h1

M I M P I

June 2, 2009

MIMPI

Oleh: Santy Martalia Mastuti

Ngamboro ing ngawang-ngawang

Hangelangut bebasan tanpa tepi

Narabasing mega mendung

Miber ngiteri jagad

Ngulandoro ngamboro ngunggahi gunung

Tungkul ngumbar gagasan

Satemah ginowo ngimpi…

Mengembara dalam angan-angan

Terhanyut tanpa batas

Menerabas mega mendung

Terbang mengitari dunia

Mengangkasa menaklukkan gunung

Mengumbar angan-angan

Hingga terbawa mimpi…

Raden Roro Dyah Lintang Kawuryan Hadinata menghembuskan nafas kuat-kuat. Pandangannya tidak menentu. Serasa ada sebuah beban berat menghimpit dadanya. Baris-baris syair yang sempat dihafalkannya dulu diejanya pelan-pelan. Kalau tidak salah syair itu adalah pengantar sebuah lagu Jawa yang berjudul Mimpi. Entah siapa pengarangnya. Ki Narto Sabdo? Gesang? Mujoko? Entahlah, Lintang sudah lupa. Ia bahkan tidak tahu lagi jenis-jenis syair Jawa. Dia lebih fasih dalam mengenali quatrain atau madrigaux yang kesemuanya itu adalah syair-syair dalam sastra Perancis. Sungguh Lintang sudah tidak ingat lagi sejak kapan dirinya mulai mencintai pernak-pernik negeri yang pernah memiliki seorang ratu dengan alur hidup begitu dramatis, Marie Antoinette. Khususnya pada dunia sastra. Entah mengapa pula dulu terpikir oleh Lintang untuk menimba ilmu di negeri tersebut. Namun salah satu alasan kuat yang dapat dipahaminya hingga sekarang adalah keinginannya dahulu untuk menjadi penulis terkenal di dunia. Ternama. Glamour. Berbeda dengan gaya hidup bangsawan tanah Jawa yang sangat konservatif.

Tahun pertama kuliah di fakultas sastra ternama kota Paris, setelah berhasil melalui perdebatan panjang dengan Romo, tak bosan-bosannya ia menulis karya-karya ringan termasuk cerpen-cerpen yang banyak mengutip nama-nama sastrawan besar. Sekedar memamerkan kehebatan pengetahuannya. Karya-karyanya banyak diminati di tanah air. Begitu bangganya Lintang saat itu hingga akhirnya menyadari  bahwa sesungguhnya wujud kehebatan estetika yang tidak berasal dari intuisi-intuisi yang dilahirkannya sendiri adalah semu belaka.

Tujuh tahun mendalami sastra  di Paris belumlah mampu menjadikan dirinya seorang sastrawan besar. Namun demikian, melihat kejeniusan Lintang dalam berkarya sudah lebih daripada cukup untuk membuktikan bahwa dirinya berbakat menjadi seorang sastrawan besar.

“Hai!”

Lintang terlonjak kaget.

“Eh! Kok teriak, sih?” Lintang membelalakkan matanya. Tampak sedikit kesal.

“Lho? Kok kamu yang sewot? Memangnya enak dicuekin…,” Wulan pura-pura marah setelah begitu lama diabaikan Lintang yang asyik dalam lamunan.

“Dih…,”

“Jangan banyak melamun, dong! Ini Jogja, jeng. Bukan Paris.” Wulan tertawa.

“Aku tahu.”

“Lalu? Langkah konkritnya?”

“Tentang tawaran pekerjaan itu?”

“Tepat sekali! Penerbitan itu memang belum besar. Tapi kalau kamu bersedia bergabung, mungkin kita bisa lebih berkembang.”

“Hmm…,”

“Coba kamu pikir, jeng! Ini kesempatan berda’wah, lho. Katanya mau komitmen ke Islam?”

“Tapi aku masih perlu banyak belajar. Pengetahuanku tentang Islam sangat minim. Berjilbab pun belum. Aku khawatir…,”

“Khawatir apa? Dengan kualitas pengalamanmu sebagai penulis, kamu pantas menjadi seorang editor. Memang tidak semegah tawaran-tawaran dari media lain yang lebih hebat. Justru keikhlasan dan niat baik kamu sedang diuji saat ini. Kamu bisa terus berproses, jeng. Kecuali…,” lanjut Wulan, “itu mengganggu rencanamu.”

“Rencana?”

“Bukankah kamu masih punya rencana untuk kembali ke Perancis? Bukankah di Jogja ini kamu hanya ingin bersantai sejenak? Melepas kerinduan akan tanah Jawa? Orangtua?”

“Hmm…,” Lintang tersenyum kecil.

“Kalau menurutku, sih, lebih baik kamu menetap di sini saja. Kamu bisa jadi dosen sastra, kan? Lagipula Romomu sangat berharap agar kamu tidak kembali ke Perancis. Apa sih yang kamu cari? Kamu tidak kekurangan suatu apapun, lho, jeng! Uang? Modal? Apalagi? Semua sudah tersedia! Bahkan tawaran bergabung ke penerbitan sudah dua kali kamu tolak.”

“Gimana? Aku nggak mau maksa, lho. Kantor penerbitan yang aku tawarkan ini kan memang tidak seberapa…,” Wulan menatap Lintang yang tampak sedang berpikir keras.

“Aku pikir-pikir dulu, deh.”

*****

Ngamboro ing ngawang-ngawang

Hangelangut bebasan tanpa tepi

Narabasing mega mendung

Miber ngiteri jagad

Ngulandoro ngamboro ngunggahi gunung

Tungkul ngumbar gagasan

Satemah ginowo ngimpi…..

Ini Jogja,  bukan Paris. Lintang tahu itu. Jogja lain dengan Paris. Sekarang ini memasuki bulan keempat Lintang berada di Jogja, kampung halamannya. Namun entahlah…. Belum terlintas keinginan untuk menetap di Jogja seperti saran Romo, Ibu, dan terutama Wulan. Dia masih ingin kembali ke Perancis. Ada sesuatu yang masih mengganggu pikirannya.

Pada kenyatannya, justru di kota ini Lintang mendapat kehidupan baru. Pertemuannya dengan Wulan, sahabatnya waktu SMU dulu, mendatangkan banyak cerita. Lintang tidak pernah menyangka bahwa Wulan yang sangat kacau ketika SMU dulu akan berpenampilan layaknya fundamentalis Islam. Sungguh Lintang tidak habis pikir. Bagaimana itu bisa terjadi? Namun setelah banyak berdialog dengan Wulan, Lintang merasa argumentasi Wulan dalam menjelaskan perubahannya itu sangat masuk akal. Lintang mulai terlihat antusias menyimak pemikiran-pemikiran Wulan. Terlebih dalam konsep ketenangan batin yang selalu ditonjolkan Wulan dalam uraiannya. Ada kesejukan lain yang bisa dirasakan Lintang dan itu tidak bisa dinalar. Wulan sangat berjasa dalam mengenalkannya akan eksistensi Tuhan yang begitu sejalan dengan falsafah hidupnya. Meski demikian bukan berarti dulu ia seorang ateis. Ia adalah seorang penganut filsafat Leibniz fanatik. Bedanya, mungkin, konsep hidup serta konsekwensi-konsekwensi yang ditawarkan Islam telah mempengaruhinya sedemikian jauh sehingga membuatnya merasa lebih bisa menjiwai nilai-nilai keilahian dengan seluruh jiwa raganya. Dia mampu melakukan itu semua. Namun sungguhpun demikian, satu yang mengusik hatinya. Dan itu sama sekali mampu melemahkan jiwanya. Bahwa separuh hatinya sudah tiada, menyatu dalam diri seorang pria. Bahwa kenyataannya dia masih begitu mencintainya. Mengubah alur hidupnya terasa begitu mudah, mengganti tema-tema karyanya bukan pula perkara yang rumit. Tetapi mengubah hatinya, bahkan meniadakannya adalah hal besar.

Peter Chin, namanya. Seorang peranakan Tionghoa berkebangsaan Malaysia. Dia adalah partner kerja sekaligus kekasih semasa di Perancis dulu. Selepas hidayah itu datang,  untuk bisa berdampingan dengan Peter adalah sebuah mimpi belaka. Dia hanya bisa mengembarakan angan-angan untuk sekedar membayangkan sebuah kehidupan dimana Peter sebagai nahkodanya dan ia sebagai penghuni kapalnya. Namun pada kenyatannya perasaan itu harus dibunuhnya.

Tidak dipungkiri. Bersama Peter, hari-harinya terasa menggairahkan. Setiap pagi Peter akan menyempatkan diri mendatangi flatnya – Peter tinggal satu gedung dengannya – untuk memainkan Fur Elise, ritual hariannya demi membangunkan Lintang dari tidur nyenyaknya.  Pada waktu-waktu senggang Peter selalu mengagumi penciptaan dirinya yang begitu indah hingga ia merasa ‘wajib’ untuk  mengabadikannya dalam lukisan. Peter memindahkan setiap garis dan lekuk tubuhnya dengan gerakan hati-hati, begitu tenang, khidmat, dan penuh hasrat agar ia bisa terus bekerja seperti ini. Penuh kesederhanaan seperti Sanzio Raphael, seorang pelukis klasik Italia yang begitu setia bekerja untuk para Paus. Sungguh Peter adalah seorang laki-laki yang tahu bagaimana harus memperlakukan dan membuat perempuan merasa begitu tersanjung dan terhormat. Dia lembut dan selalu berbicara dengan lembut pula, tetapi singkat, jelas dan tidak bernada menggoda. Dia sangat mempercayai Tuhan, meski dia tidak menganut satu agamapun. Jika dia pergi ke gereja, maka orang-orang di dalamnya akan mengira dia seorang yang taat karena penampilannya khas seorang mahasiswa seminari. Demikian juga bila ia pergi ke sinagog, maka orang-orang di dalamnya pasti akan mengiranya seorang Yahudi yang taat karena perawakannya yang tegas, tenang, penuh percaya diri. Pernah ia begitu ingin pergi ke masjid yang terletak di salah satu sudut kota Paris. Namun ketika ia melihat seorang wanita berkerudung dengan santun melewatinya dan bergegas mendahului langkahnya masuk ke gedung sebelah masjid, ia langsung menghentikan langkah dan berbalik menjauh. Ketika  Lintang bertanya mengapa dia berlaku seperti itu, dia hanya menjawab pelan, “Takut jatuh cinta. Kau tahu? Mereka begitu indah.” Lintang terbahak mendengar jawabannya. Apanya yang begitu indah? Pikir Lintang geli. Peter mendengus.

“Saya hairan. Kau selaku orang yang beragama Islam, bolehlah pakai pakaian macam tu. Siapa nak mahukan kau dalam pakaian macam tu? Saya pun bisa berlindung daripada godaan syaitan,” kata Peter menggoda.

Lintang tertawa terbahak-bahak.

“Siapa yang beragama Islam? Saya seorang penganut Leibniz taat seperti kamu!”

“Macam mana Leibniz adalah sebuah agama yang boleh dianut-anut?” Peter tertawa menimpali.

Nulla dies sine linea, tiada hari tanpa baris-baris tulisan. Begitu mungkin falsafah hidup mereka di Paris. Entah sendiri, entah bersama-sama, mereka berdua menulis dan berkarya. Sedikit berbeda dengan Peter yang suka menulis sajak dan naskah drama yang berbau mistis, Lintang justru menyukai karya-karya romantis. Jika Peter seorang pengagum Verlaine, Lintang adalah pemuja Shakespeare. Begitu cintanya Peter dengan dunia sastra hingga dalam gurauannya ia selalu mengangankan untuk bisa dikubur di Pere-Lachaise jika ia mati kelak. Bersanding dengan kuburannya. Di mata Lintang, diri Peter seperti memancarkan sinar yang mampu membuatnya bertekuk lutut mengagumi seluruh pesonanya.

Lebih dari satu tahun yang lalu, ketika Lintang berniat kembali ke tanah air, Peter melamarnya. Menghalang-halangi niatnya dan menawarkan suatu kehidupan baru di Paris, atau di kota manapun di belahan bumi Perancis. Hanya ada Lintang dan Peter saja, kelak bersama anak-anak mereka pula. Kalaulah Lintang menolak keinginannya, bukan berarti ia ragu akan cintanya. Bukan berarti Peter mempunyai banyak kekurangan. Peter adalah seorang yang tampan, tidak kalah dengan wajah pangeran-pangeran Eropa dalam cerita-cerita negeri dongeng atau negeri betulan. Ia adalah seorang yang kharismatik, seorang sastrawan yang mulai diperhitungkan keberadaannya. Karya-karyanya mulai berjaya dalam kelas dunia. Terlebih, Peter berasal dari kalangan terhormat di Malaysia. Namun pada hakekatnya, waktu itu Lintang benar-benar belum siap untuk membina sebuah rumahtangga, apalagi jauh di negeri orang. Diakuinya memang waktu itu ia sedikit konservatif bahkan cenderung kekanak-kanakan. Andai sekarang hatinya begitu mantap dan ingin benar menjadi istri Peter, kenyataan hidup sudah menjadi lain. Sebagai seorang muslimah, jangankan cara hidup Peter yang agak bebas, agama Peter yang tidak jelas memaksa dirinya untuk segera melupakannya. Namun kadangkala, keinginan untuk menikah dengan Peter dan tinggal di Paris masih saja membayang di pikirannya.

Sungguh itu membuat Lintang menjadi demikian resahnya. Apalagi jika mengenang pembicaraannya dengan Peter sehari yang lalu di IRC.

<Peter> Lintang marahkan Peter?

<Lintang> Tidak.

<Peter> Saya tak faham. Habis, mengapa diam-diam saja?

<Lintang> …

<Peter> Saya tunggu Lintang kat Kuala Lumpur. Nak bual fasal ni.

<Lintang> Saya tak bisa menikah denganmu.

<Peter> Mengapa?

<Lintang> Jalan saya sudah berubah. Sudah saya katakan hal ini satu bulan yang lalu di telepon.

<Peter> Ingat ke Lintang ketika duduk berbual berdua di hotel des Grands Hommes Paris lepas meeting bersama penyelenggara pertunjukkan Zadiq ou la destinee empat tahun lepas?”

Lintang menarik nafas panjang. Resah. Siapa yang tidak ingat masa ketika mereka berdua menyatakan isi hati?

“Saya ingin bicara,” pelan suara Lintang memecah keheningan.

“Hem? Fasal apa ni?”

“Tidakkah kamu tahu isi hati saya?”

“Macam mana nak tahu? Hati Lintang tu di dalam. Bukannya boleh dilihat dari luar.” Peter melucu.

“Kalau begitu lebih baik saya tidak bicara.”

“Mengapa pula begitu!”

“Saya takut,”

“Kenapa takut? Peter kasih pada Lintang… Malah lebih dari itu,” pancing Peter. Sesungguhnya dia lebih dari mengerti apa yang ingin dikatakan Lintang. Dia sudah dewasa dan hatinya pun peka.

“Lebih? Lebih bagaimana?” Lintang tampak antusias.

“Tak tahu. Cuba Lintang teka!” goda Peter.

“Malu.” Lintang tersenyum membayangkan ‘lebih’ yang dijanjikan Peter padanya. Lebih dari kasih? Berarti ‘cinta’ kah?

“Pelik kau ni. Mula-mula takut. Ini dah malu pula,”

Okey. Lintang dengar cakap Peter. Peter nak katakan sesuatu hal,” lanjut Peter lembut.

“Tidak usah. Saya malu juga mendengarnya,” potong Lintang cepat. Dadanya berdegup kencang membayangkan apa yang akan dikatakan Peter. Wajahnya memerah menahan malu. Tampak sungguh kekanak-kanakan di mata Peter. Peter semakin bersemangat menggodanya.

“Lah…! Mula malu nak bercakap. Ini malu nak mendengar pula. Macam budak-budak ni. Tak patut le malu macam tu. This is 21st centaury!”

“Baik, saya akan jujur! I love you,”

“Ish! I can’t hear.”

“Bohong! Saya bicara keras sekali,”

“Sungguh!”

Lintang menatap Peter tajam. “Saya…,”

“Saya apa ni?”

“Saya cinta kamu,” ulang Lintang pelan, hampir tak terdengar.

Tawa Peter meledak mendengarnya.

Lintang tersinggung. Dipukulnya bahu Peter keras-keras dan bergegas pergi meninggalkan Peter yang termangu menatap kepergiannya. Sedetik kemudian tawanya meledak kembali menyadari Lintang masih berlaku kekanak-kanakan. Dia beranjak berdiri dan meraih gaun Lintang.

Sorry. I love you too. Saya benar-benar cintakan Lintang.” Peter menatap mata Lintang tajam dan dalam. Lintang menunduk diam. Semakin berdebar hatinya.

Itu empat tahun yang lalu.

<Lintang> Saya ingat. Tapi empat tahun yang lalu adalah tetap menjadi bagian masa lalu. Sekarang adalah kenyataan.

<Peter> Saya cintakan kau. Jika kau pilih Islam dan tak hendak lepaskan diri daripadanya, it’s ok! No problem. Bolehlah kita hidup sebagai suami istri. Lagipun sejak bila saya larang kau berislam?

<Lintang> Peter bersedia jika saya meminta Peter untuk masuk Islam?

<Peter> Ow, please… Jangan mulai! Lintang faham akan Peter. Selamanya saya tak nak ikut doktrin-doktrin macam tu.

<Lintang> Itulah….

<Peter> Cuba Lintang dengar cakap saya ni. Kita boleh berkahwin kat Indonesia. Lepas tu kita balik ke Paris. Kita hidup bersama. Soalan agama tu jangan diungkit-ungkit lagi. Tak nak?

<Lintang> Tidak semudah itu.

<Peter> Okey. Sekarang Lintang dengar. Saya pasti tak de perubahan yang bererti daripada hati Lintang tu. Sesungguhnya mommy nak tunangkan saya dengan seorang budak Singapor. Anak rakan sejawat.

<Lintang> So?

<Peter> Dalam satu minggu ini, bolehlah Lintang call ke Kuala Lumpur. Jika tidak, saya akan segera bertunang. Call me at 10.00 pm waktu Indonesia. I’ll be waiting for you. See you…

<Lintang> Wait!!!!!

***Peter (Quit: think about it!)

*****

“Ada masalah?” Wulan menatap Lintang serius.

“Tidak,” jawab Lintang pendek.

“Tapi mukamu kelihatan murung, tuh.”

“Oh ya?”

“He-em. Mau ditemani jalan-jalan? Ke Malioboro? Nyari barang-barang antik lagi?”

“Nggak, ah. Terimakasih.” Lintang tersenyum.

“Lan,”

“Hem?”

“Wanita itu lemah, ya…, kalau sudah menyangkut masalah hati. Cinta. Apalagi jika sang kekasih sehebat Arjuna.”

“Hahaha…,” tawa Wulan meledak.

“Dih!” Lintang cemberut.

“Oke! Sekarang masalahnya, Arjuna yang seperti apa dulu?”

“Arjuna yang dicintai beribu-ribu wanita.”

“O, yang itu? Pasti ada kisah yang mengatakan penolakan secara telak cinta mas Arjuna yang konon super cakep itu jika…,”

“Jika?”

“Jika yang di lamar adalah wanita Arab muslim, misalnya…,”

“Hahaha…. Nggak juga!”

“Kok?”

“Soalnya mas Arjuna mau bersyahadat dulu sebelum nikah.”

“Dih!”

Lintang tertawa terpingkal-pingkal.

“Cinta tertinggi itu hanya kepada Allah. Sedangkan cinta kepada manusia adalah refleksi dari kecintaan kita kepada Allah.” Wulan tersenyum kecil dengan tatapan penuh arti.

“Tetapi mengatur hati itu demikian sulit…,” ungkap Lintang.

“Aku paham. Hati itu mudah berbolak-balik. Jika sudah ada niat untuk menyerahkan hati ini pada Allah semata, maka segera kuatkan! Kalau sudah merasakan indahnya cinta Ilahiyah, semua masalah akan bisa diatasi.”

“Hm…,”

“Aku kira saat ini kamu punya masalah berat yang menyangkut hati. Tingkah lakumu tidak bisa menipu. Tapi aku tidak akan pernah memaksa kamu untuk bercerita. Aku yakin kamu bisa mengatasinya. Saranku, kalau memang harus memilih seorang laki-laki saat ini, kamu harus hati-hati, jeng. Jangan sampai menghancurkan hidayah yang sudah kamu raih.”

“Kamu harus ingat, jeng! Seorang muslimah harus menikah dengan seorang muslim. Kamu tidak bisa sembarangan memilih calon suami, lho. Suami adalah pemimpin kita. Salah memilih pemimpin sama dengan menghancurkan kehidupan kita di dunia dan akhirat.” Wulan menatap mata Lintang dalam-dalam. Sorot matanya menyimpan kelembutan meski dia mengucap dengan tegas.

“Hhh…,” Lintang membuang nafas panjang sementara Wulan terus berbicara.

“Kamu sekarang adalah muslimah. Jangan pernah terjebak oleh romantisme masa lalu. Kamu tidak boleh mengumbar perasaan, angan-angan, serta mimpi yang tiada habis. Kamu harus tegas!”

“Ya. Aku rasa kamu benar, Lan. Aku memang harus bisa bersikap lebih tegas saat ini. Tapi aku juga mau minta maaf, Lan. Saat ini aku merasa belum mampu terbuka dan membagi cerita ini padamu. Semua begitu cepat terjadi. Demikian berat. Aku hanya butuh waktu untuk berpikir sendiri dulu.”

“Tidak masalah, jeng. Allahu ma’ana.” Wulan tersenyum maklum.

“Eh, ngomong-ngomong, nih, tawaran itu masih berlaku nggak?”

“Apa? Penerbitan?”

“Ya.”

Sure! Anytime.”

*****

Jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam lewat. Bayangan Peter segera memenuhi otak Lintang. Jika ia tidak menelepon jam sepuluh malam ini, maka belahan hatinya itu akan segera menikah dengan orang lain. Meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Bukankah kesempatan itu tidak akan datang untuk kedua kalinya?

Lintang berusaha menenangkan diri. Dibukanya sebuah majalah wanita untuk mengusir galau sekaligus menghabiskan waktu yang terus berjalan sebab kantuk belum juga menguasainya.

Sekilas Lintang melirik jam. 20.46 WIB. Jantungnya berdegup kencang. Kembali, bayangan Peter yang lembut dan tak banyak bicara menari-nari di pelupuk matanya.

“Seorang muslimah harus memilih seorang suami yang sholeh,” terngiang kembali kata-kata Wulan sore tadi di teras rumahnya. Namun bukankah Peter memiliki kesempatan untuk ber-Islam? Pikir Lintang dengan mata bersinar. Meski Peter tidak pernah menyukai doktrin-doktrin agama, Lintang masih bisa mempengaruhinya bukan? Konon cinta bisa membuat orang melakukan apa saja. Termasuk menukar keyakinan, misalnya. Tetapi ini terlalu beresiko! Siapa yang bisa menjamin hati manusia? Siapa yang dapat menjamin dia bisa istiqomah mempertahankan hidayah yang baru saja menyapanya? Bukankah masih banyak kesempatan untuk mendapatkan cinta yang benar-benar tulus dan ikhlas karena Allah?

21.00 WIB.

Jantung Lintang berdegup lebih cepat. Bintik-bintik keringat pada dahinya begitu cepat membesar, menyatu satu sama lain membentuk butiran yang lebih besar dan menetes ke bawah mengaliri lekuk-lekuk wajahnya. Ditariknya nafas panjang-panjang sekedar melonggarkan saluran pernafasan.

21.30 WIB.

Allah! Berilah kekuatan! Wulan benar. Untuk apa memikirkan hal yang sia-sia? Untuk apa mendramatisir perasaan? Cinta hakiki itu hanya kepada Allah saja. Mencintai kekasihpun karena Allah semata. Cinta yang menuruti hawa nafsu akan membuatnya buta.

Jam Sepuluh kurang sepuluh menit. Kurang sepuluh menit lagi!

Kringgggggg….

Lintang terlonjak kaget. Jantungnya hampir melorot ke bawah demi mendengar bunyi telepon yang begitu tiba-tiba. Siapa pula menelepon malam-malam begini?

“Hallo,” jawab wulan pendek, sedikit kesal.

“Apa? Salah sambung!”

Klik.

Lintang hendak beranjak ke kamar ketika telepon itu berdering kembali. Dengan nada yang masih menyimpan kekesalan, tak urung Lintang mengangkatnya pelan.

“Hallo,”

“Hallo. Ini saya, Peter. Saya tak kisah jika cadangan saya tu kau tolak. Saya tahu siapa Lintang. Saya nak datang ke Jogja besok. Nak melamar. Maharnya adalah keislaman saya. Lagipun saya teringin sangat melihat Lintang mengenakan kerudung sebagai syarat menjadi istriku. Bagaimana?”

“Hallo? Lintang dengar tak cakap Peter? Berdoa kepada Allah. Moga Ia kekalkan kita di atas ikatan cintaNya. Besok saya berangkat daripada Kuala Lumpur. Jika Lintang tolak lamaran saya, sampai bila-bila pun saya tidak pernah menyesal. Saya dah cuba. Saya dah tahu kemana nak labuhkan cinta abadi. Fasal ni lebih seronok daripada cinta abadi macam Shakespeare punya. Bolehlah kita ni buat nouvel yang lebih bagus daripada karya Shakespeare tentang erti sebuah cinta abadi,” terdengar tawa kecil Peter di seberang.

Mulut Lintang ternganga tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Tubuhnya terus menegang meski sudah sejak lima menit lalu Peter menutup teleponnya.

“Hai! Bangun!”

“Peter?” Lintang terduduk di pinggir ranjang. Kedua matanya mengerjap-kerjap bingung menatap Wulan yang sudah ada di depannya sambil membelalakkan matanya.

“Peter? Siapa Peter?” kejar Wulan antusias.

Senyum Lintang mengembang seketika. Kesadarannya pulih. Pukul sepuluh malam telah berlalu. Lintang telah memutuskan untuk tidak menghubungi Peter. Bukankah dia lebih dari yakin bahwa cintanya hanya untuk Allah semata?

“Tadi aku bermimpi…,”

“Ah, cuma mimpi!”

“Dengarkan dulu, dong!”

“Apa?”

“Mimpiku itu indah sekali. Aku memakai jilbab. Lalu aku bekerja di sebuah penerbitan islami yang sangat besar sekali. Selanjutnya menikah dengan seorang muslim yang cakepnya seperti Arjuna, tapi mentalitas mirip Shalahuddin Al-Ayyubi.”

“Ah, kamu bohong, tuh!”

“Lho? Kok tahu?” Lintang tergelak.

“Dasar!” Wulan sewot.

“Memang bukan mimpi, sih!”

“Maksud kamu?”

“Begini, mbakyu… Kalau memang jilbab bekasnya masih ada, aku mau, lho, mewarisinya. Kalau tawaran kerjanya juga masih  berlaku, aku mau terima, deh! Soalnya tiba-tiba saja aku ingin menetap di Jogja.”

“Hah?! Kamu serius, nih?”

“InsyaAllah,”

“Serius?”

“Dua-rius. Seribu juga boleh kalau nggak kebanyakan.”

“Subhanallah, Lintang…,”

“Tapi aku masih belajar,  lho…,”

“Lalu Peter?”

“Ah, hanya Allah yang tahu. Mungkin aku akan mengirim email padanya. Mendo’akan supaya dia bahagia.”

“Alhamdulillah, kamu mulai bisa membuat keputusan yang arif.”

“Masalahnya aku harus hidup dalam alam realita, Lan. Bukan alam mimpi atau angan-angan belaka. Mungkin dengan membuka kenyataan baru seperti ini aku bisa lebih puas menjalani pilihan hidupku dan melupakan masa laluku yang begitu menyedihkan. Kamu tahu, kan? Ini Jog…,”

“ja,  bukan Paris! Jogja beda dengan Paris!” Wulan menyerobot kalimat Lintang gemas.

Kedua muslimah itu tertawa bersamaan.

——-THE END——-

Keterangan:

Jeng: panggilan Jawa untuk menghormati wanita yang lebih muda

Leibniz: mengajarkan bahwa Yang Maha Kuasa mengatur sebaik-baiknya kehidupan di alam raya ini

Fur Elise: karya Bethoven yang dipersembahkan untuk istrinya

Verlaine: penyair Perancis (1844-1896) yang mengutarakan penderitaan batinnya dalam sajak-sajak yang indah

Pere-Lachaise: pekuburan tempat dikuburkannya banyak tokoh Perancis, antara lain tokoh sastra

Zadiq ou la destinee: salah satu karya Voltaire

Kat: di

Nak: mau

Budak: anak

Bual: bicara

Bila: kapan

Saya pasti: saya yakin

Seronok: bagus

Saya tak kisah jika cadangan saya tu kau tolak : saya tidak peduli jika rencana saya itu kamu tolak

Advertisements
h1

Kajian Pemikiran Al-Kawakibi

May 25, 2009

Konsep Pembaharuan Politik dan Pendidikan

dalam Pemikiran `Abd Al-Rahman Al-Kawakibi:

Oleh : Muhamad Sahrul Murajjab

Pendahuluan

Sejak penghujung abad ke-18 hingga masa-masa pasca runtuhnya Kekhalifahan ‘Utsmani di Turki tahun 1924, yang dibarengi era imperialisme dan kolonialisme Barat terhadap negara-negara Islam, kondisi kesejarahan umat Islam berada dalam titik yang menyedihkan.

Pada masa-masa itu, Dinasti Mogul Islam di India jatuh ke tangan imperialis Inggris, demikian  juga dengan Kerajaan Safawiyah di Iran. Sejumlah negara-negara Islam atau berpenduduk mayoritas muslim juga berada dalam cengkraman imperialisme negara-negara Eropa. Sebut saja misalnya Indonesia yang berada di bawah kekuasaan Belanda, Libya dijajah oleh Italia; Tunisia, al-Jazair dan Maroko oleh Perancis, serta Mesir dan negara-negara sebelah selatan Jazirah Arab oleh Inggris.

Selama masa-masa tersebut negara-negara Islam terpuruk dalam keterbelakangan dan kemunduran peradaban di segala bidang baik sosial, politik, maupun ekonomi. Sementara didalam tubuh umat terjadi kelumpuhan potensi-potensi kekuatan yang dimilikinya.[i] Ajaran-ajaran Islam banyak ditinggalkan, sebagaimana bid’ah dan khurafat menggejala dimana-mana.

Sebagai respon terhadap situasi serba sulit bagi umat Islam ini, tumbuh  benih-benih kesadaran di tubuh sekelompok cendekiawan yang kemudian melahirkan gerakan-gerakan pembaharuan dan akhirnya mengkristal menjadi apa yang kemudian dikenal dengan istilah Al-Sahwah al-Islāmiyah.

Jika dirunut jauh kebelakang, gerakan-gerakan pembaruan ini memiliki akar sejarah pertumbuhan sejak dari gerakan-gerakan reformasi keagamaan yang muncul dua abad silam dan bisa dijabarkan kedalam tiga gelombang.[ii] Pertama, berlangsung antara pertengahan abad ke 18 sampai pertengahan abad ke 19 yang diwakili oleh gerakan dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab (1702-1791) di Najed, Muhammad bin Nūh al-Fallaty (1752-1803) di Madinah, Waliyullāh al-Dahlawy (1702-1762) di India, MuÍamad ibn ‘Ali al-Shawkāni(1758-1874) di Yaman, Shihābuddin al-Alūsy (1803-1854) di Irak, ‘Ali al-SanËsi (1778-1859) di Maroko dan Muhammad al-Mahdi (1843-1885) di Sudan.

Gelombang kedua, adalah gelombang yang muncul antara perempat terakhir abad ke 19 dan perempat awal  abad 20, ketika invasi militer dan politik imperialisme Barat berhasil menguasai negara-negara Arab dan Islam. Periode ini mengenal tokoh-tokoh seperti Jamāluddin al-Afghāni (1839-1896) sebagai pioner, `Abd al-Rahmān al-Kawākibi (w.1902),  MuÍamad `Abduh (1839-1905) dan MuÍamad Rashīd Ridlā (1865-1935).

Gelombang ketiga, muncul setelah Perang Dunia I, berupa gerakan-gerakan keislaman yang lahir pada ahir tahun 1920-an dan berlangsung sampai pertengahan abad 20 dan mulai bercirikan kerja kolektif dan terorganisir. Fase ini diwakili oleh tokoh-tokoh seperti ×asan al-Banna (w.1949) di Mesir, `Abd al-×amīd ibn Bādīs (w.1940) di Aljazair, MusÏafā al-SibÉ`ī ( w. 1965) di Suriah, Abu al-A`lÉ al Mawdudi (w.1979) di Pakistan , Sayyid QuÏb(w.1966) dan Sa`īd al-Nursi (1878-1960) di Turki.

Tulisan ini berupaya untuk secara singkat menelusuri upaya-upaya dan ide-ide pembaharuan salah seorang tokoh dari gelombang kedua, yaitu ‘Abd al-Rahmān al-Kawākibi, melalui kajian terhadap dua buku monumentalnya Umm al-Qurā[iii] dan Ùabāi` al-Istibdād.[iv] Pembahasan dibatasi pada bidang politik dan pendidikan, dua sektor yang dapat dikatakan termasuk paling penting dalam bangunan pemikiran pembaharuan Al-KawÉkibi.

SELENGKAPNYA KLIK di sini


[i] Yūsuf al-Qaradlāwi, Ayna al-Khalal, Kairo, Maktabah Al-Wahbah, cet. 6, 1997, h. 9 dst.

[ii] Dr. Thariq al Basyari, Pemikiran dan Kesejarahan, terj. Abbas Mansur Tamam, Jurnal OASE, ICMI Kairo, vol.10, Sept-Nov 1996, h.36-41. Juga Al Qardlawi, Al Shahwah al Islamiyah wa al Humum al Wathan al Arabi al Islami, Muassasah al Risalah, Beirut, Cet.2, 1993., h.39-45. Sebagaimana dinukil oleh Muhamad Sahrul Murajjab, “Yūsuf Al-Qaradlāwi: Visi Moderasi dalam Proyek Øahwah”, dalam Majalah Al-Ukhuwwah, Tripoli, Divisi Jurnalistik Kesatuan Keluarga Mahasiswa Indonesia di Libya, 2003.

[iii] Nama lengkap atau judul panjang buku tersebut adalah “Umm al-QurÉ: wa Huwa DlabÏ MufÉwadlÉt wa MuqarrarÉt Mu’tamar al-Nahdlah al-IslÉmiyah al-Mun`aqid fÊ Makkah al-Mukarramah Sanah 1316”. Naskah asli dari buku Umm al-Qurā tersebut diterbitkan oleh Al-Maktabah al-Tijāriyah al-Kubrā, Cairo, tahun 1350H/1931M.  Dalam buku setebal lebih dari 200 halaman tersebut Al-Kawākibi menamakan dirinya dengan nama samaran Al-Sayyid al-Furāti. Naskah digital atau scanned copy buku ini bisa diunduh dari www.marefa.org.

[iv] Judul lengkapnya “Ùabāi` al-Istibdād wa MaÎÉri` al-Ist`bÉd”. Merupakan buku yang bermula dari kumpulan artikel-artikel yang pernah ditulis oleh Al-KawÉkibi di berbagai surat kabar tentang tiranisme. Naskah asli buku Ùabāi` al-Istibdād tersebut diterbitkan oleh Al-Hai’ah al-MiÎriyah al-`Ómmah li al-KitÉb tahun 1993. Naskah elektronik buku ini dalam bentuk PDF dapat diunduh di www.al-mostafa.com.

h1

Kajian Wahyu Sahrour

April 23, 2009

PROBLEM PEMBACAAN KONTEMPORER MUHAMAD SHAHRŪR TERHADAP AL-QUR’AN:
Beberapa Catatan atas Buku ‘Al-Kitāb wa Al-Qur’ān : Qirā’ah Mu’āsirah’
Oleh: Muhamad Sahrul Murajjab[1]
Pendahuluan

Al-Qur’an al-Karim sebagai wahyu Allah yang diturunkan terakhir bagi umat manusia menempati posisi sangat penting sebagai salah satu pilar epistemologi Islam. Karena dari Al-Qur’an-lah seluruh struktur, aspek, pandangan, tujuan dan hukum Islam bersumber dan disandarkan. Maka dari itu, upaya-upaya untuk menggali dan memahami nilai-nilai al-Qur’an dilakukan secara terus menerus sejak generasi pertama umat ini dan tidak pernah berhenti sehingga menghasilkan literatur yang sangat luar biasa berlimpah, terutama jika dibandingkan apa yang dilakukan terhadap kitab suci agama lain manapun.

……………………………………………………………………………..
……………………………………………………………………….

Maka sejak orientalis asal Jepang, Toshihiko Izutsu (1914-1993) pertama kali menerbitkan karyanya, Ethico-Religious Concepts in the Quran pada tahun 1950, pengaruh metodologi Barat terhadap paradigma interpretasi dan penafsiran terhadap al-Qur’an dengan model pendekatan ilmu linguistik dan kesejarahan (historis)[2], atau yang kemudian terkenal dengan istilah pendekatan hermeneutika, dapat ditelusuri pada karya-karya pemikir muslim, sebagai hasil dari interaksi intelektual yang intensif antara dunia akademis Muslim dengan tradisi keilmuan Barat.[3]

untuk membaca lebih lengkap silakan klik di sini

h1

KONSEP BASYIR DAN NADZIR DALAM AL-QURAN

March 19, 2009

Memahami Konsep Basyīr dan Nadzīr dalam Al-Qur’ān:

Sebuah Upaya Pendekatan Tafsir Tematik[1]


Oleh: Muhamad Sahrul Murajjab

PENDAHULUAN

Mendiskusikan konsepsi terminologi ataupun istilah tertentu sebagai sebuah produk kebahasaan akan menjadi sangat menarik ketika dikaitkan dengan kitab suci Al-Qur’ān. Apalagi jika terminologi tersebut merupakan salah satu bagian dari kosa kata yang dipergunakan oleh Al-Qur’an itu sendiri.

Penelitian serius melalui penggunaan metodologi yang benar merupakan sebuah keharusan untuk mendapatkan simpulan akhir yang tepat. Hal ini, selain mengingat betapa tingginya posisi al-Qur’ān sebagai kalāmullāh, juga tak lain karena tingkat supremasi fashāhah dan balāghah kitab suci ini jauh melampaui rata-rata kemampuan manusia (mu’jiz). Diksi (pemilihan kosa kata) yang dipergunakanpun tidak “semena-mena”, tapi bahkan sangat teliti dan memiliki signifikasi (dalālah) tertentu yang telah diperhitungkan ketepatannya dengan matang. Sehingga konsep yang terbentuk dari kajian komprehensif tafsir tematik tersebut kemudian dapat ditarik menjadi konsep induk bagi wilayah kajian ilmu lainnya.

Tulisan ini –secara sederhana dan singkat- berupaya untuk mengkaji terminologi basyīr dan nadzīr yang memang cukup banyak tersaji dalam berbagai ayat-ayat Al-Qur’an, baik melalui kosa kata basyīr dan nadzīr itu sendiri dengan segala derivasinya, maupun melalui ayat-ayat yang secara substantif memiliki muatan dari makna basyīr dan nadzīr, untuk kemudian menyimpulkan konsep Al-Qur’an tentang kedua terminologi tersebut dengan menggunakan metode tafsir tematik atau yang lebih dikenal dalam kajian ilmu tafsir sebagai al-tafsīr al-maudlū’iy.[2]

Penggunaan metode tafsir tematik ini diharapkan akan menghasilkan ketajaman lebih di dalam upaya membedah konsep atau tema tertentu dalam Al-Qur’an yang tersebar di berbagai ayatnya dan tidak dapat terjangkau oleh metode tafsīr tahlīliy-tajzi’i yang selama ini banyak dianut oleh mayoritas mufassirūn sepanjang zaman.

Meskipun sebenarnya, sangat sulit bagi penulis untuk melakukan kajian tafsir tematik tentang konsep basyīr dan nadzīr ini dalam arti yang sesungguhnya dikarenakan luasnya cakupan kajian konsep basyīr dan nadzīr tersebut yang tentu saja juga meliputi seluruh ayat-ayat yang berisi janji-janji Allah (āyāt al-wa’d) dan ayat-ayat ancaman (āyāt al-wa’īd), yang mana menurut Al-Zarkasyi (w.794H) pengetahuan tentang ayat-ayat tadzkīr (yang didalamnya termasuk ayat-ayat janji dan ancaman ini) merupakan sepertiga dari induk studi Al-Qur’an.[3]

Selain itu, keterbatasan waktu dan akses referensi juga menjadi kendala yang menghalangi tercapainya hasil yang lebih maksimal. Sehingga dalam kesempatan ini penulis hanya melakukan pembahasan tentang makna dasar kosa kata basyīr dan nadzīr, kemudian mencoba menjawab beberapa pertanyaan yang mungkin muncul terkait konsep ini yaitu: seberapa penting konsep basyīr dan nadzīr dalam al-Qur’an? Sejauh manakah Al-Qur’an meletakkan basyīr dan nadzīr sebagai sebuah keserasian? Dan benarkah dalam menerapkan konsep ini tabsyīr harus didahulukan dari indzār ?

Adapun pembahasan yang semestinya juga dikaji namun tidak dapat dicapai oleh tulisan ini adalah semisal pertanyaan mengenai bagaimanakah al-Qur’an memberikan contoh penerapan metode (asālīb) tabsyīr dan indzār dalam kegiatan dakwah? Dalam kondisi-kondisi seperti apakah konsep tabsyīr dan indzār dapat diterapkan dengan metode yang barangkali bisa berbeda-beda pada keadaan tertentu?

MENYELAMI MAKNA DASAR KOSA KATA BASYĪR DAN NADZĪR

a. Basyīr

Kata basyīr ( بشير ) berasal dari akar kata bā syīn rā ( ب ش ر ) yang derivasinya membentuk beberapa kata seperti basyar (manusia), basyarah (bagian luar kulit manusia), mubāsyarah (hubungan suami istri), bisyr (keceriaan wajah), busyrā (kabar gembira), basysyara (menampakkan hasil) dan lain-lain.[4] Ibn Fāris (329-395H) menyatakan bahwa akar kata bā syīn rā memiliki arti dasar “muncul atau terlihatnya sesuatu bersama keindahan” ( ظهور الشّيء مع حُسْنٍ وجمال ). [5] Dan dari makna dasar inilah makna-makna derivasi kata bā syīn rā disandarkan. Sedangkan makna dari basysyara seperti dalam kalimat ( بَشَّرْتُ فُلاَناً أُبَشِّرُهُ تَبشيراً ) adalah memberi kabar baik, namun terkadang juga digunakan untuk mengartikulasikan pemberian kabar buruk sebagai bentuk celaan (tabkīt). Contoh yang terakhir ini dapat dijumpai misalnya dalam Al-Qur’an surah Aāl ‘Imrān: 21.

Berbeda dengan Ibn Fāris, Al-Rāghib Al-Asfahāni (w.502H) lebih melihat kata basyarah yang berarti “kulit luar yang terlihat” sebagai pusat arti/makna akar kata bā syīn rā. Menurutnya, manusia disebut basyar (بشر) karena kulitnya yang terlihat jelas tanpa terhalang oleh rambut, berbeda dengan hewan yang tertutup oleh rambut ataupun bulu. Maka tidak mengherankan pula ketika menjelaskan makna kata kerja absyara ( أبشر ) dan basy-syara ( بشّر), yang menjadi muasal kata basyīr, beliau memaknainya dengan “memberikan kabar gembira yang membuat kulit muka menjadi berseri-seri, hal ini dikarenakan jiwa manusia ketika dalam kondisi bergembira darahnya menyebar di permukaan kulit mukanya sebagai mana tersebarnya air getah pada batang pohon”.[6] Al-Asfahāny menambahkan bahwa apa-apa yang dibawa oleh seorang oleh seorang pembawa berita gembira (mubasysyir) disebut dengan busyrā (بشرى ) atau bisyārah (بشارة ).

Pendapat sedikit berbeda dikemukakan oleh Ibn Jarīr al-Thabariy (224-310H) ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah/2: 97. Secara lebih tajam dan spesifik beliau menyatakan bahwa menurut tradisi bahasa Arab kata al-bisyārah ( البشارة ) diartikan sebagai “pemberitahuan kepada seseorang seseorang tentang berita yang belum pernah diketahuinya dan dapat membuatnya gembira, sebelum dia mendengarnya dari orang lain atau mengetahuinya dari orang lain.”[7]

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kata basyīr dan beberapa derivasinya memiliki dua unsur makna kunci yaitu; (1) adanya proses menampakkan, memberitahukan, atau memberikan informasi, serta (2) sesuatu yang diinformasikan bersifat menggembirakan. Atau kalau kita mengambil pendapat Al-Thabary terdapat unsur ketiga yaitu (3) informasi yang menggembirakan tersebut sebelumnya tidak diketahui oleh penerima.

b. Nadzīr

Kata nadzīr berasal dari akar kata nūn dzāl rā ( ن ذ ر ) yang menunjukkan pada makna dasar menakut-nakuti ( تخويف ) maupun ketakutan ( تخوُّف). Maka dari itu, bersumpah atas nama Allāh untuk melakukan sesuatu dimasa datang disebut dengan al-nadzr (النذر) karena yang bersangkutan takut/khawatir jika sumpahnya tersebut tidak ditepati.[8] Adapun indzār memiliki arti yang kurang lebih sama dengan kata iblāgh yakni penyampaian informasi. Bedanya, yang pertama hampir selalu digunakan untuk menyampaikan berita yang menakutkan.

Ibn Mandhūr (630-711H), meriwatkan pendapat dari Kura’[9] dan Al-Lihyāniy bahwa makna andzara berarti memberitahu secara mutlak (a’lama) disamping juga bermakna menakut-nakuti (khawwafa) dan memperingatkan (khadzara)[10]. Sementara Al-Rāghib al-Asfahāniy menjelaskan bahwa kata al-nadzīr maupun al-mundzir adalah segala sesuatu yang dapat memberikan peringatan (indzār) baik berupa manusia ataupun bukan.[11]

Menurut Ibn ‘Āsyūr, meskipun pada dasarnya indzār dalam Al-Qur’an seringkali mengandung makna pemberitahuan hal-hal yang tidak menyenangkan berupa kebinasaan di hari ahirat, akan tetapi bisa juga mengandung makna ajakan kepada kebaikan –yang menjadi unsur kata tabsyīr-, bahkan juga bisa mencakup makna pengajaran ilmu-ilmu agama sebagai pembeda antara yang benar dan yang salah, sebagaimana dipahami penafsiran kata indzār dalam QS. Al-Tawbah/9:122[12]. Dalam ayat ini kata indzār yang digunakan bukan tabsyīr atau ta’līm, karena menurut Ibn ‘Āsyūr, meninggalkan larangan (takhliyah) lebih didahulukan dari pada melaksanakan kebaikan (tahliyah).[13]

Dari kajian diatas dapat disimpulkan bahwa kata indzār lebih sering digunakan untuk mengartikulasikan pemberian peringatan atau informasi yang menakutkan, meskipun juga bisa berarti pemberian informasi secara mutlak. Atau dalam konteks beberapa ayat al-Qur’an bisa memiliki arti memberikan peringatan berupa pengajaran pesan-pesan agama Islam.

MENGGALI KONSEP BASYĪR DAN NADZĪR DALAM AL-QURĀN

Setelah mengetahui makna dasar dari terminologi basyīr dan nadzīr langkah berikutnya yang harus dilakukan untuk menggali konsep Al-Qur’ān tentang dua terminologi tersebut adalah mencari dan mengumpulkan ayat-ayat yang memuat dua kosa kata tersebut.

Menurut hitungan Prof. Dr. Muhamad Zaki Khidlr akar kata bā syīn rā dengan segala derivasinya dalam al-Qur’ān terulang sebanyak 123 kali. Sedangkan jumlah kosa kata yang diderivasikan dari akar nūn dzāl rā terulang sebanyak 130 kali.[14] Mayoritas atau bahkan hampir keseluruhan kosa kata tersebut terkait dengan makna pemberian kabar gembira dan pemberian peringatan.

Dalam Al-Qur’ān sendiri penyebutan kata basyīr dan nadzīr terkadang digunakan untuk menyifati Al-Qur’ān (misal pada QS. Fushilat/41:3-4) atau para Nabi dan Rasul (misal pada QS. Al-Kahf/18:56) dan secara khusus untuk Nabi Muhammad r (misal pada QS. Al-Baqarah/2:119).

Akan tetapi memahami makna kosa kata-kosa kata tersebut sebagai yang berdiri sendiri tidaklah cukup untuk menghasilkan konsep dimaksud. Kosa kata basyīr dan nadzīr dengan segala derivasinya yang terkait harus juga dipahami dalam konteks (siyāq) kalimat ayat-ayatnya. Dan ayat-ayat itu sendiri juga harus dipahami dalam konteks asbab al-nuzūl-nya –meskipun nantinya akan dihasilkan ‘ibrah sesuai keumuman lafadznya–, serta konteks letak ayat-ayat tersebut dalam rangkaian ayat-ayat Al-Qur’an lainnya sesuai dengan ‘ilm al-Munāsabāt.

Dan tentu saja, sebagaimana telah disinggung dalam pendahuluan, ayat-ayat yang tidak mengandung kosa kata baik basyīr maupun nadzīr dengan segala derivasinya, namun secara substantif berisi kabar gembira maupun ancaman (āyāt al-wa’d wa al-wa’īd) harus juga diperhitungkan dan dikaji secara komprehensif dan simultan untuk kemudian diraih maghzā dan petunjuk, serta prinsip-prinsip guna membangun konsep basyīr dan nadzīr dalam Al-Qur’an.

Dalam makalah ini, setelah mencoba memperhatikan “beberapa contoh” ayat-ayat dimaksud maka penulis dapat sampai kepada sejumlah kesimpulan sebagaimana dapat dilihat di bawah ini.

Tabsyīr dan Indzār Merupakan Inti dan Tujuan Utama Risalah

Menurut ayat QS.Al-An’ām/6:48[15] bahwa tujuan Allah mengutus para Rasul adalah untuk menyampaikan ayat-ayat Allah dengan jalan memberikan kabar gembira kepada orang-orang beriman dan peringatan kepada mereka yang kufur kepada ayat-ayatNya. Al-Sa’dy secara lebih tegas menyatakan bahwa tabsyīr dan indzār merupakan inti (zubdat) pengiriman para Rasul.[16] Demikian pula dengan tujuan diutusnya Rasulullah r sebagaimana dalam QS. Al-Furqān/25:56 dan QS. Saba’/34:28. Kesimpulan ini senada dengan ayat-ayat lain yang menyatakan bahwa tugas para Rasul adalah menyampaikan risalah yang mereka terima dari Allah (tablīgh).[17]

Jika tugas ini sudah terlaksana dengan baik, maka tidak ada lagi tanggung jawab Rasul terhadap orang-orang yang membangkang (QS. Al-Baqarah/2 :119) dan tidak ada lagi hak bagi orang-orang yang menolak kebenaran untuk berhujjah dihadapan Allah (QS. Al-Nisā/4 :165 dan QS. Al-Māidah/5 :19).

Pelajaran yang dapat diambil dari keterangan di atas, bahwa kewajiban para ulama dan du’āt sebagai penerus tugas Rasulullah r adalah berupaya menyampaikan semua ayat-ayat Allah baik berupa kabar gembira maupun peringatan selengkap-lengkapnya dengan tujuan agar ”agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu”.[18] Memahami konsep ini juga mengharuskan para dai dan siapa saja yang bergerak di medan dakwah untuk mencari berbagai jalan dan upaya agar risalah Islam bisa tersebar seluas-luasnya dan informasi lengkap tentang berbagai aspek ajaran Islam dapat diakses oleh sebanyak mungkin manusia.

Jadi tujuan utama (ghāyah) da’wah sebenarnya bukanlah misalnya mendirikan negara Islam dll seperti digagas oleh gerakan dakwah atau aktivis dakwah tertentu.[19]

Keserasian Konsep Tabsyīr dan Indzār dalam Al-Quran

Di dalam kitab suci Al-Qur’an, penyampaian pesan-pesan Allah dengan menggunakan pendekatan tabsyīr dan indzār atau antara targhīb dan tarhīb berjalan sangat serasi dan seimbang. Menukil pendapat Imam Al-Syāthiby (w.790H),[20] beliau menegaskan bahwa setiap kali terdapat ayat tabsyīr atau targhīb atau ayat yang memberikan secercah pengharapan (tarjiyah) akan selalu beriringan dengan ayat indzār atau tarhīb atau ayat-ayat takhwīf (menakut-nakuti) baik datang pada ayat sebelumnya, ayat setelahnya, maupun pada satu ayat yang sama. Demikian juga sebaliknya.[21]

Bahwa terkadang satu aspek lebih dominan dari aspek lainnya. Seperti dalam Surah Al-An’ām misalnya, ayat-ayat indzār tersebutkan secara beruntun. Hal itu disebabkan oleh konteks surat itu yang berbicara untuk menegaskan al-haqq, mengingkari perilaku orang-orang yang kufur kepada Allah dan orang-orang yang keras kepala. Meskipun demikian di sela-selanya terdapat ayat-ayat tabsyīr karena walau bagaimanapun keras dan kufurnya mereka, namun mereka tetap diharapkan untuk dapat diajak kepada kebenaran.

Sementara itu pada lain kesempatan, seperti pada QS. Al-Zumar/39:53, sangat terasa sekali suasana penuh pengharapan tercipta begitu dominan. Hal ini, sekali lagi menurut Al-Syāthiby, disesuaikan dengan prakondisi objek dakwah saat turunnya ayat tersebut, yaitu orang-orang dari kaum musyrik yang mengaku telah banyak membunuh dan berzina, kemudian mendatangi Nabi Muhamad r dengan tujuan mendapatkan cara bertaubat dan menebus kesalahan-kesalahan mereka.[22]

Jadi, prinsip keserasian dan keseimbangan antara tabsyīr dan indzār atau antara targhīb dan tarhīb dapat berubah sewaktu-waktu disesuaikan situasi dan kondisi, yang dalam cabang ‘ilmu al-ma’āniy[23] disebut dengan muqtadla al-hāl (secara harfiah dapat diartikan sebagai “kebutuhan situasi dan kondisi”).

Kesimpulannya, kata Al-Syathīby, jika objek yang dihadapi Nabi r cenderung kuat pembangkangannya maka pendekatan indzār atau takhwīf lebih didahulukan seperti pada QS. Al-Ahzab:57. Adapun bagi orang-orang yang memiliki kekhawatiran terhadap dirinya (setelah mengakui kesalahannya) atau bahkan berpotensi untuk berputus asa maka pendekatan tabsyīr atau targhīb atau tarjiyah lebih didahulukan. Seperti pada QS. Al-Zumar:53 diatas.[24]

Keseimbangan dan keserasian ini sangat sesuai dengan tabiat kejiwaan manusia yang memiliki rasa takut dan kekhawatiran akan sesuatu, sekaligus keinginan-keinginan untuk mendapatkan kesenangan atapun kebahagiaan. Dalam konteks perbuatan baik dan buruk manusia, seorang yang telah banyak berbuat dosa ketika mendengar ayat-ayat indzār akan timbul dalam dirinya rasa takut dari azab Allah. Kemudian mencoba mengevaluasi diri dan berusaha mencari jalan keselamatan . Dengan mendengar ayat-ayat tabsyīr ia melihat bahwa kesempatan masih terbuka lebar dan bersegera menuju jalan yang benar dan bertaubat dari dosanya.

Sementara itu, orang-orang salih dan beriman jika mendengar ayat-ayat tarhīb akan merasa takut melakukan maksiyat dan ketika mendengar ayat-ayat targhīb akan semakin mendorongnya untuk menambah ketaatan kepada Allah dan mengharap pahala disisiNya.[25]

Ketidakseimbangan dalam konsep ini akan mengakibatkan hal-hal yang tidak dinginkan. Tabsyīr yang terlalu dominan tanpa memperhatikan prakondisi seseorang bisa mengantarkannya kepada sikap tawākul, meremehkan dosa dan kurangnya rasa takut. Sedangkan terlalu berat pada aspek tarhīb dapat menyebabkan seseorang menjadi berputus asa dan kehilangan harapan.

Benarkah Targhīb Harus didahulukan dari Tarhīb?

Sebagain aktivis dakwah meyakini bahwa dalam melakukan kegiatan dakwah pendekatan targhīb harus didahulukan dari pada tarhīb. Jum’ah Amīn Abd Al-‘Azīz, salah seorang tokoh gerakan Al-Ikhwān al-Muslimūn misalnya, menyatakan bahwa satu diantara sepuluh kaidah atau prinsip utama dakwah yang harus dimengerti dan dilakukan oleh para dai adalah prinsip al-targhīb qabla al-tarhīb aw al-bisyārah qabl al-nadzārah.[26]

Diantara alasan yang digunakan oleh Jum’ah Amīn untuk mendukung pendapatnya adalah kisah sekelompok jin yang kembali dan berdakwah kepada kaumnya setelah mendengar tentang Al-Quran mereka dengan mengatakan,

Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” [27]

Meskipun Jum’ah Amīn juga tidak menafikan prinsip tarhīb akan tetapi kesimpulannya mengenai keharusan didahulukannya targhīb sebelum tarhīb tidaklah tepat. Ketidak tepatan ini bisa dibuktikan dari sejarah dakwah Nabi r. Diantara wahyu yang pertama turun dan memerintahkan beliau untuk menyampaikan dakwahnya menggunakan istilah indzār, seperti pada QS. Al-Mudatsir/74:1-2 dan QS. Al-Syu’arā/26:214.

Bahkan beberapa hadits yang diriwayatkan terkait turunnya ayat QS. Al-Syu’arā/26:214 tersebut semakin memperkuat kesimpulan ini, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibn Abbas bahwa ketika Allah menurunkan ayat { وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِينَ } Nabi r mendatangi bukit Shafa dan mengumpulkan manusia kemudian mengatakan “ Wahai Bani Abdul Muthalib, wahai Bani Fihr, wahai Bani Lu’ay, akankah jika aku kabarkan kepada kalian bahwa seekor kuda di kaki bukit ini akan menyerang kalian, akankah kalian mempercayaiku? Mereka menjawab: Iya. Nabi r bersabda: Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi kalian akan datangnya azab yang pedih… dst[28]

Untuk memahami persoalan ini dan jika ada pertanyaan yang barangkali muncul, mengapa Rasulullah r saat pertama kali diperintahkan menyampaikan dakwahnya menggunakan kata andzir (berilah peringatan) bukannya basysyir (berilah kabar gembira)? Jawabannya dapat ditelusuri melalui pembahasan tentang keserasian konsep basyīr dan nadzīr sebagaimana telah dijelaskan di atas.

PENUTUP

Kajian terhadap terminologi-terminologi qur’ani – termasuk diantaranya terminologi basyīr dan nadzīr – adalah mutlak diperlukan sehingga dapat menghasilkan konsep-konsep yang benar dan utuh untuk kemudian “dibumikan” dalam berbagai kehidupan nyata. Konsep basyīr dan nadzīr sendiri menempati posisi cukup penting dalam Al-Qur’an dan mencakup kira-kira sepertiga jumlah keseluruhan ayat-ayat Al-Quran, sehingga penelitian lebih lanjut dan mendalam akan bernilai sangat berharga dalam memahami konsep ini secara komperehensif.

Konsep basyīr dan nadzīr merupakan inti dari dakwah para Rasul yang harus diteladani oleh para da’i dan pendidik muslim dengan memperhatikan keserasian antara dua aspek yang terkandung didalamnya sehingga mampu menjawab kebutuhan jiwa para objek dakwah.

END NOTES:


[1] Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Studi Al-Qur’an Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun, Bogor, Konsentrasi Bidang Pendidikan dan Pemikiran Islam, di bawah bimbingan Prof. Dr. KH. Didin Hafiduddin dan Dr. H. Ibdalsyah, MA

[2] Secara sederhana metodologi tafsir tematik dapat dijelaskan sebagai metode mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an secara mendalam kemudian mengumpulkan ayat-ayat yang memiliki tema sejenis atau kandungan yang –kurang lebih- sama dalam tema tertentu dan mengelaborasinya secara komprehensif sebagai satu kesatuan tema untuk menghasilkan pemahaman dan konsep yang utuh. Definisi-defiisi ilmiah tentang al-tafsīr al-maudlū’iy dapat dilihat misalnya dalam Dr. MusÏafÉ Muslim, MabÉÍits fi al-TafsÊr al-MawdlË`i, Damaskus, DÉr al-Qalam, 1989, h. 15. Adapun metodologi kajian tafsir ini dapat dibaca pada buku yang sama hal. 37-39

[3] Badr al-Dīn Muhamad ibn ‘Abdullāh ibn Bahādur al-Zarkasyi, Al-Burhān fi ‘Ulūm al-Qur’ān, Tahqiq: Muhamad Abū al-Fadhl Ibrāhīm, (Beirut, Dār al-Ma’rifah,tt), Jilid I, h.17. Teks asli pernyataan tersebut selengkapnya berbunyi:

وأم علوم القرآن ثلاثة أقسام توحيد وتذكير وأحكام فالتوحيد تدخل فيه معرفة المخلوقات ومعرفة الخالق بأسمائه وصفاته وأفعاله والتذكير ومنه الوعد والوعيد والجنة والنار وتصفية الظاهر والباطن والأحكام ومنها التكاليف كلها وتبيين المنافع والمضار والأمر والنهي والندب

[4] Ibrāhīm Musthafā, dkk (Majma’ Al-Lughah Al-Arabiyah Mesir), Al-Mu’jam Al-Wasīth, (Istanbul, Dar al-Da’wah, 1989), h.57-58.

[5] Abū al-Husayn Ahmad ibn Fāris ibn Zakariyā, Maqāyīs al-Lughah, Tahqiq: Abd al-Salām Muhamad Hārūn, (Beirut, Dār Al-Fikr, 1979M/1399H) Jilid I, h. 251

[6] Al-Husayn ibn Muhamad ibn Al-Mufadlal, Abū al-Qāsim Al-Rāghib Al-Asfahāni, Mufradāt Alfādh al-Qur’ān, (Software Al-Maktabah Al-Shāmela Edisi 3.13). Teks aslinya berbunyi:

وأبشرت الرجل وبشرته وبشرته: أخبرته بسار بسط بشرة وجهه، وذلك أن النفس إذا سرت انتشر الدم فيها انتشار الماء في الشجر

[7] Muhamad ibn Jarīr ibn Yazīd ibn Katsīr bin Ghālib al-Amily, Abū Ja’far al-Thabary, Jāmi’ al-Bayān fī Ta’wīl Al-Qur’ān, (Beirut, Muassasah al-Risālah, 2000), Juz. II, h. 393

[8] Abū al-Husayn Ahmad ibn Fāris ibn Zakariyā, Maqāyīs al-Lughah, Jilid 5, h. 414

[9] Sejauh penelusuran penulis, yang dimaksud oleh Ibn Mandhūr kemungkinan besar adalah Abu Al-Hasan ‘Aliy ibn Al-Hasan Al-Hannā’iy al-Azdiy atau yang lebih dikenal sebagai “Kurā’ al-Naml” (wafat setelah tahun 309H), seorang pakar bahasa Arab dari negeri Mesir. Memiliki beberapa karya dalam bidang ilmu bahasa seperti Al-Mundlid dan Amtsilah Gharīb al-Lughah. Lihat: Khair al-Dīn al-Zirikliy, Al-A’lām (Beirut, Dār al-‘Ilm li al-Malāyīn, Cet.5, 1980) Jilid. IV, h.272

[10] Muhammad ibn Mukrim ibn Mandzūr al-Ifrīqiy al-Mishriy, Lisān al-‘Arab, (Software Al-Maktabah Al-Shāmela Edisi 3.13), bab. Harf al-Rā’

[11] Al-Husayn ibn Muhamad ibn Al-Mufadlal, Al-Rāghib Al-Asfahāni Abū al-Qāsim, Mufradāt Alfādh al-Qur’ān, (Software Al-Maktabah Al-Shāmela Edisi 3.13) bab. نذر

[12] Ayatnya berbunyi: وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

[13] Muhamad ibn Thāhir ibn ‘Āsyūr, Al-Tahrīr wa al-Tanwīr, (Tunis, Dār Sahnūn, 1997), Juz 11, h.62

[14] Muhammad Zaky Muhamad Khidlr, Mu’jam Kalimāt al-Qur’ān al-Karīm, (Software Al-Maktabah Al-Shāmela Edisi 3.13)

[15] Selengkapnya ayatnya berbunyi : وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ فَمَنْ آمَنَ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُون Ayat lainnya yang senada adalah QS. Al-Kahf/18:56

[16] ‘Abd Al-Rahmān ibn Nāshir ibn al-Sa’dy, Taysīr al-Karīm al-Rahmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, Tahqiq: Abd al-Rahmān ibn Mu’allā al-Luwayhīq, (Beirut, Muassasah Al-Risālah, Cet.I, 2000M/1420H), h.257

[17] Ayat-ayat yang menegasakan hal ini sangatlah banyak sebagai misal QS. Al-Māidah/5:99, QS. Yā Sīn/36:17, QS. Al-Taghābun/64:12 dan lain-lain.

[18] QS. Al-Nisā/4:165

[19] Pernyataan ini tidak untuk dipahami bahwa mendirikan negara Islam tidak perlu atau tidak boleh, melainkan hanya untuk mendudukkan masalah ini pada proporsi sebenarnya, bahwa tujuan utama dakwah adalah “menyampaikan”. Konsep dakwah ini harus dibedakan dengan tujuan konsep al-amr bi al-ma’rūf wa al-nahy ‘an al-munkar atau taghyīr al-munkar misalnya sehingga tidak terjadi kerancuan pemahaman.

[20] Dalam makalah ini Penulis sengaja mengambil pendapat Imam Al-Syāthiby yang selama ini lebih dikenal sebagai pakar ilmu Ushūl al-Fiqh dan ilmu Maqāshid al-Syarī’ah. Ternyata, menurut penelitian Dr. Syāyi’ ibn ‘Abduh ibn Syāyi’ al-Asmary, seorang Assistant Profesor di Fakultas Ilmu-ilmu Al-Qur’an di Universitas Islam Madinah, bahwa dari sejumlah buku-buku karya Al-Syāthiby terdapat banyak sekali kajian-kajian penting dalam bidang ilmu tafsir dan ‘Ulūm al-Qur’ān yang selama ini kurang mendapat perhatian para peneliti maupun pengkaji. Lihat selengkapnya hasil penelitian beliau dalam makalahnya yang berujdul “Ma’a al-Imām Abī Ishāq al-Syāthiby fi Mabāhits min ‘Ulūm al-Qur’ān al-Karīm wa Tafsīrihi”, dalam Majallah Al-Jāmi’ah Al-Islāmiyah, (Madinah, Islamic University, 1423H/2002M), vol. 115

[21] Lihat lebih lanjut dengan contoh-contohnya: Ibrāhīm ibn Mūsa ibn Muhammad Al-Lakhamy Al-Gharnāthy, Abū Ishāq Al-Syāthiby, Al-Muwāfaqāt, Tahqiq: Abū Ubaydah Masyhūr ibn Hasan Aāl Salmān, (tt, Dār Ibn ‘Affān, Cet. I, 1417H/1997), Jilid. VI, h. 167-169

[22] Selengkapnya riwayat tersebut dapat dijumpai di Shahīh Al-Bukhāry no.4810, Shahīh Muslim no.122, Sunan Abī Dawūd no.7274 dan Sunan Al-Nasāiy 7/86. Lihat lebih lanjut: Abū al-Fidā Ismā’il ibn ‘Umar ibn Katsīr Al-Qurasyi al-Dimasyqy, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Adzīm, Tahqiq: Sāmy ibn Muhamad Salāmah, (Dār Tybah li al-Nasyr wa al-Tauzī’, Cet. II, 1420H/1999M), Jilid. VII, h.106

[23] Salah satu cabang ‘ilmu balāghah yang mempelajari bentuk-bentuk (ahwāl) lafadz dalam bahasa Arab untuk disesuaikan dengan kebutuhan situasi dan kondisi. Lihat: Ibrāhīm Musthafā, dkk, Al-Mu’jam Al-Wasīth, h. 633

[24] Ibrāhīm ibn Mūsa ibn Muhammad Al-Lakhamy Al-Gharnāthy, Al-Syāthiby, Al-Muwāfaqāt, Jilid. VI, h. 179

[25] ‘Adnān ibn Muhamad Aāl ‘Ar’ūr, Manhaj al-Da’wah fi Dlaw al-Wāqi’ al-Mu’āshir, (ebook di terbitkan oleh www.saaid.net, cet. I, 1426H/2005), h. 70. Sebagai catatan bahwa buku ini disebutkan sebagai peraih Penghargaan Amir Nāyif ibn ‘Abd al-‘Azīz Aāl Sa’ūd dalam bidang Sunah Nabi dan Studi Islam Kontemporer

[26] Lihat: Jum’ah Amīn Abd Al-‘Azīz, Al-Da’wah: Qawā’id wa Ushūl, (Alexandria, Dār al-Da’wah, Cet. IV, 1415H/1999), h. 214-218

[27] QS. Al-Ahqāf/46:31-32

[28] Hadits tersebut juga diriwayatkan dalam Sahīh Al-Bukhāry no.4801, Sahīh Muslim no.208, Al-Nasāiy dalam Al-Sunan al-Kubrā no.11714, serta Sunan Al-Tirmidzy no. 3363. Lihat: Abū al-Fidā Ismā’il ibn ‘Umar ibn Katsīr Al-Qurasyi al-Dimasyqy, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Adzīm, Tahqiq: Sāmy ibn Muhamad Salāmah, (Dār Tybah li al-Nasyr wa al-Tauzī’, Cet. II, 1420H/1999M), Jilid. VI, h. 166

DAFTAR PUSTAKA

  1. ‘Abd Al-‘Azīz, Jum’ah Amīn, Al-Da’wah: Qawā’id wa Ushūl, (Alexandria, Dār al-Da’wah, Cet. IV, 1415H/1999)
  2. ‘Abd al-Bāqy, Muhamad Fuād, Al-Mu’jam al-Mufahris li al-Alfādh al-Qur’ān al-Karīm, (Kairo, Dār al-Hadīts, 1422H/2001M)
  3. Al-Asmary, Dr. Syāyi’ ibn ‘Abduh ibn Syāyi’, “Ma’a al-Imām Abī Ishāq al-Syāthiby fi Mabāhits min ‘Ulūm al-Qur’ān al-Karīm wa Tafsīrihi”, dalam Majallah Al-Jāmi’ah Al-Islāmiyah, (Islamic University, Madinah, 1423H/2002M), vol. 115
  4. Al-Rāghib Al-Asfahāni, Abū al-Qāsim, Al-Husayn ibn Muhamad ibn Al-Mufadlal, Mufradāt Alfādh al-Qur’ān, (Software Al-Maktabah Al-Shāmela Edisi 3.13).
  5. Al-Sa’dy, ‘Abd Al-Rahmān ibn Nāshir ibn, Taysīr al-Karīm al-Rahmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, Tahqiq: Abd al-Rahmān ibn Mu’allā al-Luwayhīq, (Beirut, Muassasah Al-Risālah, Cet.I, 2000M/1420H),
  6. Al-Syāthiby, Ibrāhīm ibn Mūsa ibn Muhammad Al-Lakhamy Al-Gharnāthy, Al-Muwāfaqāt, Tahqiq: Abū Ubaydah Masyhūr ibn Hasan Aāl Salmān, (tt, Dār Ibn ‘Affān, Cet. I, 1417H/1997)
  7. Al-Thabari, Muhamad ibn Jarīr ibn Yazīd ibn Katsīr bin Ghalib Al-Amili, Abu Ja’far, Jāmi’ al-Bayān fī Ta’wīl Al-Qur’ān, (Beirut, Muassasah al-Risālah, 2000)
  8. Al-Zarkasyi, Badr al-Dīn Muhamad ibn ‘Abdullāh ibn Bahādur, Al-Burhān fi ‘Ulūm al-Qur’ān, Tahqiq: Muhamad Abū al-Fadhl Ibrāhīm, (Beirut, Dār al-Ma’rifah,tt)
  9. Al-Zirikliy, Khair al-Dīn, Al-A’lām (Beirut, Dār al-‘Ilm li al-Malāyīn, Cet.5, 1980)
  10. Ibn ‘Āsyūr, Muhamad ibn Thāhir, Al-Tahrīr wa al-Tanwīr, (Tunis, Dār Sahnūn, 1997)
  11. Ibn Fāris ibn Zakariyā, Abū al-Husayn Ahmad, Maqāyīs al-Lughah, Tahqiq: Abd al-Salām Muhamad Hārūn, (Beirut, Dār Al-Fikr, 1979M/1399H)
  12. Ibn Katsīr, Al-Qurasyi al-Dimasyqy, Abū al-Fidā Ismā’īl ibn ‘Umar, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Adzīm, Tahqiq: Sāmy ibn Muhamad Salāmah, (Dār Thybah li al-Nasyr wa al-Tauzī’, Cet. II, 1420H/1999M)
  13. Ibn Mandhūr, al-Ifrīqiy al-Mishriy, Muhammad ibn Mukrim, Lisān al-‘Arab, (Software Al-Maktabah Al-Shāmela Edisi 3.13)
  14. Ibrāhīm Musthafā, dkk (Majma’ Al-Lughah Al-Arabiyah Mesir), Al-Mu’jam Al-Wasīth, (Istanbul, Dar al-Da’wah, 1989)
  15. Khidlr, Muhammad Zaky Muhamad, Mu’jam Kalimāt al-Qur’ān al-Karīm, (Software Al-Maktabah Al-Shāmela Edisi 3.13)
  16. Muslim, MusÏafÉ, Dr. MabÉÍits fi al-TafsÊr al-MawdlË`i, (Damaskus, DÉr al-Qalam, 1989)
  17. Zaydān, Dr. Abd Al-Karīm, Ushūl al-Da’wah, (naskah dalam bentuk ebook PDF diambil dari www.daawa-info.net)

h1

F-U-T-U-R ?!?

November 28, 2008

Oleh : Santy Martalia Mastuti

“Kau tahu apa tentang futur? What is it? Atau what is shit! Kau tak tak tahu apa-apa tentang futur.”

“Hei!”

“Apa?! Apa karena aku tak lagi memelihara jenggotku? Tak lagi memanggilmu akhi, antum? Tak lagi bergaul dengan ikhwah? Kau mau apa? Mengagungkan simbol-simbol?”

“Persoalannya tidak segampang itu.”

“Oh ya, lalu apa? Keikhlasan? Istiqomah? Loyalitas dakwah? Apa lagi? Atau karena aku mulai pacaran dengan Reina? Oh, ya, boleh kukatakan sesuatu? Reina memang pantas dijadikan pacar. Dia wanita yang sempurna!”

“Astaghfirullah…,”

Ya! Hanya itu yang mampu kau ucapkan, Wan. Kau tidak tahu bahwa segala persoalan tak akan selesai dengan hanya berucap ‘astaghfirullah’ dengan muka memelas mengasihaniku. Ohh…ho…ho… kau ingin mendengar aku gemetar dan begitu saja ‘menyadari kesalahanku’ seolah-olah aku benar-benar bersalah? Salah, bung! Itu mimpi. Kamu terlalu jauh mencampuri kehidupanku!

“Udah, deh. Lama-lama aku capek, Wan! Kamu lihat diri kamu sendiri. Banyak mata kuliah yang nggak lulus. Kamu pikirin itu nilai-nilai akademismu.”

“Kita bukannya kuliah di jurusan sosial yang sibuk ngurusin orang lain. Kita ini mahasiswa informatika. Mestinya pikiran kamu tuh nggak primitif! Rasional dikit napa sih. Jaman kita udah hi-tech, Wan!”

“Iya, Fer. Coba dengerin ana dulu.”

“Harus dengar apalagi? Segala pertanyaan kenapa aku nggak ngaji lagi? Kenapa aku nggak pernah kelihatan di masjid lagi? Sekarang gini, kamu ikut lomba desain web itu kan? Nah, kalau kamu bisa ngalahin aku, baru aku mau dengar kamu ceramah! Tapi aku yakin kamu nggak bakal bisa, karena apa? Karena kamu akan sibuk dengan komunitasmu sendiri!”

Kututup segera telepon itu setelah mengucap kata ‘wassalam’ tanpa menghiraukan ‘tausiyah’ Iwan lagi.

Aku melangkah kembali masuk ke kamar kostku dan kembali menekuri pekerjaanku.

“Hai!” gadis itu mengagetkanku dengan kehadirannya yang tiba-tiba.

“Oh, kamu, Na,” jawabku setengah malas.

“Sedang apa?”

“Sepertinya?”

“Bikin web.” Reina menatap monitor komputer.

“Kalau sudah tahu kenapa tanya.”

“Suka banget pake flash?”

“Diam napa, sih?”

“Dih, galak bener. Ntar aku bikinin website juga ya? Yang ada pic-ku.”

“Iya, ntar.”

“Aku akan masukkan kegiatanku sehari-hari di situ. Terus orang-orang bisa kenal siapa aku lewat About Me. Eh, perlu nggak sih aku beli domain sendiri? Kurang oke kayaknya kalau upload pake domain gratisan.”

“Lagu lu dah kayak artis, deh, Na.”

Please, deh. Kamu ngapain, sih? Sewot bener.”

Kugaruk kepalaku yang tidak benar-benar gatal.

“Sorry, Na. Mood-ku lagi jelek. Mending kamu sekarang pulang, deh, ya. Aku harus selesein ini buat web design championship minggu depan. Okey, honey? Biarkan aku berkonsentrasi penuh dan…, biar kamu kuantar pulang dulu.”

“Tapi kan aku baru saja datang ke kostmu. Baru aja masuk.”

“Aku tahu, Na. Please, deh, ngerti ya… Bad mood.”

“Oke. Aku pulang. Tapi jangan lupa, besok jemput aku ke kampus.”

Ups! Untung tanganku lincah bekerja sebelum Reina…

“Kenapa, sih? Cuma ciuman pipi aja.”

“Nggak, deh. Kita baru satu bulan jalan…”

Reina memandangku dengan muka ditekuk. Oh, aku telah berbuat kesalahan?

“Kamu membuatku malu.”

Sorry, aku…”

“Sudahlah. Kamu nggak usah antar. Kelihatannya kamu memang sibuk. Besok aku tunggu.”

Thanks. On time untuk besok.”

*******

Reina cantik. Menawan. Anggun. Putri kampus. Model lokal Bandung yang mulai naik daun di tingkat nasional. Dia lebih stylish dan modern daripada Nida. Hhmm… Ukhti Nida? Oh, aku sudah muak.

“Jangan mengotori hati dengan hal-hal yang hanya menonjolkan nafsu saja, akhi. Kalau memang siap menikah, lebih baik disegerakan.”

“Maksud ente?” aku cukup terkejut dengan perkataan Iwan waktu itu.

“Antum kelihatannya dekat sekali dengan ukhti Nida.”

“Oh, itu. Apa salahnya? Dia seorang desainer grafis dan ane butuh kerjasama dia untuk pembuatan website.”

“Ya, tapi kalau keseringan bisa menimbulkan fitnah.”

Fitnah?! Ya Tuhan, apalagi ini?

“Lantas? Ente minta ane untuk menikahinya? Wah! Itu tidak mungkin. Ane dah semester akhir. Tinggal dikit lagi lulus kuliah.”

“Itu bukan halangan.”

“Bukan halangan? Lantas bagaimana antum menyikapi kemapanan, kemandirian finansial? Karier?”

“Jangan berpikir terlalu rumit. Setiap orang memiliki rejekinya sendiri-sendiri.”

“Ini bukan berpikir rumit, tapi berpikir realistis!”

Padahal aku tidak memiliki perasaan apapun terhadap Nida. Ehm… Ya! Tentu saja aku tidak suka dia. Aku yakin itu. Tetapi kenapa mereka meributkan kebersamaanku dengan Nida? Oke, aku memang belum terlalu paham akan konsep kebersamaan laki-laki dan wanita. Aku memang baru beberapa waktu terakhir ini mengikrarkan diri untuk berada dalam barisan mereka. Barisan dakwah yang menurutku memang merupakan suatu kebutuhan religius. Tapi lama-lama kupikir aku telah terjebak dalam konsep yang sangat idealis ini. Aku bahkan tidak bisa mencerna lagi konsep-konsep yang tidak membumi.

Dilarang berduaan dengan wanita, dilarang ini, dilarang itu. Amal jama’i, loyalitas dakwah, istiqomah. Apanya yang salah jika hanya berkawan dengan seorang wanita? Apanya yang loyal? Apakah harus dengan aktif di organisasi-organisasi dan melupakan skripsi seperti banyak teman aktifis? Apakah harus hidup sederhana hingga mirip gembel tanpa mempedulikan penampilan jika memang ia bisa tampil alias mampu? Apakah harus dengan simbolisasi yang membuatku kelihatan tidak militan jika tidak memakai baju koko, topi muslim, dan celana cingkrang mirip kungfuwan China? Wataw! Tidak islami jika aku tidak menyebut: akhi, ukhti, antum, syukron, afwan, ana, dan lainnya? Nah! Nah! Aku mulai mengungkit segalanya hanya karena masalah Nida!

Kemudian tamat sudah. Nampak sekali Nida yang menjaga jarak denganku. Aku yang tidak lagi aktif mendatangi kajian, tidak lagi mau peduli dengan segala macam syuro, dan tidak lagi peduli jika mereka tidak lagi mempedulikan aku aktif atau tidak dalam segala kegiatan dakwah. Aku yang kembali slengehan dengan style acak-acakan. Lalu? Iwan hadir lagi dan mengataiku futur? Aku ikhwan baru hijrah yang gagal istiqomah dan berguguran di jalan dakwah? Futur? What is shit!

*******

ID Luky menyala terang ketika aku online.

<Ferdy>Oi

<Gooffy>Woi, Fer

<Ferdy>Watcha! Webmu ada masalah?

<Gooffy>Lu denger juga ya? Sekarang duniakecil.net gue jadiin domain personal.

<Ferdy>hehehe

<Gooffy>Siapa nggak kesel? Gue udah sukarela ngasih tumpangan, eh, masih bilang gue cari untung

<Gooffy>Jangan-jangan folder:\dipikir-dulu\nya udah pada dimasukin recycle bin, tuh!

<Gooffy>Brengsek!

<Gooffy>Biarin dah pada download data-data yang ada di hosting. Itu juga kalau belum overbandwith, dan account masih nyala.

<Ferdy>hahahaha

<Gooffy>Ketawa lagi! Brengsek lu. Emang mereka pada tau gimana supaya hosting, domain, dan subdomain mereka bisa tetep nyala?

<Ferdy>Suabarrrrr

<Gooffy>Huehuehue… Orang bijak bilang: sabar disayang Tuhan.

<Ferdy>Nah!

<Gooffy>Eh, lu ada temen namanya Iwan?

<Ferdy>Ha? Iya. Kenapa? Kamu kenal?

<Gooffy>Canggih anaknya?

<Ferdy>Canggih? Hoho… Tunggu dulu.

<Gooffy>Kenapa?

<Ferdy>Dia nggak lebih hebat daripada aku. Dia mahasiswa IT yang nggak hi-tech sama sekali. Dia seperti nggak peduli tentang gelombang ketiga ini yang mengindikasikan bahwa pemilik pengetahuan adalah penentu kebijakan yang mengacu pada pemenuhan kebutuhan pengakuan dan aktualisasi diri.

<Gooffy>Sieeh… Uhui! Bahasa elu canggih amat.

<Ferdy>Baru juga aku deket sama cewek pinter saja dia ikut-ikutan sirik.

<Gooffy>Jadi masalahnya cuma karena rebutan cewek lu jadi BT gitu?

<Ferdy>Nggak sesederhana itu, Luk! Kamu pikir deh! Sub sistem sosial yang terwujud dalam masyarakat pekerja ilmu pengetahuan dan informasi, dengan struktur horisontal.

<Gooffy>Oh yeah?

<Ferdy>Juga dengan pola interaktif yang ada, apa salah kalau aku dekat dengan cewek itu? Dia jago grafis! Tujuanku cuma sharing aja.

<Gooffy>Bener cuma sharing? Lu kan laki, Fer? Lu ribut gitu, bener karena nggak suka tuh cewek atau cuma ngeles karena ego lu?

Ngeles? Hohoho… Aku… aku memang nggak suka sama Nida. Nggak mungkin aku suka! Nggak mungkin kan?! Ah, nggak mungkin!

<Ferdy>Terserah kamu bilang apa deh. Aku yakin, justru dia yang naksir Nida.

<Gooffy>Nida?

<Ferdy>Cewek yang aku bilang tadi tuh. Soalnya dia yang paling sewot kalau aku dekat sama tuh cewek.

<Gooffy>Hehehe. Itu bukan urusan gue.

<Gooffy>Eh, lu udah liat pengumuman lomba kemarin?

<Ferdy>Oh ya!

<Ferdy>Pengumumannya hari ini kan?

<Gooffy>Lu pasti pingsan kalau gue kasih tahu siapa yang menang.

<Ferdy>Oh ya?

<Ferdy>Who?

<Gooffy>Gue.

<Ferdy>Apa?! Gila! Kamu serius?

Tanganku segera bergerak mengakses internet explorer untuk membuka webmaster-group.co.id, penyelenggara lomba, dengan hati berdebar. Luky juara satu? Lantas desainku?

<Gooffy>Huehue. Emangnya cuma lu aja yang bisa jadi juara?

<Ferdy>Gue gak nyangka, deh. Hebat!

IE-ku masih berproses. Aduh, lambat banget! Tapi kalau Luky juara, sih, mungkin saja. Tapi…

<Ferdy>Selamat! Tapi untuk kompetisi selanjutnya aku bakal ngalahin kamu.

<Gooffy>Huuehue… Gue tunggu!

<Gooffy>Anak universitas lu yang lu bilang sirik, gak canggih, itu ikut juga ternyata.

<Ferdy>Gak bakal menang!

<Gooffy>Hihihi.

Otakku masih berpikir. Gila! Si luky bisa melesat gitu. Padahal aku yakin aku bakal menang. Semua tahu aku satu-satunya webmaster Indonesia, mewakili institutku, yang menang dalam kompetisi IBM web design kemarin. Itu juga yang membuatku merasa punya masa depan karena setelah lulus aku dapat beasiswa S2 ke Jerman untuk IT.

Jadi kalau Luky sang juara, nasib desainku gimana, dong?

Aku segera melihat pengumuman Web Design Championship begitu homepage terbuka. Dan mataku terbelalak seketika!

ID Luky, teman cyber yang juga ikut lomba itu, berkedip-kedip.

<Gooffy>Sialnya lu cuma harapan satu. Wazz up? Lu jadi bego gini, sih.

Kualihkan lagi perhatianku pada pengumuman lomba. Otakku masih belum bisa mencerna dengan sempurna.

<Gooffy>Desain lu yang menang di IBM keren banget pas gue liat di PlanetWeB exhibition bulan lalu. Tapi kok yang ini bisa jelek gini?

Lemas sudah seluruh persendianku.

<Ferdy>Kamu dapat juara dua ya… Selamat.

<Gooffy>Hehehe… Sorry, gue becanda. Temen lu hebat juga ya.

<Ferdy>Aku cabut dulu.

Kumatikan ID-ku dan bergegas keluar kamar tanpa menunggu reaksi Luky.

Iwan?! Juara satu???

“Eehhhh! Mau kemana?” tiba-tiba Reina muncul di depan kamarku.

“Aku harus pergi sekarang, Na. Aku ada urusan. Penting.”

“Tapi aku baru datang.”

“Ya, tapi… Tapi aku ada urusan. Kamu masuk aja deh, atau pulang aja, atau… terserah kamu, deh!”

“Eehh..hh. Kamu apa-apaan, sih?”

Please, Na. Aduh, lepasin tangan kamu, dong!”

Reina mendelik.

“Kamu aneh banget, sih, Fer?”

Sorry. Aku bener-bener harus pergi, nih.”

Setengah berlari aku menuju garasi. Tak kuhiraukan lagi Reina yang berteriak-teriak memanggilku.

“Kamu normal apa hombreng, sih?! Kenapa kesentuh dikit aja selalu marah?”

Telingaku mendengar juga teriakannya.

Aku homo? Ih, amit-amit, deh!

*******

“Selamat. Kamu menang.”

“Syukron. Tapi mestinya antum gak perlu seperti ini.”

“Aku mencoba sportif. Ternyata kamu bisa ngalahin aku juga.”

“Hadiah utamanya keren, sih. Lumayan buat nambah-nambah biaya nikah. Mungkin Allah ngasih rejekinya lewat sini.”

“Apa?! Nikah?” tatapku tak percaya.

“Ya.” Iwan tersenyum. “Kok kaget, sih? Apa karena ana masih belum ngelarin tugas akhir?”

“Dengan siapa?”

“Tebak! Mahasiswi sini juga. Akhowat fakultas seni rupa dan desain.”

“Nida???”

Iwan tersenyum.

“Bukan.”

“Ohhh…”

Aku tertegun.

“Kalau begitu, selamat… lagi.”

Iwan menjabat tanganku erat.

“Sekarang seperti janjiku, kamu boleh ceramah.”

Iwan tersenyum.

“Kenapa harus begini, sih?”

“Udah, mumpung aku kasih kamu kesempatan ceramah.”

“Semua bukan untuk diperdebatkan dengan keliru, Fer. Jangan hanya melihat segalanya dalam satu sisi. Banyak kemuliaan yang ditawarkan Islam. Yang penting itu di sini nih…” Iwan menepuk dadaku.

“Iman dan keikhlasan. Kalau kamu masih punya itu, kembalilah di jalan Allah dengan kelapangan. Dakwah membutuhkan orang-orang yang kritis sepertimu, Fer. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya secara tepat. Islam itu mudah, jadi jangan dipersulit.”

Sorry, mungkin aku memang kebanyakan bicara. Tapi kamu harus tahu satu hal. Jangan pernah melihat Islam secara personal.”

Kali ini kupaksakan untuk tersenyum.

“Barakallahulaka, akhi. Doakan saja aku.”

“Tentu.”

Ck… Kesederhanaan Iwan, kesederhanaan Islam. Kesucian hati. Hmm, rasanya aku mulai mengerti kenapa aku tak pernah ingin Reina menyentuhku! Hahaha, gadis itu paling sudah melupakan aku karena mbak Yona, waria seksi itu, akan mengajaknya bergosip di salon langganannya sambil manicure.=

h1

MenyeGarkan Kembali Keberagamaan Kita

October 8, 2008

oleh: Muhamad Sahrul Murajjab

Bulan Ramadhan baru beberapa hari pergi meninggalkan kita dengan membekaskan kesan yang tentu berbeda-beda bagi masing- masing kita umat Islam. Sekolahan atau penataran yang berlangsung sebulan penuh juga menghasilkan nilai bermacam-macam bagi masing-masing individu. Namun hasil paling tragis dan mengerikan adalah jika ahir Ramadhan dijadikan ajang balas dendam untuk melampiaskan nafsu yang selama satu bulan tertahan. Idul Fitri-pun menjadi antiklimaks dari ketaatan yang dipaksakan. Kachiaaaan deh lu!!

Fenomena demikian adalah bagian dari the actual atau the being, kondisi nyata yang terjadi. Meski Ramadhan jika ditilik dari sudut the ideal atau the ought to be mestinya menuju satu hasil yang akan searah, yaitu ketaqwaan (QS. Al Baqarah/2:183), yang juga merupakan “hasil akhirsemestinya dari seluruh amalan keagamaan dan aktivitas ibadah kita.

Ketaqwaan sebagai tujuan paling penting aktivitas-aktivitas keagaamaan adalah kata lain dari “kesadaran ketuhanan”, tingkatan paling tinggi dari segala macam pengalaman ketuhanan yang sedalam-dalamnya. Kesadaran ini yang kemudian akan menjadi muara tempat berpangkalnya sikap-sikap hidup yang benar, sekaligus merupakan asas bangunan kehidupan yang benar pula. “Apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya diatas dasar ketakwaan dan keridlaan Nya itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya ditepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia kedalam neraka Jahannam?” (Qs. Al-Taubah/9:10).

Sebagai contoh lain, Shalat, tak lagi menghasilkan hasil akhir semestinya.Tak lagi menjadi kontrol terhadap perilaku keji (fakhsya’) dan kemungkaran. Bahkan dalam level yang justru lebih dekat dan “manusiawi” secara psikologis sebagai terminal ketenangan atau “peristirahatan”, sebagaimana digambarkan oleh sabda Rasulullah kepada sahabat Bilal “arihna bi al-sholah ya Bilal!” (Buatlah kami beristirahat dengan shalat wahai Bilal).

Kesenjangan antara the actual dan the ideal yang terjadi atas ibadah Ramadhan dan juga aktivitas-aktivitas ibadah lainnya membuktikan contoh telah terjadinya pergeseran makna beragama yang tak lagi memiliki hakekat penghayatan. Agama bisa jadi telah kehilangan satu (atau justru kehilangan kedua-duanya?) dari dua unsur maknanya yang justru sangat penting yaitu unsur etat subjectif atau haalah nafsiyyah. Agama yang tinggal hanyalah doktrin-doktrin dan “seperangkat aturan” (fait objectif atau haqiqah kharijiah) nya saja [lihat Dr.Abdullah Darraz, Al- Dien, 1999, hal 32 &52]. Hal ini membenarkan ungkapan seorang budayawan dalam sebuah sajaknya:

Shalat kami lebih buruk dari senam ibu-ibu

Puasa kami tak lebih menahan lapar dan dahaga

Zikir kami lebih cepat dari sekedar menghirup kopi panas

Dan haji kami…. Tak lebih tamasya spiritual, membuang uang

Dan, pulang membawa label asli made in Saudi: Haji!”

Irama Sunnatullah

Kita membutuhkan energi untuk menyegarkan kembali cara kita beragama. Menjernihkan kembali “fitrah”, yang barangkali lapuk oleh gempita hidup. Fitrah paling primordial dan mensejarah dalam darah daging kita yaitu “syahadah” (renungkan QS. Al-A’raf/7:172). Penyegaran fitrah juga berarti back to basic, kembali ke asal penciptaan kita sebagai ahsanu taqwiem (ciptaan yang paling bagus) (QS. Al-Tien/95: 4)

Semangat penyegaran dan penjernihan kembali juga dimiliki oleh tradisi nubuwwah. Bukankah ketika garis kenabian Adam telah kusut dan diacuhkan seiring perjalanan zaman dan pergeseran perilaku, datang kenabian-kenabian setelahnya meluruskannnya kembali hingga sampai pada titik kesempurnaan kenabian Muhammad saw? [baca: Dr. Mas’ud al-Wazinie, Al-Nubuwwah al-Khatimah, diktat perkuliahan, 2002, hal 21-27]. Bahkan kesempurnaan nubuwwah Muhammad saw kemudian juga mengalami penyelewengan-penyelewengan sehingga membutuhkan penyegaran kembali dan penjernihan dari debu-debu yang mengotorinya.

Irama sunnatullah ini diajarkan untuk seharusnya juga berlaku pada tataran yang lebih mikro dalam level individu, dimana kualitas keimanan masing-masing selalu bergeser antara yazdad (bertambah) dan yanqush (berkurang). Antara menjadi segar atau melayu. Terkadang begitu berkobar tetapi kemudian lama melempem tak bergairah. Tentu tidak seharusnya bagi siapapun membiarkan kelayuan berlarut hingga ahirnya tidak mampu lagi untuk menjadi segar kembali.

Proses menuju kepada penyegaran tidak akan terlalu sulit jika kita memiliki keinginan kuat untuk memulainya dari akar kejujuran dan kesadaran diri yang dalam. Apalagi fitrah kita sendiri adalah sebuah “kesegaran” yang -konon- sangat luar biasa untuk dinikmati. Nah! 

Pesisir Laut Tengah, Tripoli, Syawal 1424/November 2003

h1

Ajaran Saling Menasehati

September 26, 2008

ALLAH SWT telah menciptakan manusia dalam fitrah dan kapasitasnya sebagai makhluk individual yang bersifat pribadi, sekaligus sebagai makhluk sosial yang terikat keniscayaan untuk saling berinteraksi, bermasyarakat dan berjamaah dengan individu lainnya (madaniyyun bi thob’ihi).

Dua dimensi fitrah ini, meski saling berbeda dan tampak berseberangan namun tidak bisa saling terlepas antara fungsi salah satu dari lainnya. Sebab dari individu-individu itulah terbentuk warna, karakteristik, tata kehidupan dan bahkan peradaban sebuah komunitas masyarakat atau jamaah. Begitu pula sebaliknya, bahwa pola hidup dan corak masyarakat secara keseluruhan akan banyak mempunyai ta’tsir (pengaruh) terhadap masing-masing individu di dalam komunitas masyarakat tersebut.

Islam sebagai agama yang komperehensif secara integral telah mengatur bagaimana setiap orang diupayakan agar menjadi sosok individu yang baik dan ‘terbaik’ dalam dirinya , sekaligus menata sistem hubungan sosial antar individu tersebut guna mencapai terbentuknya masyarakat dan jamaah ‘terbaik’ pula.

Salah satu ajaran Islam terpenting tentang cara hidup bersosial yang benar adalah adanya penegakan kritik sosial antar individu, tanasuh (saling menasihati), dan amar ma’ruf nahi munkar. Rasulullah SAW pernah suatu kali mengilustrasikan tentang para penumpang perahu, jika terdapat sekelompok pembuat dosa yang berusaha melubangi bagian tertentu dari perahu tersebut kemudian penumpang lainnya bangkit untuk mencegahnya, maka mereka telah menyelamatkan para pembocor dari tenggelam dan menyelamatkan seluruh penumpang perahu lainnya. Tetapi jika tidak seorangpun bangkit mencegah perbuatan tersebut maka akibat perbuatan segelintir orang tersebut akan dapat menenggelamkan semua penumpang perahu (HR. Bukhori).

Dalam surah Al ‘Ashr (QS.103: 1-3) Allah menegaskan bahwa kriteria golongan manusia yang selamat dari kerugian dalam setiap satuan waktu adalah mereka yang tidak terhenti sebatas beriman dan beramal saleh, melainkan harus juga peduli dengan keimanan dan kesalehan orang lain dengan jalan “kerja sosial” untuk saling menasihati dan saling kritik.

Sighat atau bentuk kata yang dipakai dalam ayat tersebut (wa tawaashau) menunjukkan kata kerja berbalasan. Artinya mau memberi kritik dan nasehat sekaligus siap menerimanya dari orang lain. Hal ini tentunya membutuhkan kekuatan pribadi masing-masing individu. Sang pemberi nasehat haruslah ikhlas dalam nasihatnya dengan meniatkannya demi kebaikan dan perbaikan bagi orang yang dinasehati. Bukan malah menjadikannya sebagai alat menjatuhkan martabat, mengumbar aib, atau demi mengejar vested interest. Dia hendaknya juga bersikap bijaksana dengan memilih kata-kata yang baik dan memperhatikan kondisi yang tepat (lihat QS. An Nahl/ 16: 125).

Sebaliknya orang yang diberi nasihat mesti menerimanya dengan jiwa besar dan sikap terbuka, seperti di teladankan Umar ibn Khattab dengan ungkapannya,” rahimallahu imraan ahda ila ‘uyubi” (semoga Allah merahmati seseorang yang menunjukkan kesalahanku). Allah memuji sikap terbuka ini, “…maka berilah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku. Yaitu mereka yang mendengarkan perkataan, kemudian mengikuti mana yang terbaik. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang berakal budi.” (QS. Az Zumar/39: 17-18).

Nasehat tidak terbatas pada ucapan-ucapan verbal. Tetapi bisa pula dengan perilaku yang baik yang akan menjadi cermin hidup. Rasululah bersabda,”Seorang mu’min adalah cermin bagi mu’min lainnya”.(HR. Abu Dawud). Bahkan bahasa keteladanan seringkali lebih fasih dan effektif dari bahasa lisan (lisaanul hal afsohu min lisaanil maqaal).

Kritik dan nasehat adalah instrumen signifikan dalam proses mencapai kebenaran. Sebab manusia seringkali tidak mampu untuk mengevaluasi dirinya sendiri. Otokritik dan muhasabah juga pekerjaan yang tidak mudah. Atau terkadang persepsinya terhadap baik dan buruknya sesuatu itu sangat subyektif. Disinilah diperlukan kritik dan nasehat dari orang lain sebagai masukan.

Namun perlu diingat bahwa sikap terbuka dalam menerima nasehat haruslah dibarengi kewaspadaan tipu daya orang yang sok memberi nasehat, padahal ingin menjerumuskan. Sebagaimana dilakukan Ibis terhadap Adam dan istrinya seperti terekam dalam surat al A’raf (QS. 7: 21), “Dan dia (Iblis) bersumpah kepada keduanya (Adam dan istrinya), sungguh saya adalah termasuk orang yang memberikan nasihat kepada kamu berdua.” Di lain ayat Allah berfirman,”Dan diantara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikan kepada Allah atas isi hatinya, padahal ia adalah penentang yang keras.”(QS. Al Baqarah/2:204). Wa Allahu a’lam.

Arsip Mei 2003(4?)