Posts Tagged ‘qonita musa’

h1

KUCARI ENGKAU TUHAN…

November 5, 2009

Kucari Engkau, Tuhan…

Oleh:  Istriku (Santy Martalia Mastuti)

6 April 2000


“Maria…,” Suster Hanna menatapku lembut. Selalu saja senyum mautnya meluluhkan hatiku. Huh! Kupalingkan wajah kuat-kuat.

“Maria, tatap mata saya. Kenapa kamu berpaling? Kenapa kamu merasa takut jika kamu memang tidak melakukannya?” Suster Hanna masih tersenyum lembut. Dan sekali lagi, aku tidak pernah kuat menghadapi kelembutannya. Entah kekuatan apa yang untuk kesekian kalinya mampu menggerakkan alam bawah sadarku. Serta merta aku berdiri, dan berteriak dengan lantang,

“Ya! Memang saya pelakunya. Saya yang telah membuang boneka Magdalena ke sungai belakang asrama.”

Uff! Seperti biasa, selalu saja interogasi ‘sederhana’ ini berakhir dengan pengakuanku.

Kutinggalkan ruangan suster Hanna begitu saja. Sudah cukup! Aku sudah muak! Aku tidak tahan mendengar suster Hanna selalu memanggil nama baptisku,… Maria… Maria…! Huh! Aku tidak pantas dipanggil dengan nama itu. Kedengarannya terlalu indah dan naif untuk seorang gadis bengal sepertiku. Lagipula… kalau si kurus Magdalena tidak menangis seperti tadi, pasti aku tidak akan berhadapan dengan suster Hanna. Dasar cengeng! Makan tuh boneka!

“Hei, White Maria!”

Tiba-tiba sebuah suara menahan langkahku. Puih! Siapa lagi yang akan memanggilku dengan gaya seperti itu kalau bukan…,

“Sorry, honey… Hehe… Aku dengar suster Hanna memanggilmu… lagi? Hehe…” Diana menghampiriku dengan senyumnya yang membuatku mual.

“He! Meskipun kamu kakakku, tidak ada ijin bagimu untuk memanggilku Maria!” Kutatap sangar wajahnya.

Diana kembali tertawa. Menyebalkan!

“Hehe… White, kurasa nama Maria baik untukmu. Makanya…, perbaikilah tingkah lakumu, honey. Jangan lupa buat pengakuan dosa selepas misa minggu depan. Biar darah di otakmu mengalir. Okey, honey? Muaaacch! Aku mau ke perpustakaan dulu. Daah…,” Diana segera berlalu dari hadapanku.

Kuhembuskan nafas kuat-kuat. Kesal. Diana memang gadis yang sempurna. Dia cantik, cerdas, dan taat. Papa dan Antonius, kakakku yang saat ini kuliah di seminari, sangat menyayanginya. Sedangkan perlakuan mereka kepadaku? Jangan ditanya! Antony selalu ribut menyuruhku ke gereja setiap minggu. Menyuruhku membaca kitab, menyuruhku aktif dalam perkumpulan remaja gereja, bahkan untuk pengakuan dosa pun dia yang membujuk! Sedangkan papa? Meski papa cukup sibuk mengurus bisnisnya daripada mengurus kami, aku tetap saja merasa bahwa dia lebih menyayangi Antony dan Diana daripada aku. Dan perlu diketahui, mamaku yang asli Jerman itu sudah meninggal dua tahun yang lalu. Ah, papa… Aku memang bukan anak yang baik. Aku selalu mengecewakan papa. Bahkan untuk memakai nama perawan suci Maria saja aku merasa tak pantas!

Pelan, kulangkahkan kaki menuju halaman belakang Santa Bernadita. Ujung-ujung bibirku merekah. Seperti yang sudah-sudah, hup! Tembok Sanber yang tidak seberapa tinggi bagiku itu terlompati sudah.

Uaaaahhh… Kutarik nafas panjang-panjang. Bagiku udara di luar Santa Bernadita terasa lebih segar. Bayangkan! Sekolah asrama putri dengan 1001 peraturan, lengkap dengan segala hukuman! Sebetulnya aku lebih tertarik masuk SMU daripada Sanber kalau saja Antony tidak membujukku terus menerus. Apalagi harus satu sekolah dengan Diana. Uff, menyebalkan! Popularitasku tidak mampu menyaingi kelebihannya. Sekali lagi, dia memang anak emas di setiap kesempatan.

Kuhentikan taksi yang lewat di depanku.

“Ke jalan Mastrib, mas!” seruku pada sang sopir.

Kembali senyum kemenangan tersungging di bibirku. Ah, suster Emil dan suster Hanna pasti akan sibuk mencariku. Hahaha… Cuma tiga hari! Aku janji akan bolos selama tiga hari saja. Setelah itu aku akan kembali dan siap disidang di ruang kepala sekolah, bahkan untuk pengkuan dosa sekalipun!

Jogja di siang hari benar-benar membuatku gerah jika saja taksi ini tidak ber-AC. Kubayangkan Rosa teman SMP-ku yang seorang muslim itu akan memelototiku sekali lagi. Dia memang tidak suka dengan kegilaanku, tetapi dia tidak pernah menolak menerimaku jika ‘kebetulan’ aku kabur dari Santa Bernadita.

 

8 April 2000

Kututup sebuah buku karangan Nietzsche yang belum selesai aku baca beberapa minggu yang lalu yang sengaja aku titipkan di rumah Rosa. Tokoh ini memang sedikit ‘nekad’ mengatakan bahwa ‘Tuhan telah mati’ di awal masa keruntuhan kedigdayaan dewan gereja. Kutatap Rosa yang tengah sibuk mengerjakan tugas rumahnya.

“Ros, “ panggilku pelan.

“Ya?” jawabnya tanpa menoleh.

“Kamu percaya nggak kalau Tuhan telah mati?” tanyaku kemudian, mencoba mengajaknya berdiskusi.

“Hah?!” Rosa berbalik menatapku tajam. “Kebanyakan mengkonsumsi filsafat, tuh!” Rosa tergelak. Tapi itu alasan yang dibuat-buat kurasa. Aku tahu betul Rosa tidak jauh berbeda dengan ku. Sama-sama sok filosofis!

“Jadi kamu percaya kalau Tuhan itu tidak mati dan tidak akan pernah mati?” kejarku.

Sure!” Rosa menjawab sekilas sambil menekuni tugasnya kembali. Uf, bad response!

“Tapi apa buktinya kalau kamu menganggap bahwa Tuhan itu tidak mati? Kulihat sebagai orang yang bertuhan, kamu tidak melakukan ritual apapun untuk-Nya. Kamu tidak pernah sholat, tidak pernah membaca kitab, tidak pernah ke masjid. Apakah itu tidak berarti kamu telah mematikan Tuhan? Karena kamu sama sekali tidak membutuhkannya…”

“Gila!” Rosa melongo mendengar jawabanku. Si tomboy itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ah, sudahlah. Seharusnya aku memang tidak menanyakan hal ini padanya. Bukankah dia tidak lebih baik daripada aku?

Tapi kalau Tuhan telah mati, lantas mengapa saat ini aku masih bernafas? Bukankah Tuhan yang memberiku kehidupan? Kalau Tuhan telah mati seharusnya aku juga sudah mati sekarang.

Ah, pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus saja mengganggu pikiranku. Sepertinya ada yang kurang dalam hidupku. Tapi apa? Apakah karena aku malas mendengarkan khutbah di gereja? Apa yang menyebabkan aku selalu berpikir untuk mencari sebuah kebenaran? Bukankah aku sudah menemukan kebenaran akan Jesus, Tuhan Bapa, dan Roh Kudus? Lalu kenapa aku masih juga gelisah? Kenapa aku masih mencari-cari Tuhan? Bahkan Rosa yang juga punya Tuhan Allah yang tidak pernah sholat itu juga tak pernah meributkan kebenaran yang dianutnya!

“He! Kenapa melamun? Just enjoy this life, honey! Kenapa sih meributkan soal Tuhan?” Sebuah bantal mendarat di mukaku, membuyarkan lamunanku seketika. Kulihat Rosa tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi wajahku. Awas kau! Cepat, kulempar balik boneka Winnie The Pooh itu ke arahnya. Dan…buk, mendarat telak di keningnya. Rasain!

 

10 April 2000

Klik, jeglek! Terdengar suara pintu dikunci dari luar. Seperti yang sudah aku perkirakan sebelumnya. Aku mendapat hukuman. Kali ini tidak tanggung-tanggung. Selama seminggu dikurung di ruang isolasi ditemani beberapa buku filsafat, kisah para santo, beberapa kitab dan buku lembar kontemplasi. Puih, benar-benar menjemukan.

Pelan, kuraih salah satu Kitab Kisah Perbuatan Rasul-Rasul 9. Hmm…, kelihatannya menarik.

…… Saul, yang kemudian dikenal sebagai St Paulus, dulunya adalah seorang penganut Yahudi ortodoks dan fanatik yang aktif melakukan pembantaian terhadap orang-orang Kristen. Dia pergi dari Yerusalem menuju Damaskus mengemban tugas dari pemimpin agamanya untuk menawan orang-orang Kristen di situ. Dalam perjalanannya dia melihat secercah cahaya terang dan mendengar suara yang jelas dari Jesus Kristus yang mempermasalahkannya karena tindakan kejamnya dan menyuruhnya pergi ke Damaskus dimana dia akan diberi petunjuk tentang apa yang harus diperbuatnya. Kemudian dia mendapatkan bahwa dirinya sudah buta hingga beberapa hari. Suatu ketika datang seorang laki-laki bernama Ananias yang membimbing tangannya sambil memberitahu bahwa dia akan mengembalikan penglihatannya dan akan diisi dengan Ruh Kudus. Saul pun sembuh dari kebutaaannya dan akhirnya menjalani pembabtisan. Setelah itu dia mulai berkhutbah di sinagog-sinagog bahwa Jesus adalah anak Allah…………

Wow! Membaca kisah ini aku jadi ingat Pendeta Samuel yang pernah menyampaikan materi konversi agama, yakni perubahan secara tiba-tiba atau berangsur-angsur terhadap kepercayaan yang sudah diyakininya. Lalu mungkinkah aku juga bisa mengalaminya? Mungkinkah suatu saat aku tidak lagi mempercayai ajaran agamaku lagi? Lalu berpindah keyakinan atau malah tidak berkeyakinan sama sekali? Ya ampun! Aku semakin pusing saja. Kututup buku itu lekas-lekas.

 

20 Mei 2000

Hari-hariku semakin membingungkan. Masalah konversi agama yang kupikirkan semasa isolasi dulu mulai terlupakan. Sayangnya masa kontemplasi yang hanya seminggu itu tidak merubah apapun dalam diriku. Sekarang aku lebih suka mendiskusikan filsafat dengan para atheis yang kutemui di dunia mayaku. Semakin hari hanya kehampaan yang kutemui di Santa Bernadita. Teman-teman virtualku itu lebih mengerti keinginanku. Maka tak heran jika setiap ada waktu luang aku selalu menghabiskannya untuk mengakses internet. Mendiskusikan Tuhan di dunia maya lebih menguras otakku daripada berkutat dengan  pelajaran keterampilan.

 

6 Maret 2001

Kakakku, Diana, lulus dari Sanber dengan nilai terbaik. Siapa lagi yang akan menyanjungnya sedemikian rupa kalau bukan Antony dan papa? Papa bahkan mengijinkan Diana meneruskan kuliah di Jerman lengkap dengan segala fasilitas di rumah nenek. Sedangkan aku? Aku resmi menjadi seorang atheis. Tidak ada Tuhan di dunia ini. Dunia adalah sebagai obyek pemikiran manusia. Lalu siapakah yang menciptakan pohon? Ah, apalah arti sebuah pohon jika aku tidak peduli? Pohon ada karena aku memikirkannya!

 

10 September 2001

Kali ini tidak hanya suster Hanna yang menatapku. Ada suster Emil, penanggungjawabku, dan yang paling seram adalah Pendeta Filipus!

“Kenapa kau lakukan itu?” Pendeta Filipus menatapku tajam.

Aku tersenyum. Ya! Aku memang telah membakar Kitab Perjanjian Barunya si keriting Franciska. Salah dia sendiri! Siapa suruh dia sok suci menasehatiku dengan kitab-kitab itu? Tidakkah dia mengerti kalau aku tidak butuh Tuhan?

“Kau benar-benar tidak menghormati agamamu!” Pendeta Filipus menggeleng-gelengkan kepalanya. “Semakin hari tingkahmu semakin sulit dikendalikan. Kami tidak ada pilihan lain kecuali membebaskanmu dari Santa Bernadita selama satu bulan penuh. Gunakanlah waktu yang cukup panjang itu untuk merenung di rumah.”

O, God! Pekikku dalam hati.

“Apabila tidak ada perubahan setelah itu, dengan terpaksa kami tidak bisa mengikutsertakanmu dalam kelulusan tahun ini. Kamu mengerti, Maria?” Pendeta Filipus sedikit mengeraskan suaranya. Aku tahu dia sangat marah. Maka aku merasa tidak perlu menjawab pertanyaannya melainkan hanya menundukkan kepala.

“Minggu depan datanglah ke gereja St Laurence. Setelah misa aku ingin bicara secara khusus denganmu. Siapa tahu kamu akan membuat pengakuan dosa.” Pendeta Filipus mengakhiri ‘sidang’ kecil ini dan beranjak keluar ruangan.

Pf! Apa yang akan dikatakan papa nanti jika mengetahui aku diskors satu bulan dari Sanber?

 

11 September 2001

Papa marah besar! Antony apalagi… Dia langsung menyuruh papa mengirimku ke rumah bibi Theresa yang cerewet itu untuk mengadakan bimbingan khusus.

“Iblis telah mempengaruhimu, White! Kau pikir atheis itu pemikiran yang bagus? Kau pikir kau bisa tenang jika meninggalkan Tuhan?” Antony benar-benar hilang kesabarannya. Aku hanya bisa terdiam mendengar kata-katanya. Ujung-ujungnya aku dibujuknya untuk membuat pengakuan dosa. Itu lagi! Tetapi aku menyetujuinya dengan syarat, aku lebih suka di kurung di kamarku daripada di kirim ke rumah bibi Theresa yang galak dan sangat disiplin itu. Uh! Pasti sangat menyebalkan.

 

20 Oktober 2001

Suster Hanna memberikan pujiannya kepadaku. Ya! Sejak Pendeta Filip ‘menatarku’ setiap minggu di gereja dan tumpukan buku-buku kisah santo dan kitab yang ‘wajib’ kubaca ketika dikurung selama satu bulan di rumah benar-benar membuatku ‘kapok’.

Aku memilih diam dan mengikuti permainan mereka. Aku mulai rajin ke gereja dan mengikuti kegiatan-kegiatan menjelang kelulusan di Sanber. Itu karena beberapa bulan ini aku harus bersikap baik kalau aku tidak mau mengulang waktu setahun lagi tinggal di Santa Bernadita. Dan sekarang, aku mulai berhenti memikirkan Tuhan.

 

25 Desember 2001

Suasana natal masih menemaniku. Kutinggalkan papa dan Antony yang masih asyik menyenandungkan Jingle Bell diiringi dentingan piano Diana. Papa dan Antony begitu gembira dapat merayakan natal bersama Diana tahun ini.

Kulangkahkan kakiku ke balkon depan. Kembali kudapati kehampaan batin yang luar biasa. Aku bertanya lagi pada diriku, sekedar meyakinkan kembali. Benarkan aku seorang atheis yang mengingkari keberadaan Tuhan? Meditasi Descartes, sebuah metode perjalanan batin, yang kubaca beberapa hari yang lalu sungguh sangat mengganggu pikiranku. Dia mengatakan bahwa tatkala seseorang mengenali dirinya secara mendalam hingga taraf tatanan obyektif, maka dia akan menemukan ide tentang Tuhan. Sejak saat itu aku mulai ribut lagi memikirkan Tuhan. Aku mulai merindukan-Nya. Di manakah Dia? Dalam kelelahan pencarian, aku pernah berpikir bahwa aku masih terlalu nista untuk mengusik keberadaan-Nya. Namun entah mengapa, pertanyaan itu selalu ada dan aku belum menemukan jawabannya.

Pelan kutengadahkan wajahku ke langit. Tuhan, apakah Engkau di sana? Bersama bintang-bintang di langit? Jawablah aku Tuhan! Tolong berilah aku petunjukMu. Apakah Engkau yang menciptakan aku? Apakah Engkau yang menciptakan barat dan timur? Apakah engkau yang menciptakan semesta?

Tiba-tiba sebutir air bening mengalir dari sudut mataku. Hangat. Tuhan, siapapun Engkau, aku merindukanMu.

Pelahan kulangkahkan kakiku kembali ke ruang tengah. Kudapati mereka bertiga masih larut dalam malam yang kudus ini.

Kuberanikan diri untuk membuka suara. Ya! Aku harus mengatakannya. Suatu keputusan yang baru saja kupikirkan. Mungkin dengan keputusanku ini aku akan segera menemukan Tuhan yang kumaksud. Tuhan yang menciptakan aku, menciptakan barat dan timur, menciptakan semesta… Ya! Aku ingin segera mengakhiri pencarianku.

“Papa…,” panggilku pelan ketika mereka baru saja menyelesaikan jingle-nya.

Ketiganya serentak menoleh ke arahku.

“Ya, sayang?“ Papa memandangku heran. ”Rupanya engkau lebih senang menyendiri daripada merayakan natal bersama kami?” Papa berjalan ke arahku dan merangkulku untuk bergabung dengan Antony dan Diana.

“Tempatmu di sini, sayang. Bersama kami. Jangan cemberut begitu, dong…” Papa tersenyum sambil mengacak rambutku.

“Papa, saya mau bicara,” selaku.

“O ya?” Papa mengerutkan keningnya. Antony dan Diana saling berpandangan, tak berkedip.

“Kelihatannya begitu penting…,” Papa mulai memperlihatkan wajah seriusnya.

Aku menarik nafas panjang.

“Papa…,” rasanya aku tak kuasa untuk bicara.

Mereka bertiga menatapku, diam.

“Papa, ijinkan saya menjadi biarawati setelah lulus dari Santa  Bernadita bulan depan.”

Fiuuh… Lega rasanya!

“Apa?!” Antony membelalakkan matanya. Papa diam tak bereaksi. Diana memandangku dengan takjub.

Kutundukkan wajahku dalam-dalam. Tolong mengertilah… Menjadi pelayan Tuhan akan membuatku mampu mendekati Ia. Aku sudah lelah mencari-Nya. Adakah pilihan lain?

 

5 Maret 2002

Papa menyetujui permintaanku untuk menjadi biarawati. Dia tidak mempunyai pilihan lain. Sedangkan Antony dan Diana juga tidak bisa melarangku.

Dua hari lagi aku berangkat ke Jakarta. Malam ini kusempatkan untuk menginap di rumah Rosa. Entah kapan lagi aku bisa bertemu dengannya. Aku pasti akan sangat merindukannya.

“Keputusanmu sudah bulat?” Rosa menatapku sebelum merebahkan diri di ranjang.

“Ya. Aku berangkat dua hari lagi,” jawabku pelan.

“Yah! Itu adalah keputusanmu. Aku tidak punya hak untuk melarang. Tapi…,” kalimat Rosa menggantung.

“Tapi apa?” kejarku.

“Kau akan menjadi missionaris?” Rosa bertanya dengan mimik lucu.

Aku tergelak.

“Kau takut?” Aku balik bertanya.

“Entahlah. Aku tidak begitu tahu tentang hal itu. Tapi, sejak aktif di kerohanian kampusnya, mas Deny sering mengungkit-ungkit hal itu.” Rosa mulai menarik selimutnya.

“O ya?” Aku tersenyum kecut. Aku tahu benar arti kata ‘missionaris’. Tapi Rosa?

“Sudahlah. Jangan terlalu dirisaukan. Kita adalah sahabat, takkan berubah selamanya.” Rosa membagi ranjangnya untukku.

“Sekarang kita tidur. Hari sudah larut. Masih banyak yang akan kita kerjakan besok. Aku akan menemanimu belanja untuk persiapanmu nanti.” Rosa membalikkan badan membelakangiku.

Aku termenung cukup lama. Jujur saja, terkadang aku masih tidak yakin dengan pilihanku ini. Malam ini, seperti malam-malam lainnya sejak keputusanku, terlewati begitu saja dengan perasaan galau. Aku tidak bisa memejamkan mata. Sementara itu nafas halus Rosa terdengar naik turun meningkahi kekalutan di dasar hatiku yang paling dalam. Tidak! Ini adalah keputusanku. Hanya dengan cara inilah aku bisa mendekati Tuhan. Tuhan yang selama ini aku rindukan. Tuhan yang menciptakan aku, menciptakan barat dan timur, menciptakan semesta. Tuhan, beri aku petunjuk!

Jam tiga lebih. Malam semakin larut. Aku belum juga tertidur. Detak jam dinding terdengar makin jelas. Lalu… suara itu? Samar-samar kudengar suara yang mengalun merdu. Tapi suara apa dan siapa?

Seperti ada kekuatan lain yang menggerakkan kakiku. Pelan, aku beranjak keluar kamar mencari arah suara. Semakin lama suara itu semakin jelas terdengar. Aku berhenti di depan pintu salah satu kamar. Entah kamar siapa. Alunan suara itu seperti membiusku. Begitu merdu… Hingga tak terasa aku sudah bersimpuh di depan pintu.

Fabiayyiaalaa irobbikuma tukadzdzibaan?

Entah kenapa, tiba-tiba saja hatiku berdebar keras. Tulang-tulangku terasa luruh seluruh sebab rasa ketidakberdayaan mengepungku tanpa aku tahu sebabnya.

Robbulmasyriqoini warobbulmaghribaini. Fabiayyiaalaa irobbikumaa tukadzdzibaan? Marojalbahroini yaltaqiyaan. Bainahumaa barzakhunlaayabghiyaan…

Suara milik seorang laki-laki itu terus melenakan pendengaranku. Aku mulai memastikan bahwa ia sedang membaca Al-Qur’an. Kemudian suara itu berhenti. Lama. Aku berpikir bahwa mungkin dia sudah selesai membacanya. Segera kukumpulkan keberanianku untuk mengetuk pintunya. Sungguh! Aku ingin tahu arti bacaannya. Dan aku sama sekali tidak mengerti kenapa aku ingin mengerti. Bukankah suatu hal yang konyol ketika seorang perempuan malam-malam mengetuk pintu laki-laki hanya untuk menanyakan arti sebuah bacaan? Tapi aku ingin tahu! Ingin tahu! Dan aku tidak peduli! Maka…,

tok…tok…tok…

Tiga ketukan pelanku di pintu cukup mengagetkannya.

“Siapa?” tanyanya.

“Saya. Pietra Johan.” Aku menyahut pelan.

Hening. Tak ada suara. Entah apa yang sedang dipikirkannya.

“Saya…, saya mendengar apa yang kakak baca. Saya ingin tahu artinya. Maukah kakak membacakannya untukku?” tanyaku sedikit gagap sambil berusaha meyakinkan dia bahwa aku tidak mempunyai maksud apa-apa. Dilihat dari suaranya, orang itu pasti Deny, kakak Rosa.

“Tolonglah… Jika kakak ingin, kakak tidak perlu membuka pintu untuk sekedar membacakannya untukku.” Pintaku sekali lagi, penuh harap. Sedikit merasa tak enak sebab aku juga tak begitu mengenalnya.

Krieeet…

Pintu pelahan terbuka. Seorang lelaki keluar dari kamar.

“Pietra, kenapa malam-malam begini masih belum tidur?”

“Saya menikmati bacaannya,” jawabku begitu pelan.

Kak Deny tersenyum.

“Kamu suka?”

“Kakak tahu saya bukan Islam?”

“Tak masalah. Aku hanya bertanya, apakah kamu suka?”

“Saya menikmatinya.”

“Baiklah. Aku akan membacakan artinya untukmu. Setelah itu kembalilah ke kamar Rosa. Sudah terlalu malam. Aku tahu besok kamu akan pergi ke Jakarta. Rosa bercerita padaku. Alhamdulillah, melalui lisanku, Allah memperdengarkan ayat-ayat-Nya yang kuharap bisa melegakan hatimu.”

“Kakak tahu saya selalu mencari dan mencari?” tanyaku di tengah gemuruh dadaku.

“Ya, jika tidak, kamu tak akan nampak lelah dan pasrah seperti ini. Aku dapat merasakannya.”

Kurasakan tiba-tiba saja dadaku berdebar-debar.

……………………………………………………………………………..

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Dia Tuhan dua timur dan Tuhan dua barat. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Dia adakan dua macam laut (asin dan tawar), yang bertemu keduanya. Di antara keduanya ada dinding (sehingga) tiada bercampur keduanya…

……………………………………………………………………………

Dan dua air bening meleleh dari sudut mataku. Menjalari lekuk-lekuk putih kulit wajahku yang semakin memucat. Kudengar Deny terus saja membacakan artiannya untukku. Aku terjatuh. Bersimpuh kaku. Sekian lama kucari Engkau, Tuhan… Kini aku menemukanMu! =

 

Advertisements
h1

L’Oiseau Bleu

January 15, 2008

L’Oiseau Bleu

By: My Beloved Dinda

[Santy Martalia Mastuti]

Temaram yang kian kelam. Perempuan itu tak juga beranjak dari melihat bulan. Sementara suara-suara satwa malam terdengar riuh memadu harmoni nada. Tidak terdengar nada milik Bach atau sekedar langgam Jawa tentunya. Sebab yang bersuara hanyalah binatang belaka.

Perempuan itu masih berdiri menatap bulan. Siluet pepohonan nampak mistis memeluk raganya yang membelakangi pintu teras lantai atas sebuah bangunan megah dipinggiran kota Jakarta, rumah bersalin Anggia. Raga itu terlihat begitu indah dengan tonjolan besar pada bagian perut yang menjadikan pinggangnya terlihat lebih lebar dari biasanya. Raga perempuan! Maka menjadi sempurnalah sosok sang perempuan tatkala tangan halus beserta lentik jemarinya bergerak membelai perutnya. Penuh kasih, penuh kelembutan. Sebab ada kehidupan di sana. Sebab ada nafas yang berhembus tenang di dalamnya.

Ini Jakarta! Jelas, Jakarta tidak akan terlihat seperti Paris. Namun dalam pandangannya, menara Eifel hanya berjarak beberapa meter saja sebab ingatan yang sedang bekerja. Lalu suara-suara yang biasa mengisi hari-harinya bergema menguasai alam pikirnya. Seolah hanya suara itu yang berteriak dan bergema di seluruh semesta, saat ini, saat malam dimana ia melihat bulan.

“L’Oiseau Bleu[1]!”

“L’Oiseau Bleu!”

Perempuan itu tersenyum.

“Ada apa kau ini?”

“Kau benar-benar menakjubkan, dinda. L’Oiseau Bleu. Burung biru. Matamu yang biru… yang selalu menengadah memandang langit yang juga berwarna biru. Keceriaanmu, sikap bebasmu, senyum ramahmu, kecantikanmu, kelembutanmu… Benar-benar seperti…,”

“Burung?” perempuan itu merengut.

Lelaki tertawa.

“Apa salahnya, nda? Burung juga indah… Apalagi burung biru yang satu ini. Dia lebih indah dari seluruh burung di dunia. Suaranya lebih merdu bila berkicau…,”

“Dinda? Berkicau?”

“Sudahlah, nda. Yang penting kan aku cinta sama dinda. Dinda yang seperti burung biru. Selamanya cinta…,”

Pipi sang perempuan memerah.

“Dasar gombal!”

Tawa lelaki berderai-derai. Dia tahu itu gombal. Namun ia yakin perempuan itu suka.

“Ada apa, nda?” tiba-tiba ia melihat perubahan sinar wajah perempuan yang sekejap saja menjadi keruh.

“Burung itu tak pernah selamanya terbang bersama, Mas,” pelan perempuan bersuara.

“Tetapi aku akan menemani burung biruku terbang bersama. Selamanya…,”

Lelaki menatap dalam-dalam mata sang perempuan. Tenang.

“Ehm-hm!” Sejenak kemudian lelaki mendekatkan wajahnya tanpa melepas sedikitpun tatapan matanya, genit. “Coba tebak!”

“Nggak ah! Malas!”

“Nda…, ayo tebak…,”

Perempuan merengut. Lelaki tersenyum. Dia tak ingin memaksa. Yah, mungkin bawaan bayi yang sedang dikandung sang perempuan, istrinya. Akhir-akhir ini dirasakannya sang perempuan mulai tidak sabaran.

“Aku punya kabar gembira untuk dinda. Dengar…,” ia memeluk istrinya dari belakang sambil membisikkan sesuatu. Lembut.

“Apa?!” teriak sang perempuan sesaat kemudian.

Lelaki tersenyum penuh arti.

“Mas serius?”

“Dinda kira aku main-main?”

“Menetap di Indonesia?”

“Apa salahnya? Aku sudah mendapat panggilan kerja di sana. Nda akan jadi istri terbaik untukku. Aku sudah mengatur semuanya. Dinda akan melahirkan di Indonesia dan kita akan membesarkan anak-anak kita di Indonesia,” tangan lelaki turun membelai perut perempuan yang sudah mendua tiga minggu.

Tiba-tiba perempuan melepas belaian lelaki dan berbalik.

“Kita akan pergi dari Paris? Melepas pekerjaanmu sebagai scriptwriter di sini? Lalu rumah baru kita di Courbevoie?”

“Kita bisa menjual rumah itu.”

“Tapi, Mas, kita bahkan belum sempat menempatinya.”

“Buat apa ditempati? Bahkan sebelum kontrak apartemen kita habis insya-Allah kita sudah ada di Indonesia.”

Mata perempuan membulat.

“Hei! Dinda membuatku bingung. Dinda senang? Atau tidak?”

Perempuan itu tak menjawab. Namun sebuah ciuman di ujung hidung lelaki sudah cukup sebagai duta hatinya. Tanda kebahagiaan yang terdalam sudah tersampaikan kini.

“Kita akan mendidik anak-anak kita yang tampan dan cantik dengan baik. Dalam bimbingan Islam dan segala kemuliaannya. Di Indonesia lebih memungkinkan untuk itu. Tidak di Perancis. Kita akan mengajarkan Al-Qur’an, membacakan sejarah rasulullah, para sahabat…,”

“Juga Les Aventures d’un gamin de Paris[2]?”

Les Aventures d’un gamin de Paris juga,”

Les Trois Boy-scouts[3]?”

“Tentu itu juga akan dibacakan.”

Perempuan itu tersenyum menatap mata sang lelaki penuh cinta.

******

Larane lara ora kaya wong kang nandang wuyung[4]

Mangan ra doyan ra jenak dolan neng omah bingung

Lelaki yang melihat bulan nampak mulai bergetar bibirnya. Masih jelas diingatannya akan nuansa warna hijau yang megah mendominasi acara resepsi pernikahannya dengan seorang wanita santun yang ditemuinya di Paris, ketika sama-sama menjadi mahasiswa. Rasanya baru kemarin mereka menikah. Nafas budaya Jawa yang khas dengan adat pura mangkunegaran hingga gift cantik karya pengrajin Jogja menjadi tema pernikahan yang menakjubkan. Bahkan gaun pengantin batik sido ati yang dipadankan dengan atasan bermotif modang tebaran ati masih terasa melekat begitu indah di tubuh istrinya. Acara Wilujengan, Siraman, Midodareni, Panggih… lengkap dengan suguhan tari Srimpi yang indah… Di Perancis, semua itu tidak ada. Namun jika saja dulu ia mengenal Islam lebih jauh, upacara pernikahannya mungkin bisa dibuat lebih Islami. Kebudayaan yang masih dijunjung tinggi tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam… Mungkin itu bagian dari garapan peradaban.

Mereka telah ditakdirkan untuk bertemu. Awal yang manis di suatu pagi yang cerah di salah satu sudut universitas. Lelaki itu melemparkan senyum pada sang perempuan sambil menyodorkan sehelai saputangan yang terjatuh dari saku bajunya. Senyum yang sempurna yang mampu membuat hatinya berdebar begitu kencang.

“Terimakasih. Marie Jean Jacquez,” tangan mungil sang perempuan terulur.

“L’Oiseau Bleu. Boleh aku memanggilmu begitu?”

Mata perempuan itu membulat. Sang lelaki tertawa renyah.

“Aku sudah lama mengamatimu. Namun baru kali ini bisa menegurmu. Berkat saputangan ini,” sang lelaki tersenyum memandangnya.

“Kenalkan, namaku Arya. Adikarya Anugerah.”

Lalu kehidupan menjadi begitu indah setelahnya. Sang lelaki begitu memperhatikannya. Seorang perempuan yang biasa-biasa saja. Seorang yatim piatu yang tinggal di pinggiran kota Paris, Courbevoie.

Ia yang tertawa dengan bebas bersamanya di sudut-sudut taman kota Paris. Berjalan-jalan menyusuri sungai Seine, Eiffel, museum Louvre… Melewati jalan setapak sempit yang membawa mereka ke sebuah taman kecil tempat berkumpulnya seniman Montmartre… Menyenangkan sekali membawa kanvas dan berjajar dengan para pelukis yang ada di sana, sekedar ingin mengabadikan salah satu sudut kota yang akan menjadi kenangan.

Ia, perempuan, yang memainkan karya-karya Mozart khusus untuknya sambil menikmati bulan di teras apartemennya. Perempuan yang terpingkal-pingkal melihatnya sangat percaya diri berdansa tango dengan gerakan tarian Jawa yang justru menghasilkan gerakan-gerakan tak beraturan. Ia yang bersusah payah mempelajari bahasa Indonesia, terlebih bersusah lidah untuk sekedar membiasakan diri memanggil ‘Mas’ untuknya…

“Mmm-a-s…?”

“Mas!”

“Mas!”

Great! Suara seksi sang perempuan lebih mirip seorang banci. Seharusnya ia lebih tipis lagi dalam mengucapkannya. Mulanya lelaki tak suka mendengarnya dan berencana untuk merelakan saja panggilan lain, asal tidak ‘Mas’. Tapi ternyata lama-kelamaan ia merindukan dan menikmati panggilan itu keluar dari mulut sang perempuan hingga detik ini, saat ini, meski kadang harus bercampur baur dengan bahasa Perancisnya,

Nous I’aimons, Mas,” bisiknya pelan. “Kami mencintaimu, aku dan bayimu…”

Ia yang… segalanya. Hingga ia yang memutuskan masuk Islam dan menikah dengannya, sang lelaki. Tidak ada yang keberatan atas keputusan itu. Merekapun menikah di Jakarta, Indonesia. Dan sejak masuk Islam itulah Arya memilihkan nama Afifa untuknya, sekaligus menasbihkannya menjadi satu-satunya ratu di kerajaan hatinya.

*******

Larane lara orang kaya wongkang nandang wuyung

Mangan ra doyan ra jenak dolan neng omah bingung

Perempuan yang melihat bulan itu nampak mulai mengembang dan mengempis hidungnya. Airmatanya sudah lebih dulu jatuh satu-persatu. Tangan halus dan jemari lentiknya pelan membelai perut besarnya yang terlihat berkilau tertimpa cahaya bulan.

Aku ingin menjadi pelitamu. Hingga jika kau mengalami kegelapan di sana, aku dapat segera menyinarimu… Aku ingin menjadi keluasanmu. Hingga jika kau memikirkanku, maka semuanya akan menjadi lapang… Namun Allah juga yang pantas memberi pelita serta keluasan… Duhai, apa yang sedang terjadi di sana?

…..dooooorr!! Doooor!!

“Habisi militer!”

Bummm!!

“Serang…….!!!”

Dor! Dor…!!

Bibir lelaki itu terkatup rapat menahan pedih. Tubuhnya terasa ngilu. Ada beberapa peluru yang bersarang di tubuhnya. Entah pada bagian mana. Ia yang tersandra oleh kelompok GAM itu tak sempat mengelak ketika terjadi baku tembak antara Gam dan tentara NKRI.

Tembak-menembak terus terjadi…..

Dalam beribu duka tanpa pernah berusaha mengeluh, lelaki itu mengingat istrinya…

“Kami tampilnyaaaaaaaaaa…,” jerit sang istri sambil berderai-derai tawanya.

“Kok tampilnya? Tampilkan dong!”

“Suka-suka dinda, dong!” sang istri tersenyum genit.

“Hehehe…”

“Kami tampilnyaaaaaaaaaaaaa, reporter kita, ustadz Aryaaaaaaaaa!”

“Lho, reporter kok ustadz?”

“Ya, kan reporternya sholeh. Di luar ia mencari berita. Di rumah ia mengajar istrinya.”

Mata perempuan itu bercahaya… Lelaki itu bisa melihatnya pada kedalaman matanya.

“Mmm…, nda, kalau mas pergi meliput ke Aceh, lalu… meninggal…. nanti, gimana?”

“Ya, dinda nikah lagi.”

“Lho?!”

“Habis, sebagai muslim kan nggak boleh berlarut-larut dalam kesedihan?”

Mulut sang lelaki manyun beberapa senti.

“Gitu, ya…”

“Lho, lho… Kok pergi? Katanya mau menjelaskan tentang situasi di Aceh? Tentang perjuangan di sana?” buru sang istri mengejar sosoknya yang melangkah keluar kamar.

“Masa baru digodain begitu saja ngambek?” perempuan itu mulai tertawa-tawa.

“Dinda, sih…”

Sang istri segera menarik baju suaminya, memutarnya, menghadap ke arahnya.

“Jangan ngambek, dong. Jangan pula berpikir yang tidak-tidak. Semoga Allah memudahkan semua urusan mas di sana. Mas banyak ilmu dan pengalaman kok. Ingat cita-cita mas ketika masih di Paris kan? Mas ingin mengabdikan diri melalui jalur jurnalistik, mas ingin menjadi reporter yang bisa mewartakan berita-berita bagus di media, mas ingin kelak memiliki penerbitan besar yang akan menyajikan berita-berita yang tak bias…”

Lelaki itu tersenyum.

“Mas tahu dinda bercanda… Tapi kalau memang Allah mentakdirkan mas meninggal di sana, dinda boleh menikah lagi.”

Perempuan itu tercekat.

“Mas, pulang ya… Dinda akan selalu menunggu. Dinda dan bakal bayi kita, akan selalu menunggu…”

Lelaki itu nampak bersusah payah menahan pedih yang menyayat. Tubuhnya mulai terlihat lemah.

*******

“Aduuhhhhhh……..!” perempuan itu mengeluarkan jerit yang tertahan.

“Sudah mau melahirkan kok tidak segera masuk! Sudah saya peringatkan, jangan jalan-jalan terus! Kalau bayinya tiba-tiba keluar bagaimana?” tegur seorang perawat yang luar biasa mahal senyumnya.

Perempuan itu tak berani memandang. Untung saja sang dokter kandungan menyambut kedatangannya di ruang bersalin dengan senyum yang begitu lebar.

“Ayo, bu… Dipersiapkan,” ujar sang dokter lembut, penuh kesabaran.

Perempuan mulai mengejan…

“Yak! Terus!”

“Ughhh…,” ia mengejan kuat-kuat.

“Sedikit lagi, bu! Terus!”

“Uffhhh… Hhh…,“ ia tampak mengatur nafas.

“Jangan berhenti! Sudah mulai kelihatan kepalanya,”

“Nghhh… Nggghhh….,”

Mata perempuan terpejam rapat-rapat. Ada sosok lelaki di sana. Tersenyum padanya.

“L’Oiseau Bleu!”

Perempuan kembali mengejan.

“Ayo dinda! Terus! Ayo! Sebentar lagi anak kita lahir. Matanya mungkin akan seperti matamu, biru.”

“L’Oiseau Bleu!”

“Uuuuuuughhhh…..,”

Ia mengejan kuat-kuat, berkepanjangan.

Oaaaa….. oaaa…..

“Laki-laki!”

L’Oiseau Bleu, burung biruku, selamanya cinta… Allah akan selalu menjagamu, dinda. Dinda pasti kuat.

Bayangan lelaki tegak berdiri di pelupuk matanya. Air matanya berlinang-linang. Alunan Chopin yang selama ini terasa mengiringi kesedihannya tiba-tiba menyeruak tajam dalam pendengarannya, silih berganti dengan tangisan asing yang kini hadir dalam hidupnya. Menjadi backsound detik-detik hidupnya yang memilukan.

“Aku akan membacakan kisah tentang Ali bin Abi Thalib, tentang Bilal, tentang apa saja sebelum dia berangkat tidur.”

“Tentang Les Enfants du capitaine Grant[5] juga kah?”

“Ya, itu juga akan kubacakan. Anak kita harus cerdas! Dia juga harus tahu kebudayaan ibunya.”

Ia melihat bayangan lelaki itu yang tersenyum padanya. Menatapnya. Tatapan itu masih sama. Lembut. Selembut hari pertama pertemuan mereka, malam pertama mereka, hari pertama ia memakai kerudung atas permintaannya dan hari terakhir ketika ia berpamitan padanya untuk pergi meliput ke Aceh. Hingga kini, tak lagi ada kabar berita… Kecuali satu yang sempat diterimanya: sang lelaki sudah tersandra oleh kelompok separatis Aceh.

“L’Oiseau Bleu! Burung biru. Kau akan tetap lincah meski terbang sendiri. Di belahan bumi manapun, Allah yang telah mempertemukan kita, dan Allah juga yang akan menjaga kita…”

Lelaki yang berada di Aceh masih menahan pedih. Tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sesekali matanya terpejam rapat-rapat, sesekali terbuka lebar. Kepalanya terasa berputar-putar. Ia tak sanggup lagi bertahan. Sudahkah ia mengajarkan pada istrinya jika suami meninggal tak usah meratap? Kesedihan baginya hanyalah empat bulan sepuluh hari saja…

Dan perempuan pun menangis kembali.

Apa kabar, wahai kekasih…?


[1] Burung biru

[2] Petualangan Bocah Paris (cerita anak-anak Perancis)

[3] Tiga Pramuka (cerita anak-anak Perancis)

[4] Wuyung karya Ismanto

Sakitnya sakit tidak seperti orang yang mengalami rindu

Makan tidak doyan, tidak enak main, di rumah bingung

[5] Anak-Anak Kapten Grant (cerita anak-anak Perancis)