Archive for the ‘Refleksi’ Category

h1

AURAT!

June 30, 2010

Oleh: Muhamad Sahrul Murajjab

=>Pernah di muat di Republika, Sabtu, 12 Juni 2010 / 29 J. Akhirah 1431H <=

Pada dasarnya setiap manusia sesuai dengan fitrahnya cenderung lebih merasa nyaman untuk menyimpan rahasia atau privasi dirinya agar tersembunyi dari jangkauan orang lain. Akan tetapi seiring kemajuan zaman yang disertai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, atau barangkali juga disebabkan oleh adanya gangguan kelainan, sebagian  orang kini  justru “berubah fikiran” menjadi lebih merasa senang jika privasinya dibaca, dilihat, didengar dan diketahui oleh orang lain.

Dalam Islam wilayah privat sangat dilindungi dan untuk itu setiap muslim juga diwajibkan untuk menjaga, menutupi dan menyimpan jenis-jenis privasi tertentu yang biasa diistilahkan dengan aurat. Selain yang berupa privasi fisik (anggota tubuh), yakni: seluruh apa yang berada diantara lutut dan pusar bagi kaum laki-laki dan seluruh anggota badan kecuali muka dan telapak tangan bagi kaum perempuan, aurat juga mencakup privasi-privasi yang bersifat non-fisik.

Apa yang dilakukan oleh seseorang ketika melakukan hubungan suami istri adalah termasuk diantara wilayah privat yang secara tegas dilarang untuk dibuka kepada publik dan disiarkan kepada orang lain. Asma’ binti Yazid menceritakan, bahwa pada suatu ketika ia berada di majelis Rasulullah saw sementara kaum laki-laki dan wanita duduk dan berkumpul di situ. Rasulullah bersabda, “Barangkali seorang laki-laki menceritakan hubungan intim yang dilakukannya bersama isterinya? Barangkali seorang wanita menceritakan hubungan intim yang dilakukannya bersama suaminya?” Para Sahabat yang berada di tempat tersebut terdiam. Akupun berkata, “Demi Allah, benar wahai Rasulullah! Sesungguhnya kaum wanita melakukan hal itu demikian juga kaum pria!” Maka Rasulullah saw. bersabda, “Jangan lakukan! sesungguhnya hal itu seperti syaitan laki-laki yang bertemu dengan syaitan perempuan di jalan lalu keduanya bersetubuh sementara orang-orang melihatnya,” (HR. Ahmad, hasan lighairihi)

Wilayah privasi lain yang juga termasuk aurat yang harus ditutupi adalah aib dan perbuatan dosa yang pernah dilakukan oleh seseorang. Kewajiban menutupinya merupakan tanggungjawab bersama baik bagi pihak yang melakukannya maupun orang lain yang sempat mengetahui perbuatan tersebut. Hal ini tentu saja berlaku selama tidak terdapat alasan syar’i yang membolehkannya untuk menceritakan aib tersebut. Terkait hal ini Rasulullah SAW bersabda: “Seluruh umatku akan diampuni dosa-dosanya kecuali orang-orang yang terang-terangan (berbuat dosa). Di antara orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang yang pada waktu malam berbuat dosa, kemudian di waktu pagi ia menceritakan kepada manusia dosa yang dia lakukan semalam, padahal Allah telah menutupi aibnya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Tentang keutamaan menutup aib orang lain Rasulullah SAW bersabda: “Seorang hamba tidak menutupi aib hamba yang lain di dunia kecuali Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat”. (HR. Muslim)

9 Juni 2010/25 J. Akhirah 1431

h1

AKU & KEANGKUHAN

February 21, 2010

Oleh: M. Sahrul Murajjab

Republika, 20 Feb 2010; http://www.republika.co.id/berita/104588/aku-dan-keangkuhan

Suatu kali, seorang bijak ditanya oleh salah seorang muridnya. “Tuan Guru, adakah kejujuran yang tidak baik? Sang guru bijak pun menjawab, “Pujian seseorang atas dirinya sendiri.” Maksudnya, ketika seseorang bercerita hal-hal baik tentang dirinya sendiri, meskipun cerita tersebut benar adanya, hal itu adalah kejujuran yang tidak baik. Sebab, bisa memunculkan perasaan bangga diri dan kesombongan.

Ketika seseorang mengatakan ‘aku’, yang biasanya timbul adalah subjektivitas. Bahkan, tidak jarang pula kata tersebut memiliki efek negatif bagi kehidupan sosial. Dikisahkan dalam Alquran bahwa makhluk yang pertama kali mengucapkan kata ‘aku’ dengan penuh kesombongan dan perasaan tinggi hati adalah iblis.

Tatkala Allah SWT memerintahkan iblis bersujud kepada Adam AS, ia menolaknya dengan congkak sembari berkata, “Aku lebih baik darinya (Adam). Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan engkau menciptakannya dari tanah.” (QS Al-A`raf [7]: 12).

Kata ‘aku’ meluncur dari mulut iblis sebagai ungkapan pengagungan dan penyucian diri sendiri di hadapan Allah yang menciptakannya. Meskipun dia mengakui bahwa dirinya hanyalah makhluk yang diciptakan, nyatanya ia membangkang: menyanjung dirinya dan melupakan karunia Penciptanya. Karena sikap iblis ini, sering muncul sebuah ungkapan bahwa tidak ada seorang pun yang memuji dirinya sendiri, kecuali yang menyerupai makhluk terkutuk itu.

Demikianlah bahaya kata ‘aku’ yang diiringi perasaan bangga diri. Para ulama suluk sering menyebutnya sebagai salah satu penghancur (muhlikat) kehidupan manusia. Allah pun telah melarangnya dengan tegas dalam firman-Nya, “… maka, janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui orang yang bertakwa.” (QS Alnajm [53]: 32).

Pada ayat lainnya, ketika menyebutkan sifat orang-orang kafir, Allah berfirman, “Apakah kamu tidak memerhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya, Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak teraniaya sedikit pun.” (QS Annisa [4]: 49).

Dengan demikian, kata ‘aku’ dengan muatan keagungan, pujian, dan ketinggian tidaklah pantas jika dinisbatkan kepada diri sendiri. Kata itu hanya layak bagi Allah SWT, sang pencipta semesta alam ini.

h1

Mengabaikan Sang Penentu

December 29, 2007

Manusia dalam berbagai konteks seringkalai mengabaikan (atau bahkan “meniadakan”) kemutlakan kekuasaan Allah, dengan kebih mengedepankan perhitungan-perhitungan rasional, meski seringkali perhitungan2 tsb tidak betul2 rasional melainkan hanya lah hasil dari pergumulan rasa dan prakira, sehingga banyak meletakkan teori2 hidup, cita2, atau “nasib” atas dasar sudut pandang ‘materialis’ dan akhirnya melupakan keharusan berdekatan dg Allah sebagai Sang Penentu.

Muhamad Sahrul Murajjab

(Tripoli, ahad pukul 20.55 # 27 Shafar/20-05-2001)

h1

Mendemo Diri Sendiri (?)

December 29, 2007

Bismillah……
Adalah hal yg patut disyukuri bahwa banyak dari kita, Umat Islam, yang begitu bersemangat melakukan demonstrasi terhadap kebiadaban Israel.Yang demikian menggambarkan bahwa sejumlah besar dari kaum muslimin masih mempunyai satu sisi “spirit” jihad dan solidaritas keummatan (tentu saja jika demonya di”niati”). Meski demikian ada satu hal yang tidak kalah penting bahwa kita juga perlu men”demo” diri kita masing-masing (dalam konteks yg bersangkutan). Yaitu bahwa Kita perlu meneriaki diri jika ternyata kita belum menyisihkan jiwa kita untuk penderitaan kaum Muslim Palestine dan merenunginya. Kita juga perlu memaki diri (lawwam) jika ternyata kita belum berkontribusi untuk bersolidaritas terhadap mereka. Setidaknya yang paling “ringan” -meski sering dilupakan- adalah kontribusi hati (dg doa & munajat) jika pintu2 lain tidak memungkinkan……….. Dan “demo”lah diri anda sambil jalan menuju tempat demonstrasi….NAH!!!!

M.Sahrul Murajjab

(Dokumentasi sekitar tahun 2001/2002)

h1

Berguru Kepada Segala Hal

December 29, 2007

Bismillahirrahmanirrahim

Berguru kepada segala hal merupakan sebuah kemestian. Setiap daya yang Allah berikan kepada kita sebagai instrument kesempurnaan kemanusiaan kita tidak boleh di”kufuri”agar kita tdk menjadi bagian dari orang-orang yg ‘ lahum qulubun la yafqahuuna biha wa lahum a’yunun la yubshiruna biha wa lahum aadzanun la yasmauna biha….(7:29) sehingga derajat istimewa yg kita miliki tidak berubah menjadi ‘darokat’ rendah tak ubahnya hewan ternak atau lebih buruk dari itu (pseudo bani Adam?). Hati, mata, telinga secara hakiki bila ditinjau secara filosofis memang lebih dari sekedar organ tubuh an sich yang bebas dari batas-batas fungsi dan ikatan dalam dimensi bathini(esoteris). Dimana yang terakhir inilah terletak semiua itu. Maka tajamkanlah “mata”, “telinga”, “dan hati anda untuk membaca segala hal dengan kritis, tanpa mengesampingkan unsur transedental maha Agung yang berada diatas segala hal, dg merujuk kapada ayat yang pertama kali turun ke bumi “Iqra’ bismiRabbika”

Muhamad Sahrul Murajjab

(Tripoli, jumat malam sabtu,24.00# 25 shafar 1422/18,05,2001)