Archive for the ‘Catatan Pinggir’ Category

h1

FILOSOFI MAGANG

June 11, 2008

Filosofi Magang

[catatan buat temen2 K-32]

Assalamu’laikum Wr. Wb.

[renungan singkat saja]

Barangkali kita kadang termangu atau bertanya-tanya. Pikiran kita terusik oleh pertanyaan-pertanyaan semisal Apa yang mesti kita lakukan saat magang??? Atau apa prioritas “kerja” kita menghabiskan waktu 3 bulan ini?

Kalau boleh berpendapat, yang terpenting dan nomer wahid untuk kita ketahui atau kita kerjakan adalah BUKAN membuat laporan mingguan, menyusun kawat alias brafaks, menerjemahkan berita dan menganalisanya, menjemput tamu, bahkan bukan pula menghadiri sebuah sidang multilateral sekalipun!!

Ada satu hal beyond semua itu. “Makhluk” tersebut adalah MENGERTI DENYUT NADI sebuah perwakilan. SEkali lagi mengerti DENYUT NADI.

Mengerti denyut nadi sebuah perwakilan secara sederhana artinya merasakan segala hal yang terjadi di KBRI; seluruh aktivitas, dinamika, orang-orang di KBRI, bahkan sampai kasak kusuknya juga! Dalam bahasa wartawan hal ini disebut dengan melihat apa yang tersembunyi jauuuuuh dibalik sebuah “fakta”.

Ringkas saja: Sebuah pertnyaan sebagai ilustrasi: Mengapa seorang bayi hanya bisa tersenyum dan menangis?? Jawabnya adalah: karena seorang bayi tidak memiliki MASA LALU dan MASA DEPAN. Dia hanya memiliki masa sekarang!

Nah, memgerti denyut nadi KBRI dengan cara sebenar-benarnya adalah sebuah proses  pelebaran space of  thought masa depan kita dan sekaligus pada saatnya akan menjadi khazanah masa lalu yang kaya dan pada ahirnya akan membuka space of action yang semestinya dilakukan. SEmakin lebar space of thought yang dmiliki maka akan semakin lebar juga space of action dimungkinkan.

Ah, sayang sekali, tulisan sesingkat ini tidak bisa mengungkap secara layak makna DENYUT NADI itu, yang dapat mewariskan sebuah “KE-BIJAK-AN” , bukan sekedar pengalaman, pengetahuan apalagi hanya sekekdar kepandaian.

Ok ini dulu. Hanya sebuah renungan pribadi. Mohon maaf.

Wassalam.

Sahrul “de la Riyadh” Murojab

–magang di KBRI Riyadh 21 Okt ’07 – 21 Jan ’08–

h1

Catatan Perjalanan dari TUNIS

April 3, 2008

  Tanggal 1-3 Januari 2006 lalu saya oleh Allah ditakdirkan untuk singgah ke kota Tunis, ibukota Republik Tunisia, demi menjalankan sebuah “tugas”. Banyak catatan, pelajaran  dan kesan yang saya rekam. Salah satunya yang barangkali paling penting, menarik dan layak untuk saya “bagi-bagi” di milis ini adalah pertemuan dengan rekan-rekan mahasiswa anggota PPI Tunis. 

Saya menyempatkan diri menginap satu malam  di markas besar mereka, sebuah syuqqoh (semacam apartemen) di lantai dua (atau tiga ya? ah lupa) dari sebuah rumah milik warga Tunisia, di salah satu sudut pinggiran kota Tunis yang sering disebut sebagai kawasan kumuh dan berada tidak jauh dari sebuah danau yang konon di musim panas mampu menebar bau menusuk hidung. Dari Kampus Universitas Al-Zaitunah lokasinya boleh dibilang dekat, dan cukup dicapai dengan jalan kaki.  

Saya sendiri melihatnya tidak kumuh amat, dan masih lumayan bagus. Bahkan syuqqoh tempat kawan-kawan mahasiswa tinggal terbilang paling mentereng di antara rumah-rumah sekitar. Memang, jika dibandingkan dengan pandangan umum kota Tunis yang terkenal bersih dan rapih, kawasan tersebut akan memberikan kesan yang jauh berbeda.  Mereka menyewa tempat tersebut dengan sekitar 200 dinar sebulan yang digotong ramai-ramai dengan iuran bulanan bersama sekitar 20 dinar perbulan. Dan tampaknya, mereka cukup menikmati tinggal di tempat tersebut. 

Dibanding asrama Kuliah Dakwah, jelas tidak sama kelas! Syuqqoh dengan penghuni sekiatar 8 orang tersebut memiliki dua kamar tidur, satu kamar mandi, satu dapur dan satu ruang “kumpul-kumpul”, yang didalamnya tampak rak buku-buku dan satu-satunya pesawat computer yang nongkrong dan berusaha tampil gagah. Di salah satu kamar mereka lantai ruangan hanya ditutup oleh tikar plastik seperti yang biasa kita pakai di Indonesia. Bukan bathoniyah (karpet) hangat laiknya di asrama Tripoli.  (nah lho, bersyukur!!!)  

Malam itu juga, saya diajak (eh, yang benar: mengajak!) beberapa mahasiswa jalan-jalan menyusuri lorong dan gang-gang kecil kota Tunis, melewati stasiun kereta api, “mampir” ke Ibn Khaldun (patungnya aja, lho! yang terletak di depan Gereja Katedral yang cukup besar dan klasik, di tengah Jalan Borguibah yang menawan), serta mampir di sebuah warung makan rakyat, melahap “lab-labi”, makanan hangat khas Tunis yang diramu dari sumsum sapi, telor rebus setengah matang, plus serbuk entah apa namanya, diaduk dalam semangkok besar syurbah (kuah) dengan ditambah roti. Cita rasanya agak aneh, namun lumayan eksotis. Daan…Meski jalan-jalan yang kami lewati “remang-remang”, namun yang pasti kami tidak mampir ke diskotik, apalagi nonton tari perut!! He..he… Alhamdulillah. 

Kawan-kawan kita mahasiswa Tunis yang berjumlah hanya 12 orang, hampir separuhnya sedang menyelesaikan atau baru mau mulai dirosat ulya alias S2 di Universitas Al-Zaitunah. Perkuliahan diploma S2 cukup ditempuh setengah tahun sebelum menulis tesis. Kini,  beasiswa S2 yang besarnya mencapai US $ 100 lebih itu, mulai sulit untuk didapat. Tiket berangkat (dan juga pulang) ditanggung oleh saku masing-masing. Mereka juga tidak mengenal “pulang tahun dua” laiknya di Libya (nah lho, bersyukur lagi!) 

Ah, ini aja dulu…. Nggak kuat lagi nulisnya…. 

Wassalam.

By: Mohamed Shahr El-Murajjab 

Tripoli, Januari 2006