Archive for the ‘SASTRA (istri)’ Category

h1

KUCARI ENGKAU TUHAN…

November 5, 2009

Kucari Engkau, Tuhan…

Oleh:  Istriku (Santy Martalia Mastuti)

6 April 2000


“Maria…,” Suster Hanna menatapku lembut. Selalu saja senyum mautnya meluluhkan hatiku. Huh! Kupalingkan wajah kuat-kuat.

“Maria, tatap mata saya. Kenapa kamu berpaling? Kenapa kamu merasa takut jika kamu memang tidak melakukannya?” Suster Hanna masih tersenyum lembut. Dan sekali lagi, aku tidak pernah kuat menghadapi kelembutannya. Entah kekuatan apa yang untuk kesekian kalinya mampu menggerakkan alam bawah sadarku. Serta merta aku berdiri, dan berteriak dengan lantang,

“Ya! Memang saya pelakunya. Saya yang telah membuang boneka Magdalena ke sungai belakang asrama.”

Uff! Seperti biasa, selalu saja interogasi ‘sederhana’ ini berakhir dengan pengakuanku.

Kutinggalkan ruangan suster Hanna begitu saja. Sudah cukup! Aku sudah muak! Aku tidak tahan mendengar suster Hanna selalu memanggil nama baptisku,… Maria… Maria…! Huh! Aku tidak pantas dipanggil dengan nama itu. Kedengarannya terlalu indah dan naif untuk seorang gadis bengal sepertiku. Lagipula… kalau si kurus Magdalena tidak menangis seperti tadi, pasti aku tidak akan berhadapan dengan suster Hanna. Dasar cengeng! Makan tuh boneka!

“Hei, White Maria!”

Tiba-tiba sebuah suara menahan langkahku. Puih! Siapa lagi yang akan memanggilku dengan gaya seperti itu kalau bukan…,

“Sorry, honey… Hehe… Aku dengar suster Hanna memanggilmu… lagi? Hehe…” Diana menghampiriku dengan senyumnya yang membuatku mual.

“He! Meskipun kamu kakakku, tidak ada ijin bagimu untuk memanggilku Maria!” Kutatap sangar wajahnya.

Diana kembali tertawa. Menyebalkan!

“Hehe… White, kurasa nama Maria baik untukmu. Makanya…, perbaikilah tingkah lakumu, honey. Jangan lupa buat pengakuan dosa selepas misa minggu depan. Biar darah di otakmu mengalir. Okey, honey? Muaaacch! Aku mau ke perpustakaan dulu. Daah…,” Diana segera berlalu dari hadapanku.

Kuhembuskan nafas kuat-kuat. Kesal. Diana memang gadis yang sempurna. Dia cantik, cerdas, dan taat. Papa dan Antonius, kakakku yang saat ini kuliah di seminari, sangat menyayanginya. Sedangkan perlakuan mereka kepadaku? Jangan ditanya! Antony selalu ribut menyuruhku ke gereja setiap minggu. Menyuruhku membaca kitab, menyuruhku aktif dalam perkumpulan remaja gereja, bahkan untuk pengakuan dosa pun dia yang membujuk! Sedangkan papa? Meski papa cukup sibuk mengurus bisnisnya daripada mengurus kami, aku tetap saja merasa bahwa dia lebih menyayangi Antony dan Diana daripada aku. Dan perlu diketahui, mamaku yang asli Jerman itu sudah meninggal dua tahun yang lalu. Ah, papa… Aku memang bukan anak yang baik. Aku selalu mengecewakan papa. Bahkan untuk memakai nama perawan suci Maria saja aku merasa tak pantas!

Pelan, kulangkahkan kaki menuju halaman belakang Santa Bernadita. Ujung-ujung bibirku merekah. Seperti yang sudah-sudah, hup! Tembok Sanber yang tidak seberapa tinggi bagiku itu terlompati sudah.

Uaaaahhh… Kutarik nafas panjang-panjang. Bagiku udara di luar Santa Bernadita terasa lebih segar. Bayangkan! Sekolah asrama putri dengan 1001 peraturan, lengkap dengan segala hukuman! Sebetulnya aku lebih tertarik masuk SMU daripada Sanber kalau saja Antony tidak membujukku terus menerus. Apalagi harus satu sekolah dengan Diana. Uff, menyebalkan! Popularitasku tidak mampu menyaingi kelebihannya. Sekali lagi, dia memang anak emas di setiap kesempatan.

Kuhentikan taksi yang lewat di depanku.

“Ke jalan Mastrib, mas!” seruku pada sang sopir.

Kembali senyum kemenangan tersungging di bibirku. Ah, suster Emil dan suster Hanna pasti akan sibuk mencariku. Hahaha… Cuma tiga hari! Aku janji akan bolos selama tiga hari saja. Setelah itu aku akan kembali dan siap disidang di ruang kepala sekolah, bahkan untuk pengkuan dosa sekalipun!

Jogja di siang hari benar-benar membuatku gerah jika saja taksi ini tidak ber-AC. Kubayangkan Rosa teman SMP-ku yang seorang muslim itu akan memelototiku sekali lagi. Dia memang tidak suka dengan kegilaanku, tetapi dia tidak pernah menolak menerimaku jika ‘kebetulan’ aku kabur dari Santa Bernadita.

 

8 April 2000

Kututup sebuah buku karangan Nietzsche yang belum selesai aku baca beberapa minggu yang lalu yang sengaja aku titipkan di rumah Rosa. Tokoh ini memang sedikit ‘nekad’ mengatakan bahwa ‘Tuhan telah mati’ di awal masa keruntuhan kedigdayaan dewan gereja. Kutatap Rosa yang tengah sibuk mengerjakan tugas rumahnya.

“Ros, “ panggilku pelan.

“Ya?” jawabnya tanpa menoleh.

“Kamu percaya nggak kalau Tuhan telah mati?” tanyaku kemudian, mencoba mengajaknya berdiskusi.

“Hah?!” Rosa berbalik menatapku tajam. “Kebanyakan mengkonsumsi filsafat, tuh!” Rosa tergelak. Tapi itu alasan yang dibuat-buat kurasa. Aku tahu betul Rosa tidak jauh berbeda dengan ku. Sama-sama sok filosofis!

“Jadi kamu percaya kalau Tuhan itu tidak mati dan tidak akan pernah mati?” kejarku.

Sure!” Rosa menjawab sekilas sambil menekuni tugasnya kembali. Uf, bad response!

“Tapi apa buktinya kalau kamu menganggap bahwa Tuhan itu tidak mati? Kulihat sebagai orang yang bertuhan, kamu tidak melakukan ritual apapun untuk-Nya. Kamu tidak pernah sholat, tidak pernah membaca kitab, tidak pernah ke masjid. Apakah itu tidak berarti kamu telah mematikan Tuhan? Karena kamu sama sekali tidak membutuhkannya…”

“Gila!” Rosa melongo mendengar jawabanku. Si tomboy itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ah, sudahlah. Seharusnya aku memang tidak menanyakan hal ini padanya. Bukankah dia tidak lebih baik daripada aku?

Tapi kalau Tuhan telah mati, lantas mengapa saat ini aku masih bernafas? Bukankah Tuhan yang memberiku kehidupan? Kalau Tuhan telah mati seharusnya aku juga sudah mati sekarang.

Ah, pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus saja mengganggu pikiranku. Sepertinya ada yang kurang dalam hidupku. Tapi apa? Apakah karena aku malas mendengarkan khutbah di gereja? Apa yang menyebabkan aku selalu berpikir untuk mencari sebuah kebenaran? Bukankah aku sudah menemukan kebenaran akan Jesus, Tuhan Bapa, dan Roh Kudus? Lalu kenapa aku masih juga gelisah? Kenapa aku masih mencari-cari Tuhan? Bahkan Rosa yang juga punya Tuhan Allah yang tidak pernah sholat itu juga tak pernah meributkan kebenaran yang dianutnya!

“He! Kenapa melamun? Just enjoy this life, honey! Kenapa sih meributkan soal Tuhan?” Sebuah bantal mendarat di mukaku, membuyarkan lamunanku seketika. Kulihat Rosa tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi wajahku. Awas kau! Cepat, kulempar balik boneka Winnie The Pooh itu ke arahnya. Dan…buk, mendarat telak di keningnya. Rasain!

 

10 April 2000

Klik, jeglek! Terdengar suara pintu dikunci dari luar. Seperti yang sudah aku perkirakan sebelumnya. Aku mendapat hukuman. Kali ini tidak tanggung-tanggung. Selama seminggu dikurung di ruang isolasi ditemani beberapa buku filsafat, kisah para santo, beberapa kitab dan buku lembar kontemplasi. Puih, benar-benar menjemukan.

Pelan, kuraih salah satu Kitab Kisah Perbuatan Rasul-Rasul 9. Hmm…, kelihatannya menarik.

…… Saul, yang kemudian dikenal sebagai St Paulus, dulunya adalah seorang penganut Yahudi ortodoks dan fanatik yang aktif melakukan pembantaian terhadap orang-orang Kristen. Dia pergi dari Yerusalem menuju Damaskus mengemban tugas dari pemimpin agamanya untuk menawan orang-orang Kristen di situ. Dalam perjalanannya dia melihat secercah cahaya terang dan mendengar suara yang jelas dari Jesus Kristus yang mempermasalahkannya karena tindakan kejamnya dan menyuruhnya pergi ke Damaskus dimana dia akan diberi petunjuk tentang apa yang harus diperbuatnya. Kemudian dia mendapatkan bahwa dirinya sudah buta hingga beberapa hari. Suatu ketika datang seorang laki-laki bernama Ananias yang membimbing tangannya sambil memberitahu bahwa dia akan mengembalikan penglihatannya dan akan diisi dengan Ruh Kudus. Saul pun sembuh dari kebutaaannya dan akhirnya menjalani pembabtisan. Setelah itu dia mulai berkhutbah di sinagog-sinagog bahwa Jesus adalah anak Allah…………

Wow! Membaca kisah ini aku jadi ingat Pendeta Samuel yang pernah menyampaikan materi konversi agama, yakni perubahan secara tiba-tiba atau berangsur-angsur terhadap kepercayaan yang sudah diyakininya. Lalu mungkinkah aku juga bisa mengalaminya? Mungkinkah suatu saat aku tidak lagi mempercayai ajaran agamaku lagi? Lalu berpindah keyakinan atau malah tidak berkeyakinan sama sekali? Ya ampun! Aku semakin pusing saja. Kututup buku itu lekas-lekas.

 

20 Mei 2000

Hari-hariku semakin membingungkan. Masalah konversi agama yang kupikirkan semasa isolasi dulu mulai terlupakan. Sayangnya masa kontemplasi yang hanya seminggu itu tidak merubah apapun dalam diriku. Sekarang aku lebih suka mendiskusikan filsafat dengan para atheis yang kutemui di dunia mayaku. Semakin hari hanya kehampaan yang kutemui di Santa Bernadita. Teman-teman virtualku itu lebih mengerti keinginanku. Maka tak heran jika setiap ada waktu luang aku selalu menghabiskannya untuk mengakses internet. Mendiskusikan Tuhan di dunia maya lebih menguras otakku daripada berkutat dengan  pelajaran keterampilan.

 

6 Maret 2001

Kakakku, Diana, lulus dari Sanber dengan nilai terbaik. Siapa lagi yang akan menyanjungnya sedemikian rupa kalau bukan Antony dan papa? Papa bahkan mengijinkan Diana meneruskan kuliah di Jerman lengkap dengan segala fasilitas di rumah nenek. Sedangkan aku? Aku resmi menjadi seorang atheis. Tidak ada Tuhan di dunia ini. Dunia adalah sebagai obyek pemikiran manusia. Lalu siapakah yang menciptakan pohon? Ah, apalah arti sebuah pohon jika aku tidak peduli? Pohon ada karena aku memikirkannya!

 

10 September 2001

Kali ini tidak hanya suster Hanna yang menatapku. Ada suster Emil, penanggungjawabku, dan yang paling seram adalah Pendeta Filipus!

“Kenapa kau lakukan itu?” Pendeta Filipus menatapku tajam.

Aku tersenyum. Ya! Aku memang telah membakar Kitab Perjanjian Barunya si keriting Franciska. Salah dia sendiri! Siapa suruh dia sok suci menasehatiku dengan kitab-kitab itu? Tidakkah dia mengerti kalau aku tidak butuh Tuhan?

“Kau benar-benar tidak menghormati agamamu!” Pendeta Filipus menggeleng-gelengkan kepalanya. “Semakin hari tingkahmu semakin sulit dikendalikan. Kami tidak ada pilihan lain kecuali membebaskanmu dari Santa Bernadita selama satu bulan penuh. Gunakanlah waktu yang cukup panjang itu untuk merenung di rumah.”

O, God! Pekikku dalam hati.

“Apabila tidak ada perubahan setelah itu, dengan terpaksa kami tidak bisa mengikutsertakanmu dalam kelulusan tahun ini. Kamu mengerti, Maria?” Pendeta Filipus sedikit mengeraskan suaranya. Aku tahu dia sangat marah. Maka aku merasa tidak perlu menjawab pertanyaannya melainkan hanya menundukkan kepala.

“Minggu depan datanglah ke gereja St Laurence. Setelah misa aku ingin bicara secara khusus denganmu. Siapa tahu kamu akan membuat pengakuan dosa.” Pendeta Filipus mengakhiri ‘sidang’ kecil ini dan beranjak keluar ruangan.

Pf! Apa yang akan dikatakan papa nanti jika mengetahui aku diskors satu bulan dari Sanber?

 

11 September 2001

Papa marah besar! Antony apalagi… Dia langsung menyuruh papa mengirimku ke rumah bibi Theresa yang cerewet itu untuk mengadakan bimbingan khusus.

“Iblis telah mempengaruhimu, White! Kau pikir atheis itu pemikiran yang bagus? Kau pikir kau bisa tenang jika meninggalkan Tuhan?” Antony benar-benar hilang kesabarannya. Aku hanya bisa terdiam mendengar kata-katanya. Ujung-ujungnya aku dibujuknya untuk membuat pengakuan dosa. Itu lagi! Tetapi aku menyetujuinya dengan syarat, aku lebih suka di kurung di kamarku daripada di kirim ke rumah bibi Theresa yang galak dan sangat disiplin itu. Uh! Pasti sangat menyebalkan.

 

20 Oktober 2001

Suster Hanna memberikan pujiannya kepadaku. Ya! Sejak Pendeta Filip ‘menatarku’ setiap minggu di gereja dan tumpukan buku-buku kisah santo dan kitab yang ‘wajib’ kubaca ketika dikurung selama satu bulan di rumah benar-benar membuatku ‘kapok’.

Aku memilih diam dan mengikuti permainan mereka. Aku mulai rajin ke gereja dan mengikuti kegiatan-kegiatan menjelang kelulusan di Sanber. Itu karena beberapa bulan ini aku harus bersikap baik kalau aku tidak mau mengulang waktu setahun lagi tinggal di Santa Bernadita. Dan sekarang, aku mulai berhenti memikirkan Tuhan.

 

25 Desember 2001

Suasana natal masih menemaniku. Kutinggalkan papa dan Antony yang masih asyik menyenandungkan Jingle Bell diiringi dentingan piano Diana. Papa dan Antony begitu gembira dapat merayakan natal bersama Diana tahun ini.

Kulangkahkan kakiku ke balkon depan. Kembali kudapati kehampaan batin yang luar biasa. Aku bertanya lagi pada diriku, sekedar meyakinkan kembali. Benarkan aku seorang atheis yang mengingkari keberadaan Tuhan? Meditasi Descartes, sebuah metode perjalanan batin, yang kubaca beberapa hari yang lalu sungguh sangat mengganggu pikiranku. Dia mengatakan bahwa tatkala seseorang mengenali dirinya secara mendalam hingga taraf tatanan obyektif, maka dia akan menemukan ide tentang Tuhan. Sejak saat itu aku mulai ribut lagi memikirkan Tuhan. Aku mulai merindukan-Nya. Di manakah Dia? Dalam kelelahan pencarian, aku pernah berpikir bahwa aku masih terlalu nista untuk mengusik keberadaan-Nya. Namun entah mengapa, pertanyaan itu selalu ada dan aku belum menemukan jawabannya.

Pelan kutengadahkan wajahku ke langit. Tuhan, apakah Engkau di sana? Bersama bintang-bintang di langit? Jawablah aku Tuhan! Tolong berilah aku petunjukMu. Apakah Engkau yang menciptakan aku? Apakah Engkau yang menciptakan barat dan timur? Apakah engkau yang menciptakan semesta?

Tiba-tiba sebutir air bening mengalir dari sudut mataku. Hangat. Tuhan, siapapun Engkau, aku merindukanMu.

Pelahan kulangkahkan kakiku kembali ke ruang tengah. Kudapati mereka bertiga masih larut dalam malam yang kudus ini.

Kuberanikan diri untuk membuka suara. Ya! Aku harus mengatakannya. Suatu keputusan yang baru saja kupikirkan. Mungkin dengan keputusanku ini aku akan segera menemukan Tuhan yang kumaksud. Tuhan yang menciptakan aku, menciptakan barat dan timur, menciptakan semesta… Ya! Aku ingin segera mengakhiri pencarianku.

“Papa…,” panggilku pelan ketika mereka baru saja menyelesaikan jingle-nya.

Ketiganya serentak menoleh ke arahku.

“Ya, sayang?“ Papa memandangku heran. ”Rupanya engkau lebih senang menyendiri daripada merayakan natal bersama kami?” Papa berjalan ke arahku dan merangkulku untuk bergabung dengan Antony dan Diana.

“Tempatmu di sini, sayang. Bersama kami. Jangan cemberut begitu, dong…” Papa tersenyum sambil mengacak rambutku.

“Papa, saya mau bicara,” selaku.

“O ya?” Papa mengerutkan keningnya. Antony dan Diana saling berpandangan, tak berkedip.

“Kelihatannya begitu penting…,” Papa mulai memperlihatkan wajah seriusnya.

Aku menarik nafas panjang.

“Papa…,” rasanya aku tak kuasa untuk bicara.

Mereka bertiga menatapku, diam.

“Papa, ijinkan saya menjadi biarawati setelah lulus dari Santa  Bernadita bulan depan.”

Fiuuh… Lega rasanya!

“Apa?!” Antony membelalakkan matanya. Papa diam tak bereaksi. Diana memandangku dengan takjub.

Kutundukkan wajahku dalam-dalam. Tolong mengertilah… Menjadi pelayan Tuhan akan membuatku mampu mendekati Ia. Aku sudah lelah mencari-Nya. Adakah pilihan lain?

 

5 Maret 2002

Papa menyetujui permintaanku untuk menjadi biarawati. Dia tidak mempunyai pilihan lain. Sedangkan Antony dan Diana juga tidak bisa melarangku.

Dua hari lagi aku berangkat ke Jakarta. Malam ini kusempatkan untuk menginap di rumah Rosa. Entah kapan lagi aku bisa bertemu dengannya. Aku pasti akan sangat merindukannya.

“Keputusanmu sudah bulat?” Rosa menatapku sebelum merebahkan diri di ranjang.

“Ya. Aku berangkat dua hari lagi,” jawabku pelan.

“Yah! Itu adalah keputusanmu. Aku tidak punya hak untuk melarang. Tapi…,” kalimat Rosa menggantung.

“Tapi apa?” kejarku.

“Kau akan menjadi missionaris?” Rosa bertanya dengan mimik lucu.

Aku tergelak.

“Kau takut?” Aku balik bertanya.

“Entahlah. Aku tidak begitu tahu tentang hal itu. Tapi, sejak aktif di kerohanian kampusnya, mas Deny sering mengungkit-ungkit hal itu.” Rosa mulai menarik selimutnya.

“O ya?” Aku tersenyum kecut. Aku tahu benar arti kata ‘missionaris’. Tapi Rosa?

“Sudahlah. Jangan terlalu dirisaukan. Kita adalah sahabat, takkan berubah selamanya.” Rosa membagi ranjangnya untukku.

“Sekarang kita tidur. Hari sudah larut. Masih banyak yang akan kita kerjakan besok. Aku akan menemanimu belanja untuk persiapanmu nanti.” Rosa membalikkan badan membelakangiku.

Aku termenung cukup lama. Jujur saja, terkadang aku masih tidak yakin dengan pilihanku ini. Malam ini, seperti malam-malam lainnya sejak keputusanku, terlewati begitu saja dengan perasaan galau. Aku tidak bisa memejamkan mata. Sementara itu nafas halus Rosa terdengar naik turun meningkahi kekalutan di dasar hatiku yang paling dalam. Tidak! Ini adalah keputusanku. Hanya dengan cara inilah aku bisa mendekati Tuhan. Tuhan yang selama ini aku rindukan. Tuhan yang menciptakan aku, menciptakan barat dan timur, menciptakan semesta. Tuhan, beri aku petunjuk!

Jam tiga lebih. Malam semakin larut. Aku belum juga tertidur. Detak jam dinding terdengar makin jelas. Lalu… suara itu? Samar-samar kudengar suara yang mengalun merdu. Tapi suara apa dan siapa?

Seperti ada kekuatan lain yang menggerakkan kakiku. Pelan, aku beranjak keluar kamar mencari arah suara. Semakin lama suara itu semakin jelas terdengar. Aku berhenti di depan pintu salah satu kamar. Entah kamar siapa. Alunan suara itu seperti membiusku. Begitu merdu… Hingga tak terasa aku sudah bersimpuh di depan pintu.

Fabiayyiaalaa irobbikuma tukadzdzibaan?

Entah kenapa, tiba-tiba saja hatiku berdebar keras. Tulang-tulangku terasa luruh seluruh sebab rasa ketidakberdayaan mengepungku tanpa aku tahu sebabnya.

Robbulmasyriqoini warobbulmaghribaini. Fabiayyiaalaa irobbikumaa tukadzdzibaan? Marojalbahroini yaltaqiyaan. Bainahumaa barzakhunlaayabghiyaan…

Suara milik seorang laki-laki itu terus melenakan pendengaranku. Aku mulai memastikan bahwa ia sedang membaca Al-Qur’an. Kemudian suara itu berhenti. Lama. Aku berpikir bahwa mungkin dia sudah selesai membacanya. Segera kukumpulkan keberanianku untuk mengetuk pintunya. Sungguh! Aku ingin tahu arti bacaannya. Dan aku sama sekali tidak mengerti kenapa aku ingin mengerti. Bukankah suatu hal yang konyol ketika seorang perempuan malam-malam mengetuk pintu laki-laki hanya untuk menanyakan arti sebuah bacaan? Tapi aku ingin tahu! Ingin tahu! Dan aku tidak peduli! Maka…,

tok…tok…tok…

Tiga ketukan pelanku di pintu cukup mengagetkannya.

“Siapa?” tanyanya.

“Saya. Pietra Johan.” Aku menyahut pelan.

Hening. Tak ada suara. Entah apa yang sedang dipikirkannya.

“Saya…, saya mendengar apa yang kakak baca. Saya ingin tahu artinya. Maukah kakak membacakannya untukku?” tanyaku sedikit gagap sambil berusaha meyakinkan dia bahwa aku tidak mempunyai maksud apa-apa. Dilihat dari suaranya, orang itu pasti Deny, kakak Rosa.

“Tolonglah… Jika kakak ingin, kakak tidak perlu membuka pintu untuk sekedar membacakannya untukku.” Pintaku sekali lagi, penuh harap. Sedikit merasa tak enak sebab aku juga tak begitu mengenalnya.

Krieeet…

Pintu pelahan terbuka. Seorang lelaki keluar dari kamar.

“Pietra, kenapa malam-malam begini masih belum tidur?”

“Saya menikmati bacaannya,” jawabku begitu pelan.

Kak Deny tersenyum.

“Kamu suka?”

“Kakak tahu saya bukan Islam?”

“Tak masalah. Aku hanya bertanya, apakah kamu suka?”

“Saya menikmatinya.”

“Baiklah. Aku akan membacakan artinya untukmu. Setelah itu kembalilah ke kamar Rosa. Sudah terlalu malam. Aku tahu besok kamu akan pergi ke Jakarta. Rosa bercerita padaku. Alhamdulillah, melalui lisanku, Allah memperdengarkan ayat-ayat-Nya yang kuharap bisa melegakan hatimu.”

“Kakak tahu saya selalu mencari dan mencari?” tanyaku di tengah gemuruh dadaku.

“Ya, jika tidak, kamu tak akan nampak lelah dan pasrah seperti ini. Aku dapat merasakannya.”

Kurasakan tiba-tiba saja dadaku berdebar-debar.

……………………………………………………………………………..

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Dia Tuhan dua timur dan Tuhan dua barat. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Dia adakan dua macam laut (asin dan tawar), yang bertemu keduanya. Di antara keduanya ada dinding (sehingga) tiada bercampur keduanya…

……………………………………………………………………………

Dan dua air bening meleleh dari sudut mataku. Menjalari lekuk-lekuk putih kulit wajahku yang semakin memucat. Kudengar Deny terus saja membacakan artiannya untukku. Aku terjatuh. Bersimpuh kaku. Sekian lama kucari Engkau, Tuhan… Kini aku menemukanMu! =

 

Advertisements
h1

M I M P I

June 2, 2009

MIMPI

Oleh: Santy Martalia Mastuti

Ngamboro ing ngawang-ngawang

Hangelangut bebasan tanpa tepi

Narabasing mega mendung

Miber ngiteri jagad

Ngulandoro ngamboro ngunggahi gunung

Tungkul ngumbar gagasan

Satemah ginowo ngimpi…

Mengembara dalam angan-angan

Terhanyut tanpa batas

Menerabas mega mendung

Terbang mengitari dunia

Mengangkasa menaklukkan gunung

Mengumbar angan-angan

Hingga terbawa mimpi…

Raden Roro Dyah Lintang Kawuryan Hadinata menghembuskan nafas kuat-kuat. Pandangannya tidak menentu. Serasa ada sebuah beban berat menghimpit dadanya. Baris-baris syair yang sempat dihafalkannya dulu diejanya pelan-pelan. Kalau tidak salah syair itu adalah pengantar sebuah lagu Jawa yang berjudul Mimpi. Entah siapa pengarangnya. Ki Narto Sabdo? Gesang? Mujoko? Entahlah, Lintang sudah lupa. Ia bahkan tidak tahu lagi jenis-jenis syair Jawa. Dia lebih fasih dalam mengenali quatrain atau madrigaux yang kesemuanya itu adalah syair-syair dalam sastra Perancis. Sungguh Lintang sudah tidak ingat lagi sejak kapan dirinya mulai mencintai pernak-pernik negeri yang pernah memiliki seorang ratu dengan alur hidup begitu dramatis, Marie Antoinette. Khususnya pada dunia sastra. Entah mengapa pula dulu terpikir oleh Lintang untuk menimba ilmu di negeri tersebut. Namun salah satu alasan kuat yang dapat dipahaminya hingga sekarang adalah keinginannya dahulu untuk menjadi penulis terkenal di dunia. Ternama. Glamour. Berbeda dengan gaya hidup bangsawan tanah Jawa yang sangat konservatif.

Tahun pertama kuliah di fakultas sastra ternama kota Paris, setelah berhasil melalui perdebatan panjang dengan Romo, tak bosan-bosannya ia menulis karya-karya ringan termasuk cerpen-cerpen yang banyak mengutip nama-nama sastrawan besar. Sekedar memamerkan kehebatan pengetahuannya. Karya-karyanya banyak diminati di tanah air. Begitu bangganya Lintang saat itu hingga akhirnya menyadari  bahwa sesungguhnya wujud kehebatan estetika yang tidak berasal dari intuisi-intuisi yang dilahirkannya sendiri adalah semu belaka.

Tujuh tahun mendalami sastra  di Paris belumlah mampu menjadikan dirinya seorang sastrawan besar. Namun demikian, melihat kejeniusan Lintang dalam berkarya sudah lebih daripada cukup untuk membuktikan bahwa dirinya berbakat menjadi seorang sastrawan besar.

“Hai!”

Lintang terlonjak kaget.

“Eh! Kok teriak, sih?” Lintang membelalakkan matanya. Tampak sedikit kesal.

“Lho? Kok kamu yang sewot? Memangnya enak dicuekin…,” Wulan pura-pura marah setelah begitu lama diabaikan Lintang yang asyik dalam lamunan.

“Dih…,”

“Jangan banyak melamun, dong! Ini Jogja, jeng. Bukan Paris.” Wulan tertawa.

“Aku tahu.”

“Lalu? Langkah konkritnya?”

“Tentang tawaran pekerjaan itu?”

“Tepat sekali! Penerbitan itu memang belum besar. Tapi kalau kamu bersedia bergabung, mungkin kita bisa lebih berkembang.”

“Hmm…,”

“Coba kamu pikir, jeng! Ini kesempatan berda’wah, lho. Katanya mau komitmen ke Islam?”

“Tapi aku masih perlu banyak belajar. Pengetahuanku tentang Islam sangat minim. Berjilbab pun belum. Aku khawatir…,”

“Khawatir apa? Dengan kualitas pengalamanmu sebagai penulis, kamu pantas menjadi seorang editor. Memang tidak semegah tawaran-tawaran dari media lain yang lebih hebat. Justru keikhlasan dan niat baik kamu sedang diuji saat ini. Kamu bisa terus berproses, jeng. Kecuali…,” lanjut Wulan, “itu mengganggu rencanamu.”

“Rencana?”

“Bukankah kamu masih punya rencana untuk kembali ke Perancis? Bukankah di Jogja ini kamu hanya ingin bersantai sejenak? Melepas kerinduan akan tanah Jawa? Orangtua?”

“Hmm…,” Lintang tersenyum kecil.

“Kalau menurutku, sih, lebih baik kamu menetap di sini saja. Kamu bisa jadi dosen sastra, kan? Lagipula Romomu sangat berharap agar kamu tidak kembali ke Perancis. Apa sih yang kamu cari? Kamu tidak kekurangan suatu apapun, lho, jeng! Uang? Modal? Apalagi? Semua sudah tersedia! Bahkan tawaran bergabung ke penerbitan sudah dua kali kamu tolak.”

“Gimana? Aku nggak mau maksa, lho. Kantor penerbitan yang aku tawarkan ini kan memang tidak seberapa…,” Wulan menatap Lintang yang tampak sedang berpikir keras.

“Aku pikir-pikir dulu, deh.”

*****

Ngamboro ing ngawang-ngawang

Hangelangut bebasan tanpa tepi

Narabasing mega mendung

Miber ngiteri jagad

Ngulandoro ngamboro ngunggahi gunung

Tungkul ngumbar gagasan

Satemah ginowo ngimpi…..

Ini Jogja,  bukan Paris. Lintang tahu itu. Jogja lain dengan Paris. Sekarang ini memasuki bulan keempat Lintang berada di Jogja, kampung halamannya. Namun entahlah…. Belum terlintas keinginan untuk menetap di Jogja seperti saran Romo, Ibu, dan terutama Wulan. Dia masih ingin kembali ke Perancis. Ada sesuatu yang masih mengganggu pikirannya.

Pada kenyatannya, justru di kota ini Lintang mendapat kehidupan baru. Pertemuannya dengan Wulan, sahabatnya waktu SMU dulu, mendatangkan banyak cerita. Lintang tidak pernah menyangka bahwa Wulan yang sangat kacau ketika SMU dulu akan berpenampilan layaknya fundamentalis Islam. Sungguh Lintang tidak habis pikir. Bagaimana itu bisa terjadi? Namun setelah banyak berdialog dengan Wulan, Lintang merasa argumentasi Wulan dalam menjelaskan perubahannya itu sangat masuk akal. Lintang mulai terlihat antusias menyimak pemikiran-pemikiran Wulan. Terlebih dalam konsep ketenangan batin yang selalu ditonjolkan Wulan dalam uraiannya. Ada kesejukan lain yang bisa dirasakan Lintang dan itu tidak bisa dinalar. Wulan sangat berjasa dalam mengenalkannya akan eksistensi Tuhan yang begitu sejalan dengan falsafah hidupnya. Meski demikian bukan berarti dulu ia seorang ateis. Ia adalah seorang penganut filsafat Leibniz fanatik. Bedanya, mungkin, konsep hidup serta konsekwensi-konsekwensi yang ditawarkan Islam telah mempengaruhinya sedemikian jauh sehingga membuatnya merasa lebih bisa menjiwai nilai-nilai keilahian dengan seluruh jiwa raganya. Dia mampu melakukan itu semua. Namun sungguhpun demikian, satu yang mengusik hatinya. Dan itu sama sekali mampu melemahkan jiwanya. Bahwa separuh hatinya sudah tiada, menyatu dalam diri seorang pria. Bahwa kenyataannya dia masih begitu mencintainya. Mengubah alur hidupnya terasa begitu mudah, mengganti tema-tema karyanya bukan pula perkara yang rumit. Tetapi mengubah hatinya, bahkan meniadakannya adalah hal besar.

Peter Chin, namanya. Seorang peranakan Tionghoa berkebangsaan Malaysia. Dia adalah partner kerja sekaligus kekasih semasa di Perancis dulu. Selepas hidayah itu datang,  untuk bisa berdampingan dengan Peter adalah sebuah mimpi belaka. Dia hanya bisa mengembarakan angan-angan untuk sekedar membayangkan sebuah kehidupan dimana Peter sebagai nahkodanya dan ia sebagai penghuni kapalnya. Namun pada kenyatannya perasaan itu harus dibunuhnya.

Tidak dipungkiri. Bersama Peter, hari-harinya terasa menggairahkan. Setiap pagi Peter akan menyempatkan diri mendatangi flatnya – Peter tinggal satu gedung dengannya – untuk memainkan Fur Elise, ritual hariannya demi membangunkan Lintang dari tidur nyenyaknya.  Pada waktu-waktu senggang Peter selalu mengagumi penciptaan dirinya yang begitu indah hingga ia merasa ‘wajib’ untuk  mengabadikannya dalam lukisan. Peter memindahkan setiap garis dan lekuk tubuhnya dengan gerakan hati-hati, begitu tenang, khidmat, dan penuh hasrat agar ia bisa terus bekerja seperti ini. Penuh kesederhanaan seperti Sanzio Raphael, seorang pelukis klasik Italia yang begitu setia bekerja untuk para Paus. Sungguh Peter adalah seorang laki-laki yang tahu bagaimana harus memperlakukan dan membuat perempuan merasa begitu tersanjung dan terhormat. Dia lembut dan selalu berbicara dengan lembut pula, tetapi singkat, jelas dan tidak bernada menggoda. Dia sangat mempercayai Tuhan, meski dia tidak menganut satu agamapun. Jika dia pergi ke gereja, maka orang-orang di dalamnya akan mengira dia seorang yang taat karena penampilannya khas seorang mahasiswa seminari. Demikian juga bila ia pergi ke sinagog, maka orang-orang di dalamnya pasti akan mengiranya seorang Yahudi yang taat karena perawakannya yang tegas, tenang, penuh percaya diri. Pernah ia begitu ingin pergi ke masjid yang terletak di salah satu sudut kota Paris. Namun ketika ia melihat seorang wanita berkerudung dengan santun melewatinya dan bergegas mendahului langkahnya masuk ke gedung sebelah masjid, ia langsung menghentikan langkah dan berbalik menjauh. Ketika  Lintang bertanya mengapa dia berlaku seperti itu, dia hanya menjawab pelan, “Takut jatuh cinta. Kau tahu? Mereka begitu indah.” Lintang terbahak mendengar jawabannya. Apanya yang begitu indah? Pikir Lintang geli. Peter mendengus.

“Saya hairan. Kau selaku orang yang beragama Islam, bolehlah pakai pakaian macam tu. Siapa nak mahukan kau dalam pakaian macam tu? Saya pun bisa berlindung daripada godaan syaitan,” kata Peter menggoda.

Lintang tertawa terbahak-bahak.

“Siapa yang beragama Islam? Saya seorang penganut Leibniz taat seperti kamu!”

“Macam mana Leibniz adalah sebuah agama yang boleh dianut-anut?” Peter tertawa menimpali.

Nulla dies sine linea, tiada hari tanpa baris-baris tulisan. Begitu mungkin falsafah hidup mereka di Paris. Entah sendiri, entah bersama-sama, mereka berdua menulis dan berkarya. Sedikit berbeda dengan Peter yang suka menulis sajak dan naskah drama yang berbau mistis, Lintang justru menyukai karya-karya romantis. Jika Peter seorang pengagum Verlaine, Lintang adalah pemuja Shakespeare. Begitu cintanya Peter dengan dunia sastra hingga dalam gurauannya ia selalu mengangankan untuk bisa dikubur di Pere-Lachaise jika ia mati kelak. Bersanding dengan kuburannya. Di mata Lintang, diri Peter seperti memancarkan sinar yang mampu membuatnya bertekuk lutut mengagumi seluruh pesonanya.

Lebih dari satu tahun yang lalu, ketika Lintang berniat kembali ke tanah air, Peter melamarnya. Menghalang-halangi niatnya dan menawarkan suatu kehidupan baru di Paris, atau di kota manapun di belahan bumi Perancis. Hanya ada Lintang dan Peter saja, kelak bersama anak-anak mereka pula. Kalaulah Lintang menolak keinginannya, bukan berarti ia ragu akan cintanya. Bukan berarti Peter mempunyai banyak kekurangan. Peter adalah seorang yang tampan, tidak kalah dengan wajah pangeran-pangeran Eropa dalam cerita-cerita negeri dongeng atau negeri betulan. Ia adalah seorang yang kharismatik, seorang sastrawan yang mulai diperhitungkan keberadaannya. Karya-karyanya mulai berjaya dalam kelas dunia. Terlebih, Peter berasal dari kalangan terhormat di Malaysia. Namun pada hakekatnya, waktu itu Lintang benar-benar belum siap untuk membina sebuah rumahtangga, apalagi jauh di negeri orang. Diakuinya memang waktu itu ia sedikit konservatif bahkan cenderung kekanak-kanakan. Andai sekarang hatinya begitu mantap dan ingin benar menjadi istri Peter, kenyataan hidup sudah menjadi lain. Sebagai seorang muslimah, jangankan cara hidup Peter yang agak bebas, agama Peter yang tidak jelas memaksa dirinya untuk segera melupakannya. Namun kadangkala, keinginan untuk menikah dengan Peter dan tinggal di Paris masih saja membayang di pikirannya.

Sungguh itu membuat Lintang menjadi demikian resahnya. Apalagi jika mengenang pembicaraannya dengan Peter sehari yang lalu di IRC.

<Peter> Lintang marahkan Peter?

<Lintang> Tidak.

<Peter> Saya tak faham. Habis, mengapa diam-diam saja?

<Lintang> …

<Peter> Saya tunggu Lintang kat Kuala Lumpur. Nak bual fasal ni.

<Lintang> Saya tak bisa menikah denganmu.

<Peter> Mengapa?

<Lintang> Jalan saya sudah berubah. Sudah saya katakan hal ini satu bulan yang lalu di telepon.

<Peter> Ingat ke Lintang ketika duduk berbual berdua di hotel des Grands Hommes Paris lepas meeting bersama penyelenggara pertunjukkan Zadiq ou la destinee empat tahun lepas?”

Lintang menarik nafas panjang. Resah. Siapa yang tidak ingat masa ketika mereka berdua menyatakan isi hati?

“Saya ingin bicara,” pelan suara Lintang memecah keheningan.

“Hem? Fasal apa ni?”

“Tidakkah kamu tahu isi hati saya?”

“Macam mana nak tahu? Hati Lintang tu di dalam. Bukannya boleh dilihat dari luar.” Peter melucu.

“Kalau begitu lebih baik saya tidak bicara.”

“Mengapa pula begitu!”

“Saya takut,”

“Kenapa takut? Peter kasih pada Lintang… Malah lebih dari itu,” pancing Peter. Sesungguhnya dia lebih dari mengerti apa yang ingin dikatakan Lintang. Dia sudah dewasa dan hatinya pun peka.

“Lebih? Lebih bagaimana?” Lintang tampak antusias.

“Tak tahu. Cuba Lintang teka!” goda Peter.

“Malu.” Lintang tersenyum membayangkan ‘lebih’ yang dijanjikan Peter padanya. Lebih dari kasih? Berarti ‘cinta’ kah?

“Pelik kau ni. Mula-mula takut. Ini dah malu pula,”

Okey. Lintang dengar cakap Peter. Peter nak katakan sesuatu hal,” lanjut Peter lembut.

“Tidak usah. Saya malu juga mendengarnya,” potong Lintang cepat. Dadanya berdegup kencang membayangkan apa yang akan dikatakan Peter. Wajahnya memerah menahan malu. Tampak sungguh kekanak-kanakan di mata Peter. Peter semakin bersemangat menggodanya.

“Lah…! Mula malu nak bercakap. Ini malu nak mendengar pula. Macam budak-budak ni. Tak patut le malu macam tu. This is 21st centaury!”

“Baik, saya akan jujur! I love you,”

“Ish! I can’t hear.”

“Bohong! Saya bicara keras sekali,”

“Sungguh!”

Lintang menatap Peter tajam. “Saya…,”

“Saya apa ni?”

“Saya cinta kamu,” ulang Lintang pelan, hampir tak terdengar.

Tawa Peter meledak mendengarnya.

Lintang tersinggung. Dipukulnya bahu Peter keras-keras dan bergegas pergi meninggalkan Peter yang termangu menatap kepergiannya. Sedetik kemudian tawanya meledak kembali menyadari Lintang masih berlaku kekanak-kanakan. Dia beranjak berdiri dan meraih gaun Lintang.

Sorry. I love you too. Saya benar-benar cintakan Lintang.” Peter menatap mata Lintang tajam dan dalam. Lintang menunduk diam. Semakin berdebar hatinya.

Itu empat tahun yang lalu.

<Lintang> Saya ingat. Tapi empat tahun yang lalu adalah tetap menjadi bagian masa lalu. Sekarang adalah kenyataan.

<Peter> Saya cintakan kau. Jika kau pilih Islam dan tak hendak lepaskan diri daripadanya, it’s ok! No problem. Bolehlah kita hidup sebagai suami istri. Lagipun sejak bila saya larang kau berislam?

<Lintang> Peter bersedia jika saya meminta Peter untuk masuk Islam?

<Peter> Ow, please… Jangan mulai! Lintang faham akan Peter. Selamanya saya tak nak ikut doktrin-doktrin macam tu.

<Lintang> Itulah….

<Peter> Cuba Lintang dengar cakap saya ni. Kita boleh berkahwin kat Indonesia. Lepas tu kita balik ke Paris. Kita hidup bersama. Soalan agama tu jangan diungkit-ungkit lagi. Tak nak?

<Lintang> Tidak semudah itu.

<Peter> Okey. Sekarang Lintang dengar. Saya pasti tak de perubahan yang bererti daripada hati Lintang tu. Sesungguhnya mommy nak tunangkan saya dengan seorang budak Singapor. Anak rakan sejawat.

<Lintang> So?

<Peter> Dalam satu minggu ini, bolehlah Lintang call ke Kuala Lumpur. Jika tidak, saya akan segera bertunang. Call me at 10.00 pm waktu Indonesia. I’ll be waiting for you. See you…

<Lintang> Wait!!!!!

***Peter (Quit: think about it!)

*****

“Ada masalah?” Wulan menatap Lintang serius.

“Tidak,” jawab Lintang pendek.

“Tapi mukamu kelihatan murung, tuh.”

“Oh ya?”

“He-em. Mau ditemani jalan-jalan? Ke Malioboro? Nyari barang-barang antik lagi?”

“Nggak, ah. Terimakasih.” Lintang tersenyum.

“Lan,”

“Hem?”

“Wanita itu lemah, ya…, kalau sudah menyangkut masalah hati. Cinta. Apalagi jika sang kekasih sehebat Arjuna.”

“Hahaha…,” tawa Wulan meledak.

“Dih!” Lintang cemberut.

“Oke! Sekarang masalahnya, Arjuna yang seperti apa dulu?”

“Arjuna yang dicintai beribu-ribu wanita.”

“O, yang itu? Pasti ada kisah yang mengatakan penolakan secara telak cinta mas Arjuna yang konon super cakep itu jika…,”

“Jika?”

“Jika yang di lamar adalah wanita Arab muslim, misalnya…,”

“Hahaha…. Nggak juga!”

“Kok?”

“Soalnya mas Arjuna mau bersyahadat dulu sebelum nikah.”

“Dih!”

Lintang tertawa terpingkal-pingkal.

“Cinta tertinggi itu hanya kepada Allah. Sedangkan cinta kepada manusia adalah refleksi dari kecintaan kita kepada Allah.” Wulan tersenyum kecil dengan tatapan penuh arti.

“Tetapi mengatur hati itu demikian sulit…,” ungkap Lintang.

“Aku paham. Hati itu mudah berbolak-balik. Jika sudah ada niat untuk menyerahkan hati ini pada Allah semata, maka segera kuatkan! Kalau sudah merasakan indahnya cinta Ilahiyah, semua masalah akan bisa diatasi.”

“Hm…,”

“Aku kira saat ini kamu punya masalah berat yang menyangkut hati. Tingkah lakumu tidak bisa menipu. Tapi aku tidak akan pernah memaksa kamu untuk bercerita. Aku yakin kamu bisa mengatasinya. Saranku, kalau memang harus memilih seorang laki-laki saat ini, kamu harus hati-hati, jeng. Jangan sampai menghancurkan hidayah yang sudah kamu raih.”

“Kamu harus ingat, jeng! Seorang muslimah harus menikah dengan seorang muslim. Kamu tidak bisa sembarangan memilih calon suami, lho. Suami adalah pemimpin kita. Salah memilih pemimpin sama dengan menghancurkan kehidupan kita di dunia dan akhirat.” Wulan menatap mata Lintang dalam-dalam. Sorot matanya menyimpan kelembutan meski dia mengucap dengan tegas.

“Hhh…,” Lintang membuang nafas panjang sementara Wulan terus berbicara.

“Kamu sekarang adalah muslimah. Jangan pernah terjebak oleh romantisme masa lalu. Kamu tidak boleh mengumbar perasaan, angan-angan, serta mimpi yang tiada habis. Kamu harus tegas!”

“Ya. Aku rasa kamu benar, Lan. Aku memang harus bisa bersikap lebih tegas saat ini. Tapi aku juga mau minta maaf, Lan. Saat ini aku merasa belum mampu terbuka dan membagi cerita ini padamu. Semua begitu cepat terjadi. Demikian berat. Aku hanya butuh waktu untuk berpikir sendiri dulu.”

“Tidak masalah, jeng. Allahu ma’ana.” Wulan tersenyum maklum.

“Eh, ngomong-ngomong, nih, tawaran itu masih berlaku nggak?”

“Apa? Penerbitan?”

“Ya.”

Sure! Anytime.”

*****

Jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam lewat. Bayangan Peter segera memenuhi otak Lintang. Jika ia tidak menelepon jam sepuluh malam ini, maka belahan hatinya itu akan segera menikah dengan orang lain. Meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Bukankah kesempatan itu tidak akan datang untuk kedua kalinya?

Lintang berusaha menenangkan diri. Dibukanya sebuah majalah wanita untuk mengusir galau sekaligus menghabiskan waktu yang terus berjalan sebab kantuk belum juga menguasainya.

Sekilas Lintang melirik jam. 20.46 WIB. Jantungnya berdegup kencang. Kembali, bayangan Peter yang lembut dan tak banyak bicara menari-nari di pelupuk matanya.

“Seorang muslimah harus memilih seorang suami yang sholeh,” terngiang kembali kata-kata Wulan sore tadi di teras rumahnya. Namun bukankah Peter memiliki kesempatan untuk ber-Islam? Pikir Lintang dengan mata bersinar. Meski Peter tidak pernah menyukai doktrin-doktrin agama, Lintang masih bisa mempengaruhinya bukan? Konon cinta bisa membuat orang melakukan apa saja. Termasuk menukar keyakinan, misalnya. Tetapi ini terlalu beresiko! Siapa yang bisa menjamin hati manusia? Siapa yang dapat menjamin dia bisa istiqomah mempertahankan hidayah yang baru saja menyapanya? Bukankah masih banyak kesempatan untuk mendapatkan cinta yang benar-benar tulus dan ikhlas karena Allah?

21.00 WIB.

Jantung Lintang berdegup lebih cepat. Bintik-bintik keringat pada dahinya begitu cepat membesar, menyatu satu sama lain membentuk butiran yang lebih besar dan menetes ke bawah mengaliri lekuk-lekuk wajahnya. Ditariknya nafas panjang-panjang sekedar melonggarkan saluran pernafasan.

21.30 WIB.

Allah! Berilah kekuatan! Wulan benar. Untuk apa memikirkan hal yang sia-sia? Untuk apa mendramatisir perasaan? Cinta hakiki itu hanya kepada Allah saja. Mencintai kekasihpun karena Allah semata. Cinta yang menuruti hawa nafsu akan membuatnya buta.

Jam Sepuluh kurang sepuluh menit. Kurang sepuluh menit lagi!

Kringgggggg….

Lintang terlonjak kaget. Jantungnya hampir melorot ke bawah demi mendengar bunyi telepon yang begitu tiba-tiba. Siapa pula menelepon malam-malam begini?

“Hallo,” jawab wulan pendek, sedikit kesal.

“Apa? Salah sambung!”

Klik.

Lintang hendak beranjak ke kamar ketika telepon itu berdering kembali. Dengan nada yang masih menyimpan kekesalan, tak urung Lintang mengangkatnya pelan.

“Hallo,”

“Hallo. Ini saya, Peter. Saya tak kisah jika cadangan saya tu kau tolak. Saya tahu siapa Lintang. Saya nak datang ke Jogja besok. Nak melamar. Maharnya adalah keislaman saya. Lagipun saya teringin sangat melihat Lintang mengenakan kerudung sebagai syarat menjadi istriku. Bagaimana?”

“Hallo? Lintang dengar tak cakap Peter? Berdoa kepada Allah. Moga Ia kekalkan kita di atas ikatan cintaNya. Besok saya berangkat daripada Kuala Lumpur. Jika Lintang tolak lamaran saya, sampai bila-bila pun saya tidak pernah menyesal. Saya dah cuba. Saya dah tahu kemana nak labuhkan cinta abadi. Fasal ni lebih seronok daripada cinta abadi macam Shakespeare punya. Bolehlah kita ni buat nouvel yang lebih bagus daripada karya Shakespeare tentang erti sebuah cinta abadi,” terdengar tawa kecil Peter di seberang.

Mulut Lintang ternganga tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Tubuhnya terus menegang meski sudah sejak lima menit lalu Peter menutup teleponnya.

“Hai! Bangun!”

“Peter?” Lintang terduduk di pinggir ranjang. Kedua matanya mengerjap-kerjap bingung menatap Wulan yang sudah ada di depannya sambil membelalakkan matanya.

“Peter? Siapa Peter?” kejar Wulan antusias.

Senyum Lintang mengembang seketika. Kesadarannya pulih. Pukul sepuluh malam telah berlalu. Lintang telah memutuskan untuk tidak menghubungi Peter. Bukankah dia lebih dari yakin bahwa cintanya hanya untuk Allah semata?

“Tadi aku bermimpi…,”

“Ah, cuma mimpi!”

“Dengarkan dulu, dong!”

“Apa?”

“Mimpiku itu indah sekali. Aku memakai jilbab. Lalu aku bekerja di sebuah penerbitan islami yang sangat besar sekali. Selanjutnya menikah dengan seorang muslim yang cakepnya seperti Arjuna, tapi mentalitas mirip Shalahuddin Al-Ayyubi.”

“Ah, kamu bohong, tuh!”

“Lho? Kok tahu?” Lintang tergelak.

“Dasar!” Wulan sewot.

“Memang bukan mimpi, sih!”

“Maksud kamu?”

“Begini, mbakyu… Kalau memang jilbab bekasnya masih ada, aku mau, lho, mewarisinya. Kalau tawaran kerjanya juga masih  berlaku, aku mau terima, deh! Soalnya tiba-tiba saja aku ingin menetap di Jogja.”

“Hah?! Kamu serius, nih?”

“InsyaAllah,”

“Serius?”

“Dua-rius. Seribu juga boleh kalau nggak kebanyakan.”

“Subhanallah, Lintang…,”

“Tapi aku masih belajar,  lho…,”

“Lalu Peter?”

“Ah, hanya Allah yang tahu. Mungkin aku akan mengirim email padanya. Mendo’akan supaya dia bahagia.”

“Alhamdulillah, kamu mulai bisa membuat keputusan yang arif.”

“Masalahnya aku harus hidup dalam alam realita, Lan. Bukan alam mimpi atau angan-angan belaka. Mungkin dengan membuka kenyataan baru seperti ini aku bisa lebih puas menjalani pilihan hidupku dan melupakan masa laluku yang begitu menyedihkan. Kamu tahu, kan? Ini Jog…,”

“ja,  bukan Paris! Jogja beda dengan Paris!” Wulan menyerobot kalimat Lintang gemas.

Kedua muslimah itu tertawa bersamaan.

——-THE END——-

Keterangan:

Jeng: panggilan Jawa untuk menghormati wanita yang lebih muda

Leibniz: mengajarkan bahwa Yang Maha Kuasa mengatur sebaik-baiknya kehidupan di alam raya ini

Fur Elise: karya Bethoven yang dipersembahkan untuk istrinya

Verlaine: penyair Perancis (1844-1896) yang mengutarakan penderitaan batinnya dalam sajak-sajak yang indah

Pere-Lachaise: pekuburan tempat dikuburkannya banyak tokoh Perancis, antara lain tokoh sastra

Zadiq ou la destinee: salah satu karya Voltaire

Kat: di

Nak: mau

Budak: anak

Bual: bicara

Bila: kapan

Saya pasti: saya yakin

Seronok: bagus

Saya tak kisah jika cadangan saya tu kau tolak : saya tidak peduli jika rencana saya itu kamu tolak

h1

F-U-T-U-R ?!?

November 28, 2008

Oleh : Santy Martalia Mastuti

“Kau tahu apa tentang futur? What is it? Atau what is shit! Kau tak tak tahu apa-apa tentang futur.”

“Hei!”

“Apa?! Apa karena aku tak lagi memelihara jenggotku? Tak lagi memanggilmu akhi, antum? Tak lagi bergaul dengan ikhwah? Kau mau apa? Mengagungkan simbol-simbol?”

“Persoalannya tidak segampang itu.”

“Oh ya, lalu apa? Keikhlasan? Istiqomah? Loyalitas dakwah? Apa lagi? Atau karena aku mulai pacaran dengan Reina? Oh, ya, boleh kukatakan sesuatu? Reina memang pantas dijadikan pacar. Dia wanita yang sempurna!”

“Astaghfirullah…,”

Ya! Hanya itu yang mampu kau ucapkan, Wan. Kau tidak tahu bahwa segala persoalan tak akan selesai dengan hanya berucap ‘astaghfirullah’ dengan muka memelas mengasihaniku. Ohh…ho…ho… kau ingin mendengar aku gemetar dan begitu saja ‘menyadari kesalahanku’ seolah-olah aku benar-benar bersalah? Salah, bung! Itu mimpi. Kamu terlalu jauh mencampuri kehidupanku!

“Udah, deh. Lama-lama aku capek, Wan! Kamu lihat diri kamu sendiri. Banyak mata kuliah yang nggak lulus. Kamu pikirin itu nilai-nilai akademismu.”

“Kita bukannya kuliah di jurusan sosial yang sibuk ngurusin orang lain. Kita ini mahasiswa informatika. Mestinya pikiran kamu tuh nggak primitif! Rasional dikit napa sih. Jaman kita udah hi-tech, Wan!”

“Iya, Fer. Coba dengerin ana dulu.”

“Harus dengar apalagi? Segala pertanyaan kenapa aku nggak ngaji lagi? Kenapa aku nggak pernah kelihatan di masjid lagi? Sekarang gini, kamu ikut lomba desain web itu kan? Nah, kalau kamu bisa ngalahin aku, baru aku mau dengar kamu ceramah! Tapi aku yakin kamu nggak bakal bisa, karena apa? Karena kamu akan sibuk dengan komunitasmu sendiri!”

Kututup segera telepon itu setelah mengucap kata ‘wassalam’ tanpa menghiraukan ‘tausiyah’ Iwan lagi.

Aku melangkah kembali masuk ke kamar kostku dan kembali menekuri pekerjaanku.

“Hai!” gadis itu mengagetkanku dengan kehadirannya yang tiba-tiba.

“Oh, kamu, Na,” jawabku setengah malas.

“Sedang apa?”

“Sepertinya?”

“Bikin web.” Reina menatap monitor komputer.

“Kalau sudah tahu kenapa tanya.”

“Suka banget pake flash?”

“Diam napa, sih?”

“Dih, galak bener. Ntar aku bikinin website juga ya? Yang ada pic-ku.”

“Iya, ntar.”

“Aku akan masukkan kegiatanku sehari-hari di situ. Terus orang-orang bisa kenal siapa aku lewat About Me. Eh, perlu nggak sih aku beli domain sendiri? Kurang oke kayaknya kalau upload pake domain gratisan.”

“Lagu lu dah kayak artis, deh, Na.”

Please, deh. Kamu ngapain, sih? Sewot bener.”

Kugaruk kepalaku yang tidak benar-benar gatal.

“Sorry, Na. Mood-ku lagi jelek. Mending kamu sekarang pulang, deh, ya. Aku harus selesein ini buat web design championship minggu depan. Okey, honey? Biarkan aku berkonsentrasi penuh dan…, biar kamu kuantar pulang dulu.”

“Tapi kan aku baru saja datang ke kostmu. Baru aja masuk.”

“Aku tahu, Na. Please, deh, ngerti ya… Bad mood.”

“Oke. Aku pulang. Tapi jangan lupa, besok jemput aku ke kampus.”

Ups! Untung tanganku lincah bekerja sebelum Reina…

“Kenapa, sih? Cuma ciuman pipi aja.”

“Nggak, deh. Kita baru satu bulan jalan…”

Reina memandangku dengan muka ditekuk. Oh, aku telah berbuat kesalahan?

“Kamu membuatku malu.”

Sorry, aku…”

“Sudahlah. Kamu nggak usah antar. Kelihatannya kamu memang sibuk. Besok aku tunggu.”

Thanks. On time untuk besok.”

*******

Reina cantik. Menawan. Anggun. Putri kampus. Model lokal Bandung yang mulai naik daun di tingkat nasional. Dia lebih stylish dan modern daripada Nida. Hhmm… Ukhti Nida? Oh, aku sudah muak.

“Jangan mengotori hati dengan hal-hal yang hanya menonjolkan nafsu saja, akhi. Kalau memang siap menikah, lebih baik disegerakan.”

“Maksud ente?” aku cukup terkejut dengan perkataan Iwan waktu itu.

“Antum kelihatannya dekat sekali dengan ukhti Nida.”

“Oh, itu. Apa salahnya? Dia seorang desainer grafis dan ane butuh kerjasama dia untuk pembuatan website.”

“Ya, tapi kalau keseringan bisa menimbulkan fitnah.”

Fitnah?! Ya Tuhan, apalagi ini?

“Lantas? Ente minta ane untuk menikahinya? Wah! Itu tidak mungkin. Ane dah semester akhir. Tinggal dikit lagi lulus kuliah.”

“Itu bukan halangan.”

“Bukan halangan? Lantas bagaimana antum menyikapi kemapanan, kemandirian finansial? Karier?”

“Jangan berpikir terlalu rumit. Setiap orang memiliki rejekinya sendiri-sendiri.”

“Ini bukan berpikir rumit, tapi berpikir realistis!”

Padahal aku tidak memiliki perasaan apapun terhadap Nida. Ehm… Ya! Tentu saja aku tidak suka dia. Aku yakin itu. Tetapi kenapa mereka meributkan kebersamaanku dengan Nida? Oke, aku memang belum terlalu paham akan konsep kebersamaan laki-laki dan wanita. Aku memang baru beberapa waktu terakhir ini mengikrarkan diri untuk berada dalam barisan mereka. Barisan dakwah yang menurutku memang merupakan suatu kebutuhan religius. Tapi lama-lama kupikir aku telah terjebak dalam konsep yang sangat idealis ini. Aku bahkan tidak bisa mencerna lagi konsep-konsep yang tidak membumi.

Dilarang berduaan dengan wanita, dilarang ini, dilarang itu. Amal jama’i, loyalitas dakwah, istiqomah. Apanya yang salah jika hanya berkawan dengan seorang wanita? Apanya yang loyal? Apakah harus dengan aktif di organisasi-organisasi dan melupakan skripsi seperti banyak teman aktifis? Apakah harus hidup sederhana hingga mirip gembel tanpa mempedulikan penampilan jika memang ia bisa tampil alias mampu? Apakah harus dengan simbolisasi yang membuatku kelihatan tidak militan jika tidak memakai baju koko, topi muslim, dan celana cingkrang mirip kungfuwan China? Wataw! Tidak islami jika aku tidak menyebut: akhi, ukhti, antum, syukron, afwan, ana, dan lainnya? Nah! Nah! Aku mulai mengungkit segalanya hanya karena masalah Nida!

Kemudian tamat sudah. Nampak sekali Nida yang menjaga jarak denganku. Aku yang tidak lagi aktif mendatangi kajian, tidak lagi mau peduli dengan segala macam syuro, dan tidak lagi peduli jika mereka tidak lagi mempedulikan aku aktif atau tidak dalam segala kegiatan dakwah. Aku yang kembali slengehan dengan style acak-acakan. Lalu? Iwan hadir lagi dan mengataiku futur? Aku ikhwan baru hijrah yang gagal istiqomah dan berguguran di jalan dakwah? Futur? What is shit!

*******

ID Luky menyala terang ketika aku online.

<Ferdy>Oi

<Gooffy>Woi, Fer

<Ferdy>Watcha! Webmu ada masalah?

<Gooffy>Lu denger juga ya? Sekarang duniakecil.net gue jadiin domain personal.

<Ferdy>hehehe

<Gooffy>Siapa nggak kesel? Gue udah sukarela ngasih tumpangan, eh, masih bilang gue cari untung

<Gooffy>Jangan-jangan folder:\dipikir-dulu\nya udah pada dimasukin recycle bin, tuh!

<Gooffy>Brengsek!

<Gooffy>Biarin dah pada download data-data yang ada di hosting. Itu juga kalau belum overbandwith, dan account masih nyala.

<Ferdy>hahahaha

<Gooffy>Ketawa lagi! Brengsek lu. Emang mereka pada tau gimana supaya hosting, domain, dan subdomain mereka bisa tetep nyala?

<Ferdy>Suabarrrrr

<Gooffy>Huehuehue… Orang bijak bilang: sabar disayang Tuhan.

<Ferdy>Nah!

<Gooffy>Eh, lu ada temen namanya Iwan?

<Ferdy>Ha? Iya. Kenapa? Kamu kenal?

<Gooffy>Canggih anaknya?

<Ferdy>Canggih? Hoho… Tunggu dulu.

<Gooffy>Kenapa?

<Ferdy>Dia nggak lebih hebat daripada aku. Dia mahasiswa IT yang nggak hi-tech sama sekali. Dia seperti nggak peduli tentang gelombang ketiga ini yang mengindikasikan bahwa pemilik pengetahuan adalah penentu kebijakan yang mengacu pada pemenuhan kebutuhan pengakuan dan aktualisasi diri.

<Gooffy>Sieeh… Uhui! Bahasa elu canggih amat.

<Ferdy>Baru juga aku deket sama cewek pinter saja dia ikut-ikutan sirik.

<Gooffy>Jadi masalahnya cuma karena rebutan cewek lu jadi BT gitu?

<Ferdy>Nggak sesederhana itu, Luk! Kamu pikir deh! Sub sistem sosial yang terwujud dalam masyarakat pekerja ilmu pengetahuan dan informasi, dengan struktur horisontal.

<Gooffy>Oh yeah?

<Ferdy>Juga dengan pola interaktif yang ada, apa salah kalau aku dekat dengan cewek itu? Dia jago grafis! Tujuanku cuma sharing aja.

<Gooffy>Bener cuma sharing? Lu kan laki, Fer? Lu ribut gitu, bener karena nggak suka tuh cewek atau cuma ngeles karena ego lu?

Ngeles? Hohoho… Aku… aku memang nggak suka sama Nida. Nggak mungkin aku suka! Nggak mungkin kan?! Ah, nggak mungkin!

<Ferdy>Terserah kamu bilang apa deh. Aku yakin, justru dia yang naksir Nida.

<Gooffy>Nida?

<Ferdy>Cewek yang aku bilang tadi tuh. Soalnya dia yang paling sewot kalau aku dekat sama tuh cewek.

<Gooffy>Hehehe. Itu bukan urusan gue.

<Gooffy>Eh, lu udah liat pengumuman lomba kemarin?

<Ferdy>Oh ya!

<Ferdy>Pengumumannya hari ini kan?

<Gooffy>Lu pasti pingsan kalau gue kasih tahu siapa yang menang.

<Ferdy>Oh ya?

<Ferdy>Who?

<Gooffy>Gue.

<Ferdy>Apa?! Gila! Kamu serius?

Tanganku segera bergerak mengakses internet explorer untuk membuka webmaster-group.co.id, penyelenggara lomba, dengan hati berdebar. Luky juara satu? Lantas desainku?

<Gooffy>Huehue. Emangnya cuma lu aja yang bisa jadi juara?

<Ferdy>Gue gak nyangka, deh. Hebat!

IE-ku masih berproses. Aduh, lambat banget! Tapi kalau Luky juara, sih, mungkin saja. Tapi…

<Ferdy>Selamat! Tapi untuk kompetisi selanjutnya aku bakal ngalahin kamu.

<Gooffy>Huuehue… Gue tunggu!

<Gooffy>Anak universitas lu yang lu bilang sirik, gak canggih, itu ikut juga ternyata.

<Ferdy>Gak bakal menang!

<Gooffy>Hihihi.

Otakku masih berpikir. Gila! Si luky bisa melesat gitu. Padahal aku yakin aku bakal menang. Semua tahu aku satu-satunya webmaster Indonesia, mewakili institutku, yang menang dalam kompetisi IBM web design kemarin. Itu juga yang membuatku merasa punya masa depan karena setelah lulus aku dapat beasiswa S2 ke Jerman untuk IT.

Jadi kalau Luky sang juara, nasib desainku gimana, dong?

Aku segera melihat pengumuman Web Design Championship begitu homepage terbuka. Dan mataku terbelalak seketika!

ID Luky, teman cyber yang juga ikut lomba itu, berkedip-kedip.

<Gooffy>Sialnya lu cuma harapan satu. Wazz up? Lu jadi bego gini, sih.

Kualihkan lagi perhatianku pada pengumuman lomba. Otakku masih belum bisa mencerna dengan sempurna.

<Gooffy>Desain lu yang menang di IBM keren banget pas gue liat di PlanetWeB exhibition bulan lalu. Tapi kok yang ini bisa jelek gini?

Lemas sudah seluruh persendianku.

<Ferdy>Kamu dapat juara dua ya… Selamat.

<Gooffy>Hehehe… Sorry, gue becanda. Temen lu hebat juga ya.

<Ferdy>Aku cabut dulu.

Kumatikan ID-ku dan bergegas keluar kamar tanpa menunggu reaksi Luky.

Iwan?! Juara satu???

“Eehhhh! Mau kemana?” tiba-tiba Reina muncul di depan kamarku.

“Aku harus pergi sekarang, Na. Aku ada urusan. Penting.”

“Tapi aku baru datang.”

“Ya, tapi… Tapi aku ada urusan. Kamu masuk aja deh, atau pulang aja, atau… terserah kamu, deh!”

“Eehh..hh. Kamu apa-apaan, sih?”

Please, Na. Aduh, lepasin tangan kamu, dong!”

Reina mendelik.

“Kamu aneh banget, sih, Fer?”

Sorry. Aku bener-bener harus pergi, nih.”

Setengah berlari aku menuju garasi. Tak kuhiraukan lagi Reina yang berteriak-teriak memanggilku.

“Kamu normal apa hombreng, sih?! Kenapa kesentuh dikit aja selalu marah?”

Telingaku mendengar juga teriakannya.

Aku homo? Ih, amit-amit, deh!

*******

“Selamat. Kamu menang.”

“Syukron. Tapi mestinya antum gak perlu seperti ini.”

“Aku mencoba sportif. Ternyata kamu bisa ngalahin aku juga.”

“Hadiah utamanya keren, sih. Lumayan buat nambah-nambah biaya nikah. Mungkin Allah ngasih rejekinya lewat sini.”

“Apa?! Nikah?” tatapku tak percaya.

“Ya.” Iwan tersenyum. “Kok kaget, sih? Apa karena ana masih belum ngelarin tugas akhir?”

“Dengan siapa?”

“Tebak! Mahasiswi sini juga. Akhowat fakultas seni rupa dan desain.”

“Nida???”

Iwan tersenyum.

“Bukan.”

“Ohhh…”

Aku tertegun.

“Kalau begitu, selamat… lagi.”

Iwan menjabat tanganku erat.

“Sekarang seperti janjiku, kamu boleh ceramah.”

Iwan tersenyum.

“Kenapa harus begini, sih?”

“Udah, mumpung aku kasih kamu kesempatan ceramah.”

“Semua bukan untuk diperdebatkan dengan keliru, Fer. Jangan hanya melihat segalanya dalam satu sisi. Banyak kemuliaan yang ditawarkan Islam. Yang penting itu di sini nih…” Iwan menepuk dadaku.

“Iman dan keikhlasan. Kalau kamu masih punya itu, kembalilah di jalan Allah dengan kelapangan. Dakwah membutuhkan orang-orang yang kritis sepertimu, Fer. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya secara tepat. Islam itu mudah, jadi jangan dipersulit.”

Sorry, mungkin aku memang kebanyakan bicara. Tapi kamu harus tahu satu hal. Jangan pernah melihat Islam secara personal.”

Kali ini kupaksakan untuk tersenyum.

“Barakallahulaka, akhi. Doakan saja aku.”

“Tentu.”

Ck… Kesederhanaan Iwan, kesederhanaan Islam. Kesucian hati. Hmm, rasanya aku mulai mengerti kenapa aku tak pernah ingin Reina menyentuhku! Hahaha, gadis itu paling sudah melupakan aku karena mbak Yona, waria seksi itu, akan mengajaknya bergosip di salon langganannya sambil manicure.=

h1

Email Untuk Rey

May 8, 2008

Oleh: Santy Martalia Mastuti

Rey di depan monitor…

Tanggal 10 Januari 2004 kemarin saya sengaja menghabiskan waktu untuk berpikir sejenak. Awal kontemplasi yang mendalam sejak awal masehi 2004. Lalu selepas sholat isya’ saya memutuskan untuk menulis email untuk Rey sepanjang julukan Rey di komunitas filsafat yang sempat terekam dalam ingatan otak kiri saya: Rey Almighty! Haha… Mungkin juga ini sebagai pelunasan atas formulir perkenalan yang Rey ajukan beberapa waktu lalu yang sebagian milik Rey sudah dicicil…, yang menceritakan bagaimana Rey menghabiskan usia hanya dengan para pembantu, yang menceritakan bagaimana Rey berjuang untuk menjadi ‘bersih’ setelah terjerat barang-barang haram, dan kisah Rey sebagai pemain musik jalanan untuk mendanai sekumpulan anak-anak telantar. Semoga Rey tidak merasa bosan untuk membacanya karena bisa jadi ini adalah yang terakhir dari yang kesekian…. Tapi jangan kuatir, posisi Rey bukanlah sebagai kompensasi atas katarsis yang saya lakukan… hehe. Saya tidak sedang curhat lho…, hanya mungkin sekedar sharing saja seperti yang biasa Rey lakukan…..

Kalau Rey mengenal saya tiga atau empat tahun yang lalu, mungkin Rey akan mendapati saya sebagai Zeus dalam dunia tanpa dimensinya Rey, walaupun tidak sesempurna ilustrasi yang Rey dah buat… atau, tidak! Mungkin lebih tepatnya kurcaci. Ya! Ilustrasi Rey tentang kurcaci terlalu perfect di mata saya, yang jelas bukan semacam smurf, karena biarpun kecil kekuatan mereka luar biasa, cool n’ confident! Saya sempat merasakan terpisah dengan dunia manusia secara totalitas: kecil, jelek, tak berarti! Saya hidup untuk sekedar survive menyelamatkan diri sendiri dengan mengais kolong dunia manusia yang sekiranya masih menyisakan ruang kosong buat kehadiran sang kurcaci… Menyakitkan memang! Di lain pihak, semua orang menggunakan persepsi mereka yang telah berani menjustifikasi bahwa saya hanyalah seorang yang keras, vulgar, tomboy, egois, semau gue, dan sederet kejelekan lainnya ( sampai saya bengong sendiri ketika melembari kembali buku diari saya yang ternyata penuh dengan kutukan dan makian. Haha…). Sedangkan dalam sudut pandang mereka yang lain pula, saya adalah sosok periang yang tidak punya masalah, hidup enak, bebas, kuat, tidak cengeng, dan tidak terikat ruang dan waktu ( atau bahkan tidak terikat oleh dimensi apapun karena semua orang tahu bahwa saya adalah seorang gadis pemimpi).

Rey, sahabatku…

Sungguh saya sempat menyesali hidup yang telah Tuhan berikan pada saya. Dulu saya selalu menganggap bahwa Tuhan tidak pernah adil dalam memberi saya kehidupan. Orangtua saya bercerai sejak saya dalam kandungan. Hidup tidak lantas berhenti begitu saja. Begitu lahir saya langsung diangkat anak oleh pasangan suami istri, teman dari ibu saya sendiri. Baru setelah saya besar saat inilah saya mengetahui bahwa kelahiran saya dahulu sama sekali tidak mereka inginkan. Tetapi sudahlah… Satu yang perlu Rey ketahui, orangtua angkat saya memang sangat kaya dan baik pada saya. Saya adalah ‘anak tunggal’ mereka yang sangat mereka sayangi. Tapi jujur saja, Rey, saya tidak bisa menikmati kehidupan saya. Orangtua saya terlalu sibuk dengan urusan bisnisnya. Mungkin kisah kita ditakdirkan sama, Rey, besar di tangan seorang babby sitter. Haha….. Tak jarang saya merasa begitu kesepian dan hampa. Uang yang begitu banyak ternyata tidak bisa digunakan untuk membeli kebahagiaan atau setidaknya membayar seorang teman yang setia menemani keseharian kita. Saya masih ingat, dari saya masih SMP, puncak katarsis yang saya lakukan adalah aktivitas yang walaupun melelahkan tetapi merupakan suatu kebutuhan. Keluar masuk klub olah raga: tennis, badminton (yang akhirnya keluar karena saya cukup sadar diri bahwa smesh saya jelek sekali! Hehe), kemudian renang (mencampurkan air mata dengan air kaporit di kolam), lalu basket ( ini yang paling saya suka). Basket sampai malam, berlari kencang men-dribble bola dengan menangis, lay up dengan bengis, dan tampak manis sekali tatkala pelatih dan teman-teman mulai bermunculan. Lalu kemudian datang persaingan-persaingan ambisi manusiawi… Saat itulah akhirnya saya terdepak dari team karena sebuah fitnah di mana posisi saya waktu itu adalah sebagai calon tunggal kapten team. Demikian juga dengan bela diri. Saya bahkan pernah merebut perak (juara dua) se-Kabupaten kelas F putri hingga seleksi ke Surabaya dan berhasil dikalahkan seorang anak pelatih dari Madura yang lebih sangar dari saya… Sampai saya KO! Haha… Dan episode terakhir adalah terpilihnya sang kurcaci menjadi seorang pemandu sorak di SMU. Yeahhh! Prestise para gadis! Jadi ingat, sebelumnya pun saya merelakan posisi paramanandi, posisi yang selalu diidam-idamkan gadis-gadis di sekolah saya, direbut oleh teman karena saya tidak memiliki kekuatan untuk merasa besar, …dan akhirnya saya hanyalah gadis peniup terompet di barisan depan marching band SMP favorit! Hehe… Kurcaci dengan terompetnya!

Kemudian saya bertanya, kenapa saya selalu gagal? Semua itu hanyalah karena sebuah kekerdilan dan ketidakberdayaan saya dalam mempertahankan apa yang sudah saya miliki… Biasanya saya meluapkan kepenatan dan kesedihan karena sebuah persaingan ke dalam puisi atau lukisan. Saya suka melukis, dan sempat mengikuti lomba komik tingkat nasional meski tidak menang…, dan pada panggilan lomba berikutnya saya tidak mengikutinya.

Itulah sebersit perjalanan hidup saya yang terlalu rumit untuk ditelusuri kembali, dan selamanya tidak akan pernah bisa terluapkan secara sempurna…..

Rey yang baik…

Ada kalanya manusia tidak mengerti kisah yang bagaimana lagi yang akan dihadapinya. Tetapi kisah yang saya alami selanjutnya telah membawa banyak perubahan dalam diri saya. Bagai garis horison yang membatasi dimensi lain, saya menemukan jalan yang benar-benar merubah segalanya. Sungguh spektakuler! Saya mulai merasakan kehadiran Tuhan! Tidak ada lagi kegiatan luar, tidak ada saya yang dulu…, yang keluyuran malam-malam cuman nongkrong or ngegodain orang rame-rame. Yang tinggal hanyalah sosok yang mendadak menjadi (kata orang) kampungan dan konservatif! Saya mulai memakai kerudung dan meninggalkan pakaian kebesaran, celana pendek dan kaus oblong, yang selama ini sudah melekat dalam image saya. Itulah awal kekuatan spiritual (baca: konversi agama) yang merubah tatanan hidup saya yang mampu menerangi keputusasaan saya yang telah memuncak. Menggairahkan kembali hidup yang sempat mati rasa. Saat itu saya masih semester dua di fakultas filsafat.

Singkatnya, kalau saya masih seperti dulu, mungkin Rey akan mengenal saya sebagai mahasiswa fakultas filsafat, bukannya mahasiswa tekhnik informatika seperti sekarang ini. (Tapi jujur saja, sebenarnya saya sangat ingin masuk ke IKJ daripada fakultas filsafat atau fakultas tekhnik… Haha… Ups! Just Kidding!) Entahlah. Yang membuat saya heran, sejak peristiwa konversi agama itu, tangan saya tak lagi lentur untuk sekedar membuat selembar kertas mempunyai nilai estetika. Sejak saat itu, saya hanya berpikir untuk memulai hidup baru. Merancang masa depan, memetakan langkah dan segala keinginan… Hidup dalam sebuah konsep keteraturan… Kemudian saya memutuskan untuk bergabung dengan aktivis da’wah kampus dan kembali menulis sesuai dengan misi keagamaan. Saya mulai percaya bahwa keyakinan yang kuat akan merubah sesuatu yang kecil menjadi berarti. Saya meyakini bahwa kita bisa melakukan sesuatu jika kita berpikir kita bisa. Dan tentunya keyakinan atas kebesaran Tuhan tidak pernah kalah oleh kekuatan apapun! Saya mulai berpikir untuk menatap realita dengan kesederhanaan berpikir yang tak pernah dicapekkan dengan segala obsesi yang absurd. Saya tidak ingin menjadi hebat dengan ratapan atau keluhan, atau menjadi seorang pengecut yang gagah. Saya harus berani! Dan entahlah darimana kebijaksaan itu datang, apa karena proses pendewasaan yang tengah berlangsung ataukah karena proses eksplorasi diri saya yang mulai menampakkan hasilnya… Yang jelas saya mulai menikmati kehidupan saya yang baru!

Saya ingat kata Viktor Frankl, seorang neuropsikiater dengan logoterapinya. Meaning in suffering! Di sana mengajarkan bagaimana kita harus optimis dalam menghadapi kehidupan. Kehidupan ini, baik dalam keadaan normal maupun dalam penderitaan, senantiasa mengandung hal-hal yang bermakna di dalamnya. Selalu ada hikmah di balik musibah, selalu ada makna dalam derita. Setiap manusia mempunyai hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning). Sedangkan makna hidup itu sendiri bersifat unik, artinya apa yang dianggap berarti bagi seseorang belum tentu berarti bagi orang lain. Masih kata Frankl lagi, makna hidup itu juga bersifat spesifik dan konkret, artinya makna hidup dapat ditemukan dalam kenyataan hidup sehari-hari. Tidak selalu harus dikaitkan dengan idealisme, prestasi yang cemerlang, atau hasil renungan filosofis yang mendalam. Dan mengingat sifat makna hidup yang unik dan konkret itulah maka dia tidak dapat diberikan oleh siapapun. Melainkan harus dicari dan ditemukan sendiri. Mungkin dari sinilah saya akhirnya mempunyai sebuah motivasi untuk mewujudkan hidup yang lebih bermakna, untuk menjadi pribadi yang memiliki tujuan hidup yang jelas. Being somebody!

Hidup itu ditawarkan, Rey, bukan dipaksakan! Kita mempunyai otoritas untuk mencari kebahagiaan kita sendiri. Meski demikian, sebagai hamba Allah, saya tetap meyakini bahwa Allah adalah pusat segala kehidupan. Dia jua yang menentukan segalanya.

Kalau ditanya bagaimana kebahagiaan yang sedang saya cari? Jawabnya adalah kebahagiaan yang bersumber dari Allah lah yang saya cari. Ketika saya telah bersyahadat, maka ketika itu pula saya telah menyerahkan segala hidup dan mati saya hanya untuk Allah. Saya meyakini tidak ada sesembahan yang berhak diagungkan kecuali Allah. Dan being somebody dalam keinginan saya adalah menjadi seseorang yang mempunyai otorita. Seperti kata kaum eksistensialisme, saya adalah sesuatu yang saya pilih. Ketika saya sebagai manusia yang mempunyai eksistensi, maka saya adalah individu yang berhak menentukan tujuan hidup dan kebahagiaan. Sedangkan tujuan hidup saya adalah menjadi hamba yang senantiasa menyembah kepada Allah. Seperti firmanNya, wa maa kholalaqtul jinna wal insa illa liya’buduun…

Bila Rey bertanya apakah saya pernah merasa tidak bahagia, maka jawabnya adalah pernah. Tapi itulah kehidupan! Kehidupan bukanlah sesuatu yang absurd. Orang yang bisa memaknai kehidupan adalah orang yang mampu mensyukuri umur yang telah tergadaikan di dunia. Ayah saya (seorang lelaki yang tidak lebih baik dari saya… Haha…) pernah mencoba meyakinkan saya bahwa orang yang menjumpai suatu masalah kemudian bisa mengatasi permasalahan tersebut adalah satu tingkat lebih tinggi dari orang kebanyakan… Karena mereka berproses, mereka belajar, dan mereka kaya akan warna kehidupan. Sedangkan menurut saya pribadi, seseorang tidak akan pernah ‘tidak mampu’ untuk mengatasi segala masalah yang ada, karena sesungguhnya Allah tidak akan menguji manusia melainkan sesuai dengan kadar kemampuannya.

Saya ingat tatkala pertama kali kita bertemu di #filsafat dalnet. Waktu itu kita sedang berdiskusi tentang konsep monoteistik. Kamulah yang paling gencar menentang saya, Rey. Pada akhirnya kita sering berdiskusi di room. Tentang banyak hal. Bersama chatters lainnya.

Saya masuk cenel komunitas anak-anak filsafat bukan tanpa tujuan. Saya, setidaknya, pernah mengenyam pendidikan di bidang itu. Saya ingin kembali menelusuri pemikiran saya, syukur-syukur bisa mengajak beberapa rekan-rekan, yang dulu kebetulan satu fakultas dengan saya, untuk mulai berpikir menggunakan sisi lain dari dunia ini. Bahwa jika tekhnokrat menghasilkan teknologi, filsafat menghasilkan keraguan… Begitulah menurut saya… Dan karenanya banyak teman-teman yang mengkritisi pemikiran baru saya hingga akhirnya mendepak saya jauh-jauh. Pemikiran baru tatkala saya mulai mengecam pemikiran agnostic yang ragu akan adanya Tuhan, para penganut scientist yang terlalu mendewakan scient… hingga konsep material Karl Mark.

O ya! Perlu juga Rey ketahui bahwa perbedaan diri saya pasca konversi sangat mencolok sekali. Haha… Dulu saya suka berkhayal. Tetapi sekarang dalam kenyataan, bukan dunia tanpa dimensi, saya sudah menjadi sosok lain, memandang dunia dengan cara pandang yang sudah berbeda. Mungkin bisa dibilang lebih sederhana. Saya tidak lagi suka berkhayal menjadi Descartes yang berjaya dengan Cogito Ergo Sum-nya atau Maria Antoinette permaisuri Louis yang borjuis meski harus berakhir dalam sejarah guoilotine, tidak juga berharap lagi menjadi Julia Robert dalam Pretty Woman, atau menjadi Wendy yang terbang bebas bersama Peter Pan! Haha… Saya ingin menjadi diri saya sendiri!

Rey, saya tidak pernah mengerti mengapa Rey begitu ingin mengenal saya dari dekat. Saya heran mengapa kamu, seorang mahasiswa fakultas filsafat yang terkenal begitu memihak kaum skeptic, yang selalu menyerang saya habis-habisan di cenel, yang merasa paling hebat, sekarang malah meminta saya untuk menemani mencari Tuhan! Kenapa, Rey? Apakah Tuhan punya hutang padamu sehingga sekarang Rey sibuk mencarinya? Astaghfirullahl’adziim… Just kidding, boy! Kalau Rey ingin tahu saya, sesungguhnya tidak ada yang istimewa dalam diri saya. Saya hanyalah seorang muslimah yang ingin bergerak secara fleksibel dan dinamis memahami keinginan Allah tanpa harus keluar dari batasan syari’at. Saya benar-benar sudah berbeda… dan pastinya tidak sama dengan Rey. Itulah yang kadang saya maksudkan bahwa wacana kita berbeda. Saya juga belum pernah tuh mengkonsumsi buku-buku yang pernah Rey sebutkan, diantaranya tulisan seorang pengarang dari Cheko atau pengarang-pengarang lain yang membesarkan pikiran Rey dalam mengganggas sebuah komunitas utopia.

Saya tidak sehebat Rey, semewah Rey, setinggi Rey, seidealis Rey, dan se-se lainnya yang mungkin masih banyak lagi. Yang jelas saya akan segera menata langkah, tidak lagi menggunakan IRC sebagai media eksplorasi (dan akan menggunakannya sewajarnya saja). Lebih fokus pada realita dan akan mencoba menyelesaikan masalah yang belum sempat terselesaikan sampai sekarang. Dan tidak hidup untuk diri sendiri, itu mungkin impian saya…. Semoga Rey juga lebih mampu memandang kehidupan secara lebih bijaksana. Dan lihat diri kita beberapa tahun ke depan… Masih samakah dengan sekarang? Apabila tulisan ini terbaca dengan perasaan yang masih sama, berarti belum ada kemajuan dalam diri kita, tetapi apabila kita sudah bisa menertawai kekonyolan dan kebodohan yang telah kita lakukan kemungkinan besar proses pendewasaan kita mulai berkembang…

Saya ingat, Rey sering mengeluh bahwa orang-orang selalu menilai Rey aneh. Dengar Rey, saya, dan mungkin Rey, atau orang lain, menjadi aneh karena diri kita sendiri yang membuatnya begitu. Sekali lagi, seperti kata Sartre: saya adalah sesuatu yang saya pilih… Atau kemungkinan kita terlalu imajinatif ya? Hehe…, atau Rey ada argumen lain yang mampu menjelaskan keanehan yang terjadi? Yang jelas saya tidak ingin menjadi aneh selamanya yang selalu berkutat dengan pemikiran dan dunianya sendiri. Saya berusaha menghilangkannya dengan bercermin pada orang-orang sederhana yang bertebaran di seputar penglihatan saya. Saya akan mencoba untuk terus mensyukuri apa yang telah Allah berikan pada saya.

Wah! Saya mungkin bukan penulis yang baik yang mampu menjabarkan sebagian sisi kehidupan saya secara verbal. Mungkin hanya sekedar sebagai bahan kontemplasi dan proses penyadaran kembali secara pribadi bahwa sampai saat ini saya belum melakukan sesuatu yang berarti. Laa haulaa wa laa quwwata illa billah… Apabila kita tidak punya pegangan, maka setiap titik kejenuhan itu datang, kita akan cepat kehilangan kendali diri.

Rey, saya yakin bahwa Tuhan mulai membuka hatimu. Dan sampai saat ini saya selalu berusaha untuk memenuhi apa yang Rey minta. Tentang kehausanmu akan kebenaran . Saya telah mencoba pula menjelaskan bagaimana agama ini, islam, begitu sempurna. Syamil, kamil, mutakamil… Cukuplah sebuah niat baik dari dalam dirimu dijadikan pondasi sebuah proses pencarianmu tentang kebenaran Tuhan. Teruslah mencari, teman… Dan jangan mencari kebenaran melewati pemikiran manusia, carilah kebenaran sejati, dan Rey akan tahu siapa saja manusia-manusia yang mengikutinya. Do’a saya bersamamu. Semoga Allah memberimu hidayah…

Salam,

A’isyaa

*********

Rey menarik nafas panjang. Sudah berkali-kali Rey membuka, membuka, dan membaca email itu. Rey merasa bahwa cara mereka berteman sangat unik. Rey mengenal A’isyaa dari IRC, dunia virtual yang tidak banyak menjanjikan apa-apa. No asl please… Tapi seiring berjalannya waktu, Rey mulai tahu bahwa ia adalah seorang gadis berusia duapuluh satu tahun, sebaya dengannya. A’isyaa telah mengajarinya banyak hal. Tapi entah kenapa, sekarang A’isyaa tidak pernah lagi muncul di room. Ke manakah dia? Kalaupun memutuskan untuk tidak lagi merambah dunia virtual ini, mengapa dia tidak berkirim kabar? Meski hanya lewat email? Apa yang sudah terjadi dengan gadis itu? Entahlah… Yang Rey tahu, itu adalah email terakhir dari A’isyaa yang dikirimnya satu tahun yang lalu. Padahal Rey ingin sekali dapat berjumpa dengannya walau sebentar. Sekedar memberi kabar bahwa kemarin ia telah bersyahadat dan berganti nama menjadi Fauzan Adlim. Di Jakarta, di masjid Al-Azhar. Kemenangan yang besar!●

h1

L’Oiseau Bleu

January 15, 2008

L’Oiseau Bleu

By: My Beloved Dinda

[Santy Martalia Mastuti]

Temaram yang kian kelam. Perempuan itu tak juga beranjak dari melihat bulan. Sementara suara-suara satwa malam terdengar riuh memadu harmoni nada. Tidak terdengar nada milik Bach atau sekedar langgam Jawa tentunya. Sebab yang bersuara hanyalah binatang belaka.

Perempuan itu masih berdiri menatap bulan. Siluet pepohonan nampak mistis memeluk raganya yang membelakangi pintu teras lantai atas sebuah bangunan megah dipinggiran kota Jakarta, rumah bersalin Anggia. Raga itu terlihat begitu indah dengan tonjolan besar pada bagian perut yang menjadikan pinggangnya terlihat lebih lebar dari biasanya. Raga perempuan! Maka menjadi sempurnalah sosok sang perempuan tatkala tangan halus beserta lentik jemarinya bergerak membelai perutnya. Penuh kasih, penuh kelembutan. Sebab ada kehidupan di sana. Sebab ada nafas yang berhembus tenang di dalamnya.

Ini Jakarta! Jelas, Jakarta tidak akan terlihat seperti Paris. Namun dalam pandangannya, menara Eifel hanya berjarak beberapa meter saja sebab ingatan yang sedang bekerja. Lalu suara-suara yang biasa mengisi hari-harinya bergema menguasai alam pikirnya. Seolah hanya suara itu yang berteriak dan bergema di seluruh semesta, saat ini, saat malam dimana ia melihat bulan.

“L’Oiseau Bleu[1]!”

“L’Oiseau Bleu!”

Perempuan itu tersenyum.

“Ada apa kau ini?”

“Kau benar-benar menakjubkan, dinda. L’Oiseau Bleu. Burung biru. Matamu yang biru… yang selalu menengadah memandang langit yang juga berwarna biru. Keceriaanmu, sikap bebasmu, senyum ramahmu, kecantikanmu, kelembutanmu… Benar-benar seperti…,”

“Burung?” perempuan itu merengut.

Lelaki tertawa.

“Apa salahnya, nda? Burung juga indah… Apalagi burung biru yang satu ini. Dia lebih indah dari seluruh burung di dunia. Suaranya lebih merdu bila berkicau…,”

“Dinda? Berkicau?”

“Sudahlah, nda. Yang penting kan aku cinta sama dinda. Dinda yang seperti burung biru. Selamanya cinta…,”

Pipi sang perempuan memerah.

“Dasar gombal!”

Tawa lelaki berderai-derai. Dia tahu itu gombal. Namun ia yakin perempuan itu suka.

“Ada apa, nda?” tiba-tiba ia melihat perubahan sinar wajah perempuan yang sekejap saja menjadi keruh.

“Burung itu tak pernah selamanya terbang bersama, Mas,” pelan perempuan bersuara.

“Tetapi aku akan menemani burung biruku terbang bersama. Selamanya…,”

Lelaki menatap dalam-dalam mata sang perempuan. Tenang.

“Ehm-hm!” Sejenak kemudian lelaki mendekatkan wajahnya tanpa melepas sedikitpun tatapan matanya, genit. “Coba tebak!”

“Nggak ah! Malas!”

“Nda…, ayo tebak…,”

Perempuan merengut. Lelaki tersenyum. Dia tak ingin memaksa. Yah, mungkin bawaan bayi yang sedang dikandung sang perempuan, istrinya. Akhir-akhir ini dirasakannya sang perempuan mulai tidak sabaran.

“Aku punya kabar gembira untuk dinda. Dengar…,” ia memeluk istrinya dari belakang sambil membisikkan sesuatu. Lembut.

“Apa?!” teriak sang perempuan sesaat kemudian.

Lelaki tersenyum penuh arti.

“Mas serius?”

“Dinda kira aku main-main?”

“Menetap di Indonesia?”

“Apa salahnya? Aku sudah mendapat panggilan kerja di sana. Nda akan jadi istri terbaik untukku. Aku sudah mengatur semuanya. Dinda akan melahirkan di Indonesia dan kita akan membesarkan anak-anak kita di Indonesia,” tangan lelaki turun membelai perut perempuan yang sudah mendua tiga minggu.

Tiba-tiba perempuan melepas belaian lelaki dan berbalik.

“Kita akan pergi dari Paris? Melepas pekerjaanmu sebagai scriptwriter di sini? Lalu rumah baru kita di Courbevoie?”

“Kita bisa menjual rumah itu.”

“Tapi, Mas, kita bahkan belum sempat menempatinya.”

“Buat apa ditempati? Bahkan sebelum kontrak apartemen kita habis insya-Allah kita sudah ada di Indonesia.”

Mata perempuan membulat.

“Hei! Dinda membuatku bingung. Dinda senang? Atau tidak?”

Perempuan itu tak menjawab. Namun sebuah ciuman di ujung hidung lelaki sudah cukup sebagai duta hatinya. Tanda kebahagiaan yang terdalam sudah tersampaikan kini.

“Kita akan mendidik anak-anak kita yang tampan dan cantik dengan baik. Dalam bimbingan Islam dan segala kemuliaannya. Di Indonesia lebih memungkinkan untuk itu. Tidak di Perancis. Kita akan mengajarkan Al-Qur’an, membacakan sejarah rasulullah, para sahabat…,”

“Juga Les Aventures d’un gamin de Paris[2]?”

Les Aventures d’un gamin de Paris juga,”

Les Trois Boy-scouts[3]?”

“Tentu itu juga akan dibacakan.”

Perempuan itu tersenyum menatap mata sang lelaki penuh cinta.

******

Larane lara ora kaya wong kang nandang wuyung[4]

Mangan ra doyan ra jenak dolan neng omah bingung

Lelaki yang melihat bulan nampak mulai bergetar bibirnya. Masih jelas diingatannya akan nuansa warna hijau yang megah mendominasi acara resepsi pernikahannya dengan seorang wanita santun yang ditemuinya di Paris, ketika sama-sama menjadi mahasiswa. Rasanya baru kemarin mereka menikah. Nafas budaya Jawa yang khas dengan adat pura mangkunegaran hingga gift cantik karya pengrajin Jogja menjadi tema pernikahan yang menakjubkan. Bahkan gaun pengantin batik sido ati yang dipadankan dengan atasan bermotif modang tebaran ati masih terasa melekat begitu indah di tubuh istrinya. Acara Wilujengan, Siraman, Midodareni, Panggih… lengkap dengan suguhan tari Srimpi yang indah… Di Perancis, semua itu tidak ada. Namun jika saja dulu ia mengenal Islam lebih jauh, upacara pernikahannya mungkin bisa dibuat lebih Islami. Kebudayaan yang masih dijunjung tinggi tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam… Mungkin itu bagian dari garapan peradaban.

Mereka telah ditakdirkan untuk bertemu. Awal yang manis di suatu pagi yang cerah di salah satu sudut universitas. Lelaki itu melemparkan senyum pada sang perempuan sambil menyodorkan sehelai saputangan yang terjatuh dari saku bajunya. Senyum yang sempurna yang mampu membuat hatinya berdebar begitu kencang.

“Terimakasih. Marie Jean Jacquez,” tangan mungil sang perempuan terulur.

“L’Oiseau Bleu. Boleh aku memanggilmu begitu?”

Mata perempuan itu membulat. Sang lelaki tertawa renyah.

“Aku sudah lama mengamatimu. Namun baru kali ini bisa menegurmu. Berkat saputangan ini,” sang lelaki tersenyum memandangnya.

“Kenalkan, namaku Arya. Adikarya Anugerah.”

Lalu kehidupan menjadi begitu indah setelahnya. Sang lelaki begitu memperhatikannya. Seorang perempuan yang biasa-biasa saja. Seorang yatim piatu yang tinggal di pinggiran kota Paris, Courbevoie.

Ia yang tertawa dengan bebas bersamanya di sudut-sudut taman kota Paris. Berjalan-jalan menyusuri sungai Seine, Eiffel, museum Louvre… Melewati jalan setapak sempit yang membawa mereka ke sebuah taman kecil tempat berkumpulnya seniman Montmartre… Menyenangkan sekali membawa kanvas dan berjajar dengan para pelukis yang ada di sana, sekedar ingin mengabadikan salah satu sudut kota yang akan menjadi kenangan.

Ia, perempuan, yang memainkan karya-karya Mozart khusus untuknya sambil menikmati bulan di teras apartemennya. Perempuan yang terpingkal-pingkal melihatnya sangat percaya diri berdansa tango dengan gerakan tarian Jawa yang justru menghasilkan gerakan-gerakan tak beraturan. Ia yang bersusah payah mempelajari bahasa Indonesia, terlebih bersusah lidah untuk sekedar membiasakan diri memanggil ‘Mas’ untuknya…

“Mmm-a-s…?”

“Mas!”

“Mas!”

Great! Suara seksi sang perempuan lebih mirip seorang banci. Seharusnya ia lebih tipis lagi dalam mengucapkannya. Mulanya lelaki tak suka mendengarnya dan berencana untuk merelakan saja panggilan lain, asal tidak ‘Mas’. Tapi ternyata lama-kelamaan ia merindukan dan menikmati panggilan itu keluar dari mulut sang perempuan hingga detik ini, saat ini, meski kadang harus bercampur baur dengan bahasa Perancisnya,

Nous I’aimons, Mas,” bisiknya pelan. “Kami mencintaimu, aku dan bayimu…”

Ia yang… segalanya. Hingga ia yang memutuskan masuk Islam dan menikah dengannya, sang lelaki. Tidak ada yang keberatan atas keputusan itu. Merekapun menikah di Jakarta, Indonesia. Dan sejak masuk Islam itulah Arya memilihkan nama Afifa untuknya, sekaligus menasbihkannya menjadi satu-satunya ratu di kerajaan hatinya.

*******

Larane lara orang kaya wongkang nandang wuyung

Mangan ra doyan ra jenak dolan neng omah bingung

Perempuan yang melihat bulan itu nampak mulai mengembang dan mengempis hidungnya. Airmatanya sudah lebih dulu jatuh satu-persatu. Tangan halus dan jemari lentiknya pelan membelai perut besarnya yang terlihat berkilau tertimpa cahaya bulan.

Aku ingin menjadi pelitamu. Hingga jika kau mengalami kegelapan di sana, aku dapat segera menyinarimu… Aku ingin menjadi keluasanmu. Hingga jika kau memikirkanku, maka semuanya akan menjadi lapang… Namun Allah juga yang pantas memberi pelita serta keluasan… Duhai, apa yang sedang terjadi di sana?

…..dooooorr!! Doooor!!

“Habisi militer!”

Bummm!!

“Serang…….!!!”

Dor! Dor…!!

Bibir lelaki itu terkatup rapat menahan pedih. Tubuhnya terasa ngilu. Ada beberapa peluru yang bersarang di tubuhnya. Entah pada bagian mana. Ia yang tersandra oleh kelompok GAM itu tak sempat mengelak ketika terjadi baku tembak antara Gam dan tentara NKRI.

Tembak-menembak terus terjadi…..

Dalam beribu duka tanpa pernah berusaha mengeluh, lelaki itu mengingat istrinya…

“Kami tampilnyaaaaaaaaaa…,” jerit sang istri sambil berderai-derai tawanya.

“Kok tampilnya? Tampilkan dong!”

“Suka-suka dinda, dong!” sang istri tersenyum genit.

“Hehehe…”

“Kami tampilnyaaaaaaaaaaaaa, reporter kita, ustadz Aryaaaaaaaaa!”

“Lho, reporter kok ustadz?”

“Ya, kan reporternya sholeh. Di luar ia mencari berita. Di rumah ia mengajar istrinya.”

Mata perempuan itu bercahaya… Lelaki itu bisa melihatnya pada kedalaman matanya.

“Mmm…, nda, kalau mas pergi meliput ke Aceh, lalu… meninggal…. nanti, gimana?”

“Ya, dinda nikah lagi.”

“Lho?!”

“Habis, sebagai muslim kan nggak boleh berlarut-larut dalam kesedihan?”

Mulut sang lelaki manyun beberapa senti.

“Gitu, ya…”

“Lho, lho… Kok pergi? Katanya mau menjelaskan tentang situasi di Aceh? Tentang perjuangan di sana?” buru sang istri mengejar sosoknya yang melangkah keluar kamar.

“Masa baru digodain begitu saja ngambek?” perempuan itu mulai tertawa-tawa.

“Dinda, sih…”

Sang istri segera menarik baju suaminya, memutarnya, menghadap ke arahnya.

“Jangan ngambek, dong. Jangan pula berpikir yang tidak-tidak. Semoga Allah memudahkan semua urusan mas di sana. Mas banyak ilmu dan pengalaman kok. Ingat cita-cita mas ketika masih di Paris kan? Mas ingin mengabdikan diri melalui jalur jurnalistik, mas ingin menjadi reporter yang bisa mewartakan berita-berita bagus di media, mas ingin kelak memiliki penerbitan besar yang akan menyajikan berita-berita yang tak bias…”

Lelaki itu tersenyum.

“Mas tahu dinda bercanda… Tapi kalau memang Allah mentakdirkan mas meninggal di sana, dinda boleh menikah lagi.”

Perempuan itu tercekat.

“Mas, pulang ya… Dinda akan selalu menunggu. Dinda dan bakal bayi kita, akan selalu menunggu…”

Lelaki itu nampak bersusah payah menahan pedih yang menyayat. Tubuhnya mulai terlihat lemah.

*******

“Aduuhhhhhh……..!” perempuan itu mengeluarkan jerit yang tertahan.

“Sudah mau melahirkan kok tidak segera masuk! Sudah saya peringatkan, jangan jalan-jalan terus! Kalau bayinya tiba-tiba keluar bagaimana?” tegur seorang perawat yang luar biasa mahal senyumnya.

Perempuan itu tak berani memandang. Untung saja sang dokter kandungan menyambut kedatangannya di ruang bersalin dengan senyum yang begitu lebar.

“Ayo, bu… Dipersiapkan,” ujar sang dokter lembut, penuh kesabaran.

Perempuan mulai mengejan…

“Yak! Terus!”

“Ughhh…,” ia mengejan kuat-kuat.

“Sedikit lagi, bu! Terus!”

“Uffhhh… Hhh…,“ ia tampak mengatur nafas.

“Jangan berhenti! Sudah mulai kelihatan kepalanya,”

“Nghhh… Nggghhh….,”

Mata perempuan terpejam rapat-rapat. Ada sosok lelaki di sana. Tersenyum padanya.

“L’Oiseau Bleu!”

Perempuan kembali mengejan.

“Ayo dinda! Terus! Ayo! Sebentar lagi anak kita lahir. Matanya mungkin akan seperti matamu, biru.”

“L’Oiseau Bleu!”

“Uuuuuuughhhh…..,”

Ia mengejan kuat-kuat, berkepanjangan.

Oaaaa….. oaaa…..

“Laki-laki!”

L’Oiseau Bleu, burung biruku, selamanya cinta… Allah akan selalu menjagamu, dinda. Dinda pasti kuat.

Bayangan lelaki tegak berdiri di pelupuk matanya. Air matanya berlinang-linang. Alunan Chopin yang selama ini terasa mengiringi kesedihannya tiba-tiba menyeruak tajam dalam pendengarannya, silih berganti dengan tangisan asing yang kini hadir dalam hidupnya. Menjadi backsound detik-detik hidupnya yang memilukan.

“Aku akan membacakan kisah tentang Ali bin Abi Thalib, tentang Bilal, tentang apa saja sebelum dia berangkat tidur.”

“Tentang Les Enfants du capitaine Grant[5] juga kah?”

“Ya, itu juga akan kubacakan. Anak kita harus cerdas! Dia juga harus tahu kebudayaan ibunya.”

Ia melihat bayangan lelaki itu yang tersenyum padanya. Menatapnya. Tatapan itu masih sama. Lembut. Selembut hari pertama pertemuan mereka, malam pertama mereka, hari pertama ia memakai kerudung atas permintaannya dan hari terakhir ketika ia berpamitan padanya untuk pergi meliput ke Aceh. Hingga kini, tak lagi ada kabar berita… Kecuali satu yang sempat diterimanya: sang lelaki sudah tersandra oleh kelompok separatis Aceh.

“L’Oiseau Bleu! Burung biru. Kau akan tetap lincah meski terbang sendiri. Di belahan bumi manapun, Allah yang telah mempertemukan kita, dan Allah juga yang akan menjaga kita…”

Lelaki yang berada di Aceh masih menahan pedih. Tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sesekali matanya terpejam rapat-rapat, sesekali terbuka lebar. Kepalanya terasa berputar-putar. Ia tak sanggup lagi bertahan. Sudahkah ia mengajarkan pada istrinya jika suami meninggal tak usah meratap? Kesedihan baginya hanyalah empat bulan sepuluh hari saja…

Dan perempuan pun menangis kembali.

Apa kabar, wahai kekasih…?


[1] Burung biru

[2] Petualangan Bocah Paris (cerita anak-anak Perancis)

[3] Tiga Pramuka (cerita anak-anak Perancis)

[4] Wuyung karya Ismanto

Sakitnya sakit tidak seperti orang yang mengalami rindu

Makan tidak doyan, tidak enak main, di rumah bingung

[5] Anak-Anak Kapten Grant (cerita anak-anak Perancis)

h1

MANUSIA LANGIT

January 3, 2008
Oleh: Santy Martalia Mastuti
(MyBelovedDinda)

Aku berjalan ke arah barat. Menempuh perjalanan yang sudah semestinya. Dari sebagiannya aku merasa lelah. Pernah juga aku merasa ingin memutar haluan dari arah yang sudah tergariskan. Untunglah aku segera tersadar bahwa aku adalah seorang manusia langit.

Dari sebagian perjalananku, aku kehilangan komunikasi dari langit. Berada dalam kesendirian dan buta. Dalam kebutaanku, datang seorang manusia bumi. Tubuhnya memancarkan aura yang memikat. Penuh keindahan. Irene, begitu nama manusia yang kutemui. Wajahnya elok rupawan seperti gadis-gadis suci pembawa cinta dalam karya-karya Chateaubriand atau Shakespheare. Bersama Irene, aku merasa mampu menjadi Alfred de Musset yang berjaya dengan syair-syair romantisnya. Dengan memandang wajah Irene yang eksotis dalam merdu alunan Claire de Lune aku berhasil mengarang quatrain untuknya. Empat baris sajak dalam bait yang tiada henti mengagumi setiap inchi dari dirinya. Jendela hatiku terbuka. Terletak di ujung sana, menganga, hingga sinar Irene menerobos masuk ke dalamnya. Bercahaya di ruang-ruang hati. Dalam setiap jam yang berlalu, aku tidak lagi mendapat bisikan dari langit. Aku terlena.

Suatu hari Irene menyatakan cintanya. Betapa waktu seperti berhenti berputar. Sedetik kemudian wajahku tak lagi lebih dari satu mili dengannya. Kupuja dia dengan sepenuh hati. Detik ini aku merasa seperti tokoh yang sedang ditulis oleh Chateaubriand. Dengan demikian buku kisah romantisku akan segera terbit esok hari.

Kupandang Irene dengan sepenuh jiwa raga. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Menyaingi suara detik-detik jam yang terdengar keras di tengah sunyinya suasana. Saat ini aku ingin berbagi malam dengannya. Menikmati setiap hembusan angin yang bertiup tenang. Menjadi saksi kedekatan kami. Mata Irene melebar, senyumnya mengembang tidak sabaran.

Mendadak tubuhku menegang. Berkeringat. Sebuah bisikan yang begitu kukenal dulu menyentakku.

Hai manusia langit! Perhatikanlah makhluk di sekitarmu…..

Jantungku seperti berhenti berdetak. Refleks kupandang Ireneku. Kakiku mundur selangkah. Aku melihat sosok manusia bumi berdiri tegak di hadapanku. Manusia untuk bumi sebagai kampung halaman. Langkahku semakin surut ke belakang. Irene memandangku penuh selidik. Pelahan tubuhku melemas. Aku mendesah pelan. Kuciptakan jarak dengannya.

“Wahai Irene, suaramu sungguh indah, tapi yang aku cari adalah suara yang menimbulkan kepercayaan dan rasa tenang.”

Begitulah perkataanku mengakhiri kisahku dan Irene. Kutinggalkan Irene dalam deraian air mata indahnya. Kulangkahkan kaki membelakanginya. Tak ingin kupandang lagi gelisah hatinya.

Aku kini pergi. Meninggalkan warna-warna kelabu. Sedikit ringan, tetapi belum habis. Bayangan Irene dan kehidupan di langit bergantian memenuhi rongga-rongga pikir otakku. Setengah dari hatiku ada pada Irene. Setengah dari hidupku seperti berubah menjadi manusia bumi. Tergoda oleh hawa-hawa bumi. Aku mendengar genderang perang sudah ditabuh. Suara-suara dari bumi menarik-narik jiwaku. Mereka tidak berpedang tetapi mereka lebih berbahaya dari sebuah pedang. Jiwaku berontak. Marah! Aku hadapi tantangan mereka dengan gagah berani. Perang kali ini bagai sebuah perjamuan. Anggur-anggur dalam botol tertuang di mana-mana. Isinya menggoda mata. Gadis-gadis penari yang indah dan cantik meliuk-liukkan tubuhnya di tiap-tiap sudut ruang. Kembang api mulai dinyalakan. Suasana meriah telah tercipta. Aku berdiri tegap. Berusaha menguasai jiwa. Sesungguhnya kematian adalah kekalahan dalam hidup. Aku bangkit dan mengangkat pedang karena aku bukan seorang pecundang. Kuhancurkan seluruh isi perjamuan. Sebuah perjamuan… Dihadirkan untuk menciptakan sebuah basa-basi. Diiringi dengan jiwa manusia-manusia yang menyesatkan. Sungguh kekuatanku adalah anugerah. Dan doaku selalu menyunggingkan senyuman dari waktu yang telah menyudutkanku. Aku berlalu dalam doa-doa kebahagiaan. Kuingat, aku dan seorang manusia bumi pernah melewati jalan yang amat buruk.

Kini warna-warna romantis telah pergi. Layaknya senja berganti malam dan fajar berganti pagi. Sekilas aku mengingat Irene. Dukanya tertiup angin sampai ke telingaku. Doa-doaku menguap ke awan. Menjaganya dari jauh.

Aku adalah seorang manusia langit. Manusia bumi untuk langit sebagai kampung halaman. Intuisi-intuisi langit mengalir seperti sungai-sungai bagi orang-orang yang berpikir tentang kehidupan di langit. Manusia langit mempunyai dua sayap. Di sebelah kanannya iman dan di sebelah kirinya adalah nafsu. Manusia langit suka mendapat pelajaran dan sangat suka memberi pelajaran

Berawal dari kesadaran aku menemukan arah perjalananku. Menuju ‘ada’ yang kerap ditiadakan oleh manusia-manusia bumi yang tidak pernah berpikir tentang negeri langit. Aku kembali meneruskan perjalananku untuk mengajak manusia berpikir tentang negeri langit. Negeri yang diperintah oleh sebuah kebenaran ‘ada yang absolut’.

Perjalanan manusia-manusia langit terus berlalu dan berganti. Jika aku bertemu dengan sesama manusia langit, kami sering bertegur sapa. Di antara mereka ada yang membisikkan sebuah kata kepadaku,” inquietum est cor meum donec requiescat in te deo.” Gelisah hatiku sebelum beristirahat di pelukan Tuhan.