.”

“Ah, kamu bohong, tuh!”

“Lho? Kok tahu?” Lintang tergelak.

“Dasar!” Wulan sewot.

“Memang bukan mimpi, sih!”

“Maksud kamu?”

“Begini, mbakyu… Kalau memang jilbab bekasnya masih ada, aku mau, lho, mewarisinya. Kalau tawaran kerjanya juga masih  berlaku, aku mau terima, deh! Soalnya tiba-tiba saja aku ingin menetap di Jogja.”

“Hah?! Kamu serius, nih?”

“InsyaAllah,”

“Serius?”

“Dua-rius. Seribu juga boleh kalau nggak kebanyakan.”

“Subhanallah, Lintang…,”

“Tapi aku masih belajar,  lho…,”

“Lalu Peter?”

“Ah, hanya Allah yang tahu. Mungkin aku akan mengirim email padanya. Mendo’akan supaya dia bahagia.”

“Alhamdulillah, kamu mulai bisa membuat keputusan yang arif.”

“Masalahnya aku harus hidup dalam alam realita, Lan. Bukan alam mimpi atau angan-angan belaka. Mungkin dengan membuka kenyataan baru seperti ini aku bisa lebih puas menjalani pilihan hidupku dan melupakan masa laluku yang begitu menyedihkan. Kamu tahu, kan? Ini Jog…,”

“ja,  bukan Paris! Jogja beda dengan Paris!” Wulan menyerobot kalimat Lintang gemas.

Kedua muslimah itu tertawa bersamaan.

——-THE END——-

Keterangan:

Jeng: panggilan Jawa untuk menghormati wanita yang lebih muda

Leibniz: mengajarkan bahwa Yang Maha Kuasa mengatur sebaik-baiknya kehidupan di alam raya ini

Fur Elise: karya Bethoven yang dipersembahkan untuk istrinya

Verlaine: penyair Perancis (1844-1896) yang mengutarakan penderitaan batinnya dalam sajak-sajak yang indah

Pere-Lachaise: pekuburan tempat dikuburkannya banyak tokoh Perancis, antara lain tokoh sastra

Zadiq ou la destinee: salah satu karya Voltaire

Kat: di

Nak: mau

Budak: anak

Bual: bicara

Bila: kapan

Saya pasti: saya yakin

Seronok: bagus

Saya tak kisah jika cadangan saya tu kau tolak : saya tidak peduli jika rencana saya itu kamu tolak