Archive for the ‘Uncategorized’ Category

h1

SEJARAH PERADILAN DI ZAMAN NABI SAW

July 16, 2009


Oleh: Muhamad Sahrul Murajjab

Dalam kajian teori-teori terbangunnya suatu peradaban, terdapat sebuah pendapat populer yang menyatakan bahwa cara pandang dunia (worldview) yang dilahirkan dari semangat (elan vital) yang dibawa oleh ide-ide atau gagasan ajaran keagamaan (al-fikrah al-dīniyyah) merupakan unsur paling penting terbangunnya sebuah peradaban.[1] Dalam konteks ini, kemunculan Islam di Semenanjung Arabia sekitar abad ke-7 Masehi telah menjadi faktor utama penggerak munculnya sebuah peradaban baru yang terlahir dari sebuah wilayah yang secara geografis dikelilingi oleh tanah gersang dan secara sosiologis telah berabad-abad tenggelam dalam kegelapan kebodohan.

Oleh sejarah, bahkan masyarakat yang mendiami wilayah Semenanjung Arabia tersebut cenderung terabaikan karena selain disebabkan oleh kebiasaan mereka yang nomaden (berpindah-pindah) juga disebabkan pula oleh ketidakadaan kesatuan institusi politik yang mempersatukan suku-suku yang justru seringkali saling bermusuhan, disamping juga kenyataan bahwa mayoritas masyarakat bangsa mereka adalah buta huruf (ummy). [2]

Islam sejak awal sejarah kemunculannya, dengan Sang Nabi Muhamad SAW sebagai tokoh sentral, sebagai agama kemudian secara cepat melahirkan sebuah komunitas masyarakat madani (civil society) bernegara-berperadaban di Madinah dimana dalam mata rantai sejarah peradaban Islam merupakan fase terpenting dibangunnya prinsip-prinsip utama dan dasar-dasar yang kokoh bagi terbangunnya sebauh peradaban baru tersebut dengan memberikan landasan-landasan ideologis-normatif maupun berbagai tata cara praktis sebagai sumber mata air  keteladanan generasi-generasi berikutnya.

Termasuk hal tersebut di atas, masyarakat-negara yang dibangun oleh Nabi SAW telah memberikan bebeberapa latar belakang dan model awal instrumen-instrumen dan institusi-institusi yang menjadi menjadi pilar penting keberadaan sebuah masyarakat-negara. Maka jika dalam perspektif ilmu ketatanegaraan modern mengenal tiga lembaga kekuasaan Negara atau yang disebut sebagai trias politica yakni kekuasaan lembaga legislatif, eksekutif dan judikatif maka ternyata Rasulullah SAW telah mempraktekkan tiga bentuk institusi tersebut.

Dalam konteks pengantar/pendahuluan di atas, tulisan ini akan berupaya mengeksplorasi sejarah salah satu institusi trias politica tersebut yaitu institusi judikatif (peradilan) di zaman Nabi. Kajian terhadap tema ini akan menemukan arti pentingnya karena dengan mengerti dan memahami sejarah awal dan konsepsi peradilan di zaman Nabi akan memudahkan siapa saja untuk lebih mengenal semangat keadilan yang dibawa oleh ajaran Islam itu sendiri dan pernah dipraktekkan melalui peradaban Islam selama berabad-abad, sehingga tidak keliru jika Edmund Burke (1729-1797), seorang penulis-negarawan Inggris, mengakui bahwa “sesunguhnya undang-undang/hukum Islam diterapkan kepada semua umat Muslimin tanpa ada perbedaan antara raja yang sedang bertahta dengan seorang pembantu yang lemah. Undang-undang hukum Islam telah tersusun dengan sangat rapi dan kokoh, sehingga secara nyata telah menjadi hukum/undang-undang yang amat sangat mendasar dan paling cemerlang yang pernah dikenal oleh sejarah manusia”.[3]

BACA SELENGKAPNYA DI SINI


[1] Ibn Khaldūn adalah ahli sejarah pertama yang mencetuskan teori ini, yang kemudian diikuti oleh pakar sejarah perdaban seperti Arnold Toynbee dan Mālik Ben Nabi. Lihat dalam Sulaymān al-Khatīb, Usus Mafhūm al-Hadlārah fī al-Islām, Kairo, Al-Zahrā’ li al-I`lām al-`Arabi, Cet.I, 1986, hlm. 73-80

[2] Hasan Ibrāhīm Hasan, Tārikh al-Islām: al-Siyāsi wa al-Dīni wa al-Tsaqāfi wa al-Ijtima`i, Beirut-Kairo, Maktabah Al-Jīl & Maktabah al-Nahdlah al-Mişriyah, Vol. I, Cet. 14, 1996, hlm. 7

[3] M.M. Sharīf, Al-Fikr al-Islāmi: Manābi`uhu wa Ātsāruhu, Kairo, Maktabah al-Nahdlah al-Mişriyah, Cet. 8, 1986, hlm. 62. Buku yang aslinya berjudul Islamic Thought: It’s Origin and Achievements ini diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan dikomentari serta diberi beberapa tambahan oleh oleh Dr. Ahmad Shalabi.

Advertisements
h1

Ajaran Saling Menasehati

September 26, 2008

ALLAH SWT telah menciptakan manusia dalam fitrah dan kapasitasnya sebagai makhluk individual yang bersifat pribadi, sekaligus sebagai makhluk sosial yang terikat keniscayaan untuk saling berinteraksi, bermasyarakat dan berjamaah dengan individu lainnya (madaniyyun bi thob’ihi).

Dua dimensi fitrah ini, meski saling berbeda dan tampak berseberangan namun tidak bisa saling terlepas antara fungsi salah satu dari lainnya. Sebab dari individu-individu itulah terbentuk warna, karakteristik, tata kehidupan dan bahkan peradaban sebuah komunitas masyarakat atau jamaah. Begitu pula sebaliknya, bahwa pola hidup dan corak masyarakat secara keseluruhan akan banyak mempunyai ta’tsir (pengaruh) terhadap masing-masing individu di dalam komunitas masyarakat tersebut.

Islam sebagai agama yang komperehensif secara integral telah mengatur bagaimana setiap orang diupayakan agar menjadi sosok individu yang baik dan ‘terbaik’ dalam dirinya , sekaligus menata sistem hubungan sosial antar individu tersebut guna mencapai terbentuknya masyarakat dan jamaah ‘terbaik’ pula.

Salah satu ajaran Islam terpenting tentang cara hidup bersosial yang benar adalah adanya penegakan kritik sosial antar individu, tanasuh (saling menasihati), dan amar ma’ruf nahi munkar. Rasulullah SAW pernah suatu kali mengilustrasikan tentang para penumpang perahu, jika terdapat sekelompok pembuat dosa yang berusaha melubangi bagian tertentu dari perahu tersebut kemudian penumpang lainnya bangkit untuk mencegahnya, maka mereka telah menyelamatkan para pembocor dari tenggelam dan menyelamatkan seluruh penumpang perahu lainnya. Tetapi jika tidak seorangpun bangkit mencegah perbuatan tersebut maka akibat perbuatan segelintir orang tersebut akan dapat menenggelamkan semua penumpang perahu (HR. Bukhori).

Dalam surah Al ‘Ashr (QS.103: 1-3) Allah menegaskan bahwa kriteria golongan manusia yang selamat dari kerugian dalam setiap satuan waktu adalah mereka yang tidak terhenti sebatas beriman dan beramal saleh, melainkan harus juga peduli dengan keimanan dan kesalehan orang lain dengan jalan “kerja sosial” untuk saling menasihati dan saling kritik.

Sighat atau bentuk kata yang dipakai dalam ayat tersebut (wa tawaashau) menunjukkan kata kerja berbalasan. Artinya mau memberi kritik dan nasehat sekaligus siap menerimanya dari orang lain. Hal ini tentunya membutuhkan kekuatan pribadi masing-masing individu. Sang pemberi nasehat haruslah ikhlas dalam nasihatnya dengan meniatkannya demi kebaikan dan perbaikan bagi orang yang dinasehati. Bukan malah menjadikannya sebagai alat menjatuhkan martabat, mengumbar aib, atau demi mengejar vested interest. Dia hendaknya juga bersikap bijaksana dengan memilih kata-kata yang baik dan memperhatikan kondisi yang tepat (lihat QS. An Nahl/ 16: 125).

Sebaliknya orang yang diberi nasihat mesti menerimanya dengan jiwa besar dan sikap terbuka, seperti di teladankan Umar ibn Khattab dengan ungkapannya,” rahimallahu imraan ahda ila ‘uyubi” (semoga Allah merahmati seseorang yang menunjukkan kesalahanku). Allah memuji sikap terbuka ini, “…maka berilah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku. Yaitu mereka yang mendengarkan perkataan, kemudian mengikuti mana yang terbaik. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang berakal budi.” (QS. Az Zumar/39: 17-18).

Nasehat tidak terbatas pada ucapan-ucapan verbal. Tetapi bisa pula dengan perilaku yang baik yang akan menjadi cermin hidup. Rasululah bersabda,”Seorang mu’min adalah cermin bagi mu’min lainnya”.(HR. Abu Dawud). Bahkan bahasa keteladanan seringkali lebih fasih dan effektif dari bahasa lisan (lisaanul hal afsohu min lisaanil maqaal).

Kritik dan nasehat adalah instrumen signifikan dalam proses mencapai kebenaran. Sebab manusia seringkali tidak mampu untuk mengevaluasi dirinya sendiri. Otokritik dan muhasabah juga pekerjaan yang tidak mudah. Atau terkadang persepsinya terhadap baik dan buruknya sesuatu itu sangat subyektif. Disinilah diperlukan kritik dan nasehat dari orang lain sebagai masukan.

Namun perlu diingat bahwa sikap terbuka dalam menerima nasehat haruslah dibarengi kewaspadaan tipu daya orang yang sok memberi nasehat, padahal ingin menjerumuskan. Sebagaimana dilakukan Ibis terhadap Adam dan istrinya seperti terekam dalam surat al A’raf (QS. 7: 21), “Dan dia (Iblis) bersumpah kepada keduanya (Adam dan istrinya), sungguh saya adalah termasuk orang yang memberikan nasihat kepada kamu berdua.” Di lain ayat Allah berfirman,”Dan diantara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikan kepada Allah atas isi hatinya, padahal ia adalah penentang yang keras.”(QS. Al Baqarah/2:204). Wa Allahu a’lam.

Arsip Mei 2003(4?)


h1

Hello world!

December 28, 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!